
Kembali pada sepasang pengantin baru yang masih bergulung selimut disiang bolong.
Mereka kembali ke kamar setelahsarapan dan orang tua Larasati berangkat ke kantor. Mengulangi lagi hal yang semalam mereka lakukan(biarlah emak-emak saja yang paham,wkwkwk). Sakti menggeliat malas diatas ranjang. Melirik lagi jam di ponselnya. 11.30 siang. Bahkan Thomas sedang bekerja keras di Rumah Sakit. Malu rasanya kalau membayangkan.
Larasati sedang mandi,hendak menunaikan kewajibanya di siang hari. Hari ini dia sudah keramas dua kali padahal masih tengah hari. Pintu kamar mandi terbuka pelan,Larasati muncul dibalik pintu dengan jubah mandinya. Rambutnya digulung keatas dengan sebuah handuk. Pandangannya bersitatap dengan suaminya yang memandangnya dengan sorot mata itu lagi.
“Mandi sayang,sudah siang,kita Sholat bareng yuk,” ajaknya dari depan pintu kamar mandi. Meraih handuk dikepala dan mengeringkan rambut birunya yang masih basah. Laras Mengabaikan pandangan hasrat yang kembali di pancarkan mata suaminya. Lalu berjalan kearah lemari pakaian untuk mengambil baju ganti.
Glek. Sakti menelan ludah. Aroma segar yang menguar menggelitik indra penciumannya. Mengikuti dengan pandangan ketika Larasati berjalan kearah lemari baju.
Sakti merangkak turun dari ranjang. Berjalan kearah istrinya yang berdiri didepan lemari pakaian. Ini gila,hanya melihatnya begitu saja aku ingin lagi,gumamnya. “Sayang?” panggilnya. Memindahkan rambut Laras yang masih tergerai basah ke bagian depan. Lalu memeluk Larasati dari belakang,mengusap-usapkan kepala ke bahu Laras. Ternyata masih belum selesai,Sakti membenamkan kepala diceruk leher istrinya. Memberikan kecupan-kecupan kecil disana.
“Apaa? Geli ieh,” Larasati menggedikkan bahu. Tangannya masih menyibak-nyibak gantungan baju di lemari. Memilih baju yang cocok.
“Itu,” mau bilang gitu aja kok susah banget.
Larasati menahan senyumnya. Dia tahu apa yang diinginkan suaminya. “Apa?” tanyanya menggoda.
Kamu tahu kan aku mau apa?
Larasati membalik badannya,menghadap suaminya. Memegang kedua pipi dingin yang tiba-tiba menghangat,”Kamu nggak malu sama matahari diluar sana?” tanya Laras,menunjuk jendela kamar dengan dagunya.
Sakti menghela nafas panjang. “Hem,,,iya-iya,aku mandi,” jawabnya lesu.
Larasati melepaskan tangannya. Membiarkan Sakti mundur dan berbalik. Ketika Sakti hendak berjalan kekamar mandi,Larasati memanggil lagi,”Sayang?”
Apa? Kamu mau ya? aseeekk.
“Handuknya ketinggalan,” katanya datar. Mengulurkan handuk yang baru saja ia ambil dari dalam lemari.
Membuat Sakti mendengus kesal,dan menyambar handuk dengan wajah kesal.
Larasati tertawa tanpa suara setelah Sakti masuk kekamar mandi. Sebenarnya dia tak tega menolak hasrat suaminya,tapi mau bagaimana lagi. Dia bahkan tidak sarapan dengan benar pagi ini. karena Sakti terus meliriknya dimeja makan. Dan itu membuatnya malu hingga tidak bisa menikmati makanan. Sekarang perutnya keroncongan minta makan.
Sakti keluar dari kamar mandi dengan wajah cemberutnya. Kenapa dia terlihat menggemaskan begitu,kalau merajuk. Larasati tersenyum-senyum melihat wajah kusut suaminya. Dia pergi kekamar mandi saat suaminya berganti baju yang sudah ia siapkan.
Mereka lalu menunaikan kewajiban sebagai seorang muslim. Meski bacaannya belum lancar benar,tapi Sakti sudah bisa menjadi imam untuk istrinya. Rencananya dia akan belajar lebih banyak pada Kyai Jamal selagi disini. Selama ini Larasati lah yang mengajarinya,juga dari buku-buku yang ia baca.
Selesai menunaikan sholat dhuhur berjamaah. Mereka turun dan makan siang bersama. Dokter Sakti Dirgantara masih mempertahankan mimik wajah merajuknya saat dimeja makan. Membuat Larasati gemas sendiri.
“Sayang,mau makan sayur?” tanya Laras lembut,setelah menyendokkan nasi ke piring suaminya. Dia masih berdiri disamping meja makan.
__ADS_1
Sakti hanya menggeleng pelan. Menopang dagu dengan kedua tangannya di meja makan.
“Mau daging?”
Menggeleng lagi. Aku mau kamu.
Kali ini Larasati tertawa. Dia sudah tidak kuat menahan tawa lagi. “Iyaa,iyaa,nanti malam dua kali deh,” ucapnya. Larasati masih tersenyum setelah meletakkan nasi dengan sedikit sayur dan irisan daging di piring suaminya. Lalu duduk dan mengisi piringnya sendiri.
Sakti masih diam. Meraih sendok dan mengisi ujungnya dengan nasi. Menyuapkan kemulut. Lalu menutupi mulut dengan tangan,untuk menyembunyikan senyumnya.
