Bukan Cinta Biasa (Vampire Love Story)

Bukan Cinta Biasa (Vampire Love Story)
Sang Penghianat


__ADS_3

Semua karyawan sudah berkumpul di lobi kantor. Menanti kedatangan Presdir dengan hati berdebar-debar. Segala macam pertanyan berlarian dikepala masing-masing orang. Tak lama yang ditunggu-tunggu sudah tiba. Sakti keluar dari dalam lift bersama Renata yang mengikuti dibelakangnya.


Sakti memasang wajah datar dan dinginnya. Membuat semua orang tegang. Dia berdiri didepan semua karyawan yang sengaja ia kumpulkan ditempat ini.


“Saya sudah tahu siapa pelakunya. Dan saya harap kamu,menyerahkan diri dengan suka rela. Mungkin saya akan memberi maaf jika kamu mau berkata jujur. Tapi,akan ada akibat yang lebih buruk dari yang bisa kalian bayangkan jika kamu mencoba untuk melarikan diri,” ucap Sakti datar.memandang satu persatu karyawannya. Dia tersenyum tipis ketika pandangannya bersitatap dengan mata seorang karyawan yang berdiri dengan tubuh gemetar.


Sial,apa aku ketahuan? Padahal semua rencana sudah rapi aku jalankan. Apa yang harus kulakukan sekarang?


“Saya akan beri kamu waktu sampai jam makan siang untuk berfikir. Temui saya di Ruangan Presdir,jika kamu ingin hidup tenang,” tambah Sakti. Lalu dia melenggang pergi kembali ke Ruangannya.


Setelah kepergian Presdir dan sekretarisnya,semua karyawan berbisik-bisik tentang siapa penhianat diantara mereka. “Ton,menurut loe siapa ya yang tega ngancurin perusahaaan sendiri?” sebut saja dia Beno yang bicara.


“Iya,kok tega banget,nggak ada akhlak emang tuh orang,” kata Deni,yang dipanggil Ton Cuma diam saja tanpa berkomentar apapun.


“Gue ke toilet dulu,” tergesa pergi meninggalkan kerumunan.


“Toni kenapa sih?” tanya Beno


“Iya,kok dia agak aneh ya?” timpal Deni


“Apa jangan-jangaaan?” ucap mereka bersamaan.


“Nggak,nggak mungkin. Toni itu udah lama kerja disini. Dan dia nggak pernah buat masalah apapun,” bantah Beno. Karena memang itu yang ia lihat selama ini dari Toni. Karyawan divisi pemasaran.


“Udahlah,siapapun pelakunya,semoga dia dapat ganjaran yang setimpal,” tutur Deni bijak.


Yang disebut sebagai Toni. Sedang mondar-mandir di toilet. Mengusap kasar wajahnya didepan cermin besar,memutar kran dan membasuh wajahnya dengan air. Berharap kecemasan yang ia rasakan akan surut terbawa air. Tapi sayang,dadanya semakin bergemuruh ketika menatap pantulan wajahnya yang memerah didepan kaca.

__ADS_1


“Harusnya kamu nggak lakuin ini bodoh,aaaaa,” tangannya mengepal geram. Giginya bergemerutuk kesal. Perasaannya sudah tak bisa digambarkan lagi. Kalau dia mengaku karirnya akan hancur,kalau dia lari bagaimana nasip ibunya yang sebentar lagi akan operasi. Kedua adik kembarnya masih bersekolah dan sebentar lagi lulus SMA. Bagaimana dia akan menepati janji pada almarhum ayahnya,jika ia sampai dipenjara.


“Harusnya aku nggak pernah terbujuk oleh rayuan perempuan itu. ah,bodoh,bodoh,bodoh,” iming-iming uang yang menggiurkan membuatnya lupa diri dan menuruti kemauan perempuan yang baru saja ia kenal. Entah dari mana perempuan itu tahu,jika ia sedang butuh uang banyak untuk biaya pengobatan ibunya,juga biaya kuliah kedua adiknya. Bahkan perempuan itu tahu jika Gajinya sebagai karyawan dan juga tabungannya masih kurang untuk menutupi semua kebutuhannya.


Sekarang Toni harus bisa menentukan pilihan. Jujur atau kabur.


Suara pintu diketuk kembali terdengar di Ruangan Presdir. Sakti yang duduk dikursinya melirik kearah pintu,dan kembali fokus pada berkas dihadapannya. Renata yang masih duduk disofa meneliti laporan,bangkit dan membuka pintu. Dia belum kembali ke ruangannya. Sedangkan Larasati sedang berada didalam toilet. Dan ini belum waktunya makan siang.


“Toni?” ucapnya kaget,pikirannya menduga jika Toni adalah pelakunya. Tapi,apa iya?


“Apa Presdir ada?”


“Ada,kamu ada perlu apa?”


Belum sempat Toni menjawab,suara Sakti terdengar,”Suruh dia masuk Ren,”


“Duduk,” kata Sakti dingin setelah Toni berdiri dihadapannya.


Toni menggeser kursi yang bersebrangan dengan Sakti dan duduk dengan gugup disana. Ada titik keringat yang menetes dipelipisnya. Toni meremas tangannya dibawah meja. Tak tahu harus mulai dari mana.


