BUDUBYNSITTER

BUDUBYNSITTER
DRAMA KALI KAU


__ADS_3

Matahari masih belum terbit namun aku sudah kerja tiada henti, twins terus saja menangis sedari tadi, segala cara telah kulakukan semua cara namun hingga adzan akan dikomandangkan mereka belum saja tenang.


Amarahku kian memuncak, kini aku sudah sangat ingin mencincang situa Bangka itu dengan penggilingan daging hingga benar-benar halus.


Tidak tahukan dia betapa sulitnya aku menanggani twins, seandainya ingin membantu ma oke jadi aku bisa bernafas dengan sedikit legah nah ini kian keras tanggisan twins maka teriakannya juga kian terdengar memenuhi apertemen hingga drama subuh ini baru berakhir ketika twins benar-benar tidur maka suara aungan singa ompong itu pun hilang.


Dasar lelaki nafsuan tidak guna, taunya cuman ngamilin emaknya doang pastekdung dia buang eghh pas anaknya brool pengen dia buang juga, aku curiga laki-laki itu mungkin saat pembagian nurani dia absen dan pas dilhirkan didunia otaknya ketinggal di WC pas dimandikan suster jadi seperti itulah dia yang tidak punya hati dan nurani juta berotak kotor kayak taii.


Dengan perasaan dongkol akhirnya masih kukerjakan semuanya hingga mungkin karena lelah atau kasihan padaku akhirnya mereka tertidur dengan damai, sungguh melihat mereka tenang begitu menggemaskan dan menimbulkan rasa sayang dihati.


Rasanya antara pengen banget membuat lelaki itu bersujut di depanku memohon ampun karena segala beban dia berikan padaku, berat sekali rasanya beban hidupku hingga membuatku ingin meraung-raung menanggisi kesialan yang selalu kualami.


dunia sungguh kejam padaku, belum juga hilang eghhh terbitlah masalah lain yang lebih berat lagi, ini juga masalah orang lain sok banget aku menghadapi masalah orang lain, nah masalahku sendiri sendiri tak kunjung berakhir kok.


Rasa ngantuk sudah sangat mendominasi namun panggilan muadzin sudah terdengarkan akhirnya kupaksakan diri untuk menghadap ilahi subuh ini dan setelah selasai aku baru bisa merebahkan tubuhku sebentar saja hingga mimpi benar-benar menemaniku sesaat.


Entah aku tertidur berapa lama karena tiba-tiba suara alamram menggangu mimpi dan menggejutkan hingga membuatku kembali tergaja.

__ADS_1


Jarum jam sudah menunjukkan pukul 08:25 tiba-tiba kesadaranku jika aku adakah seorang pekerja dengan sempoyonggan kupacuh langkahku menuju kamar sang ibjis lalu layaknya orang kebakaran kuketok pintu itu tiada henti.



Pada saat itulah lelaki tua keluar dengan wajah yang tidak kalah menyeramkannya dari moster, ditatapnya kau dengan intens bahkan serasa akan membunuhku sebentar lagi.


Untuk menghilangkan ketakutakunku aku berkata “maaf pak, jam 9 bapak ada meeting di kantor dan jam 10 bapak ada rapat dengan prusahaan brawijaya grup” kataku dengan sedikit hati-hati.


“kita terlambat dan ini semua salahmu”


“Beritahu saya jika kau sudah bosan dengan mereka”


“maksud bapak?”


“biar saya sendiri yang menyingkirkan mereka”


Mendengar kalimat itu seketika amarahku seketika memuncak mungkin karena tidurku tidak baik atau mungkin aku semakin marah atas kesialanku kali ini jadi sekali lagi kudekati dirinya lalu berkata

__ADS_1


“entah apa isi otak bapak yang jelas bapak tidak layak disebut manusia”


“kau yakin”


“sangat” tantangku.


“hahahah, lalu aku apa menurutmu”


“dajja”


“hahahaha” suara tawanya semakin menggema dan menakutkan lalu kali ini dia membunggkuk hingga wajah kami sejajar dan dengan gerakan cepat diraihnya wajahku, tidak sampai disana saja karena kini bibirnya sudah berada diatas bibirku.


Ciumannya sangat kasar bahkan aku merasakan darah dibibirku, aku sudah mencoba bentontak namun dia memelukku hingga sekuat apapun aku melawan tetap saja aku kalah.


Nafasku sudah terputus-putus barulah lelaki itu melepaskanku. Aku terduduk lemas dan terus menggatur nafasku sedangkan dia, dia tersenyum dengan sangat puas menatapku yang sudah berderai air mata dihadapannya.


Aku masih belum mampu mengguasai diriku tapi dia sudah dengan jahatnya berlalu begitu saja, Dia kembali memasuki kamarnya tidak lupa membanting pintu besar itu tepat dihadapanku.

__ADS_1


__ADS_2