BUDUBYNSITTER

BUDUBYNSITTER
Episode 63


__ADS_3

Author P.o.v


Selamat datang kembali kehidupan yang nyata


mereka meninggalkan rumah itu begitu saja tanpa sepatah katapun untuk pemilik rumah, pemilik rumah yang menyaksikan bagaimana pertemuan yang lebih mendrama itu membuatnya tercenggang, dia tahu jika temannya itu gila, setahunya memang Caca memang wanita dari Adipatih namun dia tidak pernah menyangka jika tuan Dimas putra Adipartih lebih gila dibanding Caca yang sudah hampir merusak otaknya selama ini.


dengan mulut terbuka dia melihat Caca dalam gendongan lelaki yang menjadi idaman para wanita kelas atas seakan tunduk pada caca yang otaknya kurang lebih sebesar biji toge. sungguh menurut putri pelet yang digunakan oleh caca sangat manjur hingga putri berniat akan berguru pada caca.


itu putri sedangkan kedua sijoli itu telah berlalu meninggalkan apertemen putri dengan begitu mesranya. bahkan mereka telah menaiki mobil mewah yang dalam mimpi pun putri tak sanggup memiliki mobil keluaran jerman tahun terlampau jauh.


Diatas mobil dimas tidak mampu menahan kemarahannya lebih lama lagi, rasa yang ada dalam hatinya sudah sangat membuncah, meledak-meledak meminta untuk dilepaskan, tanpa pemikiran panjang akhirnya dimas meluapkan segala rasa yang terpendam dalam hati dan pikirannya pada wanita gila yang berstatus istrinya itu.


Dengan wajah dan perasaan sangat gemas akhirnya dimas menjewer sang istri dengan cukup kuat. Caca yang tidak siap dengan tindakan dimas hanya bisa meringgis serta mengadu kesakitan karena jeweran dari dimas. Rasanya setelah sekian lama setelah dewasa ini pertama kalinya Caca kembali dijewer, dan rasanya lebih sakit saat ayah angkatnya yang menjewer dibanding dimas.


Tapi yang namanya dijewer tetap saja terasa perih dan membuat telingganya bewarna merah. bukan sakit ditelingganya yang membuatnya akan meneteskan air mata, namun tatapan rasa kecewa, amarah dan rasa putus asa yang terpancar dari mata dimas,  dihadapannya dimas menunjukkan aura dan raut wajah yang tidak pernah dilihatnya selama mereka bersama, hal ini membuat caca seakan dijepit dengan rasa bersalah yang sangat besar selama ini.


Setelah kepergiannya caca selalu merasa dirinyalah yang paling tersakiti namun ternyata tatapan dimas dan aura kesedihan dimas lebih besar dari yang dirasakan caca, bohong jika caca tidak merasakan kerinduan pada sosok bernyawa disampingnya, tetapi rasa penyesalan dan minder akan keegoisan juga ketidak jelasan dari dimas membuatnya bertindak sesuai pemikirannya saja.


Seperti inilah hubungan dimas dan caca, mereka masih dipenuhi dengan rasa ego dan harga diri  yang sangat bertolak belakang dari hati mereka berdua. Dengan wajah datar namun masih memancarkan aura dingin dimas menggeram dan semakin mengeratkan jewerannya pada dang istri, semakin istrinya itu meringgis maka semakin kuat pula jeweran yang diberikan oleh dimas.


"Kau benar-benar ingin membuatku mati muda ya hah..?"


"Duh ddduuuudu sstt"


"Kau sudah pergi lama kenapa tidak segera kembali?"


"Sttt" semakin caca mengadu semakin keras


"Untuk apa kau bekerja hahh?"


"....."


"Kau merepotkanku, fatih sakit-sakitan karenamu, twins juga semakin nakal sepertimu" ucap fimas dengan suara yang makin meninggi


"....."


"Sudah kubilang dari dulu buang mereka jika kau tidak bisa merawatnya"


"Sstt ampunn dimas woii"


"Lihatkan kau hanya menambah bebanku, dan fatih aghhh kau, kau wanita tidak tahu di punya nurani"


"......"


"Dan sekarang tanpa paksaan kau mudah saja ikut denganku, mmm kenapa tidak pulang dengan sendirinya?"


"....."


"Kenapa harus menunggu ku jemput ?"


"Ssttt..."


"Sejak kapan kau punya harga diri mmm?"

__ADS_1


"......"


"Ayo jawab!"


"Kemana semua sumpah serapahmu?"


"....."


"Caca"


"......"


"Woiii JAWAB SIALAN"


"Hiks... hiks.."


"Tidak lagi, kau tidak akan bisa lagi membodohiku dengan air mata buayamu itu"


"......"


"Apa kau sudah jadi gagu mm..?"