Sakti meletakkan bolpoint yang dari tadi ia pegang. Lalu duduk bersandar dan menautkan jemari tangannya. Memberikan sorot mata yang diartikan Toni sebagai minta penjelasan.


“Ma’af Pak,” satu kata itu berhasil lolos dari bibirnya yang bergetar.


“Kenapa?” tanya Sakti dingin. Dia sebenarnya sudah tahu jika Toni adalah pelakunya,sejak di lobi tadi.


“Saya telah menghianati perusahaan ini,saya memang orang yang tidak tahu balas budi. Saya pantas dihukum,” ucapnya terbata penuh penyesalan. Renata menatap tak percaya pada punggung Toni yang terlihat berguncang duduk didepan Presdir,terlebih saat mendengar pengakuannya.

__ADS_1


“Siapa yang menyuruhmu?”


“Saya tidak terlalu mengenalnya Pak,tapi kemarin saya lihat di televisi perempuan itu memperkenalkan dirinya sebagi Mrs. B. CEO Star Groub,” tutur Toni. Dia memang tidak pernah bertanya tentang nama perempuan yang telah memintanya untuk mencuri sampel bahan itu.


Sakti menghela nafas panjang. Dia mencoba menahan amarah yang membuncah didadanya. Bagaimana bisa karyawan ini berkhianat,padahal Tuan Charlie telah memberikan yang terbaik untuk orang-orang yang mengabdikan diri padanya.


“Beginikah caramu berterimakasih pada perusahaan?”


Toni langsung turun dari kursi dan berlutut dihadapan Sakti,”Ampuni saya Pak,saya terpaksa melakukannya. Ibu saya sedang sekarat dan harus secepatnya dioperasi,saya butuh banyak biaya,juga kedua adik saya yang akan masuk bangku kuliah,saya butuh uang untuk semua itu,” air mata Toni menetes diujung penyesalannya.


“Apa kamu lupa,jika perusahaan ini bukan hanya tempatmu bekerja? Apa kamu lupa jika Tuan Charlie tak akan pernah membiarkan orang-orang yang mengabdi padanya hidup menderita?”


Toni terperangah mendengar penuturan Sakti. Dia menggigit bibirnya,bagaimana dia bisa melupakan hal sepenting ini. Perusahaan ini adalah penyelamat hidup mereka.


“Apa kamu pikir Perusahaan akan menutup mata,jika ada karyawannya yang sedang kesulitan? Andaikan saja kamu mengatakan kesulitanmu,Kami akan senantiasa membantu.” Benar Tuan Charlie tak pernah mengabaikan siapapun yang meminta pertolongannya,begitulah ia mengajarkan Sakti.”Hingga kamu tidak perlu jadi duri di perusahaan ini,” Sakti mengalihkan pandangan menatap jauh keluar jendela.


“Ampuni saya Pak,” bayangan wajah ibu dan kedua adiknya melintas dikepalanya. Toni meminta maaf berulang kali dalam hati pada ibunya yang sedang terbaring dirumah sakit karena penyakit kanker yang dideritannya. Entah bagaimana nasip mereka nanti jika ia dipenjara.


Maaf Bu,ma’afkan anakmu yang tidak berguna ini. Maafkan semua khilafku ayah,aku telah gagal menjaga ibu dan si kembar. Toni menangis dalam hati.


“Ton,mulai detik ini kamu bisa meninggalkan tempat ini,” Sakti menatap wajah Toni yang sudah pucat pasi,”Kamu akan tetap dapat pesangon. Tapi saya tidak bisa membiarkan seorang penghianat ada diperusahaan ini,apapun alasannya. Saya mengampuni kamu,karena kamu adalah seorang anak yang berbakti pada orang tuamu. Manusia tidak berhak menghukum sesama,karena yang Hak hanya milik Tuhan semata. Hukum karma masih berlaku didunia ini,”


“Pak?” toni menatap tak percaya pada Presdir dihadapannya yang bicara dengan tenang tanpa ada kemarahan. Padahal dia sudah melakukan kesalahan fatal,harusnya Presdir marah dan memenjarakannya. Tapi,Presdir Sakti Dirgantara mengampuninya? Tanpa sadar Toni terisak lirih dalam duduknya. Mencengkeram erat celananya. Perasaan apa ini ya gumamnya.


“Kamu bisa pergi dan kemasi barang-barangmu. Saya akan tetap merahasiakan masalah ini,karena kamu mau datang dan mengakui kesalahanmu. Menjaga aib orang lain,akan membuatmu terjaga juga.Terkadang orang melihat kita baik,bukan karena kita memang benar-benar baik. Tapi,karena Tuhan masih menutupi keburukan kita.”


Dan begitulah, Toni keluar dari perusahaan hari itu juga. Tapi tak ada yang mengetahui alasan pastinya. Toni beralasan ingin fokus merawat ibunya yang sedang sakit. Meski ada yang menduga jika ia penghianatnya,tapi tak ada bukti atau konfirmasi dari Perusahaan yang menguatkan dugaan mereka.

__ADS_1


Sambil melangkah mantab. Toni berjanji akan menjadi orang baik sepanjang hidupnya. Karena satu kesempatan yang telah diberikan seorang Sakti Dirgantara.


__ADS_2