
Dimas POV.
Aku adalah laki-laki yang dibesarkan dengan keluarga yang utuh namun kesibukan orang tuaku juga karena aku adalah anak tunggal memaksaku menjadi sosok yang mandiri dan penyendiri, akan tetapi setelah menikah bersama caca barulah aku merasakan arti lain dari kata keluarga, dalam devinisiku keluarga itu harus ada
ayah dan ibu, walau yang terjadi tidak pada semestinya, mereka ada namun hanya ada, tidak berefek banyak bagiku, dan itu yang selama ini kulakukan pada pernikahanku sebelumnya.
tapi kini yang selalu ada dalam dekapanku saat tidur adalah wanita gila yang datang dan menghancurkan pikiranku, dirinya menuntutku mengerjakan dan berperan aktif dalam sebuah keluarga, sehingga hari-hariku berbeda, bersama keluarga kecilku aku merasakan hangatnya sebuah keluarga yang penuh dengan canda tawa, drama, caci maki istri, kemanjaan dan tangisan twins lagi-lagi memaksaku untuk menjadi sosok yang lain, aku yang keras kepala egois dan tempramental harus mengalah lalu mengikuti keinginan mereka.
caca itu selalu mengeluh bahwa dirinyalah yang kehilangan kehidupannya sebelum bersamaku namun aku merasa akulah yang paling dirugikan selama ada mereka dalam kehidupanku, bukan dalam masalah materi tetapi lebih pada ketenangan juga kebebasan, selama caca resmi menyandang status istri sah dari dimas putra adipati dirinya lebih berkuasa mengatur jam kerja, uang saku hingga pakaian yang harus kukenakan, kau tahu aku dihadapkan
dengan dua pilihan antara suami yang begitu tunduk pada isrtinya atau sangat menyayangi istrinya dan sampai saat ini aku belum tahu, aku berada di pilihan yang mana.
wanita itu benar-benar menghancurkan hidupku, hal-hal yang dilakukannya memang sesuatu hal yang kecil dan terlihat sepeleh namun semua tindakannya memaksaku meruntuhkan egoku, dua setan berbentuk dimas kecil itu sangat menyusahkan, aku sempat bertanya-tanya apa yang membuat istriku begitu bahagia merawat dua setan
kecil ini. tetapi seiringnya waktu akhirnya saat menjalaninya barulah aku mengerti.
setiap perkembangan pada mereka menimbulkan perasaan lain antara kesal, gemas, senang, bangga dan bahagia saat melihat mereka tertawa juga bergerak dengan lincah.
Semuanya mulai kulakukan, seperti menggantikan popok, memandikan mereka, mengajak bermain hingga menyuapi mereka, semakin kesini selama merawat twins ada sesuatu yangmenjanggal bagiku, entah ini kebiasaan mereka atau memang mereka begitu mirip denganku, mahluk kesayangan caca ini suka sekali merengek dan melemparkan barang-barang yang tidak disukainya.
aku serasa melihat cerminanku pada dua manusia kecil berwajah sama denganku ini, apakah genku sangat kuat atau bagaimana, aku baru saja membiasakan diri bersama twins selama dua bulan lebih namun sikap tempramental mereka sangat mendominasi sepertiku, atau mungkin juga karena caca juga tempramental hingga sikap dan perilaku mereka terkesan menyebalkan.
Jika seperti ini aku harus menyalahkan siapa sebenarnya, caca yang berotak dangkal dan belum sepenuhnya dewasa atau aku yang terlambat untuk membangun karakter pada kedua mahluk yang berstatus anakku ini. aku sangat bersyukur wajah mereka mirip denganku, dan selalu ada caca yang menggurusi mereka dengan sangat baik.
__ADS_1
jikalah mereka berwajah mirip dengan bella entah bagaimana aku melupakan dendam pada orang yang melahirkan dua penerus keluarga adipati ini, dan tidak lama lagi wanita yang tingkat kematangannya juga belum stabil akan melahirkan penerus selanjutnya membuatku harus benar-benar bersiap mendapatkan kejutan baru dalam hidupku, dua saja sudah mengguras semua tenagaku dan caca apa lagi harus bertambah satu lagi yang belum kami ketahui jenis kelaminnya.
Caca memang sengaja tidak ingin mengetahui jenis kelamin anak yang dikandungnya namun selama hamil anak dalam rahim caca saja sudah ingin membunuhku bagaimana kalau sudah besar nanti, aku yang ngidam aku yang mengalami hyperemesis gravidarum, rasa mual berlebih itu kupikir hanya mitos namun kini aku benar-benar mengalaminya dan setiap aku mengeluh dirinya hanya mengejekku walaupun begitu istriku itu tetap membantu dengan membuatkan minuman jahe, memijat kepala atau pengusap punggungku, huh aku tak tahu jika masih bella yang menjadi pendampingku saat ini dan aku seperti ini karenanya huuh maka bersyukurlah aku.
Selama aku ngidam, aku sangat membenci caca yang tampil bersih dan rapi, tapi aku menyukainya yang berantakan dan bau keringat, aroma keringatnya itu seakan menggangkat bebanku, kenapa aneh ? iya aku aneh bahkan sudah hampit gila karenya.
selama caca berpenampilan berantakan rasanya aku selalu ingin dekat dengannya namun jika sikap menyebalkannya muncul huh aku serasa ingin menjahit mulut dan melemparkan caca ke tong sampah.
