
Sakti bergegas memasuki pintu rumah mertuanya. Hari sudah malam,hari ini dia pulang sedikit terlambat. Sebelum berangkat dia berpesan pada para pelayan agar tidak mengganggu Larasti karena dia sedang beribadah,begitu alasannya.
Kedua mertuanya sedang tugas diluar kota,kira-kira satu minggu lamanya. Kebetulan Wijaya Groub sedang membuka anak cabang di kota yang sama dengan kota yang dikunjungi Bu Martha dalam tugas sebagai Menteri Sosial.
“Sakti !” Suara berat menghentikan langkahnya yang tergesa menaiki anak tangga. Sakti menoleh kebelakang,sedikit kikuk.
“Ayah,Ibu,” ucapnya canggung. Bukankah orang tua Larasati baru akan pulang besok. Ah,sial mereka pasti sudah tahu keadaan Laras. Aku harus apa sekarang?
“Kemarilah,ada yang ingin kami bicarakan,” tutur Pak Handam dingin. Membuatnya bergidik,sekarang Sakti tahu sifat dingin istrinya yang terkadang muncul itu dia dapat dari siapa.
“Kapan Ayah dan Ibu pulang?” Sakti menyalami kedua mertuanya bergantian,mencium tangannya sopan.
“Kenapa kamu memanggil kami Ayah dan Ibu,bukankah biasannya kau memanggil kami Mama dan Papa?” menatap tajam. Kenapa panggilan harus dipermasalahkan,begitu pikir Sakti. Hari ini mertuanya bersikap agak aneh padanya. Tak seperti biasa.
“Ma’af kalau Papa tidak suka dengan panggilan Saya,karena saya mungkin belum terbiasa,” jawab Sakti canggung.
Tuan Handam duduk diikuti Nyonya Martha. Ibu mertuanya itu tak bicara sedikitpun sejak ia datang.
“Duduklah,anggap saja rumah sendiri,” apa lagi ini maksudnya? Sakti mendadak bodoh dan tak menggunakan kemampuannya untuk membaca pikiran kedua mertuanya.
Permasalahn yang ia hadapi bertubi-tubi datang. Perusahaan kacau balau karena tiba-tiba para pemilik saham menarik investasi mereka tanpa sebab. Banyak sabotase produk-produk dari Charlies Corp yang bergerak di bidang makanan dan kosmetik. Hingga menyurutkan rasa kepercayaan masyarakat pada produk mereka. Penjualan menurun,perusahaan hampir tiarap.
__ADS_1
Belum lagi keadaan Larasati yang belum bangun dari duduknya. Istrinya itu sudah lima hari tidak makan tidak minum. Bagaimana dengan anak yang dikandung Laras,apakah anak itu bisa bertahan juga tanpa makan dan minum dari ibunya. Ah,entahlah.
“Siapa kamu sebenarnya? Dan apa yang terjadi pada putriku?” tanya Tuan Handam. Jelas sekali sorot matanya memancarkan kemarahan.
Sakti tersentak,apa maksud pertanyaan Ayah mertuanya itu. Apa mereka sudah tahu kalau Sakti adalah seorang klan Pemburu? Mustahil.
“Saya tentu saja suami Larasati Pa. Sakti Dirgantara. Apa maksud Papa bertanya begitu?” to the point saja. Sakti sudah melihat Ayah mertuanya itu sedang mengibarkan bendera perang kepadanya.
“Bukankah kamu adalah Dominic Robert seorang klan makhluk penghisap darah?”
Deg. Kali ini Sakti mendongak menatap mata Tuan Handam. Dari mana mereka tahu.
“Itu tidaklah penting. Tadi pagi pelayan rumah mengatakan jika kau ingin sarapan puding darah . dan kemarin ada yang melihatmu menerkam seekor burung dan menghisap darahnya,” tuan Handam mencengkeram pegangan sofa.
Benar. Itu benar. Karena Sakti sudah tidak tahan lagi. Dia sudah berusaha menahan keinginannya,tapi ia tak bisa membohongi anatomi tubuhnya sebagai seorang vampir. Dia akan mati lemas jika tidak minum darah terlalu lama. Selama ini Sakti minum darah segar setiap pagi untuk sarapan. Tapi ketika dirumah mertuanya ia sekuat hati menahan hasratnya.
Tapi ia gagal menahan diri kemarin malam,ketika wajahnya sudah pucat pasi,tenggorokannya kering bagai sungai dimusim kemarau,dan tubuhnya lemah tak berdaya. Seekor burung hantu bertengger di pohon rambutan ditaman belakang. Sekonyong-konyong ia menerkam burung itu dan menghisap darahnya. Tak tahu jika ada seorang penjaga yang melihat ulahnya. Dan pagi harinya dia ingin pelayan membelikannya darah segar dari tukang jagal didekat pasar.