"Lepasss stts"


Mendengar permintaan itu akhirnya dimas benar-benar melepaskan jewerannya namun  rasanya dimas belum puas


melampiaskan dan melepaskan rasa yang ada didalam hatinya.  Ada rasa rindu, bahagia serta kesedihan yang kini dirasakannya namun ego serta emosi yang terpendam begitu besar serta begitu lama tertutup membuatnya binggung harus melampiaskannya seperti apa, tidak hanya itu, kini dimas berteriak dengan cukup keras hingga suaranya memenuhi ruang dimobil yang tidak seberapa, memukuli stir mobil beberapa kali serta membenturkan kepalanya di kemudi mobil karena apapun yang dilakukannya serasa tidak akan mampu melampiaskan semua amarahnya.


Sedangkan caca hanya bisa mengusap telingga dengan sangat pelan. hatinya merasa takut jika dimas akan bertindak lebih jauh lagi padanya, genangan air matanya sudah sangat siap untuk meluncur dan membasahi pipinya, tetapi mendengar ucapan dimas tadi membuatnya menahan air matanya dan isak tanggisannya agar tidak  lolos dari mulutnya dan terdengar oleh dimas.


Waktu terus berlalu dan begitu seterusnya, mobil merekapun sudah jauh meninggalkan tempatnnya.  Caca sangat tidak nyaman dengan keadaan yang terjadi diantara mereka namun tidak bisa berkata dan bertindak apa-apa. Setengah tahun lalu, setengah tahun bukanlah waktu yang singkat untuk dijalani dan dikurung waktu setengah tahun pula mereka sudah tidak pernah bertemu lagi, dulu saat caca masih berada di kediaman dimas putra adipati.


Caca dengan siap menjadi budunbysitter, lalu menjadi ibu sambung dari twins yang bernama daniel dirga adipati dan danisa dirga adipati. dan jangan lupakan anak kandungnya yang sudah sangat lama tidak mendapatkan asi dan pelukannya itu huh anaknya. caca menrindukan sikecil Fatih..


Mobil sudah melaju dengan kecepatan normal melalui jalan tol yang cukup lenggang, awalnya caca ingin pura-pura


tertidur dan berharap semuanya berlalu dengan cepat namun ternyata harapan hanya tinggal harapan, semakin dirinya menutup mata bayang-bayang wajah dimas semakin jelas terlihat dan dengan ragu-ragu akhirnya caca mengeluarkan suaranya dan ingin menghilangkan kecanggungan diantara mereka


"Maaf" ucap caca dengan sangat pelan namun masih bisa didengar jelas oleh dimas.


"Maaf katamu? apa maafmu bisa merubah segalanya?"


"Yaaa nggalah" ucap caca dengan raut wajah gemas pada dimas


"Ternyata otakmu masih berfungsih" ucap dimas singkat tapi menusuk


"Isssh ya iyalah kalo otakku itu tidak berfungsi tidak mungkin aku meninggalkanmu"


"Cih, omong kosong"


"Iyalah kau sendiri yang sudah mengcampakkanku so untuk apa aku kembali?"


"Kau ahahahaha memutar fakta ya nyonya..?"

__ADS_1


"Isssh memang seperti itu kan?"


Dimas tidak menggucapkan apa-apa lagi kini dirinya menggarahkan mobil dan berhenti direst area, tanpa kata apa-pun juga dimas membuka pintu mobil dan melangkahkan kakinya menuju salah satu hotel kecil mau tidak mau caca mengikuti langkah dimas, dimas memesan satu kamar untuk mereka berdua,  dan setelah melakukan registrasi dan mendapatkan kunci kamar dimas kembali berjalan meninggalkan caca yang harus berjalan dengan terburu-buru untuk mensejajarkan langkah mereka.


Diujung lorong mereka menemukan kamarnya dengan gerakan cepat dimas membuka pintu dan menunggu caca memasuki kamar, setelah caca berada di tengah ruangan dimas segera mengunci pintu kamar.


Dikamar hotel yang tidak seberapa dimas akhirnya meraih tubuh  istrinya lalu menghempaskannya diranjang. Inilah yang ditunggu dimas sedari tadi gerakan, tatapan serta kedekatan mereka yang sangat intens membuat keduanya merasakan hal yang sama saat masalah dalam rumah tangga mereka datang, sepeleh memang namun hasilnya membuat keduanya berjauhan.


Dengan terburu-buru dimas melepaskan pakaiannya satu persatu begitu pun dengan pakaian yang digunakan istrinya, tubuh mereka sudah tidak terbalut sehelai benang pun, dan tanpa forepley akhirnya dimas menyatukan tubuh mereka membuat caca memekik cukup keras karena belum siap menerima dimas namun dimas sudah tidak peduli lagi nafsu dan amarahnya sudah menjadi satu, dan tanpa seizin caca dimas sudah mengerakkan tubuhnya dengan gerakan kasar dan ritme yang tidak beraturan sehingga bukannya menikmati, melainkan berdesis merakan sakit dipusat intinya.


