
Kurir itu berjalan santai menuju sepeda motornya di parkiran,meninggalkan gedung mewah Charlie’s corp. Sempat terlintas kembali tentang pembicaraan singkatnya dengan Larasati. apa istri Presdir itu
paranormal ya? kok dia ngomong gitu gumamnya.
Kurir itu tersenyum tipis sambil menaiki motornya dan
mengabaikan semua perkataan Laras yang dinilainya aneh itu. Dia memutar kunci
dan menyalakan mesin,melajukan sepeda motor matic kesayangannya. Sesekali dia melirik jam tangan yang melingkar
di tangannya,dia harus segera kembali dan mengantarkan makanan ketempat lain. Sehingga
dia menambah laju kecepatan motornya.
Lampu lalu lintas didepan supermarket baru saja berubah
menjadi kuning kemudian berubah merah. Pengendara itu mengurangi laju
kecepatannya. Tapi tiba-tiba jantungnya berdegup kencang,sepeda motornya tidak
mau berhenti. Padahal semua mobil dijalur utara-selatan sudah mulai berjalan. Sedangkan
dia sendiri berada di jalur timur-barat.
Kata-kata istri Presdir Charlie’s Group kembali terngiang
ditelinganya,”hati-hati,” tapi apa yang harus ia lakukan sekarang,lalu dengan
cepat dia menarik rem depan sepeda motornya sekuat tenaga. Meski sedikit
menukik ke depan sepeda motor itu berhenti,dia tersenyum lega. Tapi belum
sempat ia menoleh dimana tempatnya berhenti,sebuah truck dengan kecepatan tingi
dari arah jalur utara-selatan menyeret motor dan tubuhnya di aspal jalanan.
Sopir truck yang kaget karena tiba-tiba ada sepeda montor
yang berhenti ditengah jalan tak bisa menghindar ketika bodi mobilnya menabrak
pengendara itu. Sehingga ia banting setir ke kanan dan menabrak trotoar di tepi
jalan. Sopir truck itu selamat,tapi bagaimana nasip si kurir wanita?
Sepeda motornya hancur tak berbentuk. Sedangkan kurir itu
tergeletak dengan posisi tengkurap diaspal yang panas. Aliran darah yang keluar
seperti air mengalir yang menyiram panasnya aspal ibu kota. Dalam sisa nafasnya
dia mencoba menyeka darah yang mengalir dari kepalanya yang jatuh menutupi
pandangannya. Tak ada rasa sakit yang ia rasakan,hanya sedikit perih dan agak hangat
dibagian tubuhnya yang menyentuh aspal.
Dia tahu,ajalnya sudah dekat.
Pandangannya mulai gelap. Masih terdengar lirih riuh suara orang yang berlalu lalang dan suara
sirine mobil polisi, mungkin juga ambulance. Dia merasakan tubuhnya melayang. Mungkin
orang-orang yang memindahkan tubuhnya dari aspal. Karena dia tak merasakan rasa
hangat itu lagi. Sekarang kurir itu merasa kedinginan.
Tak lama dia merasakan tangan-tangan dingin menyentuh
beberapa bagian tubuhnya. Beserta suara-suara lirih. Entah siapa dan bicara apa
ia tak tahu. Tapi kemudian,terdengar suara isak tangis meraung yang ia kenali. Itu
suara ibu dan ayahnya.
Ingin dia bicara dan menenangkan ibunya kalu dia baik-baik
saja. Tapi tubuhnya seperti kaku,dia tak bisa bergerak. Bahkan dia tak bisa
membuka matanya. Dia ingin berontak dan berlari memeluk ibunya. Tapi apa yang
__ADS_1
terjadi,bahkan dia tak bisa melakukan apapun kecuali hanya diam membisu.
Dan sekarang dia mulai tahu,jika raganya sudah berpisah
dengan nyawanya.
**
Larasati berlari kearah jendela ketika mendengar riuh suara
sirine mobil polisi dan ambulance yang berkejaran dijalan raya. Hatinya mulai
khawatir,kalau yang ia takutkan benar-benar terjadi. “Sayang,coba kamu tanya
Renata. Apa yang terjadi diluar sana,” menoleh pada Sakti yang baru saja
mencuci tangannya di wastafel kamar mandi.
“Ada apa memangnya?” berjalan kearah jendela,dimana Larasati
masih berdiri menatap lalu lalang kendaraan dijalan raya.
“Coba kamu telfon dulu,” desak Laras. Kenapa dia jadi merasa
bersalah. Andai saja dia bisa mencegah kurir itu pergi,atau dia mengantarnya
kembali,mungkin semua itu tak kan terjadi. Larasati memikirkan segala hal yang
tidak masuk akal. Yang jelas semua ini membuatnya tidak nyaman.
