
PROV ANDI
Sungguh aku sangat tak kuat harus berpura-pura cuek dan tidak peduli pada Dira, Karena kenyataan nya saat ini aku sungguh sangat mencintai dira.
Seminggu sudah aku tidak menggubris ucapan dari Dira, bahkan aku sengaja bermesraan dengan Reina.
Perlahan-lahan aku mulai menjauh dari Dira, dan aku mencoba melepaskan Dira. Meski hatiku sungguh sangat sakit menerima kenyataan ini.
Aku ingin Dira lah yang memutuskan hubungan kami, agar kesannya bukan aku yang menyakiti Dira.
Mungkin ini terkesan sangat egois, tapi akan lebih egois jika aku mempertahan kan diri untuk tetap bersama dira, yang padahal kondisiku saat ini sangat tidak pantas jika aki mempertahankan dira.
Aku menahan sesak di dadaku, membayangkan sakitnya yang akan Dira rasakan, tapi sungguh aku sangat berharap jika Dira akan memaafkan diriku kelak.
Aku sungguh sangat sedih jika aku harus mengingkari janjiku dengan Dira, dulu aku pernah berjanji akan tetap bersama dengan Dira apapun keadaan yang akan ku hadapi.
Tetapi setelah aku mengalami kejadian yang diluar keinginan ku, aku baru menyadari bahwa tak ada yang harus dipaksakan melihat ketidak berdayaan diriku karena penyakit sialan ini.
Lagi lagi aku mengumpat dalam hati, karena sampai saat ini aku masih sangat terkejut dengan kenyataan ini.
*Flashback on*
Saat aku berada dikampus, kepala ku terasa sangat pusing dan sekeliling ku seperti berputar putar.
Perlahan-lahan semuanya gelap lalu aku tidak tau apa yang terjadi pada diriku.
Saat aku membuka mata, aku sudah berada diruangan yang ku duga adalah ruang rawat. Dan ternyata dugaan ku benar, aku menoleh ke samping dan melihat Reina sedang duduk di kursi samping ranjang ku.
"Reina? kamu yang membawaku kemari?" kataku bertanya pada Reina yang saat ini berdiri di samping ranjang tempat ku berbaring.
" Iya kak, tadi aku melihat kakak pingsan di bangku taman, aku panik dan membawa kakak kemari" ucap Reina dengan gugup.
__ADS_1
"Terima kasih Reina" kataku sembari memegang kepalaku yang masih terasa sangat pusing.
Tak lama kemudian dokter menghampiri kami.
Aku masih sangat lemah dan susah untuk bergerak, sehingga Reina membantu ku untuk duduk.
Kemudian dokter menjelaskan tentang penyakit yang tengah aku derita.
Aku begitu terkejut, dengan penjelasan sang dokter yang mengatakan bahwa aku di diagnosa menderita penyakit Leukimia akut.
Bagai disambar petir aku mendengar kenyataan itu, aku menangis sejadi-jadinya seolah tidak menerima takdir yang Allah sudah berikan kepadaku, ingin aku rasanya menolak kenyataan ini. Dan aku sungguh aku benci dengan keadaan yang sedikit pun tak pernah berpihak padaku.
aku pikir sebelumnya bahwa ini hanyalah gejala leukimia, tetapi ternyata dokter sudah mendiagnosis dan hasilnya adalah positif.
Air mataku semakin deras mengalir tanpa bisa ku tahan lagi, biarlah orang mengatakan bahwa aku adalah lelaki lemah. Sama sekali aku tak peduli, karena bagiku mereka hanya berbicara saja, karena mereka tidak berada di posisi ku.
"Reina, aku hanya bermimpi kan? aku tidak sakit kan Rei, aku baik-baik saja kan?" kataku sambil menggenggam lengan Reina.
"Sabar ya kak, aku yakin kok kamu bisa melewati ini semua kak. Kamu adalah lelaki yang kuat,optimis lah kak kamu pasti akan sembuh" kata Reina mengelus pundakku dan memberiku semangat.
