Bukan Cinta Biasa (Vampire Love Story)

Bukan Cinta Biasa (Vampire Love Story)
Permintaan maaf


__ADS_3

Tok tok tok.


 


 


“Dokter,Anda didalam?” Suara Thomas terdengar dibalik pintu ruangan praktek Dokter Sakti.


 


 


“Masuklah Thomas!” Suara Sakti menjawab panggilannya.


 


 


Thomas membuka pintu dan masuk kedalam,menyusuri ruangan dengan pandangannya. “Anda sendirian Tuan?” setelah melihat tak ada manusia disana.


 


 


“Hmmm,”


 


 


“Kemana manusia itu? Em,maksud saya Nona Larasati,”


 


 


“Entahlah,Dia marah dan meninggalkan aku begitu saja tadi,” Matanya menerawang mengingat kejadian tadi siang.


 


 


“Ada masalah apa Tuan?” menarik kursi dan duduk bersebrangan dengan Dokter yang sepertinya tengah gelisah. Apa karena manusia itu?


 


 


“Aku tak sengaja menyakitinya. Tangannya terluka tadi sewaktu bekerja,dan aku sudah tidak kuat menahan hasratku saat mencium aroma darah yang keluar dari ujung jarinya. Ya,begitulah,” Menghela nafas panjang,enggan melanjutkan ceritanya. Ia benar-benar merasa bersalah pada gadis itu.


 


 


Tapi rasa darah itu tak akan pernah ia lupakan seumur hidupnya. Sangat berbeda dan luarbiasa.


 


 


“Anda minum darah gadis itu Tuan?”


 


 


“Ya,tapi aku benar-benar tidak sengaja. Mungkin dia pulang sekarang,”


 


 


“Anda tidak ingin mengantarnya pulang Tuan? Sebagai permintaan ma’af misalnya.” Thomas mengatakan ini dengan raut muka serius,pasti ada maksud lain kecuali untuk minta ma’af.


 


 


“Apa ada yang kau sembunyikan dari Ku,Thomas?” menatap tajam pada Pengawal setianya ini.


 


 


“Tidak ada Pangeran. Hanya sebagai wujud kemanusiaan.” Thomas mencoba berbohong,tanpa memikirkan apapun didalam kepalanya. Ia akan memberitahu kebenarannya nanti kalau sudah jelas. Ia hanya khawatir jika gadis itu benar yang mereka cari,tentu ia dalam bahaya.


 


 


Sakti berdecih,“Sejak kapan kau perduli tentang kemanusiaan.” Tapi ia berdiri dan melepas jas Dokternya. Menyambar kunci mobil diatas meja,dan tergesa menuju parkiran Rumah Sakit.


 


 


Thomas hanya tersenyum memandang punggung Sakti yang berlari menuju Parkiran. Kenapa Anda begitu naif Pangeran?


 


 


**


 


 

__ADS_1


Sesampainya disana mobil Larasati masih terparkir ditempatnya. Berarti gadis itu belum pulang. Tapi ia juga bingung,harus bilang apa jika bertemu dengannya nanti. Ia mondar-mandir beberapa kali,hingga  akhirnya menyadari kekonyolan yang ia lakukan. Aku ini sebenarnya kenapa,mau minta maaf kok ribet gini,gumam-gumam sendiri. Akhirnya ia memilih bersandar pada mobil mewahnya,sambil menunggu kedatangan Laras.


 


 


Laras yang hendak pulang,melihat Sang Dokter yang sedang bersandar di bodi mobilnya. Mau apa orang itu,apa dia nungguin aku? Cih,nggak mungkin.


Larasati berjalan santai melewati sang dokter yang sedang tertunduk memainkan kerikil dengan ujung sepatunya. Melirik sekilas kegiatan yang dilakukan sang Dokter.Apa dia kurang kerjaan? Malah main diparkiran lagi,hadeeeh.


 


 


Sakti baru menyadari kedatangan Laras,saat hidungnya mencium aroma tubuh gadis itu,“Laras?” buru-buru lari menghampiri Larasati yang hendak masuk ke mobilnya. Bagaimana sebuaah kerikil bisa menghilangkan fokusnya tadi. Sampai tak melihat Larasati melewatinya.


 


 


“Apa?” menjawab ketus. Ini saatnya balas dendam.hahaha


 


 


“Kamu marah ya?” ragu bertanya,pasti jawabannya iya.


 


 


“Nggak,”


 


 


“Oh,aku kira kamu marah,” menghela nafas lega.


 


 


Apa-apan dia ini. kalau aku bilang nggak itu artinya ia sialan. Bener nggak peka nih orang.


 


 


“Kenapa?” semakin kesal karena usahanya gagal. Ia berharap tadi Dokter ini minta ma’af,tapi ternyata,zonk.


