BUDUBYNSITTER

BUDUBYNSITTER
Episode 60


__ADS_3

pernikahan di kota pinrang ternyata cukup rumit dan menggunakan uang yang banyak adat dan tradisi membuat


masyarakat mematok harga yang lumayan untuk menggadakan suatu pesta pernikahan. Prosesi pernikahan adat adalah suatu hal yang sakral, setiap tahapan dan ritual yang dijalani mengandung makna dan doa yang berbeda-beda. Di dalam adat suku Bugis, upacara pernikahan terdiri dari tahapan-tahapan berikut:


1. Mappasau Botting & Cemme Passih


Setelah menyebarkan undangan pernikahan, mappasau botting,  yang berarti merawat pengantin, adalah ritual awal dalam upacara pernikahan. Acara ini berlangsung selama tiga hari berturut-turut sebelum hari H. Selama tiga hari tersebut pengantin menjalani perawatan  tradisional seperti mandi uap dan menggunakan bedak hitam dari campuran beras ketan, asam jawa dan jeruk nipis dan disanalah pekerjaan mumu dimulai. beberapa salon biasanya juga menyediakan keperluan ritual ini, di suku bugis disebut Cemme Passih sedangkan dizaman modern ini, orang-orang mengenalnya dengan menyebut "siraman".


Cemme passih dianggap harus dan wajib dilakukan sebelum mendekati hari H yaitu dengan tujuan untuk membersihkan juga tolak balak guna meminta perlindungan


2. Mappanre Temme


Karena mayoritas suku Bugis memeluk agama Islam, pada sore hari sehari sebelum hari pernikahan, diadakan acara mappanre temme atau khatam Al-Quran dan pembacaan barzanji yang dipimpin oleh seorang imam. jika pun calon mempelai telah melakukan penamatan qur'an maka akan di ganti dengan pegajian dan doa bersama.


dalam proses ini, salon atau indo botting (perias pengantin) seperti mumu juga ambil bagian untuk menghias serta menyiapkan pengantian agar terlihat cantik hingga hari H.


3. Malam menjelang pernikahan\, calon pengantin melakukan kegiatan mappaci / tudammpenni.


Proses ini bertujuan untuk membersihkan dan mensucikan kedua pengantin  dari hal-hal yang tidak baik. Dimulai dengan penjemputan kedua mempelai, yang kemudian duduk di pelaminan, setelah itu di depan mereka disusun perlengkapan-perlengkapan berikut; sebuah bantal sebagai simbol penghormatan, tujuh sarung sutera sebagai simbol harga diri, selembar pucuk daun pisang sebagai simbol kehidupan yang berkesinambungan, tujuh sampai sembilan daun nangka sebagai simbol harapan, sepiring wenno (padi yang sangrai) sebagai simbol perkembangan baik, sebatang lilin yang menyala sebagai simbol penerangan, daun pacar halus sebagai simbol  kebersihan dan bekkeng (tempat logam untuk daun pacci) sebagai simbol persatuan pengantin. Setelah perlengkapan-perlengkapan tersebut ditaruh, satu persatu kerabat dan tamu akan mengusapkan pacci ke telapak tangan


pengantin.

__ADS_1


4. Mappenre Botting


Mappenre botting berarti mengantar mempelai pria ke rumah mempelai wanita. Mempelai pria diantar oleh iring-iringan tanpa kehadiran orang tuanya. Iring-iringan tersebut biasanya terdiri dari indo botting (inang pengantin) dan passepi (pendamping mempelai).


5. Madduppa Botting


Setelah mappenre botting, dilakukan madduppa botting atau penyambutan kedatangan mempelai pria. Penyambutan ini biasanya dilakukan oleh dua orang penyambut (satu remaja wanita dan satu remaja pria), dua orang pakkusu-kusu (wanita yang sudah menikah), dua orang pallipa sabbe (orang tua pria dan wanita setengah baya sebagai wakil orang tua mempelai wanita) dan seorang wanita penebar wenno.


Wajarlah pernikahan kota pinrang sangat unik karena ketika ijab kabul telah diucapkan sang pria dituntun kekamar yang berisikan sang mempelai wanita, tetapi sebelum memasuki ruangan tersebut sang penuntun atau orang yang dituahkan dalam pernikahan tersebut harus memberi sogokan terlebih dahulu kepada si penjaga pintu, setelah pembuka pintu menyingkir dan membuka akses barulah sang mempelai pria boleh bertemu dengan pasangannya, bukankah hal itu juga termasuk sebuah penyogokkan?


