BUDUBYNSITTER

BUDUBYNSITTER
MADHANG DHISIT


__ADS_3

Waktu terus berlalu kini aku telah mengadakan syukuran atas kelakhiran twins di salah satu panti asuhan terdekat dari pusat kota tanpa si iblis, walau begitu aku menggunakan uang dari Dimas tentunya.


Uangnya saja yang ada orangnya mati mungkin, setelah semuanya selesai akhirnya kubawa mereka berdua ke apertemen milik pasutri tidak jelas itu.


Dengan bantuan pada suster akhirnya kami sampai jua, untung ada mereka kalo tidak entah bagaimana aku menggurusi semua barang-barang milik twins yang tanpa sadar kubeli cukup banyak.


Kini apertemen ini serasa sangat sepi, setibanya kami disini tak kutemukan dua asisten rumah tangga seperti biasanya ketika aku ke tempat ini.


Dengan sedikit drama akhirnya Kami bertiga memasuki kamar milik mbak Bella namun nyatanya setelah memerhatikan setiap sudut kamar, kamar ini seakan tidak pernah memiliki penghuni.


Dulu ketika kamar ini milik mbak Bella, hampir semua isinya bewarna pink dan biru, kini entah kemana semua lelaki iblis itu menyingkirkan semua baarang masih layak pakai milik mbak bella.


aku seakan kehabisan kata buat lelaki gila itu, aku juga tidak pernah menyangka jika bossku sebenci itu pada mendiang istrinya juga Segila itukah bossku hingga semua barang mbak bella harus musnahkan?.


Seribu Tanya kini terbersit dalam benakku, namun dari segala pertanyaan akan pernikahan bossku yang lebih dominan sekarang kutanyakan adalah ada masalah apa dengan twins sehingga ketika kami memasuki ruangan ini mereka terus saa menanggis tiada henti.


Twins terus saja bergerak gelisah dan menanggis sedari tadi, mungkinkah mereka merasakan jika kamar ini adalah salah saksi begitu menderitanya sang ibu atau jangan-jangan mereka sedang merasakan kehadiran mbak bella?. Ada yang pernah bilang padaku jika orang yang meninggal tidak serta merta hilang begitu saja.


Sebelum hari ke 40 mereka, mereka akan masih berkeliaran disekitar tempat tinggalnya jadi bisakah kemungkinan ini sedang terjadi sehingga twins tidak bisa tenang?, memiliki pemikiran itu aku seketika bulu kuduku berdiri hingga membuatku kedinginan tidak jelas sehingga aku mendorong kereta mereka keluar kamar dengan sedikit terbirit-birit.

__ADS_1


Aku masih dirundung ketakutan begitupun twins yang tidak berhenti menanggis padahal, popok mereka aman kok, mereka juga sudah kenyang, jika sudah begitu aku juga semakin panic tidak karuan mau kabur juga entah aku harus kemana?.


Kakiku serasa begitu berat, Aku masih bertengkar dengan pikiranku sendiri hingga dengan bodohnya aku duduk pura-pura tenang lalu bermonolog. Aku berkata


“Kalo mbak bella ada dirumah ini tolong jangan ganggu ya mbak?”


“….” Tak ada jawaban selain tanggis twins yang belum kunjung berhenti.


“mbak bella sekarang tolong beristirahatlah yang tenang yah?, soal anak-anak mbak insya allah caca akan coba bantu mbak ya?”


“….” Masih dijawab oleh tanggisan twins


“mbak udah dong jangan buat caca takut, aku kabur nih…” jeritku menambah kegaduhan bersama twins


“….”


“mbak pergi gih, huss huss kita dah beda alam mbakkkkkkk” jeritku semakin tak karuan ketika tiba –tiba sebuah pot bunga pecah begitu saja.


“...” twins masih menanggis, walau sebenarnya pilihan yang lebih tepat adalah kabur aku tetap mencoba untuk tenang sehingga dengan tanggisan tidak jelas kusentuh tangan twins seakan meyakinkan jika aku tidak sendiri dirumah berhantu ini, masih dengan kebodohanku aku kembali berkata

__ADS_1


“kalo mbak sakit hati dengan perlakuan boss jangan lampiasin ke caca hiksss aduuu tanteeee” jeritku tidak jelas karena ketika membuka mata aku seakan melihat sosok mbak bella di hadapanku.


“mataku melotot tapi raga dan tubuh juga bibirku terkunci sehingga tanpa daya apapun aku hanya bisa melotot di depan mbak bella”


Setelah diam sedari tadi kini akhirnya mbak bella membuka mulut namun tak bersuara hanya bibirnya bergerak seakan berkata “balas dendam.. balas dendam.. balas dendam” terus menerus sembari menggerakkan lehernya kekiri dan kekanan.


“….” Tubuhku masih terasa terkunci hingga ketika tangan mbak bella terangkat lalu dia semakin mendekat maka saat itulah aku mampu menjerit sekuat tenaga yang kubisa.


"huhhh"


"hhuhhh"


"hhhhuhuhu"


Nafasku kini layaknya orang yang telah berlari 500 meter, keringat juga sudah bercucuran begitu saja. Untunglah ternyata semua hanya mimpi belaka.


Tanpa kusadari nyatanya aku hanya tertidur lalu berpimpi buruk karena menurut orang terdahulu memang pantang untuk tertidur ketika adzan sholat magrib telah berkumandan.


Bertemu mbak bella itu mimpi namun suara tangisan twins itu benar adanya, mereka ternyata kelapan. Setelah memastikan twin aman akhirnya kukerjakan sholat magribku sembari mendoakan mbak bella.

__ADS_1


Ya aku juga meminta jika itu adalah mimpi pertama dan terakhir kali aku berurusan dengan orang yang baru saja meninggal.


__ADS_2