Bukan Cinta Biasa (Vampire Love Story)

Bukan Cinta Biasa (Vampire Love Story)
Keistimewaan Larasati ( bag 2)


__ADS_3

Kurir itu berjalan santai menuju sepeda motornya di parkiran,meninggalkan gedung mewah Charlie’s corp. Sempat terlintas kembali tentang pembicaraan singkatnya dengan Larasati. apa istri Presdir itu


paranormal ya? kok dia ngomong gitu gumamnya.


Kurir itu tersenyum tipis sambil menaiki motornya dan


mengabaikan semua perkataan Laras yang dinilainya aneh itu. Dia memutar kunci


dan menyalakan mesin,melajukan sepeda motor matic kesayangannya.  Sesekali dia melirik jam tangan yang melingkar


di tangannya,dia harus segera kembali dan mengantarkan makanan ketempat lain. Sehingga


dia menambah laju kecepatan motornya.


Lampu lalu lintas didepan supermarket baru saja berubah


menjadi kuning kemudian berubah merah. Pengendara itu mengurangi laju


kecepatannya. Tapi tiba-tiba jantungnya berdegup kencang,sepeda motornya tidak


mau berhenti. Padahal semua mobil dijalur utara-selatan sudah mulai berjalan. Sedangkan


dia sendiri berada di jalur timur-barat.


Kata-kata istri Presdir Charlie’s Group kembali terngiang


ditelinganya,”hati-hati,” tapi apa yang harus ia lakukan sekarang,lalu dengan


cepat dia menarik rem depan sepeda motornya sekuat tenaga. Meski sedikit


menukik ke depan sepeda motor itu berhenti,dia tersenyum lega. Tapi belum


sempat ia menoleh dimana tempatnya berhenti,sebuah truck dengan kecepatan tingi


dari arah jalur utara-selatan menyeret motor dan tubuhnya di aspal jalanan.


Sopir truck yang kaget karena tiba-tiba ada sepeda montor


yang berhenti ditengah jalan tak bisa menghindar ketika bodi mobilnya menabrak


pengendara itu. Sehingga ia banting setir ke kanan dan menabrak trotoar di tepi


jalan. Sopir truck itu selamat,tapi bagaimana nasip si kurir wanita?


Sepeda motornya hancur tak berbentuk. Sedangkan kurir itu


tergeletak dengan posisi tengkurap diaspal yang panas. Aliran darah yang keluar


seperti air mengalir yang menyiram panasnya aspal ibu kota. Dalam sisa nafasnya


dia mencoba menyeka darah yang mengalir dari kepalanya yang jatuh menutupi


pandangannya. Tak ada rasa sakit yang ia rasakan,hanya sedikit perih dan agak hangat


dibagian tubuhnya yang menyentuh aspal.


Dia tahu,ajalnya sudah dekat.


Pandangannya mulai gelap. Masih terdengar lirih riuh  suara orang yang berlalu lalang dan suara


sirine mobil polisi, mungkin juga ambulance. Dia merasakan tubuhnya melayang. Mungkin


orang-orang yang memindahkan tubuhnya dari aspal. Karena dia tak merasakan rasa


hangat itu lagi. Sekarang kurir itu merasa kedinginan.


Tak lama dia merasakan tangan-tangan dingin menyentuh


beberapa bagian tubuhnya. Beserta suara-suara lirih. Entah siapa dan bicara apa


ia tak tahu. Tapi kemudian,terdengar suara isak tangis meraung yang ia kenali. Itu


suara ibu dan ayahnya.


Ingin dia bicara dan menenangkan ibunya kalu dia baik-baik


saja. Tapi tubuhnya seperti kaku,dia tak bisa bergerak. Bahkan dia tak bisa


membuka matanya. Dia ingin berontak dan berlari memeluk ibunya. Tapi apa yang

__ADS_1


terjadi,bahkan dia tak bisa melakukan apapun kecuali hanya diam membisu.


Dan sekarang dia mulai tahu,jika raganya sudah berpisah


dengan nyawanya.


**


Larasati berlari kearah jendela ketika mendengar riuh suara


sirine mobil polisi dan ambulance yang berkejaran dijalan raya. Hatinya mulai


khawatir,kalau yang ia takutkan benar-benar terjadi. “Sayang,coba kamu tanya


Renata. Apa yang terjadi diluar sana,” menoleh pada Sakti yang baru saja


mencuci tangannya di wastafel kamar mandi.


“Ada apa memangnya?” berjalan kearah jendela,dimana Larasati


masih berdiri menatap lalu lalang kendaraan dijalan raya.


“Coba kamu telfon dulu,” desak Laras. Kenapa dia jadi merasa


bersalah. Andai saja dia bisa mencegah kurir itu pergi,atau dia mengantarnya


kembali,mungkin semua itu tak kan terjadi. Larasati memikirkan segala hal yang


tidak masuk akal. Yang jelas semua ini membuatnya tidak nyaman.


