Bukan Cinta Biasa (Vampire Love Story)

Bukan Cinta Biasa (Vampire Love Story)
Segitiga Setan


__ADS_3

Larasati menggeliat saat pipinya terasa ditepuk pelan. Samar-samar ia mendengar suara suaminya,”Sayang bangun,” Laras mengerjabkan mata. Seketika pikirannya bertanya,”Apa aku bermimpi melihat Sakti?” lupa kalau mereka sudah menikah dan melakukan perjalanan bersama.


 


 


“Ayo bangun! Kita sudah sampai.” Tersenyum lembut,menyadari kebingungan Laras.


 


 


Perlahan ingatannya mulai terkumpul. Dan menyadari posisinya, “Maaf sayang,aku lama ya tidurnya?” melihat sekeliling. Gelap gulita. “Masih malem ya?” tanya Laras polos.


 


 


Sakti tersenyum,mengusap rambut istrinya yang sedikit berantakan,lalu menyelipkannya dibelakang telinga,”Apa pun yang terjadi. Kamu jangan pernah jauh dari aku. Apapun yang kamu lihat simpanlah untuk dirimu sendiri,” Kata Sakti lembut.


 


 


“Apa kita sudah sampai di Negri Kegelapan?” kaget Laras. Tempat ini persis seperti dalam mimpinya. Gelap,sepi dan berselimut kabut. Tak ada pencahayaan sedikitpun. Langit juga terlihat gelap. Hingga ia tak bisa membedakan apakah ini siang atau malam. Tiba-tiba tengkuknya merinding. Membayangkan kemungkinan terburuk yang akan ia temui dibalik kabut itu.


 


 


Segerombol makhluk bertaring dan bermata merah menyala,yang kapan saja bisa membantainya.


 


 


Sakti menggenggam erat tangannya. Memberikan kekuatan bahwa semua akan baik-baik saja jika bersamanya. Pria itu menyadari ketakutan diwajah istrinya, “Nggak papa. Kalung itu akan menyamarkan bau tubuh kamu. Kalau nanti ketemu sesuatu didepan sana,jangan pernah menatap matanya. Tundukan kepalamu,sekalipun itu ayahku,” Larasati mengangguk pelan.


 


 


Mereka lalu turun. Bergandengan tangan. Thomas berjalan dibelakangnya dengan setia. Mengawasi setiap pergerakan di kegelapan. Suara lolongan anjing terdengar riuh bersahut-sahutan. Ini tempat paling mengerikan yang pernah ada didunia,pikir Laras.


 


 


“Sayang sebenarnya dimana tempat ini berada?” karena tidur ia tak bisa menikmati perjalanan istimewa ini.


 


 


“Kamu pernah dengar tentang “Lautan Segitiga Setan?” tanya Sakti. Pandangan matanya terus mengawasi jalan setapak yang mereka lewati. Pohon-pohon bahkan terlihat memperhatikan langkah mereka.


 


 


“Maksud kamu,tempat dimana kapal dan pesawat hilang secara misterius itu?” Menelengkan kepala,memastikan apa yang akan dikatakan suaminya sesuai dengan dugaannya.


 


 


“Ya. Kita berada disana sekarang. Pulau tak terlihat diatas pusaran air. Hanya manusia tertentu yang bisa melihat tempat ini. Kamu bisa melihat karena bersamaku,”jelas Sakti.


 


 


Lagi-lagi Larasati merasakan tengkuknya merinding. Seketika otaknya bekerja cepat. Menggali memori kelam tentang kejadian hilangnya pesawat dan kapal secara misterius. Berbagai teori muncul untuk menjelaskan peristiwa tersebut. Namun semuanya belum ada yang pasti. Manusia berusaha mengaitkan semua peristiwa yang terjadi dengan teori ilmiah yang masuk akal. Sedangkan sesuatu di luar nalar pasti akan sulit diterima semua orang.


 


 


“Semua kapal dan pesawat itu jatuh dan terdampar ditempat ini. Semua penumpangnya telah menjadi santapan Bangsa Pemburu. Ada juga manusia yang bisa bertahan dan menjadi golongan pemburu. Itu adalah kemampuan klan Devil. Menularkan virus vampir. Mengubah manusia dan hewan yang digigit menjadi bangsa pemburu juga. Sedangkan yanglain,akan berakhir tragis,” Sakti enggan melanjutkan ceritanya. Tak mau Laras semakin ketakutan ditempat ini.


