
Raja Charles kembali menarik nafas panjang. Ya dia harus bersikap adil dan bijaksana. Suara perempuan yang paling ia cintai terus bergema didalam telinganya. Entah itu asli atau hanya halusinasi. Tapi suara itu memberikan dia sebuah pilihan yang dianggapnya paling baik untuk semua.
“Tolong Ayah, Lihat aku sebagai putramu. Aku tak pernah minta apapun darimu selama ini. Aku hanya ingin hidup bersama wanita yang ku cintai. Aku tak ingin kekuasaan ini. Aku mohon Ayah,jangan pisahkan kami,” Sakti menunduk. Dadanya terasa sesak. Ada butiran bening yang menetes disudut matanya.
Larasati menatap tak percaya. Suaminya rela melepaskan semua yang ia miliki dan posisinya sebagai calon Raja hanya untuk melindunginya. Dan dia tahu,cinta memang tak pernah salah memilih. Larasati tak bisa menahan bulir bening yang berusaha menjebol pertahananya. Kristal itu mengalir begitu saja. Kembali,mereka saling mengeratkan jemari tangan yang bertaut.
Terimakasih sayang atas cinta yang telah kau berikan.
“Manusia itu masih aman sekarang. Tapi,cepat atau lambat Klan pemburu akan mengetahui keberadaannya di istana ini. kau tahukan? Kalau ada banyak mata disini,bahkan dinding dan tiang itu juga memperhatikan kalian,” Pandangannya beralih menyusuri ruangan, “Sebenarnya ada satu cara agar dia bisa terbebas dari semua ini. Tapi itu tidak mudah. Kalau dia bisa bertahan,mungkin dia bisa selamat. Jika tidak,dia akan pergi dari dunia ini.”tambahnya. Pandangannya kembali menatap tajam ke arah tiga orang itu.
“Katakan Ayah,” Matanya beradu dengan mata biru sang Raja.
“Dia harus mengorbankan diri secara suka rela. Menuangkan darahnya ke cawan suci disaat purnama merah nanti. Darah itu akan menjadi penawar segala macam penyakit. Dan saat itu Dewi Amora akan kembali ke singgasananya,” Tutur Raja dengan tenang.
“Tapi Ayah? Cawan suci tidak pernah terisi penuh meski diisi seluruh air lautan. Bagaimana mungkin. Larasti akan mati kehabisan darah Ayah,” Protes Sakti. Solusi ini sama gilanya.
“Hanya itu satu-satunya cara Putraku. Agar dia terbebas dari rebutan bangsa pemburu. Mereka akan terus saling membunuh untuk mendapatkan darah gadis itu. Sekarang semua keputusan ada pada kalian. Aku hanya bisa membantu melindungi kalian disini. Sebagai seorang Raja,juga sebagai seorang ayah.”
Mereka diam. Saling berpandangan. Larasati lalu menganggukkan kepala. Pertanda dia mau melakukan pengorbanan itu. Dia selalu yakin Tuhan itu tak pernah tidur. Jika memang Darahnya bia menyelamatkan ribuan nyawa. Larasati rela.
“Istirahatlah, Kalian pasti lelah.”
“Baik Ayah, Kami permisi.” Berdiri dan membungkukkan badan hormat.
__ADS_1
“Tunggu,” Kata Raja,setelah mereka berbalik hendak keluar pintu. Membuat tiga orang itu kembali berhenti dan membalikkan badan kebelakang.
“Jangan lakukan itu,sebelum waktu pengorbanan tiba. Gadis itu harus tetap suci jiwa dan raganya.”
Jedaaaaaarr,telinga Sakti seperti tersambar petir. Padahal dia sudah merencanakan sesuatu di dalam kamar nanti. Ternyata harus tertunda lagi. Nasip-nasip.(yang sabar ya Tuan,hehe)
“Sayang, Kamu melamun?” tanya Laras.
“Ah tidak. Aku hanya teringat pesan Ayah tadi,” Tersenyum.
“Kita tidur Sayang, Aku cape,” Menarik selimut dan merebahkan tubuhnya diranjang. Membelakangi suaminya. Laras tak ingin Sakti melihat gurat sedih diwajahnya. Atau mendengarkan debaran jantungnya yang tak karuan.
Sakti ikut merebahkan diri disamping istrinya. Melingkarkan tangan kekarnya dipinggang Larasati. lalu membenamkan kepala dibalik punggung kecil itu.
Larasati menggigit bibirnya. Menahan segala rasa yang membuncah didadanya. Haruskah dia melakukan semua ini. Apa aku boleh egois sedikit saja Tuhan? Aku ingin hidup bahagia dengan suamiku hingga disurga nanti.
Pulau ini masih sama gelapnya meski disiang hari. Hanya Ada sedikit cahaya temaram dibalik awan hitam yang menyelimuti seluruh batas pandang mata ditempat ini. Mungkin semburat itu cahaya matahari,pikir Laras. Larasati sudah bangun,berdiri diatas balkon kamar suaminya. Gaun tidurnya berkibar tertiup angin. Dingin. Ia mengusapkan telapak tangan ke lengannya yang tak tertutup. Mungkin dia salah kostum saat memilih gaun tidur tanpa lengan ini.
