
Setelah beberapa minggu lalu dimas menyanggupi keinginanku untuk berjalan-jalan seminggu sekali jadilah keluarga kami punya kegiatan rutin untuk berlibur dihari minggu, kemanapun itu asalkan kami berempat tanpa supir dan baby sitter kami dan minggu ini kami memilih kepantai yang jaraknya sangat jauh dari kediaman kami.
Sedari kemarin dimas sudah mengoceh dna menggeluh tapi aku tidak peduli toh dimas yang menyetir dan kalo dimas kelelahan kami bisa menginap di mana pun toh dimas bossnya dia bisa dan pergi sesuka hatinya dari perusahaan tempatnya bekerja.
Diperjanan pun penuh dengan drama panjang mulai dari twins harus ganti pokoklah, kursi mobil yang ketumpahan susu, kami tidak menemukan tong sampah untuk membuang popok twinslah, bahkan kebelet kala aku kebelit pipis Dimas sudah menggeluarkan sumpah serapanya, dia berkata
“sudah kubilang kan? perjalanan ini akan sangat merepotkan sekarang kau sudah membuatku kehilangan kesabaran”
“allahh bilang aja ngak ma bikin kenangan ma kami, lagian ini tuh story of life yang sesungguhnya bukan cuman duduk dikantor, baca-baca berkas terus tanda tangan deh, suatu saat tanda tanganmu ngak bakal berguna lagi” kataku
“Dan kau adalah wanita yang membuat itu terjadi” cercanya geram
“lah kenapa aku ini istrimu kan jadi bebas weeekkk” kataku bermasa bodoh lalu memeletkan lidah dengan begitu riang.
__ADS_1
“kau bedebah, dan kalian twins berhenti menanggis” bentaknya namun twins bukannya berhenti malah makin menggeraskan konser sumbang mereka.
“sudah-sudah, cepat lajukan mobilnya kayaknya suara ombak sudah kedengaran dari sini” kataku penuh perintah ke dimas lalu berkata pada twins ‘twins sebentar lagi kita bersenang-senang yeee” jeritku hingga membuat dimas sekali semakin muak melihatku.
mobil melaju dengan kecepatan sedang dan tidak lama setelahnya kami benar-benar sampai ditempat jugan kami. rencananya kami akan menginap jadi kami menyewwa sebuah villa untuk kami berempat.
deru ombak telah memanggil-manggil, twins begitu bahagia bisa bermain pasir sepuasnya tanpa larangan dari baby sitter mereka, aku memang sengaja mengenalkan twins dengan dunia luar agar ketika dewasa mereka tidak akan canggung lagi dengan hal-hal yang baru mereka temui, seperti saat ini aku membiarkan tubuh mereka terbiasa dengan teriknya matahari.
Dari villa yang disewa dimas aku memperhatikan twins yang bertawa dan bermain pasir bersama beberapa orang suruhan dimas, twins sepertinya benar-benar gambaran dimas versi kecil, jika menggingatnya kadang membuatku geram karena aku yang merawatnya aku yang mendidiknya tapi lagi-lagi sikap dan kebiasaan dimas yang mendominasi dari diri mereka.
Sama seperti yang kurasakan beberapa silam lalu jika kau tidak kuat dan angkuh melawan dunia dengan sekejab mata kau kan jadi debu hal itulah yang selalu ingin kuajarkan pada dua balita itu sejak sekarang.
Kenangan itu kembali terbesik namun sungguh aku tak ingin twins menghadpinya dan akan ku usahakan hal itu tidak terjadi pada twins. Dari jauh aku terus memperhatikan mereka begitu mengemaskan tawa dan ocehan mereka menjadi pelengkap kebahagiaanku.
__ADS_1
kami benar-benar menikmati liburan kami sedangkan dimas lebih memilih menenggelamkan dirinya diatas kasur saat ini, sungguh laki-laki itu sangat bodoh dan tidak tahu bersenang-senang, cukup lama hanya duduk memperhatikan twins aku merasa bosan, entah pemikiran dari mana tapi aku sangat ingin menggangu dimas ingin sekali rasanya melihat wajah datar dimas yang kadang-kadang mengemaskan.
Mengemaskan..?? tentu saja mengemaskan toh dirinya tidak banyak bicara, tidak mudah terganggu layaknya patung tapi akhir-akhir menjadi orang yang pemalas entah apa yang terjadi padanya, yang jelas aku tidak peduli toh yang kubutuhkan hanya uangnya saja.
Twins sangat suka sekali bermain pasir tapi Danisa sedikit berbeda. sejak tadi beberapa penggawal membawa tubuh daniel bermain air tapi tidak dengan danisa, danisa akan menjerit jika digerakkan dari tempatnya sekarang ini.
hal yang bisa kusimpulka dri hal ini yaitu, danisa sepertinya tidak menyukai laut dan ombak djuga aroma khas sebuah laut entahlah aku tidak tahu kenapa yang jelas sepertinya danisa sama persis dengan Dimas.
Aku berpikir jika Danisa tidak suka laut mungkin karena takut melihat ombak itu berdatangan dan menimbulkan suara baru untuknya sedangkan alasan dimas tidak menyukai laut jelas masih menjadi misteri, karena Dimas paling enggan dipaksa untuk membicarakan sesuatu yang tidak penting dan ucapanku lebih didominasi hal-hal yang tidak penting jadi intinyan JANGAN BERBICARA DENGAN DIMAS JIKA BUKAN DIMAS YANG MEMULAI MEMBICARAKAN SESUATU.
Aiesss DIMAS ITU diajaki ngomong ngelantur juga bergosip adalah hal yang sulit tetapi ketika mau mendesah dan mendengarkan suara-suara abstrak dia jagonya aghhh dasar buaya KW.
Jika dibandingkan Danisa dan Dimas, Danisa sih masih asyik dan masih bisa diatur dengan sesuka hati tapi DIMAS beghh kayak batu berjalan, dia tidak menghiraukanku yang sedari ketika kami sampai ditempat ini terus memaksanya berjemur bersamaku.
__ADS_1
tadi sebelum dia memasuki villa aku sempat mebuatnya melepaskan baju kaos miliknya tapi bukannya senang dan menuruti mauku, dia malah berkata
"jangan memaksaku Caca, kalau tidak ku perkosa kau dihadapan anak-anak" katanya galak dan tidak lupa dengan wajah menyeramkanku dimas membuatku sedikit ciut dan jadilah hanya kami yang bersenang-senang