
steve mengendarai mobil dan membawaku pulang kerumah orang tuanya, disana aku kembali disambut dengan suka cita, orang tua steve sangat baik padaku dan menganggapku layaknya anak kandung mereka sendiri, mereka sempat berpikiran untuk menjodohkanku dan steve tapi lagi-lagi nasip sial menghampiriku saat itu steve memiliki kekasih yang sangat dicintainya dan menolak perjodohan itu secara halus dan aku tahu itu walaupun mereka menyembunyikannya tapi tanpa mereka sadari aku mendengar pembicaraan mereka kala itu.
"Kau ini sangat jahat setelah mendapatian lelaki kaya akhirnya melupakan kami hah kau bahkan tidak mengundang kami di pernikahnmu dan sekarang kau masih berani ke gubug reotku ini?" ucap tante anita dirinya memang seperti itu sangat suka mendramakan sesuatu, jujur aku merasa malu mendengarnya aku seakan kacang yang melupakan kulitnya, walaupun sebenarnya itu bukan kesalahanku, tapi untuk menceritakan kenyataan pada tante anita rasanyaa hal itu tidak perlu ku ceritakan, tante anita dan sikap paniknya itu tidak akan membantu tapi malah menambah drama-drama lagi yang tidak jelas jalan ceritanya. jadilah aku harus berbohong dan mengarang banyak cerita agar tante anita mengerti
"Aku malu tante, tante mungkin sudah tahu kan gosip tentangku, aku hamil diluar nikah dan harus menikah untuk menutupi aibku, aku benar-benar malu slama ini aku dangat merepotkan kalian, dan untuk membawa kalian dalam pernikahanku aku takut kalo nama baik kalian ikut tercemar" ucapku dengan suara lirih dan pura-pura menitihkan air mata sungguh hanya cara itu yang kini bisa membebaskanku dari introgasi tante anita.
Melihatku seperti itu akhirnya orangtua steve menyarankan aku agar beristirahat dikamar yang dulu kutempati, didalam kamar itu tidak ada yang berubah, masih bersih dan wangi seperti ciri khasku aku yakin tante anita merawat kamar ini sangat baik aghh aku sungguh merindukan masa lajangku.
ketika akan menutup mata dan menuju alam mimpi dering telponku membuatku kembali tersadar, awalnya aku tidak ingin mengubris suara telpon itu, tapi si penelpon menghubunggiku berkali-kali hingga membuatku naik pitam tanpa melihat nama sipenelpon aku menggeserkan ikon telpon dan berbicara dengan nada ketus
"Heii apa kau gila menelpon di tengah malam seperti ini"
__ADS_1
"Kau yang gila mendatanggi rumah seorang laki-laki dijam seperti ini" ucap seseorang yang suaranya sangat pamiliar untukku.
"Hah" ucapku binggung mendengar ucapan itu aku segera melihat nama kontak orang yang menelponku saat ini, dan mataku membulat sempurna dimas nama dimas yang tertera dilayar henponeku tapi bagaimana dia tahu tunggu tunggu kalo dimas tahu aku dibawah pergi dengan laki-laki apa dia membuntutiku ? ag kurasa itu tidak mungkin.
"Kau mendengarku"
"Ada apa katamu"
"Iya ada apa, kenapa tuan menelpon hamba disepertiga malam seperti ini"
__ADS_1
"Kau lupa statusmu nyonya ?" ucapnya dengan suara datar tapi aura dingin seakan tersalurkan lewat sambungan telpon.
"Aghh gh iaa sedikit"
"Sedikit katamu"
"Iyaa aku rindu masa lajangku terus masalahnya dimana"
"Kau boleh jadi jalang tapi tidak disaat statusmu menjadi istriku" mulutnya itu terlalu lancar mengeluarkan kata-kata tajam untuk menikamku.
"HEI KAU" sunggutku dengan suara pongah aku seketika ingin membentaknya tapi aku tersadar jika sekarang aku berada di kediaman keluarga anita, sungguh aku tahu statusku untuknya tapi mendengar ucapan itu langsung dari dimas rasanya sangat menyakitkan tanpa terasa air mataku menetes begitu saja sakit sangat sakit kata- kata singkat itu seakan ingin mencabik-cabik semua tubuhku.
__ADS_1
Aku hanya mampu menanggis dan merutuki nasib sial yang kumiliki, entah kapan kebahagian menetap dalam kehidupanku, aku bosan sangat bosan hidup menderita seperti ini dan tanpa kata-kata lagi aku mematikan telpon lalu mencabut sim cart milikku orang lain boleh menghinaku sesuka hati mereka tapi dimas, dimas yang mengatakannya seakan menyadarkanku bahwa aku memang tidak memiliki nilai apapun didunia ini. cukup lama aku menanggis hingga lelah memelukku dan akhirnya aku tertidur karena benar-benar kelelahan.