“Iya,aku telfon Renata,” berjalan kearah meja karena


ponselnya1 ada disana. Sakti mengeser layar dan mendial nomor Sekretarisnya itu.


tak selang lama,panggilannya terjawab,”Halo Ren,bisa kamu cari tahu ada kejadian


apa sekarang. Kenapa banyak mobil polisi dan ambulance?” cih,dia sampai harus


menanyakan hal beginian pada sekretarisnya. Tapi tak mengapa,meski terdengar


aneh karena Presdir mengurusi mobil polisi yang lewat dijalan raya,itu tak


Renata memberikan informasi,”Apa dia Kurir yang baru saja


mengantar makanan kemari?” deg,Larasati memegang dadanya.


“Baiklah,terimakasih,” melirik Larasati “Ah,tidak ada


apa-apa. Ya sudah,” sakti mematikan panggilan dan menghampri Larasati yang


terlihat cemas.


“Apa kata Renata? Apa yang aku takutkan benar?” tanya


Larasati,mata birunya sudah menganak sungai.


Sakti hanya mengangguk pelan. Menjawab semua ketakutan


Larasati.


Larasati terhuyung kebelakang,dia berpegangan pada dinding


kaca membelakangi pemandangan yang mulai kondusif di jalan raya. Pihak yang


berwenang dengan sigap mengurus peristiwa itu dan kembali mengatur lalu lintas yang


sempat macet karena laka lantas yang baru saja terjadi.


Larasati tak bisa menahan air matanya. Dia merasa bodoh dan


gagal. Entahlah,dia begitu menyesal karena tak bisa menyelamatkan kurir itu.


andai dia lebih serius menanggapi penglihatannya. Tapi dia akan dianggap gila,kalau


menahan seseorang tanpa alasan yang jelas. Mereka pasti tidak akan percaya jika


dia mengatakan yang sebenarnya.


Sakti merengkuh tubuh gemetar Larasati dalam

__ADS_1


pelukannya,mengusap lembut kepala istrinya yang terbalut hijab. “Nggak pa-pa


sayang,ini bukan salah kamu. Kamu sudah memperingatkan kurir itu,mungkin ini


memang sudah jalan hidupnya,” tutur Sakti menenangkan.


“Tapi aku takut Mas,aku nggak mau punya kemampuan ini. Aku


nggak mau mendahului kehendak Yang Maha Kuasa,” ucap Laras masih terisak didada


bidang suaminya.


“Terus kamu maunya gimana,hem?” tanya Sakti lembut


Larasati melepaskan pelukan,menatap mata coklat suaminya. Kalau


begini Sakti bahkan lebih baik dari seorang manusia,suaminya itu begitu lembut


dan berhati mulia. Kalau dulu Laras tak melihat sendiri Sakti berubah jadi


makhluk bertaring dan minum darah,dia tak akan percaya kalau suaminya itu


adalah seorang klan pemburu.


"Aku juga nggak tahu. Tapi yang jelas aku belum siap


menerima keistimewaan ini,” tutur Laras mulai tenang. Kedua tangannya masih


tergenggam erat oleh Sakti.


“Sayang,mungkin ini adalah salah satu cara supaya kamu bisa


menolong orang. Ambil hikmahnya aja ya. Jangan terlalu difikirkan,nggak semua


orang bisa dapat kemampuan istimewa kaya kamu gini,”


“Makasih ya,kamu memang suami paling baik didunia,” puji


Laras,dia merasa jadi wanita yang beruntung.


“Sama-sama,” tiba-tiba wajah Sakti berubah ekspresinya dari


sendu jadi tersenyum lebar,”Makin kagum kan kamu sama Aku,”katanya tanpa dosa,


memasang wajah bangga luar biasa.


“Iyaaaaa. Kok kamu jadi narsis begini. Belajar dari mana?”


Larasati mulai tersenyum.


“Itu rahasia,masih banyak kehebatan aku yang belum kamu


lihat. Aku simpan buat besok supaya kamu makin cinta tiap hari sama aku,”


Kali ini Larasati tertawa pelan,”Apa sih,sok keren kamu,”


Sakti hanya tersenyum melihat Larasati yang sudah bisa


tertawa lagi. Jujur saja dia hanya spontan melakukan hal itu,karena tak mau


melihat istri kesayangannya terus bersedih. Tapi melihat tawa lepas dari bibir


istrinya,kenapa dia jadi gemas sendiri. Tanpa sadar langkah kakinya mulai


mendekat,memojokkan Laras ke dinding kaca. Laras yang kaget karena gerakan


tiba-tiba Sakti membulatkan matanya,”Kamu mau ngapain?” tanya Laras.


“Minta upah,” menyeringai jahat,


“Upah apa?” berlagak bodoh,tapi Larasati tersenyum sambil


membuang muka.


Sreeeek. Satu tangan Sakti menarik tirai jendela. Menutupi siluet


bayangan dirinya dan Laras dari pandangan orang yang bisa saja melihat


kemesraan mereka. Dan mereka tenggelam dalam dunianya sendiri hingga jam waktu

__ADS_1


makan siang berakhir.


__ADS_2