“Kamu nggak mau jalan-jalan?” tanya Sakti tiba-tiba. Meletakkan gelas yang baru saja ia minum isinya. Dan menyeka mulutnya dengan serbet.
Laras mendongak menatap suaminya. Dia tersenyum,sudah nggak marah to? Hehehe
“Mau,kemana?” tanya Laras lembut.
“Ya kemana aja,terserah kamu,” jawab Sakti.
Larasati terlihat berpikir sebentar,dia tersenyum penuh arti memandang suaminya,”Gimana kalau nonton film?” ucapnya kemudian.
“Terserah kamu deh pokoknya,”
***
Dua sejoli itu akhirnya meninggalkan rumah pukul tiga sore,menuju Mall terdekat. Selain nonton film,mereka juga ingin jalan-jalan selagi masih di kota ini. mengajak suaminya lebih mengenal kota kelahirannya.
Mereka berjalan bergandengan tangan seperti remaja yang kasmaran. Sakti mengantri untuk membeli tiket dan Laras yang kebagian beli camilan. Ketika Larasati sudah kembali ke tempat mereka berpisah tadi,ternyata suaminya masih belum kembali juga. Larasati menoleh ke kanan dan ke kiri,mencari keberadaan Sakti. Setelah beberapa saat,Sakti datang dari arah loket dan melambaikan tangan kearahnya.
Larasati tersenyum lega,Ia kira suaminya lupa kemana harus kembali. “Kamu kok baru nyampe’? banyak ya yang antri?” bertanya setelah Sakti mendekat.
“Yang antri sih nggak banyak,Cuma Mbak yang jual tiket tiba-tiba jadi lama pas bagian aku yang beli,” menyeka keringat didahi. Sakti menggelengkan kepala pelan,mengingat kembali tingkah konyol penjaga loket yang sengaja berlama-lama melayaninya.
“Ya udah,nggak pa-pa. Tapi kamu nggak tebar pesona kan?” selidik Laras.
Kali ini Sakti menatap istrinya,lalu tertawa. “Kamu cemburu?” menowel dagu Laras.
“Apa sih,mana ada. Aku bukan anak kecil yang cemburuan,” Laras membuang muka kearah lain.
“Cieeee,yang punya suami ganteng takut diambil orang,cieeeee,” menowel lagi,
“Apa sih sayaaang,udah ah,”pura-pura merajuk. “Jadi nonton nggak nih?” Tanya Laras kemudian.
__ADS_1
“Ya jadi,” tersenyum senang,karena berhasil menggoda istrinya. Meraih kotak popcorn ditangan Laras,dan menautkan jemari mereka,”Ayo,” ajaknya.
Mereka berjalan berdampingan menuju gedung bioskop. Tapi tiba-tiba ponsel Sakti kembali bergetar.
Sakti menghentikan langkahnya,”Sebentar ya,” melepaskan tautan jemari mereka dan merogoh saku celana.
“Kenapa?” tanya Laras,langkahnya juga berhenti,karena Sakti berhenti.
“Thomas,” menggoyangkan ponsel didepan wajah. Larasati membaca tulisan yang tertera dilayar, Thomas memanggil.
“Angkat dulu,siapa tahu penting,” tutur Laras.
Sakti mengangguk dan menggeser layar,”Halo? Kenapa Thom?” tanya nya setelah mendekatkan ponsel ke telinga.
Thomas mengatakan sesuatu disebrang sana. Membuat Sakti mengerutkan dahi,dan mengangguk lamat. “Baiklah,aku akan pergi kesana besok. Kau urus dan selidiki masalah dirumah sakit,” menutup telephone dan mengantongi ponselnya lagi.
“Kenapa Mas?” tanya Laras penasaran.
“Ada masalah di perusahaan. Dan Thomas minta aku buat ngecek besok ke Kantor. Lagian kantornya juga daerah sini,dia nggak bisa karena harus ngurus masalah baru dirumah sakit,” Sakti berdecak,”Sebenarnya,Bosnya aku apa Dia?” menggeleng lamat.
“Apa virus itu masih ada?”
“Ya. meski William sudah dikalahkan,tapi ternyata masih ada yang menyebarkan virus itu lagi. Entah siapa,belum diketahui pasti,yang jelas setiap hari masih ada pasien terjangkit. Ya meski obat penawar itu nggak akan pernah habis karena berada dalam cawan suci. Kita harus segera menangkap pelakunya. Sebelum memakan banyak korban.” Ujar Sakti menjelaskan.
Larasati mengangguk lamat,memahami duduk perkara.
“Kamu mau ikut besok ke kantor?” tanya Sakti,menatap lekat istrinya.
“Hah? Ngapain aku ikut?”
“Karena aku nggak akan bisa tenang kalau jauh dari kamu. Pasti aku nggak konsen dan pengen pulang terus,” bicara serius.
Apa? Dasar.
“Iya besuk aku temani kamu,siapa tahu aku bisa bantu masalah disana,”Larasati tersenyum.
“Kamu memang seorang Dewi sayang,beruntungnya aku punya istri kaya kamu,” mencubit gemas hidung Laras,”Makasih ya,” ucapnya setelah melepaskan tangan dari hidung istrinya.
“Iya,tapi sakit tahu,” mengusap hidungnya yang tidak terasa apa-apa,karena Sakti memang hanya pelan mencubitnya. Cuma bergaya manja.
“Maaf deh,habis aku gemes banget sama kamu. Bawaannya pengin gigit aja,” Sakti tertawa dengan kalimatnya sendiri.
__ADS_1