
Anak-anak itu membawa suasana baru dalam hidupku, apalagi fatih. fatih kecilku sama dengan kakak-kakanya, fatih lebih mirip dengan dimas dibandingkan aku, wajah hidung bibir dan warna rambut pun mereka sama, aku hanya kebagian matanya saja, warna bola mata juga bentuk mata fatih sama denganku.
jika dimas dan twins memiliki warna mata coklat, aku dan fatih memiliki warna mata hitam legam, dan aku bangga akan hal itu, fatih suka sekali dengan aroma tubuh apinya, apalagi jika ingin tidur fatih harus beralaskan baju dimas atau setidaknya fatih merasa ada dimas disekitarnya.
Sedangkan twins, usia mereka semakin kesini hampir dua tahun dan keaktifan mereka semakin tidak bisa terkontrol, selama aku melahirkan danisa terpaksa lebih banyak bersama omanya, nah didikan omanya itu membuat danisa semakin menjadi.
danisa yang malas bergerak sih sebenarnya cukup baik dibandingkan daniel tapi waoowww danisa bener-bener cerewet dan cukup perfecsionis seperti dimas, dirinya sudah bisa mengatur dan memerintah babysisternya tapi jika dihadapan dimas dirinya akan menjadi sangat manja dan menempeli dimas kemanapun dimas pergi.
Ada yang berkata padaku jika danisa melakukan itu sebagai tingkah protesnya untuk berbagi kasih sayang selain dirinya dan kembarannya, mungkin benar usia mereka yang sangat dini seharusnya masih perlu perhatian penuh dariku namun mereka sudah memiliki pesaing hingga danisa bertingkah demikian untuk mendapatkan kasih sayang dari siapapun.
__ADS_1
dengan pelan-pelan dan dengan kasih sayang akhirnya aku berhasil mendekatkan danisa dan fatih, mereka akhirnya mau berdekatan namun jika fatih menanggis danisa merespon dengan cara memukuli fatih, huhhh jantung hampir melompat kala itu, didepan mataku sendiri danisa melayangkan jarinya kebibir fatih dan mengakibatkan fatih menanggis semakin keras, hingga membuatnya jatuh sakit.
Fatih kecilku harus dirawat beberapa hari di rumah sakit karena terus menanggis hingga pernapasannya terganggu, dan kalian tahu respon dimas, dirinya merutukiku dan menganggapku tidak becus mendidik anak-anaknya, aku hanya mampu menanggis dalam diamku, lewat tangisannya fatih menggungkapkan yang dirasakannya dan hatiku serasa tercabik-cabik mendengar setiap tangisan dan seakan tenggelam dalam air mata fatih kecilku.
ibu mana yang ingin anaknya tersakiti, ibu mana yang tidak merasakan kesakitan anaknya, dan karena sakitnya fatih dimas seakan menjauhkan aku dari anak-anaknya, kini dirinya yang mengambil alih tugasku untuk menjaga fatih di rumah sakit, dan menyuruhku pulang kerumah kami sendiri, dimas tidak mengizinkanku mendampinggi fatih, jangankan memeluk fatih melihatnya pun sekarang tak boleh, dimas kini juga menitipkan twins pada kedua mertuaku, jadilah aku merasakan kesepian yang sangat teramat dalam.
Dalam kesepianku banyak hal yang singgah hingga bersarang diotakku memberi gambaran-gambaran juga imajinazi akan hidupku kedepannya, namun satu hal yang kini kuyakin bahwa waktuku telah habis.
hari ini sudah hari ketiga fatih dalam rumah sakit dan dalam tiga hari pula dimas memberikan jarak yang begitu jauh dari anak-anakku, ibu mana yang sanggup berpisah jauh dari buah hatinya, namun otak dan hatiku singkron mengatakan bahwa aku sudah tidak dibutuhkan lagi, dengan deru air mata kukemasi semua barang yang kumiliki dari hasil jerih payahku selama bekerja menjadi budunbysitter (babu duren dan baby sitter) dan selama menyandang status istri dari dimas putra adipati.
Entah memang sudah keinginan dimas untuk aku meninggalkannya atau ini adalah akhir dari kisahku, tak seorang pun yang menghalanggi langkahku meninggalkan sejuta kenangan bersama keluarga kecilku, setiap langkah rasanya seakan ingin membunuhku dengan tragis, semua bayangan akan suka, duka, tanggisan dan sikap manja anak-anakku membuatku enggan meninggalkan rumah besar yang tadinya tempatku bernaung namun kini hiks hiks selamat tinggal twins selamat tinggal anakku.
"fatih kecilku jika kelak kau dewasa dan tuhan mengisinkanku mendengar suaramu, panggil aku ibu walau sekali saja" ucapku bermonolog pada angin seakan menitipkan pesanku pada buah hati yang kini berjuang melawan sakitnya.
__ADS_1
Taxi pesananku sudah membunyikan klakson beberapa kali hingga membuyarkan lamunanku, dengan langkah pelan dan serasa berat kuseret tubuh dan koper milikku mendekati taksi yang akan menggantarku kembali pada asalku yang sebenarnya.
inilah kisahku dan seperti inilah akhirnya, aku hidup sebatang kara dan tetap akan berakhir sebatang kara, terimah kasih tuhan terima kasih telah memberiku keluarga baru walau hanya sesaat, jika benar ada ingkarnasi bolehkah kupinta keluargaku tetap mereka ?
Setiap tetes air mata yang keluar bagaikan belati tak kasat mata, tajam dan mencabik fisik juga jiwaku, setiap detiknya berlalu begitu saja, terus terus hingga terus meninggalkan aku yang berharap terpaku dalam waktu kebahagiaanku yang telah berlalu, kuharap semua ini mimpi belaka namun semakin kuberharap kenyataan di depan mata seakan mengolong-ngolok dan menamparku dengan tragis.
Selamat tinggal kebahagian, kuharap ini yang terakhir dan kuharap tak ada yang akan menggantikan posisi kalian dalam hatiku.
I LOVE YOU DIMAS
I LOVE YOU TWINS
I LOVE YOU FATIH
__ADS_1