Dan panggilannya untukku "api" benar-benar aneh atau unik rasanya samasaja tapi entah aku menyukainya "ati dan api" layaknya beaty and the beast apa mungkin dia pikir pernikahan yang berdasarkan dogeng.
Seperti biasanya aku menemani istriku mengurusi twins yang sedang rewel-rewelnya karena gigi susunya tumbuh disela- sela waktu kosong kami dirinya mengajakku bergurau sesuatu yang tidak penting mengenai plakor yang sedang viral di media sosial.
satu kata yang hampir membuatku mencercanya dengan kata-kata kasar yaitu saat dirinya mengizinkanku memiliki wanita lain, gila memang gila dia pikir membiayai hidupnya mereka bertiga tidak menyusahkan? huh aku bisa saja merelakan jerih payahku dinikmati mereka namun menyerahkan hidupku pada para dedemit seperti bella-bella lainnya oghhh No big NO thanks for you cukup kamu saja itu berat aku takkan kuat.
Siang ini orang tuaku tiba-tiba datang hingga mengejutkanku dan caca, kami yang tidak mengetahui kedatangan mereka membuatku dan caca hanya bisa semakin mendekap twins yang ada dalam pelukan kami masing-masing.
Dengan suara yang terjepit, akhirnya istri gilaku tetap menyapa kedua manusia yang berstatus orang tuaku, layaknya tidak ada masalah apapun caca akhirnya menjamu mereka seperti semestinya tuan rumah menyambut tamunya
"Assalamualaikum, om dan dan tante, mari silahkan duduk"
"Walaikum salam" jawab ayah dan ibuku bersamaan dan melangkahkan kaki mendekati kami dan mengikuti intruksi caca untuk duduk di sofa yang ditunjuk istriku
"Maaf ya tante dan om rumah ini sangat berantakan, maklum twins kami reyel jadi kami tidak bebas berbenah" ucapnya berbasa- basi
"....."
__ADS_1
namun kali ini ibu dan ayahku memilih diam tetapi mata ayah dan ibuku begitu intens memperhatikan twins yang ada didekapanku dan caca, segala perhatian dan tingkah twins seakan begitu menarik untuk mereka perhatikan, twins kembali reyel karena kurang nyaman dengan posisi gendongannya dan bosan dengan apa yang
digigitnya sedari tadi.
"Maafkan kami tidak bisa menjamu om dan tante dengan cara spesial karen kami tidak tahu jika kalian ingin berkunjung"
"......" Suara tangisan twins begitu nyaring menutupi kediaman orang tuaku
"Maaf yah tante dan om, maklumlah gigi mereka tumbuh secara bersamaan dan itu membuat twins kurang nyaman jadi mohon dimaklumi ya"
"......."
Tidak ada jawaban sedari tadi hingga entah inisiatif siapa ayah dan ibu ku lalu mengambil alih twins dariku dan caca, danisa kini dalam gendongan ibu sedangkan daniel bersama ayahku, dalam dekapan mereka twins akhirnya tenang namun tenangnya twins terlihat aneh, dengan aksi tatap -tatapan orang tuaku sekan menyampaikan rasa rindunya untuk twins, sedangkan twins hanya memperhatikan wajah-wajah orang tuaku, untuk pertama kalinya mereka bertemu dan untuk pertama kalinya mereka bersentuhan.
tentu saja twins terlihat begitu asing dengan mereka, ada sedikit rasa was-was dalam diriku takut jika ayahku yang keras dan terkesan kejam itu melukai twins, takut jika ibuku yang nyinyir membuat caca pergi dariku, takut jika twins harus menderita diluar sana tanpa pengawasanku dan caca.
Ternyata ketakutanku sia-sia saja, ibuku malah meneteskan air mata dan menciumi danisa terus menerus hingga membuat danisa kembali menanggis dan kembali pindah dalam dekapan caca sedangkan daniel tetap tenang setelah menggigit kuping ayahku, tidak cukup itu saja daniel juga beberapa kali menampar wajah ayah, aku yakin
rasanya sakit, tapi lagi-lagi aku tidak bisa percaya ayahku malah tersenyum dan mengajak daniel berbicara dan tentu saja daniel menjawabnya dengan senyuman dan gumanan yang tidak jelas.
Hal itu membuatku merasa legah setidaknya orang tuaku mau menerima twins dan caca tidak terbayang olehku jika istriku itu harus bermain kucing-kucingan, hingga membuat caca harus bepergian jauh dari jangkauan mataku.
Hal ini tentu saja mengusik dan memaksaku menerka-nerka alasan mereka mendatanggiku dengan mendadak dan alasan apa yang membuat mereka menerima caca dan twins dengan mudahnya, agh kuharap tidak ada lagi drama-drama panjang dalam keluargaku dan kuharap ketenraman ini seterusnya terjadi, juga semoga kematian tidak memanggil caca saat melahirkan nanti, cukup dirinya saja yang mendampinggi hidupku, jika harus beradaptasi dengan caca-caca baru rasanya percuma karena yang kuinginkan saat ini hanyalah cacaku istri gilaku, atinya
twins dan wanita pendesah milikku.
__ADS_1
Sekarang nanti dan selamanya.