BUDUBYNSITTER

BUDUBYNSITTER
ILMUNE INYONG ESIH


__ADS_3

Beberapa hari lalu jenasah mbak Bella telah dikebumikan, entah dimana beberapa orang yang mengaku sebagai keluarganya membawa jenasahnya begitu saja tanpa informasi apapun ke pihak Dimas dan rumah sakit menyembunyikan informasi mengenai keluarga mbak bella dan akhirnya aku juga tak mampu berkata apa-apa karena memang tidak memiliki wewenang mengenai rumah tangga bossku itu.


Banyak hal terbesik tanya dalam benakku akan hubungan mereka tapi sebelum melontarkan pertanyaan pertama aku tahu jawabannya jadi kubiarkan saja itu tenggelam dalam pikiranku tanpa jawaban pasti.


Hingga hari ini tiba tepat seminggu kedua bayi yang belum diberi nama ini berada di rumah sakit, dengan segala kemewahan dan pasilitas terbaik mereka terima namun sayang mereka tidak pernah merasakan sentuhan langsung dari keluarga kandung mereka.


Ayahnya tidak peduli sama sekali dengan kedua anaknya dan di kantor pun dirinya tidak pernah menanyakann kondisi anaknya padaku.


Dalam seminggu ini dikantor aku selalu mengejarnya layaknya anak ayam, aku selalu menanyakan nama yang cocok untuk mereka namun hasilnya bossku itu hanya akan mendiami tapi entah kerasukan jin conggean dari mana tuan Dimas Putra Adipati itu alih-alih menjawab pertanyaanku dirinya malah memberiku setumpuk pekerjaan yang bukan bagian dari tugas hingga membuatku pusing harus mengerjakan yang mana terlebih dahulu.


ketika memberiku kerjaan itu dia berkata


"kerjakan semua itu, dari tugas itu mungkin" pertanyaanmu akan terjawab" katanya acuh sembari memakan sarapannya dengan penuh nikmat.

__ADS_1


"inspirasi dari mana gila? semua ini bertuliskan angka-angka"


"oke kau panggil mereka, sejuta atau semilyar kan beres?"


"beres gigimu ompong?"


"cih" bukannya membalas dia malah berdecih seakan begitu menggejek.


"apa susahnya menggakui mereka darah dagingnmu iblis?"


"mencampuri urusanmu juga urusan rumah tanggamu juga tugasku bedebah"


"saya tidak memintanya, jadi pergi"usirnya sambil mengibaskan tangannya

__ADS_1


"..." aku memilih diam dan tak beranjak dari tempatku


"kau memang tidak pernah puas dengan apa yang kau dapatkan ya?" kataku kembali melihatku.


"kau memangnya memberiku apa ha?" bentakku.


tanpa suara, diambilnya buku memo dan beberapa tumpukan map diatas mejanya lalu dia sodorkan kepadaku tanpa aba-aba terlebih dahulu.


dan cara itu ampuh untuk menutup mulut besarku agar tidak lagi mencercanya kata-kata kasar apa lagi menanyakan sesuatu yang menurutnya sama sekali tidak penting.


aku telah kembali ke meja kerjaku dengan kepala cenat-cenut. Bagaimana aku tidak pusing, bayangkan saja aku masuk keruangannya tanpa sopan santun dan dengan tangan kosong namun ketika keluar dari ruangan laknat itu tangganku akan penuh dengan berkas-berkas entah itu bagian pemasaranlah, perencanaanlah, akuntanlah, audit pertahunlah dan yang paling parah adalah nota bon si boss ke office girls.


duhh buju buneng hidupnya kaya raya memberiku kartu gold cart namun ke office gilrs masih tetap aja ngutang?. aghhh aku hampir saja gila dibuatnya.

__ADS_1


berurusan dengan orang kaya ternyata memang tak segampang berurusan dengan pengemis yang kelaparan.


aku hanya bisa pasrah kali ini, salahku juga yang selama kedatangan anak mbak bela tiba-tiba aku mengalihkan tugas lapangan keorang lain, seandainya aku masih kerja dilapangan, aku yakin cara tuk menghilangkan stress banyak tapi jika dikantor dan masih ketemu dengan sumber penyakit mana bisa sehat iya kan?


__ADS_2