
ART datang menyerahkan twins dengan kondisi wajah sudah sembab oleh air mata, bahkan mereka sudah terbatuk-batuk mungkin karena sudah terlalu lama menanggis, twins baru berhenti ketika aku sudah menggendong dan memberinya susu formula untuk mereka.
belum puas meminum susunya, aku juga sempat menggantikan popok mereka berdua dihadapan orangtua juga Dimas. sebenarnya aku tahu Dimas tidak suka berdekatan dengan twins tapi entah kenapa kali ini dia memilih bungkam.
Dimas diam saja tapi orangtuaku memang sangat terkejut. Keterkejutan mereka ternyata tidak hanya sampai disitu karena setelah melihat twins lalu memperhatikan wajah dimas dengan sangat intens mereka lagi-lagi terpengarah.
dihadapan mereka ada tiga orang dengan wajah yang sangat mirip dan Aku yakin mereka tahu anak bahwa twins adalah anak dari dimas.
“Itu anak-anakmu?” ucap ibuku setelah tersadar dari keterkejutannya namun sepertinya kata-kata itu ambigo karena tidak jelas ditujukan pada siapa?
“Mm” ucap dimas dengan tenangnya dan heiii sejak kapan dirinya mengakui kerberadaan twins?
“Ya TUHAN, kau memang anak sampah, sudah bagus kami menggangkat derajatmu, tapi namanya sampah tetap saja kelakuannya tidak lepas dari asal usulnya”
Ucap wanita mulia itu dirinya semakin mendramatis dengan berdiri lalu mondar-mandir layaknya setrikaan dan memeganggi kepalanya begitupun dengan ayahku, mereka berperan dengan sangat bagus, dimas terus memperhatikan tingkah mereka sedangkan aku sibuk mengajak twins bermain.
mereka akhirnya tertawa kembali lalu makan dan sempat buang air besar namun tamu kami tak kunjung pulang jua, hingga twins kembali menanggis, sepertinya kelelahan dan malam memang sudah menunjukkan waktu tidur mereka.
__ADS_1
ketika aku meninggalkan mereka diruang tamu, orangtua angkatku sempat bercerita dengan dimas namun aku tidak tahu apa karena terlalu sibuk dengan twins.
ketika twins berhasil kutidurkan aku kembali bergabung dengan mereka, mereka bahkan sudah berpindah keruang makan. mereka baru makan setelah ada aku bersama mereka.
aku sempat terpenggarah dengan kediaman mereka entah apa yang mereka pikirkan begitu pun dengan dimas. tapi aku yakin ayah dan ibuku sudah berpikir dengan sangat kuat untuk mendapatkan keuntungan yang banyak dariku dan juga dimas.
setelah puas berpikir, tiba-tiba ibuku berkata dengan cukup keras. "kalian harus menikah secepatnya"
mendengar itu tanpa sadar terawa keras karena merasa jika tebakanku benar adanya, sepengetahuanku selama hidup dengan mereka, kedua orangtua tak tahu diri ini hanya memikirkan keuntungan dan keuntungan saja.
bahkan saat menggadopsiku mereka sudah memikirkan bagaimana caranya aku jadi mesin pekerja mereka sedangkan mereka akan ongkang-ongkang kaki untuk menunggu hasilnya.
melihatku demikian ayah menegur dan berkata "ini bukan bercandaan caca, benar kata ibumu, kalian harus segera menikah"
"tentu kalian akan memaksaku menikah agar uang untuk kalian berjudi semakin banyak kan?"
"caca, jaga bicara" tegur ibu dengan wajah berang namun apa peduliku, sedangkan dimas hanya diam lalu menatapku intens.
__ADS_1
"apa yang kalian lakukan ini adalah dosa besar, ibu hiks ibu tidak menyangka hiks kau hiks akan menjual dirimu hanya demi harta hiks"
"terus terus" kataku
"inikah caramu berbalas budi pada kami?" teriak ayah padaku sembari bertolak pinggang lalu setelah telunjuknya menuju tepat pada wajahku dia berkata "kau anak tidak tahu diuntung aku tidak tahu dimana kelakuan pelacur itu kau punggut"
"...." aku bungkam dan memilih menggalihkan pandanganku.
"..." dimas juga diam tapi tatapannya tidak lepas dari wajahku.
"kami telah bekerja keras agar kau bisa makan dan bersekolah dengan layak tapi inikah yang harus kami dapatkan di usia renta kami hiks hiks" sambung ibu dengan ratapan palsu itu.
"apa jerih payah yang kalian makdud mencarikanku kerja padahal aku baru 9 tahun saat itu?"
"CACA" bentak ayah sekali lagi, kali ini ayah tidak tahan lagi, sudah menjadi kebiasaannya ketika aku sudah tidak bisa dia kontrol dengan ucapan dia akan memukuliku.
kini dia sudah siap-siap melepas ikat pinggangnya seakan lupa jika disini bukan area kekuasaannya, ketika ikat pinggang itu sudah melilit ditangan dan akan siap dilayangkan padaku.
__ADS_1
melihat itu Dimas sektika geram sendiri, dia lalu ikut berdiri depanku tapi untuk menghalang ayah dengan tubuh besarnya, dia berkata "INI BUKAN KANDANG BINATANG, PERGI JIKA CARA KEKERASAN YANG INGIN ANDA GUNAKAN DISINI" teriak dimas menggelegar mengusir kedua orangtua itu.
Mau tidak mau orang tuaku akhirnya mengikuti perintah pemilik rumah dan berjanji akan datang lagi untuk memaksa kami menikah. itu yang diucapkannya tapi jelas itu hanya tipu muslihat semata.