 


 


Larasati mengeratkan genggaman tangannya. Menempelkan tubuh pada lengan kekar suaminya. Mulutnya komat-kamit membaca doa. Ya Allah lindungilah kami. Jauhkanlah kami dari segala marabahaya. Jagalah kami dari setiap makhluk yang ingin mengganggu. Semoga perjalanan menantang maut ini akan mendapat ridho dan rahmat-Mu. Amin.


 


 


Mereka terus berjalan melewati hutan yang ditumbuhi pohon-pohon besar yang menjulang. Bahkan kalian tak akan bisa melihat secenti pun pemandangan langit malam. Mungkin ini juga yang menyebabkan tempat ini gelap gulita. Dedaunan yang tumbuh rimbun saling bersinggungan antara satu pohon dengan yang lain. Jalan setapak yang ditumbuhi rumput-rumput terlihat samar. Seperti tak pernah diinjak. Saat Laras bertanya,kenapa jalannya seperti tak pernah dilewati,Sakti menjawab,”Biasanya kaum pemburu akan melompat diatas pohon sayang. Kita jarang berjalan. Apa kamu mau kita sampai lebih cepat?” tawar Sakti.


 


 


Larasati mengangguk. Lebih baik segera pergi dari tempat mengerikan ini. Meski didepan nanti akan lebih menakutkan.


 


 

__ADS_1


Sakti berjongkok didepan istrinya,”Naiklah !” Pintanya kemudian.


 


 


Larasati membulatkan matanya,”Aku berat lo Sayang. Nanti kamu cape,”


 


 


“Kamu itu seringan bulu. Ayo naik ! atau mau aku tinggal?” tersenyum.


 


 


“Jangan bercanda ah. Kalau kamu maksa,ya apa boleh buat,” Padahal hatinya bersorak,tapi memasang wajah jaim tingkat dewa. Lalu naik ke punggung suaminya. Mengulum senyum di bibirnya.


 


 


Dalam sekejab Sakti melompat seperti roket. Membawa Larasati mengudara,menapak pada dahan pohon untuk pijakan melompat lebih tinggi. Thomas mengikuti gerakan Tuannya dengan kecepatan yang sama. Sesekali ia mendahului untuk melihat situasi.


 


 


Larasati mengeratkan pegangan di bahu suaminya. Jantungnya mungkin sudah melompat sejak tadi. Karena sekarang ia sama sekali tak bisa merasakan detak jantungnya sendiri. Gerakan suaminya tak memberikan ia ruang untuk sedikit menikmati perjalanan mendebarkan ini.


 


 


Tak butuh waktu lama,mereka sampai didepan sebuah Kastil seperti dinegri dongeng. Sebuah bangunan dengan banyak menara seperti ujung roket. Tinggi rendah menyebar disegala arah. Gelap. Hanya ada beberapa lentera yang menerangi tempat ini. Itupun tak cukup untuk melihat pandangan di kejauhan. Sakti menurunkan Laras dari punggungnya. Gadis itu masih gemetar ketakutan.


 


 


“Minum dulu Nona,” Thomas memberikan sebotol jus kepada Laras. (Kok kepikiran bawa bekal ini vampir?)


 


 


Larasati menerima botol dengan tangan yang masih gemetar. Memutar tutupnya dan meminumnya dalam tegukan-tegukan panjang. Membiarkan cairan kental, segar dan manis itu membasahi kerongkongannya. Detak jantungnya mulai teratur. Keringat dingin membasahi seluruh tubuhnya. Sakti mengusap lembut keringat di dahi istrinya dengan sapu tangannya, “Nggak pa-pa,” Katanya kemudian.


 


 


 


 


“Kamu menikmatinya?” tersenyum.


 


 


“Nggak,aku fokus pegangan biar nggak jatuh,” Dia serius saat mengatakan itu.


 


 


“Kalau begitu lain kali kita terbang lagi. Supaya kamu bisa menikmati perjalanan.hehe”


 


 


Larasati hanya melengos. Pandangannya kembali memperhatikan bangunan tinggi menjulang itu. disanakah Raja Pemburu tinggal? Ayah suaminya. Berarti disini juga ia akan tinggal sementara nanti. Lagi,bulu kuduknya kembali berdiri.


 


 


“Ayo masuk. Nanti aku tunjukkan kamar ku,” Tersenyum penuh arti.


 


 


Kenapa yang kau bahas malah kamar. Seharusnya jelaskan padaku ada apa didalam. Dasar.


