BUDUBYNSITTER

BUDUBYNSITTER
Episode 53


__ADS_3

Dimas P.O.V


Disinilah aku, kembali ke bandung setelah sekian lama meninggalkan keluargaku di kota ini, dihadapanku kini ada seorang wanita berperut buncit dan dua kurcaci kecil yang berjalan terpatah-patah menuju ke arahku, kedua kurcaci itu beberapa kali terjatuh namun tidak mematahkan semangat mereka agar menyentuhku.


keluarga kecilku kini berada di dekapanku, walaupun aku harus menahan rasa mual ketika melihat wanita yang begitu kurindukan setiap detiknya, tapi huh hatiku merasa bahagia melihat mereka baik-baik saja tanpaku, tiga bulan lebih aku meninggalkan mereka twins semakin aktif dan wanitaku terlihat mmm jelek dengan perut buncit dan pipi tembemnya, hampir sama denganku yang terlihat kuyu dan drop beberapa kali karena efek ngidam yang ku alami, entah mengapa anak yang dikandung istriku seakan benar-benar ingin membunuhku, lihat saja saat dia


lahir nanti aku ingin membalas semua perbuatannya.


"Selamat datang lahan jajahanku siapkah anda membayar semua piutang anda kali ini?" katanya dengan gaya genit dan mata yang dikedip-kedipkan.


"mm" ucapku acuh

__ADS_1


"tentu saja, oyah karena api perginya lama uang yang api pinjam berbungga ya?" ucapnya manja serta menarik-narik bajuku layaknya anak kecil yang memelas diberikan mainan baru, huh entah apa yang terjadi padanya namun ishh karena ulahnya itu kami sudah menjadi pusat perhatian orang-orang.


"bagaimana kandunganmu" ucapku menggalihkan pembahasan kami, aku enggan membahas mengenai uang bukannya jika dia kekurangan uang dirinya hanya perlu menarik dari salah satu kartu atm yang kuberikan, tidak perlu menggorek isi dompetku setiap harinya, namun sampai saat ini semua kartu-kartu itu hanya menjadi


pajangan di dalam dompetnya yang terlihat sangat lusuh, entah dirinya sadar tidak hidup di tahun keberapa sehingga lebih menyukai uang cash dibandingkan kartu-kartu pemberianku yang jika nominalkan bisa saja membeli beberapa mobil dan dua rumah yang lebih besar dibandingkan rumah yang kami tempati saat initapi yaa sudahlah itu dirinya, dan setiap kutanyakan dirinya hanya akan menjawab.


"Kalo aku merampokmu secara langsung itu tidak akan memiliki bukti dan tuntutan untuk mengembalikannya beda saat nominal itu tercatat dan punya bukti jadi suamiku sayang nikmati kesensaraan anda bersama kami"


Kata-kata itu terus terniang dalam benakku hingga saat ini, beberapa menit kebersamaan kami tanpa aku sadari fokus perhatiaanku tertuju pada perut besarnya, dan mengetahui hal itu caca malah hanya tersenyum dan terus menggelus perut buncitnya itu, sumpah caca sebenarnya terlihat seperti badut tanpa make up tebal dibandingkan ibu hamil, dengan wajah dan tubuh yang membengkak sangat berbeda dengan bella saat menggandung twins.


Diperjalan pulang wanitaku tak mengucapkan sepatah katapun setelah puas mengotak atik dompetku bersama twins dia bertingkah seperti anak baik malah sangat baik, ocehan dan renggekan twins menggalihkan perhatian, dan kesabaranku, bagaimana tidak harus bersabar jika kini daniel sedang memasukkan salah satu kartu atmku kedalam mulutnya yang penuh dengan lendir itu, lalu dengan riang daniel menggesekkannya di sembarang tempat, itu belum seberapa jika dibandingkandengan danisa, wanita kecil itu menumpahkan susu formula di atas dompetku,

__ADS_1


masalahnya ada kartu nama orang penting yang harus kuhubunggi dalam dompet itu tapi aku yang terlalu malas menegur mereka, jadi kubiarkan saja untuk dua balita itu.


otakku masih bisa memaklumi namun wanita gila yang tiba-tiba berubah menjadi langsia itu ssss, disaat twins seperti itu, tanpa beban dan dengan sikap tenang dirinya tetap bisa makan dengan lahap, aku sih tidak masalah dia makan tapi caranya makan itu loh uuuu berantakan seperti twins malah kurasa lebih parah dari twins.


Rasanya hal itu membuatku benar-benar mencabik-cabik tubuhnya dan ingin menikmati setiap percikan darah yang mengalir dari tubunya, namun lagi-lagi itu hanya jadi angan-angkunku, karena kami terjebak dalam kota kecil yang bernama mobil, jadi jika aku membuat twins menangis tentu untuk menenangkan kembali dibutuhkan seluruh jiwa dan raga dan huh tubuhku lelah sangat lelah untuk menghadapi itu semua, jadi kubiarkan saja mereka bertindak sesuka hati.


Tidak butuh waktu lama akhirnya kami tiba di rumah dan di depan pintu rumah ibuku telah menyambutku dengan suka cita juga segala aduan mengenai istriku selama mereka berada diatap yang sama, kalian pasti tahu betapa muaknya aku saat ini, disaat ragaku lelah tapi tetap harus menyaksikan perdebatan dua wanita dewasa dikeluargaku, dan satu wanita kecil yang dengan gembira sambil bertepuk tangan menyaksikan perdebatan dihadapannya,oghhh sungguh dikeluargaku tak seorang pun wanitanya yang beres.


"Dasar menantu tidak tahu diri, tidak tahu di untung, kau harusnya bersyukur dimas mau menikahimu, wanita macam kamu itu tidak ada yang mengginginkanmu, sudah begitu kau sangat dimanjakan dengan anakku, huh entah kesialan apa yang menimpa anakku hingga harus hidup bersamamu"


"Ak...aku hiks..hiks" ucap istriku terbata-bata dan menanggis dengan penuh dramatis, entah ini adalah tangisan kekalahan dan tidak biasa berkata-kata atau efek kehamilannya karena kurasa ucapanku dulu lebih sadis dibanding yang diucapkan ibu tapi efek dari ucapan itu sama seperti korban yang terkena bencana alam, tidak hanya aku yang merasa aneh dengan tangisan istriku buktinya ayah dan ibu tercenggang melihat caca menanggis sejadi-jadinya.

__ADS_1


mungkin ayah dan ibu menantikan kalimat bantahan seperti biasanya, tahukan jika istriku adalah preman pasar yang jadi aku tidak pernah mengkhawirkannya terluka dengan ucapan dan kelakuaan orang tuaku tapi yang terjadi dihadapanku malah berbeda, hah hidupku rasanya tidak ada yang berjalan mulus, wanitaku masih menanggis dan


memelukku dengan begitu erat, tidak lama dari itu disusul dengan tangisan twins yang membahana mengisi ruang keluarga kami jadilah penyambutanku kali ini bertemakan tangisan.


__ADS_2