“Iya,aku telfon Renata,” berjalan kearah meja karena
ponselnya1 ada disana. Sakti mengeser layar dan mendial nomor Sekretarisnya itu.
tak selang lama,panggilannya terjawab,”Halo Ren,bisa kamu cari tahu ada kejadian
apa sekarang. Kenapa banyak mobil polisi dan ambulance?” cih,dia sampai harus
menanyakan hal beginian pada sekretarisnya. Tapi tak mengapa,meski terdengar
aneh karena Presdir mengurusi mobil polisi yang lewat dijalan raya,itu tak
Renata memberikan informasi,”Apa dia Kurir yang baru saja
mengantar makanan kemari?” deg,Larasati memegang dadanya.
“Baiklah,terimakasih,” melirik Larasati “Ah,tidak ada
apa-apa. Ya sudah,” sakti mematikan panggilan dan menghampri Larasati yang
terlihat cemas.
“Apa kata Renata? Apa yang aku takutkan benar?” tanya
Larasati,mata birunya sudah menganak sungai.
Sakti hanya mengangguk pelan. Menjawab semua ketakutan
Larasati.
Larasati terhuyung kebelakang,dia berpegangan pada dinding
kaca membelakangi pemandangan yang mulai kondusif di jalan raya. Pihak yang
berwenang dengan sigap mengurus peristiwa itu dan kembali mengatur lalu lintas yang
sempat macet karena laka lantas yang baru saja terjadi.
Larasati tak bisa menahan air matanya. Dia merasa bodoh dan
gagal. Entahlah,dia begitu menyesal karena tak bisa menyelamatkan kurir itu.
andai dia lebih serius menanggapi penglihatannya. Tapi dia akan dianggap gila,kalau
menahan seseorang tanpa alasan yang jelas. Mereka pasti tidak akan percaya jika
dia mengatakan yang sebenarnya.
Sakti merengkuh tubuh gemetar Larasati dalam
__ADS_1
pelukannya,mengusap lembut kepala istrinya yang terbalut hijab. “Nggak pa-pa
sayang,ini bukan salah kamu. Kamu sudah memperingatkan kurir itu,mungkin ini
memang sudah jalan hidupnya,” tutur Sakti menenangkan.
“Tapi aku takut Mas,aku nggak mau punya kemampuan ini. Aku
nggak mau mendahului kehendak Yang Maha Kuasa,” ucap Laras masih terisak didada
bidang suaminya.
“Terus kamu maunya gimana,hem?” tanya Sakti lembut
Larasati melepaskan pelukan,menatap mata coklat suaminya. Kalau
begini Sakti bahkan lebih baik dari seorang manusia,suaminya itu begitu lembut
dan berhati mulia. Kalau dulu Laras tak melihat sendiri Sakti berubah jadi
makhluk bertaring dan minum darah,dia tak akan percaya kalau suaminya itu
adalah seorang klan pemburu.
"Aku juga nggak tahu. Tapi yang jelas aku belum siap
menerima keistimewaan ini,” tutur Laras mulai tenang. Kedua tangannya masih
tergenggam erat oleh Sakti.
“Sayang,mungkin ini adalah salah satu cara supaya kamu bisa
menolong orang. Ambil hikmahnya aja ya. Jangan terlalu difikirkan,nggak semua
orang bisa dapat kemampuan istimewa kaya kamu gini,”
“Makasih ya,kamu memang suami paling baik didunia,” puji
Laras,dia merasa jadi wanita yang beruntung.
“Sama-sama,” tiba-tiba wajah Sakti berubah ekspresinya dari
sendu jadi tersenyum lebar,”Makin kagum kan kamu sama Aku,”katanya tanpa dosa,
memasang wajah bangga luar biasa.
“Iyaaaaa. Kok kamu jadi narsis begini. Belajar dari mana?”
Larasati mulai tersenyum.
“Itu rahasia,masih banyak kehebatan aku yang belum kamu
lihat. Aku simpan buat besok supaya kamu makin cinta tiap hari sama aku,”
Kali ini Larasati tertawa pelan,”Apa sih,sok keren kamu,”
Sakti hanya tersenyum melihat Larasati yang sudah bisa
tertawa lagi. Jujur saja dia hanya spontan melakukan hal itu,karena tak mau
melihat istri kesayangannya terus bersedih. Tapi melihat tawa lepas dari bibir
istrinya,kenapa dia jadi gemas sendiri. Tanpa sadar langkah kakinya mulai
mendekat,memojokkan Laras ke dinding kaca. Laras yang kaget karena gerakan
tiba-tiba Sakti membulatkan matanya,”Kamu mau ngapain?” tanya Laras.
“Minta upah,” menyeringai jahat,
“Upah apa?” berlagak bodoh,tapi Larasati tersenyum sambil
membuang muka.
Sreeeek. Satu tangan Sakti menarik tirai jendela. Menutupi siluet
bayangan dirinya dan Laras dari pandangan orang yang bisa saja melihat
kemesraan mereka. Dan mereka tenggelam dalam dunianya sendiri hingga jam waktu
__ADS_1
makan siang berakhir.