Aku kembali menangis dan meratapi keadaan yang memang tidak akan pernah berpihak padaku. Oh tuhan kenapa harus aku? kenapa ini yang ku alami, tuhan sungguh aku tak ingin meninggalkan dira. Aku yakin dira akan drob tanpa diriku.
"Aku akan hubungi Dira ya kak, agar dia kesini dan menemani mu disini, kakak pasti sangat membutuhkan dia sekarang" kaya Reina tersenyum padaku dengan hangat.
"Tidak, jangan hubungi dia, dan jangan pernah katakan padanya jika aku sakit, aku tidak akan sanggup melihatnya bersedih. Aku mohon rahasia kan ini darinya" kataku setengah memohon pada Reina, yang menatapku dengan tatapan sendu.
"Tapi kak, dia harus tau kondisi kakak saat ini kak. Aku tau dia adalah semangat mu untuk bangkit dari keterpurukan ini" kata Reina lagi.
"Aku bilang jangan kasih tau dia rei, mengertilah, biarkan aku yang merasakan sakit ini seorang diri, aku tidak ingin dia ikut merasakan sakit ini aku tak ingij dira pesimis akan penyakitku, aku tak ingin penyakit ku ini membuat dira lemah, apa kau mengerti" kataku sedikit membentak Reina yang menyebalkan menurut ku kali ini.
Ia diam dan kemudian mengangguk kan kepalanya tanda menyetujui keingananku.
__ADS_1
kemudian dia mengelus pundak ku dan tersenyum " Semangat kak, kamu pasti sembuh, ada aku disini yang akan selalu menemani mu" kata Reina.
Aku hanya tersenyum menanggapinya.
Kemudian aku segera mencari tahu informasi tentang penyakit ku di google.
Leukimia akut adalah jenis kanker darah yang mengakibatkan sumsum tulang belakang tidak dapat menghasilkan sekelompok darah putih yang berperan dalam melawan infeksi dan mencegah kerusakan jaringan tubuh dan perkembangannya begitu cepat dan penyakit ini sangat sulit disembuhkan, dan kemungkinan itu pun sangat kecil.
Aku sangat khawatir dan mulai gelisah setelah tau bagaimana penyakit yang kini ku derita, aku menarik nafas berat dan menghembuskan nya.
Aku kepikiran dengan Dira, bagaimana jika dia tau pacar nya ini penyakitan dan sudah stadium akhir.
"Flashback off*
Aku sangat yakin Dira pasti syok jika tau, sehingga aku berusaha menyembunyikan nya. dan aku mulai menjauh dan aku berusaha membuatnya nyaman dengan orang lain. Agar saat aku pergi nanti, dia tidak merasakan sakit yang lebih mendalam lagi.
Aku tau sekarang Dira sedang dekat dengan Rendi, aku tau Rendy menyukai Dira. Maka aku tetap membiarkan Dira dekat dengan Herman. Lagipula umur ku sudah tidak lama lagi.
Sering kali Reina mengingat kan aku, Reina ingin melabrak Dira yang saat itu tengah berdua dengan Rendi.
Tetapi aku menahan nya dan aku mengatakan bahwa aku tidak apa apa.
"Kenapa kamu diam saja kak, melihat kekasihmu dekat dengan lelaki lain, harusnya dia disini bersamamu, menemani mu bukan bersenanang dengan lelaki lain" kata Reina dengan ketus.
"Biarkan saja, aku ingin dia perlahan melupakan aku, jadi ketika aku pergi nanti dia tidak akan terlalu sakit Rei" kata memaksa senyumku.
"Kau akan sembuh kak, percaya lah padaku" kata Reina
Aku hanya diam saja dan tersenyum. Berharap ada keajaiban dari Allah.
Ku pandangi wajahnya di layar handphone ku, aku tersenyum padanya. Sungguh aku merindukan mu dira.
__ADS_1