6. Mappasikarawa / Mappasiluka


kata orang suku bugis mempercayai jika siapa yang mengginjak kaki pasangan terlebih dulu dirinya akan lebih mendominasi di rumah tangga mereka mmm terdengar cukup aneh sih tapi seharusnya aku menggunakan cara itu untuk menjinakkan dimas di rumah tangga kami. Mumu hanya menyampaikan sampai situ walaupun sebenarnya masih ada beberapa ritual tapi sudah tidak menggunakan penggelolah salon.


kini sudah 2 bulan tepat aku berada di kota pinrang, walaupun belum terlalu bahasa dan tradisi kota pinrang  tapi aku bersyukur keluarga dan masyarakat sangat ramah padaku apalagi ketika ibu lela  mengatakan jika aku salah satu keponakannya, selama aku kota pinrang sudah banyak tempat yang kudatangi salah satunya yaitu pemandian air panas sulili yang cukup yaaa sederhanalah ya jika dibandingkan taman ancol tapi sungguh air panas yang mengalir dan masuk ke kolam sangat alami.


sungguh kota kecil ini sangat menyenangkan belum lagi ketika adik mumu yang bernama lindah menggajakku


berwisata ke tanah toraja dimana sebuah kematian dijadikan pesta meriah dan objek wisata. ketika menyaksikan acara adat tersebut  terbersik dalam otakku menggenai dimas, haruskah kulakukan sebuah perayaan besar-besaran untuk mensyukuri iblis terkutuk itu..?? dan kapankah kematian dimassss..?? huh sejauh apapun aku pergi dimas dan bocah-bocahnya selalu menghantuiku.


waktu terus berlalu hingga tanpa kusadari aku sudah mulai terbiasa dengan dunia mumu dan kehidupan dikota pinrang, sedikit demi sedikit aku sudah bisa berbahasa bugis walau masih sulit menggucapkannya, aku sudah biasa membantu mumu untuk merias pengantin dan mengatur yang lainnya pekerjaan mumu pun semakin berkembang semenjak aku membantu mumu karena aku sangat  rajin mempromosikannya pada orang lain melalui

__ADS_1


sosial media, nah semakin sering aku mempromosikan semakin padatlah jam terbang kami.


 


keluarga mumu sangat membantuku melupakan rasa sedikhku, semakin kami larut dalam kesibukan semakin sering pulalah aku aku terlelap dalam karena kelelahan dan lupa jika ada tiga manusia kecil yang selalu mengganggu perasaanku. tapi heiii semakin aku sering bergaul dengan teman-temn mumu yang banciees hidupku makin kacau balau karena kosa kata maupun penampilanku makin menjadi dari sebelumnya tidak hanya itu uuu para banciees juga mengajariku cara merayu para castamer dibawah umur untuk mwnjadi pelanggan tetap salon milik mumu.


Aku masih betah disini dan masih ingin tetap disini hingga telpon dari bibiku membuatku tersadar jika sebenarnya aku memiliki keluarga lain yang telah lebih dulu menggakuiku sebagai keluarga,kembalilah aku ke jakarta walaupun berat mumu dan keluarganya melepaskanku kembali keasalku. mumu selalu berkata


"ku suka sekali semenjak adako disini rejekiku juga semakin lancar tapi ingatko kau itu perempuan, ibu yang punya anak kecil yang selalu butuhkanko, kalo memang hubunganmu sama suamimu tidak baik tapi setidaknya janganko rusak hubungan darahmu dengan anakmu" ( aku senang kok kamu ada disini, semenjak kamu ada, reskiku kian lancar tapi biar bagaimana pun kamu ini seorang perempuan, ibu yang punya anak kecil yang selalu membutuhkanmu, jika hubunganmu dengan suami sudah tidak baik lagi setidaknya hubungan dengan anakmu tetap baik, jangan merusak hubungna darah diantara kalian) kata mumu dengan bijak dan meyakikanku kembali.


dengan berat hati akhirnya ku iyakan, walaupun takut tapi aku memang merindukan anak-anakku, canda tawa mereka, tanggis hingga perdebatan twins dengan Apinya juga keluh kesah dimas kala dia kelelahan menghadapi pekerjaan.


semua itu serasa hilang kala aku meninggalkan kota itu, sedari dulu memang pikirku melayang ke lokasi anak-anakku berada, ada pepatah bugis mengatakan


"peddi palao ka' uddani parewa ka" yang artinya (rasa sakit yang membawaku pergi namun rasa rindu yang membawaku kembali.


dengna berat hati akhirnya mumu dan keluarga menggantar kepergianku. aor mata mereka tak kunjung surut termasuk ibu lela karena baginya aku sudah seperti anak kandungnya juga. begitu senang rasaya aku memiliki mumu dan keluarganya sebagai keluarga adopsian, entah seperti apa aku jika mumu tidak menampungku dulu.


dunia malam memang keras dan kuakui aku pernah masuk ke lembah kotor bernama diskotik. tubuhku melayang diatas udata dan setelah menapak bumi lebih jelasnya di dijakarta orang tuaku ternyata tidak berubah sedikitpun mereka tetap mengharapkanku menjadi sapi perahnya, mau tidak mau aku akhirnya bekerja, da salah satu time organizer memperkerjakanku atas rekomendasi mumu nah berlanjutlah kehidupanku dijakarta walaupun jarak tempuh antara jakarta-bandung sangat dekat tapi ragaku tetap selalu kutahan agar tidak bergerak mencari


siiblis dan para kurcaciku karena sungguh aku tidak sanggup mendapatkan penolakan dari iblis jantan itu jadilah aku disini dibelahan dunia ini, yang kunantikan hanya mukjizat agar tuhan menggembalikanku pada waktu dimana aku menemukan kebahagianku sendiri.

__ADS_1


__ADS_2