
Gedung Charlie’s Corp.
Hari ini Sakti Dirgantara berubah profesinya dari seorang Dokter menjadi seorang Presdir. Sebenarnya ia tidak terlalu tertarik dengan dunia bisnis. Baginya menjadi Dokter adalah sebuah anugrah. Karena menjadi Dokter ia bisa menolong banyak orang. senyum dari orang-orang yang menyambut kesembuhan keluarganya,adalah kebahagiaan tersendiri untuknya.
Balas budi.
Untuk itulah ia melakukan semua ini. Janjinya pada Tuan Charlie untuk mengurus semua harta warisannya. Sakti tidak mau Tuan Charlie kecewa disurga sana. Karena jerih payahnya tak terurus dan terbengkalai. Tuan Charlie membangun perusahaan ini dari nol. Dengan kerja keras dan semangat tinggi. Tapi sayang,kehidupan keluarganya tak semulus usahanya.
Ia kehilangan anak dan istrinya dalam sebuah kecelakaan. Waktu itu istrinya minta ditemani untuk pergi ke pusat perbelanjaan dengan putranya yang masih kecil. Tapi,karena kesibukannya mengurus usaha barunya yang terus berkembang pesat,Tuan Charlie membiarkan mereka pergi berdua.
“Pa,bisakah kamu luangkan waktu sedikit saja untuk kami. Roger ingin sekali pergi dengan papanya,”ucap Nyonya Gia waktu itu.
“Aku sedang ada rapat penting Ma. Aku begini juga untuk kalian,” jawab Tuan Charlie
“Baik ,jika itu yang Papa mau. Jangan sesali jika mungkin besok,aku tak akan meminta Papa menemani kami lagi,”
Waktu itu Tuan Charlie tidak berfikir serius tentang ucapan istrinya. Hingga ia mendengar kabar jika mobil yang ditumpangi Nyonya Gia dan Roger putranya kecelakaan. Dua orang paling berharga dalam hidupnya itu meninggal ditempat.
Sejak saat itu Tuan Charlie tak pernah menikah lagi. Tapi ia terus mengembangkan usahanya,demi seluruh karyawan yang menggantungkan hidup pada perusahaannya. Begitulah caranya mengobati rasa bersalahnya. Tuan Charlie tak ingin ada kesedihan dalam setiap keluarga,mungkin hanya dengan cara ini Tuhan akan mengampuni dosa-dosanya.
Jadi, Sakti tidak akan membiarkan siapapun menghancurkan perusahaan ini.
“Sayang,kamu kenapa?” Larasati menyentuh bahu suaminya.
“Nggak papa,aku Cuma inget sama cerita Almarhum Tuan Charlie,” Sakti menerawang jauh keluar jendela mobilnya.
“Ayo semangat,Kamu pasti bisa memecahkan masalah ini,” menautkan jemari tangan.
“Makasih sayang,” mencium lembut tangan Laras.
“Kita sudah sampai Nona,” sopir keluarga Larasati bicara setelah mobil berhenti didepan lobi kantor.
“Makasih Pak,”
Larasa dan Sakti turun dari mobil. Berjalan berdampingan menuju pintu utama. Seorang perempuan dengan dandanan modis dan rapi sudah menyambut mereka didepan pintu masuk. Seperti biasa Sakti selalu mencuri perhatian kaum hawa dengan pesonanya. Tapi mereka segera menundukkan kepala ketika melihat seorang perempuan berhijab berjalan disampingnya. Memeluk mesra lengan Presdir Charlie’s corp.
“Apa itu Presdir? Astaga,gantengnya,” ucap salah seorang karyawati.
__ADS_1
“Eh,apa itu istrinya? Wah,hancur sudah harapanku,” kata karyawati lainnya. Dengan muka masam.
Perempuan yang tadi berdiri didepan pintu langsung melirik tajam pada dua orang karyawati yang sedang berbicara dibelakangnya,membuat mereka langsung kabur setelah menundukkan kepala dan meringis kepadanya.
“Selamat pagi Pak,”ucapnya saat Sakti sudah sampai didepan pintu. Tak sengaja matanya melihat tangan Laras yang melingkar manja di lengan Sakti.
Siapa perempuan ini? apa presdir sudah menikah.
“Pagi Renata,” Sakti tahu apa yang dipikirkan Sekretarisnya ini,”Dia Larasati,istri saya,” tutur Sakti.
“Oh,maaf Pak,saya tidak tahu,” membungkuk kan badan” selamat pagi Nyonya,”
“Pagi,” Larasati tersenyum ramah seperti biasa. Pandangannya bersitatap dengan Renata ketika perempuan itu mengangkat kepalanya.
Ya Tuhan,ternyata istri Presdir cantik banget. Eh,warna matanya kok biru. Apa dia bule ya? tapi cara ngomongnya kek orang sini.