Sakti menghela nafas panjang. Sekarang dia sudah tidak bisa berkilah lagi. Andai kemarin malam ia lebih bisa menahan diri,atau Larasati mengingatkannya agar tak lupa diri. Mungkin semua itu tak akan terjadi.
“Banar Pa,Ma. Saya bukanlah seorang manusia,” ucapnya tegas. Hadapilah kenyataan meski itu menyakitkan. Mungkin pengakuannya ini akan membuatnya terpisah dari istrinya dan tak lagi dianggap menantu dalam keluarga ini.
__ADS_1
Nyonya Martha mencengkeram erat lengan suaminya. Matanya sudah menganak sungai.mungkin sebentar lagi,hujan akan turun membasahi pipinya.
“Saya adalah seorang klan pemburu dari negri kegelapan. Tapi satu hal yang harus Mama dan Papa tahu,” menatap kedua mertuanya bergantian,”Cinta saya tulus kepada Larasati. Larasati adalah perempuan hebat yang bisa membuat saya merasa menjadi manusia. Cintanya yang tulus dan suci merobohkan dinding yang menghalangi dunia kami.” Jelas Sakti.
“Lalu kenapa Larasati diam tak bergerak seperti itu. bahkan dia tak menjawab panggilan kami. Pelayan bilang dia sudah tidak makan dan minum selama lima hari. Kenapa kamu tidak mengabari kami Sakti,kenapa kau buat putri kecilku mengalami nasip yang malang,” Nyonya Martha bicara disela isak tangisnya.
“Ma’af Ma,ma’afkan saya. Karena saya juga tidak berdaya. Kata Larasati dia akan begitu sampai anak kami lahir kedunia,” Sakti menundukkan kepala. Untuk pertama kalinya dia menyesali kejantanannya sebagai seorang pria.
“Apa?! Jadi Laras sedang hamil? Astagfirullah haladzim,” Nyonya Martha semakin tergugu membayangkan nasip putrinya yang sedang mengandung benih iblis penghisap darah. “Ya Allah,apa dosa putriku,apa dosa kami,hingga harus mengalami nasip seperti ini?” mengelus dadanya sendiri.
“Kenapa kau begitu egois Sakti? Kenapa kau mencintai putriku? Apa kah diduniamu sudah tidak ada lagi perempuan hingga kau memilih putriku. Cinta tak pernah salah Sakti,tapi terkadang kita lah yang salah menempatkan rasa cinta itu. harusnya kau bisa menahan diri untuk tidak mencintai putriku dan menikah dengannya,” cerca Tuan Handam. Dia tak pernah mengira jika menantu idaman ini adalah seorang klan pemburu.
“Ma’af Pa,” hanya itu yang bisa Sakti ucapkan. Nasi sudah menjadi bubur. Dan hanya kata ma’af yang ia ucapkan untuk menjawab kemarahan kedua mertuanya. Hingga Nyonya Martha lelah menangis dan Tuan Handam meninggalkan ia sendiri di ruang keluarga. Tanpa menoleh padanya.
Sakti berjalan lunglai memasuki kamarnya. Dia masih melihat posisi Larasati seperti lima hari yang lalu. Bajunya masih sama,tapi anehnya tak kotor samasekali. Baunya masih harum semerbak seperti habis mandi. Matanya terpejam. Wajahnya masih tetap bersinar bak bulan purnama. Ah,Laras kamu memang istimewa.
Sakti duduk diatas lantai. Menyandarkan punggungnya di tepian ranjang. Meluruskan kaki dan melonggarkan dasi yang terasa semakin sesak dari yang ia ingat. “Kau tahu sayang,hari ini kedua orang tuamu memarahiku. Aku sedih sekali,” melemparkan dasi kekasur dan melepas sepatunya.
“Mereka tahu aku klan pemburu. Memarahi aku habis-habisan. Menyuruhku untuk pergi jauh meninggalkanmu,” bicara lagi. Menatap punggung Larasati yang bergerak halus naik turun. “Tapi aku tak akan melakukan itu. aku tak akan pergi dari sisimu meski gelombang stunami sampai kemari dan menggulungku,” Sakti tertawa getir. “Aku serius,”
Akhirnya Sakti terlelap tanpa mengganti baju atau melepas kaus kakinya. Kepalanya bersandar pada tepian ranjang. Hari-hari akan dia lewati sendiri demi sang buah hati.
__ADS_1