 


 


Larasati mengikuti langkah Sakti didepannya. Jantungnya kembali berdegup tak beraturan. Jantungku dipaksa olahraga sepanjang waktu ditempat ini. Semoga saat kembali nanti masih berdetak. Larasati bergumam dalam hati. Mereka melewati protokol masuk di pintu gerbang. Lagi-lagi Laras dibuat tertegun dengan pemandangan didepan matanya. Dua makhluk bersayap kelelawar dan bertaring panjang,berdiri tegap didepan pintu. Masing-masing tangan mereka membawa sebuah tombak yang ujungnya berkilauan saking tajamnya.


 


 


"Dia ini istriku. Jadi anggap dia sebagai Ratu ditempat ini," kata Sakti kepada para pengawal.

__ADS_1


 


 


Kenapa panggilan itu terdengar keren sekaligus menakutkan.hii


 


 


Mereka saling berpandangan,menyimpan wajah gadis cantik yang berdiri gemetar dibelakang Pangeran mereka dalam ingatan. "Baik Pangeran," jawab para penjaga bersamaan. Lalu membuka pintu kayu yang besar dan tinggi itu. sepertinya berat,pikir Laras. Tapi kedua pengawal itu terlihat sama saja,wajahnya tetap menyeramkan. Mereka menundukkan kepala saat rombongan kecil itu melewati gerbang yang sudah terbuka.


 


 


Sakti terus menggenggam tangan Larasati dengan erat. Menuntunya menyusuri lorong-lorong gelap di istana. Larasati dibuat terpana dengan arsitektur tempat ini. Meski menakutkan tapi terlihat menakjubkan. Ukiran-ukiran yang terlihat rumit,dan simbol-simbol aneh yang sama sekali tak ia mengerti terlihat menyala dikegelapan. Dengan warna emas berpadu dengan warna merah menyala. Menghiasi setiap dinding lorong ini. Andai dia lupa tempat apa ini,mungkin Larasati akan berkeliling dan berswa foto ditempat ini. Tapi,jangankan berkeliling,bahkan sedari tadi ia tak berjarak secenti pun dari suaminya. Tubuhnya terus menempel seperti perangko.


 


 


Sakti sebenarnya tak nyaman dengan posisi ini. Hatinya juga berdebar sedari tadi. Bukan karena takut seperti istrinya. Tapi karena bagian tubuh Laras yang terus menempeli lengannya.


 


 


Apa dia tidak sadar,kalau itu membuatku tidak fokus,bahkan aku lupa harus berbelok kemana setelah ini.


 


 


"Ehmm,lebih baik saya jalan didepan Pangeran. Untuk memastikan semua baik-baik saja," tiba-tiba Thomas bicara. Bibirnya mengulas senyum samar.


 


 


Sial. Aku lupa Kau bisa mendengarnya Thomas.ha ha ha


 


 


Dengan Thomas sebagai penunjuk arah,mereka sampai lebih cepat ke Ruangan Raja Charles. Laki-laki bermata biru itu terlihat sudah menunggu kedatangan mereka. Matanya terbelalak ketika tahu siapa yang berjalan dibelakang Putranya.


 


 


Sakti,Laras ,dan Thomas berlutut untuk memberi hormat, "Bagaimana kabar Anda Ayah?" tanya Sakti kemudian.


 


 


Pandangan sang Raja tak lepas dari wajah Larasati. Matanya terus menatap tajam,"Jadi,kau sudah menikahi manusia ini Putraku?" nadanya terdengar dingin,tak menjawab sapaan Putranya. Membuat Larasati bergidik ngeri. Suaranya terdengar seperti seorang Raja yang kejam dan bengis.


 


 


"Benar Ayahanda,"


 


 


"Apa Kau tau siapa manusia itu?" matanya berubah merah menyala. Ada kemarahan yang muncul disana.


 


 


"Dia Larasati Ayah. Manusia biasa yang aku cintai,"


 


 


"Bukan. Dia bukan manusia biasa," nadanya terdengar menahan gejolak hatinya.


 


 


"Maksud Ayah?" ketiga orang itu sama sekali tak mengerti dengan maksud Sang Raja. Apalagi Larasati,bahkan ia baru pertama kali bertemu dengan Raja yang juga mertuanya ini. Laras malah dikatai bukan manusia,apa coba maksudnya?


 


 


"Dia adalah Darah Suci yang di kutuk."


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2