
Desahan dimas dan wajah datar itu merupakan tontonan yang sangat lucu aku sampai harus menggigit bibirku sebagai pengalih biar aku tak tertawa, tapi tetap saja kekehan itu lepas dari bibirku.
Setelah memastikan twins terlelap dengan aman aku akhirnya keluar kamar lalu menemui dimas yang katanya ingin membicarakan sesuatu denganku belum juga aku berada didekat dimas namun ketika melihat wajahnya lepaslah tawaku yang sedari tadi ku pendam, menurutku kapan lagi melihat wajah bodoh dimas, aku sampai harus memegang perut dan menyeka air mataku saking kuatnya aku tertawa walaupun begitu dimas masih tenang dan berwajah datar seakan tidak terganggu dan tidak terjadi apapun sebelumnya.
"Sudah puas nyonya..?" ucap dimas.
"Aghhh ahahahahhaaa aha kau kau it, " ucapku seketika berhenti karena tatapan dimas yang sangat menyeramkan dan membuatku ngeri tapi karena dimas tidak mengucapkan apa pun aku akhirnya melanjutkan ucapanku
"Jadi suamiku yang dermawan apa yang ingin anda bicarakan"
"Orang tuaku akan berkunjung besok lusa"
"Ogh terus..??" ucapku acuh dan memang tidak mengerti dimana masalahnya toh kalo mereka ingin datang, wajarkan"
"ogh terus.?" ucapnya sambil menaikkan salah satu alisnya
"Iyaaa masalahnya apa? toh itu orang tuamu, mereka bebas datang dan pergi kerumah anak mereka dong?"
"Orang tuaku tidak menyukai peliharaanmu"
__ADS_1
"Peliaraan peliaraan apa maksudmu toh aku gak memelihara apa pun"
"Dasar bodoh"
"Terserah ada hal lain lagi tuan, aku ngantuk"
"Shit, makluk yang kau sebut twins itulah peliaraanmu"
"What..? egh sialan kalo pun aku ingin memiliki peliarahan itu adalah anjing dan anjing itu kau eghhh salah aku yang dipelihara anjing maksudku" hilanglah sudah rasa ucapan formal dan rasa hormatku pada lelaki yang berstatus suamiku ini benarkan dia yang memeliharaku selama ini
"Buang mereka kemanapun kau mau dan kau boleh memunggutnya kembali jika orang tuaku sudah pulang"
"KAU" ucap dimas yang kini mulai menaikkan volume suaranya
"APA HAH..??"
"Aku sudah beberapa kali bilang kan aku itu paket komplite dengan twins jika kau ingin membuang twins sama halnya ingin membuangku begitu pun kesebaliknya"
"Cih paket komplit bodoh"
__ADS_1
"Yayaya terserah kau saja tuan besok setelah kita kembali ke bandung aku kan membereskan barang-barang kami jadi tenanglah"
"Kau berkata seperti itu seakan kau bisa lepas dari uangku"
"Aisss oke gua emang gak bisa lepas dari uang lo tapi seperti kesepakatan kita lo tetap harus ngirimin duit kegua"
"Kalo saya tidak ingin"
"Nama baikmu yang menjadi taruhannya, diluar sana hampir semua orang tau aku ini istrimu dan kita memiliki anak"
"Licik"
"Bomat om bomat asal gua bisa hidup kau takkan pernah ngerti so kita akhiri pembicaraan ini" dengan segera kakiku melangkah menjahui dimas namun baru tujuh langkah aku kembali berbalik menghadap dimas
"Oyah karena twinsku yang kau anggap sampah ada di kamar itu jadi kau tidak perlu mengotori hidung dan tubuhmu selamat malam"
setelah selesai mengucapkan kalimat itu aku segera melarikan diri lalu mengunci pintu kamar dimas yang sangat mengerti akan arti kata yang kuucapkan dengan susah payah dirinya mengejarku lalu mengetuk hingga menggedor pintu terus menerus tapi usahanya takkan membuahkan hasil pintu kamar yang didesain sangat kuat dan aman ini begitu menguntungkan bagiku.
tidak peduli apa yang akan dimas lakukan besok yang jelas aku jengah dengan sikap dimas yang tidak bisa konsisten kemarin2 dia seakan menerima twins tapi sekarang aiessss bodoh. tidak ingin tenggelam dalam amarahku akhirnya aku menyusul twins kedunia mimpi.
__ADS_1