
Hari hari selalu aku lalui beraama kedua sahabat kembarku, Aku lebih sering bersama mereka sekarang, semenjak putusnya hubungan ku dengan Andy.
Hampir setiap hari aku juga bergabung dengan kak Rendy dan juga kak sisi. Mereka selalu menerima kami dengan baik.
Kami bertiga pun bergabung dengan kak Rendy dan kak sisi. Mereka dengan senang hati menerima kami bergabung dengan mereka karena kebetulan aku sangat dekat dengan Rendy jadi maba mungkin dia berani menolak ku.
Aku sedikit bingung dengan hatiku sendiri, kenapa aku sedikit tak enak hati melihat kedekatan keduanya, namun aku segera menepis semua itu, karena aku dan kak Rendy hanya lah sebatas teman dan sampai kapan pun akan tetap seperti itu.
Kami bersenda gurau saat sedang menyantap makanan yang ada di kantin, aku sengaja ikut bergabung dengan mereka agar aku tidak terlalu kepikiran dengan Andi dan juga Reina.
Namun aku tak sengaja membalikkan badanku, dan aku sadar bahwa seseorang sedang mengamati ku, aku melihat Andi tersenyum padaku, aku hanya diam saja tanpa membalas senyum nya, tapi di dalam lubuk hatiku yang paling dalam, sungguh aku merindukan lelaki itu, aku merindukan semua kenangan ku bersama nya.
Namun kak Rendy, kembali membuyarkan lamunanku.
"Dimakan dong makanann nya jangan di diemin gitu, apa perlu pangeran suapin "kata kak Rendy menggoda ku, aku sedikit geli dengan ucapan nya itu, ditambah lagi kak sisi Rere dan Riri mentertawakan kami.
"Iya kak, ini udah dimakan kok, cielahhhh Pangeran konon, pangeran datang dari kolong jembatan kali" kataku sewot pada kak Rendi.
Kak Rendy hanya tertawa saja melihatku mulai mengomel lagi padanya, dan aku heran kenapa dia selalu saja bisa membuat mood ku berubah ubah.
Setelah menyantap makanan kami ingin segera pulang, namun saat kami sudah berdiri dan ingin segera pergi dari situ. Andi tiba tiba menghampiri ku dan dia sangat dekat sekali dengan ku sehingga membuat jantung ku berdenyut lebih kencang dari biasanya.
"Dir, bisa kita bicara?" kata Andy sambil menatapku dengan tatapan sendu.
Namun sebelum aku menjawab pertanyaan andi, kedua sahabatku sudah lebih dulu menjawab apa yang ditanyakan Andy.
__ADS_1
"Mau ngapain lo bicara sama sahabat gue, udalah jangan ganggu sahabat gue lagi, belom puas Lo nyakitin Dira," kata Rere dan Riri bergantian mengomeli Andy dan tak membiarkan Andy berbicara dengan ku lebih jauh lagi.
"Gue gak bicara sama Lo,Gue bicara sama Dira" kata Andy dengan tatapan yang sulit ku artikan saat ini.
Aku menarik nafas dengan kasar dan akhirnya dengan berat hati aku mengangguk dan akhirnya pergi dari sana bersama dengan Andy, bisa ku lihat ekspresi kak Rendy seketika saja berubah melihat aku pergi dengan Andi.
"Gue pergi dulu ya guys, kalian pulang duluan aja" ucap ku pada seluruh teman ku termasuk pada kak Rendy.
"Gue tunggu in ya sampe Lo sama Andy selesai bicara" kata kak Rendy lagi, sepertinya ia tak ingin membiarkan ku sendirian.
"Ga perlu, ntar gue yang antar Dira pulang" kata Andy menyela sebelum aku sempat menjawabnya.
Kak Rendy menatapku dengan lembut namun aku hanya diam saja dan itu membuat Rendy mengerti bahwa aku menyetujui untuk pulang bersama Andi. Akhirnya mereka semua bubar dari sana dan pulang kerumah mereka masing-masing.
