
Segala protes dan perdebatan antara kami terus berlanjut dimas benar-benar berubah,dimas yang biasanya cool, pendiam dan kasar kini menjadi sosok yang manja, cenggeng dan ngambekan sehingga kesabaranku benar-benar di uji saat bersama dimas.
"Dimas jangan menempeliku seperti itu kau berat woii"
"Diamlah istri durhaka kepalaku sakit seharusnya kau memijatnya"
"Your dream sana igh kau menyebalkan dimas" kataku mencoba menggeser tubuh besar dimas
"Panggil aku seperti seharusnya caca"
"Agh kau, kau mau ku panggil apa?" kataku yang diredam oleh tawa.
"Selayaknya seorang istri memanggil suaminya" katanya serius namun aku malah menanggapinya aneh.
Seketika tawaku pecah, dimas memintaku memanggilnya dengan sebutan lain seperti seorang istri memanggil suaminya katanya huh aneh dalam tawaku aku berusaha menyampaikan pikiranku agar dimas mengerti apa yang ku tertawakan.
"Seingatku aku hanya memanggilmu dimas, pohon pisang, iblis, gigolo tua dan atm berjalan jadi dari semua itu kau ingin yang mana?"
Masih dengan deru tawaku dimas seketika menegakkan tubuhnya lalu menatapku dengan tatapan seakan terluka, hal ini baru pertama kali kulihat dan menimbulkan rasa bersalah padaku, tidak lama setelah kami tatap-tatapan dimas lalu menghindari tatapanku lalu melangkahkan kakinya menuju balkon kamar kami
mendapat tingkah dimas seperti itu aku tahu dimas sedang ngambek dan butuh dirayu, sebenarnya yang hamil itu aku atau dimas sih.? kok yang moodnya dimas up and down terus sedangkan aku tidak merasakan apapun selayaknya ibu hamil.
Dengan hati-hati aku akhirnya menggelus punggung dimas dengan lembut, akhir-akhir ini dimas paling suka kalo diperlakukan seperti itu lalu aku memeluknya darisamping dan mengadahkan kepalaku dan mengarahkan kepala dimas agar mata kami bertemu, kutatapi dia intens dan berkata
"Jadi suamiku ingin dipanggil layaknya suami lainnya iya?" tanyaku lembut layaknya sedang berbicara dengan twins
"....." Dimas tak bersuara
"Kau tahu dimas aku binggung dengan kau yang sekarang, yang ngambekan, manja dan lebih menyusahkan lagi, kau begitu berubah, aku sampai binggung yang hamil itu aku atau kamu?"
__ADS_1
"....." masih saja diam
"Dimas" kataku memanggil dan mencoba membuatnya bersuara kembali
"...." masih keras kepala dan tetap bungkam. duhhh dimas merajuk seperti anak perempuan memang.
"Kau ingin dipanggil apa?" kataku putus asa
"....."
"Sayang, honey, sweety, darling mmm?"
"...."
"Dimas ngomong ighh"
"Terserah" katanya, Mendengar kata terserah dari dimas rasanya rahangku hampir merosot hingga ke
"Kata-kata manis itu rasanya menjijikkan kalo ditujukkan padamu tunggu panggilan untukmu harus beda tapi menggambarkan karaktermu kira-kira apa ya?" ucapku bermonolog sambil berpikir tanpa melepaskan pelukanku pada dimas.
cukup lama aku berpikir, lalu ide itu tiba-tiba menyapaku dan kurasa panggilan itu memang cocok untuk dimas
"Aghh aku tahu"
"Apa?"
"Panggilan yang cocok untukmu itu API"
"Cih api?" ucapnya verdecih namun tetap dalam posisi yang sama dan setengah memelukku juga
__ADS_1
"iya api, singkatan dari papi, kau kan suka marah-marah, terus api kan panas dan membakar rasanya itu cocok banget ma karakter kamu yang pemarah dan suka menghancurkan hal-hal yang ngak kamu suka gimana?"
"....."
"Ayolah itu saja yag? twins kan memanggilku ati singkatan dari tante dan hati, trus hati kan lembut dan penuh kasih sayang sangat cocok dipasangkan dengan api yang pemarah ini" ucapku sambil menunjuk-nunjuk dada dimas dengan gaya genit
"......." dimas masih diam juga tidak menghindar ketika wajahnya mulai kumainkan dengan gemas. tak kunjung mendapat jawaban aku sekali lagi berkata
"Gimana suamiku? bersediahkah anda dipanggil api dari anak-anak dan istrimu ini?"
"Api dan ati?" katanya seolah begitu binggung
"Iyaaaku ati dan kamu api"
"Kenapa bukan sebutan Mami untukmu?"
"Twins kan bukan darah dagingku, suatu saat aku akan mengenalkan mereka pada mbak bella, mengajarkan jika aku hanya penyambung kasih sayang untuk mereka, sebutannya tetap harus tante walaupun aku adalah ibu tiri untuk mereka" jelasku panjang lebar.
"terus untuk anak dirahimmu, dia akan memangilmu apa?"
"Ati sama seperti twins kan artinya juga Hati dan baik hati hehhe" kataku membanggakan diri pada dimas berharap dia akan ikut tertawa atau membenarkan namun nyatanya dia hanya berkata
"Mmmm"
Kecewa sih sebenarnya karena berharap Dimas berkomentar banyak tapi mau dikata apa, akhirnya aku hanya berkata "Okey ?"
Dimas terdiam cukup lama sembari memperhatikanku, entah apa yang di pikirkannya tapi tanpa jawaban dimas lagi-lagi meninggalkanku lalu merebahkan dirinya dikasur. huh dimas, yang lainya memang berubah namun sikap seenaknya itu tidak hilang-hilang juga dari dimas aku yang diperlakukan seperti itu hanya bisa mengeram dan mengummpati dimas dalam hati, jujur aku lebih suka dimas yang pemarah dan berkata kasar seperti yang dulunya dimas yang sekarang lebih membutuhkan energi ekstra dan tipu muslihat agar masalah kami segera selesai.
Aku binggung yang hamil kan aku tapi yang tingkat sentivenya meningkat melebihi tespack itu dimas eghh kalo dimas marah dan menghentikan uang belanja juga biaya perobatan orang tuaku kan bahaya. Ya seperti kata orang orang yang manula akan kembali seperti anak kecil lagi dan kurasa itu yang terjadi pada Dimas kini, agghh wajahnya saja ok tapi usia tidak dapat dibohonggi jadi untuk malam ini aku memilih menggikuti dimas merebahkan
__ADS_1
diri dan menyusul dimas ke alam mimpi so selamat malam.