
Hari ini weekend, aku baru saja memandikan kesayanganku, setelah meminum susu lalu sedikit berjemur aku kembali membuat mereka tertidur rasanya begitu enggan untuk melewatkan setiap moment pertumbuhan mereka setiap hari, ada saja yang membuatku semakin menyayangi mereka huh seandainya ayah mereka memiliki sedikit kepedulian akan mereka pasti semuanya takkan serumit ini.
"kau sepertinya sangat suka memanjakan mereka"
"jelas mereka sangat manis"
"cih, ibarat merawat ular suatu saat mereka akan memakanmu"
"ahahah ya tapi yang pertama kali dimakan adalh kau tuan"
"mereka sepertinya tidak bergerak, Apa mereka akhirnya mati?" katanya
"Mati- mati, ada gak si doa lain selain mati untuk mereka?"
"Mereka tidak pantas hidup" katanya bersidekap sembari menyandarkan tubuhnya didinding.
"Yah dan sialnya kau sendirilah yang jadi penyebab mereka hidup" kataku.
__ADS_1
"Mahaldica" ucapnya dengan suara rendah namun terdengar begitu dingin
"Apa?" ucapku menantangnya kulihat rahangnya mengeras, tangannya terkepal begitu kuat hingga menonjolkan urat - urat di lengannya, aku tahu dirinya marah namun kurasa tidak ada yang salah dari kalimatku.
"....." tak ada jawaban aku kembali berkata
"Kenapa memang benarkan jika bukan karena nafsu bapak ke mbak Bella, mereka gak bakalan bertumbuh di rahim mbak Bella dan mereka gak bakalan harus nerima kekejaman bapak?" ucapku lagi
"STOP jangan pernah sekali - sekali menyebut nama jalang itu lagi" ucapnya datar namun memancarkan aura dingin dan menunjuk wajahku.
"Kenapa toh dia ibu dari anak - anak bapak"
"Apa sih yang ada dalam otak lo itu binatang aja sebodoh -bodohnya mereka tetep bakalan kenalin anaknya sendiri nah lo?"
"DIAM" ucapnya mulai mengangkat tangannya mencoba untuk menamparku.
kali ini bukannya gentar aku malah dengan beraninya berkata
__ADS_1
"KENAPA BILANG SAMA SAYA, BILANG DIMAS" ucapku meninggikan suaraku
"KAU" tangannya benar-benar akan mengarah ke wajahku namun tangis twins mengintrupsi perdebatan kami.
aku lalu meninggalkannya menuju kamar yang berisikan twins didalamnya, aku muak dengan Dimas sekarang aku berada di dalam kehidupannya namun tak tahu alasan dia tidak ingin mengakui anaknya.
Seperti biasanya hari ini makin panjang, dan selalu melelahkan dengan semua aktivitas serta harus berdebat panjang dengan siiblis behhh duniaaa ini serasa sangat sempit untukku, duniaku hanya berputar-putar ditempat yang sama.
kantor- rumah-twins-dimas,dimas-twins-rumah-kantor. jika menggingat itu rasanya mmm menyebalkan.
Hahhh adakah dunia lain yang sedia menampung Dimas, alam kubur rasanya juga terlalu bagus untuknya jadi harus kuungsikan kemana dirinya itu.
twins terbangun karena popoknya penuh lalu setelah berganti kami sempat bermain sesaat lalu selesai bermain mereka tertidur kembali.
Waktu sudah menunjukkan pukul 8 : 30 malam, aku memutuskan akan memasak mie untuk makan malamku karena untuk memasak dan memakannya sendiri sungguh tidak menggugah selera dan tubuhku terlalu lelah melakukan gerakan tambahan, lebih-lebih batinku yang selalu menjerit-jerit meminta pertolongan.
Aku adalah wanita muda yang belom pernah merasakan cinta, pacaran, dan menikah tapi sudah harus melakukan kerjaan seorang ibu yang harusnya menggurus dan mencintai anak-anaknya dan itu membuat hatiku semakin lelah.
__ADS_1
Aku bukannya tidak mensyukuri keberadaan twins ataupun membenci kehadiran twins, sungguh aku sangat mencintai dan menyanyanggi mereka namun heii aku wanita muda yang tidak terlalu mengerti seperti apa aku mendidik anak-anak nantinya?.