Tubuhnya terus tergoncang oleh dorongan dimas dan membuat dimas dikuasai rasa nikmat yang hanya dirasakannua sendiri, caca memang sudah terbiasa akan kegiatan mereka yang seperti itu,namun setelah sekian lama mereka berpisah dan dimas hanya mementingkan nafsunya membuat perasaan terhina dan kecewa pada dimas, pikiran-pikiran negatif tentang hubungan mereka dan rumah tangganya memenuhi pemikirannya membuat rasa sedih dan amarah pada caca membuncah.


Caca sudah sekuat tenaga menahan air matanya namun semakin lama membendung air mata itu semakin deras pula yang menetes dan membasahi wajahnya tetapi dimas tidak peduli, dimas terus bergerak dan menyentuh istrinya dengan kasar, tidak lupa pula dimas memukuli bokong dan meremas dada milik caca dengan kuat sehingga meninggalkan jejak merah pada tubuh istrinya, bersamaan dengan dimas *** maka lepas pula tanggisan dan suara melengking caca yang tertahan sedari tadi.


Dimas sudah tergulai lemah diatas tubuh caca, dengan gerakan cepat caca memutar posisi mereka sehingga kini dimaslah yang berada diatas tempat tidur dan caca yang berada diatas tubuh dimas. Dengan membabi buta akhirnya caca memukuli dimas dengan bantal dan memaki-maki dimas agar rasa sakit hati juga kekecewaannya terlepaskan.


Dimas yang tidak siap akan pukulan dan tindakan caca awalnya hanya bisa menerima saja dan terkena pukulan bantal dari istrinya itu, dimas merasakan kemarahan istrinya sangat besar kali ini, dan tanpa ampun caca terus saja melayangkan bantal pada wajah dimas. Hal ini terjadi beberapa menit, pukulan dan umpatan meluncur dan memenuhi pendengaran dimas


"Brengsek, uuuh " umpat caca pada dimas disertai bunyi bantal yang menggenai tubuh dimas secara bertubi-tubi


"bughh bughh"


"bajingan"


"bughh baagh bughhh"


"keparat kau"


"uuuhu u kau kau u mencariku hany   a huu untuk seks uuhu "


"baghh bughhh bughh"


"Mati saja" ucap caca yang kini mengarahkan bantal untuk menutupi wajah dimas, berharap dimas sulit bernafas


dan mati secepat mungkin, namun hal itu tidak akan terjadi  karena tenaga caca tentu saja tidak sebanding dengan dimas.


Dengan sigab dimas segera mengelak dan menahan pergelangan tangan istrinya agar tidak lagi memukulinya, dan dengan sekali hentakan dimas membuat istrinya itu berhenti dari aksi yang tidak mengguntungkan bagi mereka berdua, disertai paksaan dimas berhasil  membuat caca terbaring disisinya walaupun caca terus menonta namun lagi-lagi caca kalah tenaga dengan dimas, dimas lalu dimas memeluk istrinya dari belakang, huhh hari ini sungguh hari yang melelahkan bagi dimas, dimas sudah sangat kepenat karena perjalananya dan dengan permainannya ini huh semakin mengguras tenaganya.


Dengan mengeratkan pelukannya dimas akhirnya mampu menenangkan istrinya walau suara tangisan masih terdengar namun dimas tidak peduli yang dibutuhkannya saat ini adalah tidur. karena  besok dirinya akan menghadapi semuanya lagi dimas yakin besok adalah hari yang panjang dan dirinya butuh tenaga ekstra untuk menghadapinya. Hari ini cukup drama dalam hidupnya setelah kembali merengkuh wanitanya dimas benar- benar merasakan kebahagiaannya akan kembali lagi huh inilah hidupnya, inilah yang diinginkannya.


"Besok kita bicarakan, aku ingin menikmati malam ini, jadi biarkan aku mendapatkannya"


"Hiks hiks" Caca tidak mengucapkan apa-apa lagi tetapi isakan tanggisnya masih terdengar. semua aksi penolakannya berakhir dengan sia-sia karena semakin caca mencoba melepaskan kungkungan dimas maka dimas semakin menggeratkan pelukannya


"Kau tahu?, I MISS YOU nyonya adipati" gumam dimas, entah dimas sadar atau tidak saat mengatakannya


namun mengetatnya pelukan dimas, caca tahu ucapan itu tulus dari dimas.


"hiks..hiks"


"stay with me"


"hiks"

__ADS_1


 


 


__ADS_2