 


 


 


 


Katanya nggak marah,kok mukanya gitu. Perempuan memang aneh.


 


 


Hehehe,minta maaf juga rupanya. Entah mengapa dia senang,karena Sakti minta maaf.


 


 


“Ehmm,terserah Dokter kalo gitu.” Laras mengulum bibirnya sambil menoleh,agar tak ketahuan Sakti kalau ia sedang tersenyum senang. Sebenarnya rasa kesalnya sudah hilang tadi setelah minum jus mangga di kantin Rumah Sakit. Tapi melihat ekspresi wajah Sakti yang merasa bersalah. Malah muncul ide jahil untuk mengerjainnya. Kita satu sama ya Dokter.hihihi


 


 


Larasati mengitari mobilnya dan duduk di kursi penumpang depan.


 


 


Ketika Sakti hendak masuk kedalam mobil,pandangannya bertemu dengan sesosok makhluk yang sedang duduk santai mengayunkan kakinya diatas gedung Rumah Sakit. Ia tau siapa pria itu,sosok berhodie biru tua itu pasti dari klan Black Shadow. Pakaiannya yang selalu menutupi seluruh tubuhnya, menandakan ia takut terbakar sinar Matahari.


 


 


Ada golongan klan yang tahan terhadap sinar dan ada pula yang akan terbakar jika terkena matahari langsung. Tiga golongan teratas tahan terhadap sinar,dan 4 yang lainnya tidak.


 


 


Apa ini maksud Thomas,menyuruhku mengantar gadis ini pulang. Apa dia gadis dalam ramalan itu. Ia terus tenggelam dalam pikirannya sendiri, sepanjang perjalanan mengantar Larasati pulang ke Rumah Oma Maria.


 


 


“Rupanya Pangeran bodoh itu,melindunginya. Menarik,aku suka ini. Mari kita bertarung memperebutkan manusia itu. Agar aku juga bisa membunuhmu.” Pria di atas gedung itu tertawa terbahak dengan taring yang mencuat dari mulutnya.


***


 

__ADS_1


 


Didalam mobil tak ada satu katapun terucap dari keduannya. Tak ada yang berniat memulai percakapan lebih dulu. Kenapa rasa canggung bisa membuat orang susah bernafas,aneh.


 


 


“Rumah kamu dimana?” pertanyaan yang ingin ia tanyakan dari tadi. Karena jujur ia memang tidak tahu.


 


 


“Nanti lampu merah lurus aja,deket supermarket belok kanan.”


 


 


“Owh,oke” diam lagi,karena tak tahu harus bicara apa.


 


 


Kenapa dia nggak nanya apa lagi gitu,kok diem. Eh,aku ini kenapa sih. Dulu sama Nico aku cuek aja. Nggak gini-gini amat. Kenapa aku sok manja begini sama Dokter sialan ini. Larasati menggoyangkan kepalanya,mencoba membuang pikiran anehnya yang minta perhatian dari Sakti.  Ini benar-benar bukan gayanya. Mencari perhatian seorang Pria.


 


 


Mobil memasuki gerbang Rumah Oma Maria. Sang Oma terlihat sedang menyiram tanaman didepan Rumahnya. Mematikan selang begitu melihat kedatangan mobil cucu kesayangannya.


 


 


Mereka turun dari mobil dan menghampiri Oma Maria,yang terlihat lebih sehat dan bahagia hari itu.


 


 


“Apa kabar Oma? Kayaknya tambah cantik ya tiap hari.” Bersalaman dan mencium tangan Oma Maria dengan sopan.


 


 


“Ah,Dokter Ganteng bisa aja ambil hati saya. Sehat Dok,ini berkat Dokter juga,” Tersenyum,sambil menerima uluran tangan Laras.


 


 


“Omaa,,” Laras memandang kesal,karena di nilainya Omanya terlalu genit.


 


 


“Apa kamu?” mencibir pada cucunya.


 


 


Larasati hanya melengos.


 


 


“Ayo Dok,masuk dulu, saya buatin minum,” Tawar Oma ramah.


 


 


“Nggak,nggak usah repot-repot Oma. Dokter ini sibuk,mau pulang kan Dok?” Laras mendorong bahu Sakti menuju gerbang.


 


 


“Laras,nggak sopan kamu tuh sama tamu,” Oma berteriak dari teras rumah.


 


 


“Tega banget kamu Ras. Gini-gini aku Bos kamu lho,” Memasang muka masam dan melas, tapi nurut saat tubuhnya diusir dari rumah Larasati.


 


 


“Ini udah diluar jam kerja ya Dok. Itu ada taksi,pulang sana.”


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2