
Sikapnya itu tidak berubah hingga saat ini, setelah melahirkan anak pertamanya tapi berstatus anak ketiga kami pun dirinya masih bersikap dingin denganku, aku semakin kehilangan sosok wanitaku yang hangat, cerewet dan semborono.
efek ucapanku ternyata begitu berpengaruh untuknya, dirinya kini lebih dewasa, lebih pendiam, dan lebih memperhatikan dirinya sendiri dibanding hari-hari kemarin.
setelah melahirkan, dirinya bener-benar memanfaatkan keempat babysitter kami, dirinya hanya menyusui fatih kecil lalu menidurkannya kembali, ketika si fatih kecil tertidur caca mengajak twins bermain, makan, dan bercanda sebentar lalu ketika waktu tidur caca menyerahkan twins pada babysitternya lagi.
twins pun seakan mengerti harus berbagi kasih sayang dan memberi waktu untuk atinya sendiri, hingga dirinya memiliki banyak waktu senggang.
diwaktu kosongnya pun caca kini menyempatkan dirinya untuk menurunkan berat badanya dan berusaha dengan sangat giat untuk terlihat cantik, awalnya ibu sempat heran dengan perubahan sikap istriku namun ternyata ibuku lebih suka sikap caca saat ini mereka malah selalu melakukan aktivitas bersama seperti yoga, menyiapkan keperluan anak-anak hingga berbelanja bersama jadi sudah sangat jarang terjadi perdebatan di rumah kami.
aku merindukan istriku yang kasar, cerewet, kekanak-kanankan, suasana rumah yang dulu, itu lebih berkesan dibandingkan saat ini, huh seadainya waktu bisa diputar kembali.
Kini usia fatih kecil sudah cukup dua bulan, dan twins juga semakin fasih untuk berbicara, orang tuaku semakin sering tertawa karena fatih yang menggemaskan, tingkah danisa yang centil dan sikap angkuh daniel, duh anak itu masih kecil saja sudah seperti aku, dan lagi-lagi aku dan daniel hanya akan lunak jika bersama caca, istriku, dan atinya daniel, kami berdua seakan tidak punya karakter apapun dihadapannya.
__ADS_1
Caca seakan punya sihir sendiri hingga membuatku dan daniel selalu menurut dan membutuhkan caca. jika seseorang yang tidak tahu kisah rumah tanggaku yang sebenarnya dan melihat secara langsung keakrabpan kami sekeluarga, mereka akan berpikir kami adalah keluarga yang sangat harmonis dan bahagia, begitupun yang tersebar dihadapan media dan masyarakat akan keluarga adipati.
bagaimana tidak, ekonomi kami lebih, ada tiga wanita cantik dalam keluarga kami dan empat lelaki tampan dengan usia yang berbeda-beda seakan begitu sempurna untuk sebuah keluarga.
Walaupun begitu aku membendung perasaan lain dan hanya aku yang mengetahui dan merasakannya, caca orang yang bisa dipercaya dan bisa berakting dengan sangat baik sehingga orang tuaku pun yang tinggal seatap dengan kami tidak tahu masalah yang ada pada kami, hingga aku sudah tidak sanggup menahan semuanya mendapati sikap dan tingkah caca selama tiga bulan ini.
dengan cara kasar akhirnya aku menyeret wanitaku keruang kerjaku untuk mengungkapkan semua amarahku selama ini, kupikir dirinya hanya akan mendiamiku sebentar saja tapi ini, ini sudah lebih dari cukup.
kubungkam bibirnya dengan bibirku, walaupun begitu dirinya terus bergerak menghindar dan mencoba lepas dari kungkunganku namun tenaganya kalah denganku dengan susah payah dirinya menahan tanganku yang mengoyak bajunya dengan kasar.
tentu aku tidak peduli aksi protesnya itu namun rasa asin yang kurasakan menyadarkanku jika wanitaku lagi-lagi meneteskan air matanya karenaku.
Ditengah tangisannya, kini kutegkkan tubuhku lalu duduk di sudut sofa lalu kutarik wanitaku dan menyuruhnya duduk di pangkuanku, kudekap tubuhnya yang kurindukan selama tiga bulan ini, tanggisnya semakin pecah saat kubelah wajahnya dengan cara yang lembut, dengan isak tanggisnya dirinya akhirnya mau berbicara padaku.
__ADS_1
"Aku hiks, aku sudah tampil cantik hiks hiks jadi jadi kapan kau hiks kau membuangku.?"
aku cukup terpengarah dengan ucapannya, kupikir dirinya akan menanyakan perubahan sikapku yang tiba-tiba melunak setelah mengetahui dirinya menanggis namun ternyata kata yang terlongar adalah cambukan tidak kasat mata yang lebih menyakitkan untuk kami berdua.
mulutku memang tidak pernah mengatakan akan ada perpisahan diantara kami apalagi cinta untuknya namun tahukan aku sangat dan sangat merasa nyaman dengan keberadaanya di sampingku, keberadaannya juga menjadi pusat kebahagiaan untuk keluargaku namun mengapa hingga saat ini dirinya berpikir aku akan meninggalkannya, huh dasar wanita tidak peka dan bodoh tidak sadarkah dia akan segala sikapku padanya, huhhh bodoh caca bodoh, istri bodoh.
Ingin sekali bibirku mengumpatinya namun nalarku bekerja dengan baik, tidak ingin mendapatkan masalah lebih besar, akhirnya aku kembali membungkam bibirnya dengan bibirku, jika tadi dengan kasar namun saat ini aku melumat bibirnya dengan cara lembut sangat lembut untuk mengungkapkan seberapa besarnya perasaanku padanya.
Dengan kelembutan itu, kami seakan terhipnotis hingga tanpa kami sadari tubuh kami sudah tidak terbalut apa pun lagi, sentuhan dan jilatan dariku membuatnya mendesah pasrah hingga hanya menyerahkan semuanya padaku, namun baru saja aku akan menyatukan tubuh kami suara ketukan pintu dan suara tangisan fatih dibalik pintu kembali menyadarkan kami berdua, dengan susah payah kutahan bibirku mengumpahi fatih yang mengintrupsi kegiatan kami, seandainya fatih bukan seorang bayi tentu saja aku akan mengajaknya berduet namun lagi -lagi aku harus mengalah.
kupehatikan caca kembali memungut pakaiannya lalu memakainya dengan terburu-buru dan setelah selesai dirinya berlalu begitu saja tanpa menghiraukanku, aku bagaikan pelacur yang ditinggalkan oleh pelanggannya setelah puas, akhirnya aku hanya bisa terduduk lemas sambil mengelus- ngelus dimas junior sambil menahan segala rasa yang kurasakan.
"Aggggrrrrrhhh sialan" umpatku lalu berlalu kekamar mandi dan lagi-lagi harus berendam air dingin untuk meredakan nafsuku kali ini, awas saja jika sudah punya waktu luang tidak akan ada yang bisa menghentikanku untuk melampiaskan hasratku, pada atimu, tunggu saja setan kecil tunggu pembalasanku.
__ADS_1