Aku terlihat canggung bersama Andi, aku tak bisa menebak apa yang sebenarnya ada dipikiran Andi tetapi ya sudahlah tak ada gunanya aku bergumam sendiri, toh nanti aku bisa mempertanyakan padanya.
Andi menatapku, aku hanya diam saja tanpa berani membalas tatapan nya padaku.
"Dir, Maafkan aku ya, kita tidak bisa bersmaa seperti dulu lagi" kata Andy dengan datar.
Aku menoleh padanya.
"Kenapa?" kataku juga dengan nada datar yang sama dengan nya.
"Karena aku sudah tidak mencintai mu" kata Andy padaku dan membuat ku terkejut dan segera menatap nya lekat. Aku sangat tidak menyangka dia mengucapkan hal itu padaku, bagaimana bisa ia mengatakan hal itu padaku, setelah semua perjuangan kami selama ini. Apa itu mungkin, dan bagaimana bisa
__ADS_1
Aku merasakan nyeri di dada ku, bagaimana dia bisa mengatakan itu padaku, dan apa maksud dari ini semua. Otak ku seolah lumpuh sehingga aku tak bisa mengartikan ucapan Andy saat ini.
Aku mengamati wajahnya yang begitu tegang, bahkan bisa aku lihat dia seperti kurang sehat karena wajahnya terlihat sedikit pucat seolah dia menahan sakit.
"Jika itu sudah menjadi keputusan mu, maka marilah bersama sama kita mengakhiri hubungan ini" kata ku sinis padahal dalam hati, sungguh hatiku menangis dan ingin langsung menyumpah serapahi Andy.
Kemudian dia menatapku dengan tatapan sendu, seolah kecewa akan jawaban ku yang spontan langsung mengatakan iya. Jika dipikir pikir untuk apa diri ini menahannya, jika dirinya saja sudah tak menginginkan aku lagi.
Tetapi apa lagi yang bisa aku jawab selain itu, bukannya dia memang menginginkan hubungan ini berakhir, lalu apa lagi sekarang? apa aku harus mempertahankan orang yang jelas-jelas sudah berkhianat di depan mata ku sendiri.
Lama aku terdiam menatap nya, dan dia juga menatapnya, ingin rasanya diri ini memeluknya, dan kembali bersandar di pundaknya dan menjadikan dirinya sandaran bagiku seperti dulu, tetapi tidak. Aku tidak akan melakukan itu lagi.
Hanya gadis bodoh yang rela diselingkuhi dan gadis bodoh itu bukan aku, begitu lah logika ku menolak meski hati ku sangat ingin. Ingin sekali berada dalam pelukannya.
Perlahan Memory ku mengingat kembali seluruh kenangan indah yang terjadi antara diriku dan andy, perlahan aku mengingat senua perjalanan kisah cinta aku dan Andy. Hingga pada momen yang menyakitkan. Dimana saat aku melihat Andy berpelukan dengan wanita lain.
Wanita itupun berada di satu kampus yang sama dengan ku, bagaimana bisa hatiku memaafkan mereka berdua dengan begitu mudah.
Bahkan aku tidak yakin jika aku bisa memaafkan keduanya, karena yang mereka lakukan benar-benar sudah melewati batasan.
Setelah kesadaran ku pulih.
Aku pergi meninggalkan nya sendiri di taman kemudian aku pulang ke apartemen ku menggunakan taxi.
Sedangkan Andy tetap berdiri ditempat semula dan terus melihat diri ku berjalan dan masuk ke dalam taxi, sedangkan ia masih setia berdiri disana.
__ADS_1
Sekilas aku melihat air mata jatuh di pipinya, tetapi tunggu dulu, Mengapa dia menangis ada apa dengannya. Apa dia menyesali perbuatan nya aku pun sama sekali tak mengerti.