
Waktu telah menunjukkan pukul 01: 25 malam, saat itu bertepatan ketika Dimas memasuki apertementnya dengan wajah lelah namun tetap saja tatapan jahat menetap diwajahny**
**
Dengan intens dimas memperhatikanku yang kini juga berdiri dihadapannya dengan memegang dua botol susu milik twins, awalnya kami hanya saling bertatapan namun ketika aku akan beranjak seketika tanganku dicekalnya dengan cukup kuat lalu dia berkata
“apa yang kau lakukan di sini?” ucapnya dengan nada datar namun kesinisan tidak bisa dia sembunyikan dariku hingga membuatku sedikit grogi.
Dengan cenggesan akhirnya aku berkata “mengantar anak-anak kembali kerumahnya dong”
“ini milikku” katanya
“iya sudah jelas juga menjadi milik twins”
“sejak kapan milikku adalah milik mereka?”
“sejak dengan tidak berotaknya anda menggagahi istri andalah” tantangku berani dan nada suara meningkat diakhir kalimat.
“ahahahha” tawanya begitu keras namun tawa itu bukan tawa kebahagian melainkan cemohan yang begitu menyeramkan menurutku. Aku rasa otaknya benar-benar sudah gila, masih bermain dengan pemikiranku tiba-tiba kembali berkata “menggagahi istri ha?” ujarnya dengan senyum mematikan miliknya, sebelah alisnya juga telah terangkat menandakan jika dajjal telah merasukinya sekarang.
Melihat itu aku berusaha melepaskan tangganku yang sedari tadi digenggamnya namun terus saja gagal, tidak hanya sampai disitu, dia yang tadinya menjulang tinggi didepanku kini dirinya terus membungkukkan sehingga semakin mengintimidasi aku.
Jika melihat dari fisik jelas aku kalah, Tubuhnya jelas lebih tinggi badannya pun kekar, padat sedangkan aku kecil, kurus dan bukan saingannya yang seimbangnya.
Tubuh kami hampir saja melekat namun sebelum itu terjadi dia akhirnya berkata
“mengapa tidak kau buang saja mereka?”
__ADS_1
“astagfirullah, maafkan hambamu yang tiap hari mainnya smartphone tapi otaknya idiot phone tuhan” kelakarku mencoba baik-baik saja tanpa terkekang.
“cih” decihnya begitu menggejek.
“saya mau mereka kemana bapak sedangkan hidup saya saja jauh dari kata layak” aduku padanya.
“Ck kau tahu hidupmu susah jadi untuk apa kau tampung mereka?”
“kalo saya tidak menggurusi mereka, bapak mau menggurus mereka?”
“hahahaahha” kelakarnya tidak kalah besar dibanding sebelumnya dan setelah tertawa sendiri dia akhirnya berkata “tidak akan” katanya tegas.
“ya allah tolong kirimkan hamba tiket deportasi ke alam baqa ya allah” menologku lagi.
“jika hanya alam baqa biar aku yang menggirim mereka menyusul wanita itu” katanya seakan penuh keseriusan.
Melihat sorot matanya aku semakin merinding dibuatnya, lalu tanpa aba-aba dihempaskannya tanganku yang sedari tadi digenggamnya lalu dia mencoba menuju kamar yang berisikan twins. Sadar dengan apa yang dia inginkan seketika kuhalanggi dia dan berkata
“kau yakin?” tantangnya lagi.
“nurani bapak kemana sih?” kataku kini lalu memberanikan diri menatap intens kematanya walau sebenarnya aku takut.
Ini bukan aku yang sebenarnya, entah kemana segala keberanianku salama ini hingga kini aku menjadi orang yang sangat berbeda. mungkinkah aku seperti ini karena aku dengan lancang menggunakan kemejanya sebagai bajuku apa lagi dalam kemeja ini hanya tersembu pakaian dalam saja tanpa penutup dada?.
Tatapannya intens menuju dadaku membuat Jantungku semakin bertalu-talu, tapi please deh apa dada kelongkong milik mbak astrid belum bisa memuaskannya hingga punyaku yang bukan saingan mbak astrid juga harus dia plototi. Kami sempat terbungkam namun dia lalu berkata
“ingin kutunjukkan?” katanya dengan suara pelan namun masih jelas terdengar olehku lalu tanpa aba-aba dia semakin mendekat juga menyodorkan bibirnya agar dekat dengar bibirku.
Jika saja aku tidak spontan mundur mungkin kami telah berciuman. Kini aku semakin berontak namun sekuat apa pun aku mencoba genggamannya semakin kuat dan membuatku sakit.
__ADS_1
“buang kemana pun kamu suka” katanya pelan lembut bahkan sangat lembut. Saking lembutnya aku merasa ingin meleleh saat ini juga.
Kalimatnya memang tidak sarkis namun saat dia menggucapkannya itu tepat di kupingku lalu setelah selesai dengan ucapannya dia meniupnya.
Diperlakukan seperti itu aku bukannya bernafsu, amarahku malah yang timbul akibat perkataannya, lalu dengan berani aku berkata “egh sinting seandainya gua tega, orang pertama yang gua buang itu lo” kataku berapi-api. Enak saja dia, darah dagingnya sendiri ingin dia samakan dengan sampah!
“kau berani?”
“berani” kataku sok jagoan namun dengan liciknya.
“benarkah?”
“mmm” kataku sok yakin namun dengan pelan-pelan aku sudah mulai mencoba mundur dan mendekati pintu kamar
Kupikir dengan caara ini jelas akan menyelamatkanku namun dengan senyum liciknya dia berkata
“lalu kenapa kau semakin mundur nona?”
Mendengar kalimatnya dengan bodohnya aku malah membusungkan dada lalu berkata
“tidak”
“lalu?”
“ini” kataku seketika melangkah semakin mendekat dan selamat aset berharganya kini telah berdenyut-denyut karena kesepak.
“aaaaghhh” jeritnya seketika. hanya jeritan yang kini terdengar bahkan dia sekarang sedang menbungkuk tanpa sadar, melihatnya sedang lengah Kejadian ini kujadikan kesempatan tuk segera berlari kekamar.
Tidak berselang lama stelah kejadian kini dia telah sadar ketidak hadirannya aku disampingnya, pintuku lalu digedor-gedor secara brutal dan itu sukses membuat twins terbangun lalu menanggis begitu keras. Melihat mereka terbangun selarut ini membuatku serasa akan melayang sebentar lagi.
__ADS_1
Wahhh sepertinya memang setelah melawan iblis jahat selalu ada keturunannya yang harus kuhaadapi. Duhhh hidup kok sesusah ini!!!!.