
Peduliku keterlaluan itulah sebab mengapa aku terlalu, sedangkan kamu bisa bertingkah seperti tidak terjadi apapun.
Seminggu setelah kejadian itu aku benar-benar menghindarinya aku takut hal itu terjadi lagi, aku takut akan mengulang kisah yang dialami mbak bella, aku bisa saja menjauhi Dimas, meninggalkannya tapi bagaimana nasib twins pada siapa mereka menaruh harapan?
ayahnya saya terang- terangan mengatakan ingin membunuh merekaaku membawa twins kerumah sahabatku cukup jauh dari apartemen dimas selain untuk menghindari pelecehan yang akan kualami, aku juga harus keluar kota untuk beberapa hari dan tidak mungkin aku menelantarkan mereka.
berhenti bekerja dan fokus menggurusi twins lalu menumpang hidup pada Dimas bisa saja kulakukan, namun itu tidak menjadi pilihan karena orang yang membesarkanku selalu menuntutku untuk mengiriminya uang setiap bulan dan jadilah aku seperti sekarang ini.
Waktu terus berlalu hampir tiga minggu baru aku bisa menyelesaikan pekerjaanku di Jogja, sebenarnya aku hanya dijadwalkan disana selama seminggu namun karena ada sedikit masalah, mau tidak mau aku harus menangganinya hingga selesai.
Selama tiga minggu pun aku hanya mendapatkan kabar perkembangan twins dari Hendra dan keluarganya.
Hendra dan keluarganya sangat senang ketika kutitipkan twins karena Hendra sendiri telah menikah namun sampai saat ini belum di karuniai anak dan dengan adanya mitos jika merawat anak orang lain akan bisa memancing agar bisa memiliki keturunan juga, jadilah si twins di sambut dengan suka cita di tengah keluarga Hendra setidaknya aku menitipkan twins ditangan yang tepat sehingga membuatku bisa bergerak bebas tanpa beban.
Aku tiba di Jakarta pukul 10 pagi, dengan bantuan Hendra dan istrinya aku kembali membawa twins ke apartemen milik Dimas tepat pukul 5 sore bertepatan juga dengan kepulangan Dimas dari kantor, hal ini membuat awkward moment antara kami, aku belum menjelaskan semua kebenarannya pada Hendra.
tatapan memicing Hendra seolah meminta penjelasan namun tak kuhiraukan dia karena rasa lelahku lebih mendominasi sekarang ini.
Tubuh dan pikiran membutuhkan tempat tidur saat ini aku enggan mengingat ciuman itu apa lagi membahasnya dengan Dimas juga enggan jika harus bercerita pada Hendra.
Saat ini akhirnya setelah mengusir Hendra dan istrinya dengan cara halus aku juga twins bisa memasuki kamar namun langkahku terhalang karena Dimas kini berdiri tepat didepan kereta twins.
"Ku kira kamu sudah melupakan jalan pulang nona?"
__ADS_1
"Mmmm minggir"
"Kenapa masih kau bawa mereka, knapa tidak membuang mereka pada temanmu itu?"
"Waow saya begitu terkesima akan kepedulian anda tuan, minggir saya lelah"
"Kau boleh masuk tapi buang mereka dari hadapanku"
"Eh sinting sini, sini kutunjukkan padamu wajah siapa yang ada pada dua bayi ini, kau tahu setiap melihat wajah mereka, aku serasa semakin ingin membunuhmu jadi minggir sebelum aku bertindak"
"Buktikan" tantangnya
"Tar kalo lo udah tidur, gua pikirin alat apa yang cocok tuk motong junior lo itu sana gue capek"
tubuh seakan tak bertulang lagi semuanya remuk tak tersisakan. tak ada nikmat yang bisa mengalahkan hal ini, sungguh obat mujarab menggalahkan lelah adalah dengan berbaring nyaman tanpa serta ditemani selimut lembut dan hangat namun rasanya aku baru saja menutup mata dan bersiap menuju alam mimpi yang indah tiba - tiba kurasakan seseorang memelukku dari belakang. awalnya aku menggira itu arwah mbak bella tapi setika mengirup farpum yang sangat kukenal aku bisa sedikit benafas lega, lalu dengan terbata-bata aku berkata
"Apa yang kau lakukan?" tanyaku
"Memelukmu"
"Pak saya mohon jangan seperti ini" kataku memohon takut jika kejadian itu terulang kembali.
"...."
__ADS_1
"Pak" kataku sedikit keras
"Tidurlah" katanya bermasa bodoh
"iya tapi tidak dengan begini"
"cih, tidak usah bersandiwara kau sukakan?"
"anda terlalu berharap tuan, tolong lepaskan" pintaku dengan menekan semua kesabaranku.
"...." dia sudah tak bersuara bahkan kurasakan nafasnya mulai teratur lembut.
aku berusaha melepaskan dekapan itu namun nyata memang dia sangat kuat. mataku tak kunjung terpejam memikirkan hal-hal yang menakutkan.
dalam benakku aku memikirkan kebinggunganku dengan Dimas benarkah nafsu menghilangkan akal seseorang, Dimas tidak pernah keberatan ataupun protes dengan semua ucapan maupun tindakanku yang menghancurkan apatermen dan hidupnya, tapi kenapa dirinya seakan tidak pernah bisa menerima kehadiran mbak Bella, apalagi anak kandungnya sendiri?.
Apakah aku korban selanjutnya?, apakah aku orang yang selanjutnya yang akan dia singkirkan setelah puas mempermainkanku? dan apakah dirinya akan membuangku setelah merebut mahkotaku? hanya pertanyaan - pertanyaan itu yang memenuhi pikiranku.
Bohong jika aku tak bergetar karena takut dengan Dimas memerkosaku saat lenggah, merasakan aku terus bergerak tiba-tiba Dimas menggusap pipiku membuat aku semakin tegang.
dia lalu berkata "tidurlah sebelum aku berubah pikiran dan memerkosamu" katanya sangat-sangat lembut dikupingku.
mendengar itu tubuhku semakin bergetar namun aku terus saja berpura-pura tidur. aku tidak tahu berapa lama aku berpura-pura karena nyatanya apa yang kulakukan memang menggantarku benar-benar terlelap.
__ADS_1