
Aku berlari menuju danau yang sering aku dan Didi kunjungi. Kemudian dengan sekuat tenaga aku berteriakk dan mengeluarkan segala kekesalan dalam hatiku.
Rasa sesak menyeruak didalam dada, ingin rasanya diri ini mati saja, ketika mengingat kembali bagaimana mereka berpelukan dan bermesraan di depan mataku.
Kenapa kau selalu membuat hatiku tak karuan mengapa kau sungguh menyebalkan sekali.
Aku menggerutu dalam hati ku. Aku terbayang wajah Didi dan wanita itu. Dan tatapan keduanya mengisyaratkan sesuatu. aku tak mengerti itu semua apa maksud dari mereka seperti ini padaku.
Aku hanya menangis dan menangis seorang diri, hingga sudah cukup dan lelah, aku kembali ke apartemen ku dan beristirahat. Karena aku harus mempersiapkan esok hari jika aku harus kembali melihat penglihatan yang akan begitu menyakitkan bagiku.
Hingga timbul niat dalam hati ku untuk bolos kuliah, atau bisa dibulang cuti study saja. Meski itu pastinya akan menjadi kebodohan yang aku lakukan.
Hingga akhirnya aku mengurungkan niatku untuk bolos kuliah.
"____&&____"
Aku sudah tiba di kampus, dan memulai perkuliahan hari itu, lalu kami bertiga pergi ke kantin dan mulai memesan makanan. Lalu aku melihat dua sejoli yang sedang bermesraan di meja ujung yang tempatnya sedikit jauh dari tempat ku berada.
Entah mengapa Air mata ini dengan mudah nya keluar, tanpa bisa diriku cegah lagi. Perlahan aku mengelap air bening tersebut dengan tisu, dan kemudian mencoba untuk tegar.
Aku hanya diam seolah tidak mengetahui nya. Dan ketika itu aku Rere dan Riri sedang menikmati makanan kami dikantin. Kemudian aku mendengar panggilan dari belakang, akupun menoleh dan mendapati kak Rendi terngah tersenyum padaku.
"Jangan senyum gitu dong kak, kau membuat hatiku meleleh" kata Rere tertawa nyengir.
"Mulai deh, jomblo emang suka berkata-kata" aku menyunggingkan senyum jahil ku.
"gue kesini mau ngajak Dira buat keluar entar malam, Lo mau gak dir?" kak Rendy melihat kearah ku, refleks saja aku kaget karena kak Rendy tiba-tiba mengajak ku keluar. Namun setelah melihat sekeliling dan mataku tertuju pada Andy dan pacar barunya itu mungkin.
__ADS_1
Spontan saja aku menjawabnya "Tentu saja, aku akan menunggu kakak nanti, sampai jumpa nanti malam" kataku dengan senyum manis ku.
Hatiku berdegup kencang melihat tatapan kak Rendy, mengapa dia menatap ku seperti itu.
dengan begitu dalam sampai aku menyadarkan nya " Hey, aku tau aku cantik. Tapi jangan memandangi ku seperti itu, aku bukan pemandangan" kataku dengan ketus sambil memandang kak rendy dengan tatapan jangah.
Kak Rendy pun langsung mencubit kedua pipiku dengan gemas "Untung saja kau cantik, kalo tidak udah ku sumbat itu mulut pake sepatu ku yang mahal ini" tutur kak Rendy sambil mendengus kesal kemudian berlalu meninggalkan kami yang masih setia duduk dikantin.
Aku melihat kembali kearah Andi dan wanita itu. Mereka masih bermesraan dan tak henti-henti nya mengumbar kemesraan dihadapan ku. Aku sangat tidak tahan melihat itu semua, sedari tadi aku berusaha menahan emosiku tapi entah mengapa kali ini aku tak bisa menahannya lagi, aku harus menyelesaikan drama ini.
Sekarang tidak lagi, aku menghampiri mereka dan bahkan aku duduk disamping mereka dengan ekspresi datar dan pura-pura polos.