“Mau sampai kapan kamu disitu?” tanya Sakti dia sudah berjalan menuju lift untuk naik ke ruangan Presdir. Kembali menoleh kebelakang karena sekretarisnya masih bengong didepan pintu masuk.
“Eh,maaf Pak,” Renata bergegas menyusul Sakti dan Laras yang sudah masuk kedalam lift.
Didalam lift Renata mengutuki dirinya sendiri yang ceroboh saat menyambut Presdir dan istrinya.
Sesampainya di ruangan Presdir. Renata lansung menjelaskan masalah yang sedang dihadapi perusahaan. Ada yang mencuri sampel bahan dan menjualnya pada perusahaan lain. Bahan baku langka yang mereka dapatkan dengan susah payah. Karena hal itu perusahaan mengalami rugi yang tidak sedikit. Sampai menyentuh nominal milyar.
“Siapa yang membeli sampel itu?” Tanya Sakti. Dahinya masih berkerut membaca berkas dihadapannya. Sedangkan Larasati duduk disofa sambil bermain ponsel.
“Kemarin sampel langka itu diumumkan oleh Mrs. B,Pak. CEO dari Star Groub. Mereka mengatakan akan mengolah bahan itu menjadi sumber daya yang menunjang berbagai kebutuhan manusia di masa yang akan datang. Entah siapa yang menjual bahan itu pada mereka,karena bahan itu diciptakan oleh ilmuan perusahaan kita. Dan tak mungkin ada yang bisa membuat dengan bentuk dan fungsi sama persis,kalau mereka tidak,” Renata mengantung kalimatnya,
“Berbuat curang?”
“Benar Pak,”
Tiba-tiba Sakti berdiri dari duduknya,”Baik,aku sudah tahu siapa pelakunya,” ucapnya sambil membetulkan jasnya.
“Hah? Bapak sudah tahu?” Renata memandang tak percaya. Semakin kagum dengan Presdir tampan dihadapannya.
“Kamu kumpulkan semua karyawan dilobi kantor,katakan,saya mau bicara,” Tutur Sakti.
__ADS_1
“Baik Pak,segera saya laksanakan. Saya permisi,” membungkuk hormat dan bergegas pergi. Sebelumnya dia menundukkan kepala pada Larasati yang dibalas senyum ramah olehnya.
“Kamu mau ikut ke bawah?” Sakti berjalan menghampiri Laras yang masih duduk disofa. Menjatuhkan diri disamping istrinya. Melingkarkan tangan dibahu Larasati.
“Nggak usah,nggak enak sama karyawan kamu. Aku yakin kamu pasti bisa menemukan orang itu,” tutur Laras lembut.
“Kalau gitu aku minta bekal dulu,biar tambah semangat kerjanya,”
Apa sih?
“Kan tadi sudah sarapan,kamu laper lagi?” kura-kura dalam perahu,pura-pura tidak tahu. Dasar, ini kantor tau,jangan seenaknya meski pun kamu Bosnya.
“Sayaaaang,” merengek seperti bayi,
“Iya-iya,sekali aja ya?” dan cup. Satu kecupan kilat mendarat dibibir Sang Presdir manja. Ketika Larasati hendak menggeser kepalanya,tengkuknya malah ditahan oleh tangan Sakti. Dengan gerakan cepat Sakti menyatukan bibir mereka lagi. Tenggelam dalam ciuman mesra dan panjang,ketika hasrat sudah diubun-ubun. Terdengar Suara pintu diketuk dari luar. Sakti mengumpat kesal dan terpaksa dia melepaskan pagutannya.
Siapa sih,ganggu aja. Sakti
Larasati mengambil tisu dari dalam tasnya,dan menyeka sisa lipstiknya dibibir Sakti sambil menahan tawa,”Makanya,sabar kenapa,” ucapnya sambil tersenyum.
Mereka sudah dalam posisi normal,ketika Renata masuk setelah mendengar perintah darinya. Tatapan tajam dari Sakti langsung menghujam Renata yang kebingungan didepan pintu.
Liatnya gitu banget,perasaan aku masuk ruangan Presdir bukan kandang singa.
Larasati mencubit kecil paha Sakti,karena suaminya itu membuat Renata ketakutan dan bingung.
“Se,semua sudah berkumpul Pak,” ucap Renata terbata,
“Hmmm,” jawab Sakti dingin.
“Sudah sana,nanti dilanjut lagi dirumah,” bisik Laras,
“Kamu tunggu disini sebentar ya,aku nggak lama kok,”
“Iya, sudah sana,” mendorong bahu Sakti
Dengan malas Sakti meninggalkan Larasati diruangan Presdir. Menuju lobi kantor.
__ADS_1
Ya ampun Pak,segitu cintanya ya sama istri. Mukanya jadi kusut gitu. Bikin iri aja. Renata