Larasati tersentak. Sepasang tangan dingin dan kekar tiba-tiba melingkar di perutnya. Hembusan nafas yang terasa hangat merayapi tengkuknya. Membuatnya sedikit merinding dan geli.
“Kau sudah bangun?” tanya Sakti. Laki-laki itu masih mengusap-usapkan bibirnya di punggung Laras. Meski ia harus sedikit menunduk,itu bukan masalah. Pagi ini dia merasa menjadi laki-laki paling beruntung didunia. Karena wanita yang ia cintai ada didepan matanya saat ia terjaga dari tidurnya.
“Hmmm,aku ingin lihat suasana pagi ditempat ini. Ternyata tak jauh beda dari semalam,” Tersenyum. Tangan mungilnya mengusap lembut lengan suaminya, “Sayang apa itu matahari? Cahaya temaram diatas padang rumput itu?” menunjuk dengan ujung jarinya.
“Hmmm,” Menjawab acuh,pria itu masih sibuk cium sana-sini. Sial. Kalau terus begini,aku tidak akan bisa menahan diri. Gumamnya dalam hati. Lalu melepaskan pelukan dan berjalan kesamping Larasati. Ikut menatap cahaya temaram dikejauhan.
__ADS_1
Netra Sakti mengkap pemandangan lain. Bukan cahaya temaram itu. Tapi dua kelompok klan pemburu yang sudah siapa mengangkat pedang untuk berperang. Saling membunuh dan membantai lawan. Sakti menajamkan matanya,menggunakan kemampuannya sebagai pemburu untuk melihat pada jarak jauh tanpa bantuan alat apapun.
Dua pria berbadan tinggi besar yang menunggangi burung bangkai itu telah menunjukkan siapa mereka. Baju zirah dari besi dan senjata mereka terangkat tinggi. Mereka adalah pimpinan Klan Dark Bold dan Klan Devil. Pangeran Fredric dan William Luke. Laki-la itu sudah sampai di tempat ini rupanya,gumam Sakti.
“Lebih baik kau menyerah dan bersekutu denganku. Aku akan mengangkatmu menjadi panglima tertinggiku nanti,” Pangeran Fredric membuat penawaran. Mungkin saja laki-laki didepannya ini mau bernegosiasi dan melupakan tujuannya.
William berdecih kesal,“Aku tidak pernah menundukkan kepalaku kepada siapapun. Bahkan didepan Raja,” Jawab William dengan lantang. “Lebih baik kau saja yang menyerah dan menjadi budakku. Dasar Pangeran buangan. Ha ha ha,” semua pasukannya ikut tertawa.
“Arrrrrgggghhh. Jangan berani kau ungkit itu. Atau\,aku akan mero*** mulutmu bedebah\,” Pangeran Fredric terlihat marah. Giginya bergemerutuk kesal\,tanganya menepal geram. Lalu dengan semangat berapi-api\,ia berteriak lantang\, “PASUKAN\,SERAAAANNG !!” Dia menghela burung bangkai itu untuk berlarlari kemudian terbang menukik kearah William.
Pedangnya terhunus kearah pria itu. william dengan sigap menangkis serangan yang dilontarkan Pangeran Fredric. Pertempuran itu berlangsung sengit. Mereka sama hebatnya. Tapi setiap pertempuran pasti ada pemenang dan pecundang.
Semua pasukan klan Dark Bold sudah tergeletak tak berdaya. Ada juga yang mati mengenaskan dengan tubuh yang tak lagi utuh. Atau bagian dalam tubuh yang berhamburan keluar dari tempatnya. Pangeran Fredric,masih berdiri tegak. Mengumpulkan semua sisa tenaga yang ada. Kematian para pasukannya sama sekali tak menggoyahkan tekatnya untuk menghabisi seorang William Luke.
Dengan terpincang-pincang ia berlari sekuat tenaga. Menghunuskan kembali pedang ke arah William. Namun seketika langkahnya terhenti. Tubuhnya terangkat keatas. Seperti ada yang mencengkeram lehernya dengan kuat. Nafasnya tersengal. Kakinya mengayun diudara mencari pijakan. Tapi percuma. Lalu matanya yang merah menyala menatap tajam pada gerakan tangan William. Pria itu mengarahkan kepalan tangan ke arahnya. Dan saat tangan itu terbuka. Dia sudah tahu. Ini adalah akhir tragis kehidupannya.
Duaaarrrr.
Tubuhnya meledak,hancur tak tersisa. Hanya tinggal potongan-potongan daging dan bau anyir dari darah yang berhamburan. Semua pasukan klan Devil bersorak. Mereka menang. Merasa beruntung karena mengikuti seorang pemimpin yang digdaya.
Sakti menutup mata saat tubuh Pangeran Fredric meledak. Dia bukan orang yang kejam. Hingga tega melihat pemandangan itu. Tangannya mencengkeram pagar pembatas balkon. Semua ini harus segera diakhiri. Haruskah ia merelakan Larasati untuk melakukan pengorbanan itu. Entahlah. Semoga Tuhan menunjukkan Kebesarannya disaat seperti ini. Amin.
kritik dan saran yang membangun juga boleh lho terimakasih semuanya.
__ADS_1