"Hay, aku boleh gabung?" kataku dengan ekspresi datar. Padahal hati ku sungguh ingin meracau dan meledak saat ini.
Aku sungguh geram pada Andi, bahkan sampai saat ini ia tidak mengklarifikasi mengenai wanita ini dan bahkan Andi tetap menemui wanita ini hingga saat ini.
" Andi, aku ingin bicara padamu? apa boleh? " kataku lemah lembut dan memang sengaja ku lakukan padahal ini rasanya aku memberi kurang lebih satu bogem diwajahnya itu.
Andi pun menoleh padaku, tatapan matanya sendu. Namun aku tetap saja emosi padanya, tak ada lagi rasa iba dalam diriku ketika ketenangan hatiku terusik seperti ini.
"Aku kesini untuk mengembalikan ini" kataku sambil mengembalikan cincin yang diberikan Andy saat ulang tahun ku kemarin.
Andi mengernyitkan dahinya tanda tidak memahami apa yang aku maksud, namun aku sama sekali tak memperdulikannya.
"Aku mau kita menyudahi hubungan kita, maafkan aku, aku sudah tidak kuat melihat mu selalu bersama wanita lain, aku permisi dan semoga selalu bahagia untuk kalian berdua" kataku dengan mata berkaca-kaca dan tentunya air mata sudah membasahi pipiku.
Lalu aku berlari sekencang-kencangnya dari sana dan tiba di dekat sebuah pohon. Aku terduduk dan bersandar di sana, aku meratapi kesedihan ku, mengapa selalu aku yang haru tersakiti. dan lagi lagi aku yang harus mengalah demi wanita itu. brengsek!
__ADS_1
Kak Rendi hanya menatapku dari kejauhan. Aku tau saat ini ia sedang tidak ingin mengganggu kenyamanan ku.
Kemudian dia memberiku isyarat dari jauh dengan meregangkan otot lengan nya, dengan maksud memberiku semangat. Aku pun tersenyum melihatnya dan dia membalas senyuman ku.
Aku baru sadar jika senyum mu begitu manis kak, gumam ku dalam hati.
Namun aku langsung menepuk jidat ku dengan sedikit keras, agar menyadarkan apa yang aku ucapkan barusan.
Disaat masa genting seperti ini, bisa bisanya memikirkan ketampanan orang lain. Dasar aku!
"Dira, Fokus dong. Jangan Linglung gini" ucap diriku memberikan semangat pada diriku sendiri.
Setelah Rasanya hati ini kembali sedikit tenang, meski tentunya aku tetap merasakan sakit mengingat kejadian dikantin tadi, tapi tak ada gunanya diri ini menangisi orang yang mungkin saat ini sedang bahagia bersama kekasih barunya.
Aku beranjak dari taman, dan berusaha memaksakan senyuman dari bibir ini, meski sungguh aku tau kuat lagi untuk tersenyum setelah apa yang aku rasakan saat ini.
Aku berjalan menyusuri tepi jalan, entah kemana diri ini akan pergi aku pun tak mengerti.
Aku terus saja dibayangi oleh kehadiran Andy yang selama ini selalu berada disisiku, bagaimana dia memperlakukan ku dengan lembut, bagaimana dia terus saja menjahiliku, bagaimana dia menjadi benteng pertahanan ketika aku dalam keadaan bahaya.
"Ibu... Aku merindukan dirimu" ucapku setengah berteriak, tak peduli dengan orang yang berada disekelilingku.
Saat ini aku hanya butuh ibu, aku ingin menangis dipelukan ibu, aku hanya ingin bersandar dipundaknya, serta melepaskan beban yang selama ini ku tahan. Ibu anak mu merindukanmu ibu... Hiks... Hiks...
Aku tak kuasa membendung air mataku hingga aku terus saja meraung-raung, hingga aku kehilangan kendali, sampai kak Rendy menemui ku dan membawaku pulang ke apartemen.
Aku masih diam membisu saat kak rendy terus saja mengelus kepala ku dengan lembut, dan aku pun tertidur.
__ADS_1