
“Kamu, kapan datang lagi?” Tanya Larasati. Mereka sudah
berada di dalam mobil dan menuju bandara. Sakti harus kembali ke kota X hari
ini. Pasiennya sudah menunggu.
“Belum juga pulang,ini masih disini. Kenapa? Pasti nggak mau
jauh-jauh dari aku ya?”pria itu tersenyum menggoda sambil memainkan kedua
alisnya.
“GR kamu.” Memukul pelan lengan kekasihnya. Lalu mengalihkan
pandangan ke luar jendela,tersenyum.
“Iedih,malu-malu. Kalau cinta bilang aja. Memang nggak ada
yang bisa menolak pesona seorang Sakti Dirgantara.” Membenarkan kerah bajunya.
“Apa sih,kamu mau jadi Dokter yang Sombong?”
“Itu fakta Sayang,hehehe”
“kamu tuh ya..!” mencubit gemas perut Sakti.
“Aduh,aduh,sakit tau. Kejam banget kamu jadi pacar. Bentar
lagi kita nikah lo,bisa KDRT ini namanya.”
“cih.” Larasati melengos.
“Cantiknya kalo lagi ngambek. Tapi kalo senyum, cantik luar
biasa.” Mencubit gemas hidung mancung Laras.
“Belajar gombalan dari mana. Udah biasa ya gombalin cewe?”
“Nggak,kamu yang pertama aku gombalin. Tapi seneng kan kamu?”
tersenyum jahil
“Nggak tuh,biasa aja.” Mengulum senyum dibibirnya.
“Halah,gaya kamu tuh. Aku turun nih.”
“Eh,jangan dong. Kan masih jauh. Iya-iya,aku seneng kamu
gombalin. Puas?”
“Kalo seneng,mana senyumnya?”
“Hemmmm” larasati tersenyum manis,selebar-lebarnya.
“Nah,gitu kan Cantik. Jadi adem kan hati ini.hehe”
“Pinter banget kamu ya..” kembali mencubit perut sakti,tapi
kali ini tangannya berhasil ditangkap oleh pria itu.
“Eits,aku nggak akan jatuh ke lubang yang sama dua kali.
Yang tadi aja masih perih,mau kamu tambahin lagi. Tega kamu ya?”
“Hehe,abis kamu nyebelin banget tau. Jadi gemes kan aku.”
“Laras?”
“hmmm?” pandangan mereka saling bertaut.
“Apa pun yang terjadi,jangan pernah tinggalin aku ya. Kalau
nanti aku lepas kendali,genggam tanganku. Kalau aku lupa diri,ingatkan aku. Aku
mau hidup seribu tahun lagi asalkan sama kamu. Karena aku mencintaimu dengan
seluruh kehidupanku.”
“Sayang?” matanya berkaca-kaca,hatinya bergetar mendengar
ungkapan cinta Sakti. “aku juga cinta sama kamu. Ayo kita lewati ini sama-sama.
Seribu tahun atau selamanya,aku akan selalu cinta kamu Sakti.”
“Makasih,aku sayang kamu Dewiku.”
“Aku juga sayang kamu Pangeranku.”
“Ehmmm,kita sudah sampai Nona.” Suara pak Noto membuyarkan
suasana romantis di jok belakang. Jadi inget waktu pacaran dulu..hehe
Aku jadi lupa kan ada pak sopir di depan.
“Lhah kok cepet banget ,Pak?” tanya Laras,setengah kaget.
“Kita sudah lewat jalur biasanya Nona. Mungkin karena ini
jam kerja jadi jalanan sedikit lengang.” Melirik ke belakang melalui kaca
dashbor. Lalu tersenyum tipis,saat melihat raut cemberut Nona mudanya.
Mestinya muter dulu tadi. Nggak pengertian banget kamu Pak sopir.
“Bapak tunggu sini aja,saya mau masuk sebentar.”
“Baik Nona.” Mengangguk sopan.
“Ayo sayang,kita makan dulu. Kayaknya kita datang 30 menit
__ADS_1
lebih cepat dari jadwal. Masih ada waktu.” Kata Laras sambil membuka pintu
mobil.
Melirik arloji ditangannya,”bener juga,aku tadi juga nggak
sempet sarapan. Menu hotel nggak ada yang sesuai selera aku.” Darah maksudnya?
Ya pasti nggak ada Tuan Muda.
“Kita makan dikafe deket situ. Kayaknya tempatnya asik.”
“Terserah kamu aja.”
Dua sejoli itu lalu bergandengan tangan menuju Kafe yang di
maksud. Ternyata disini menyediakan menu sarapan ringan untuk para calon
penumpang yang tak sempat sarapan. Mereka lalu memilih tempat duduk,dan memesan
menu sarapan.
Dalam hati sebenarnya keduanya tak rela untuk berpisah.
Waktu yang sedikit ini benar-benar mereka manfaatkan untuk melepas rindu.
Ditinggal pas sayang-sayangnya memang berat ternyata. Tapi mau bagaimana
lagi,Sakti punya tanggung jawab besar di Rumah Sakit. Ribuan orang sedang
menunggu pertolongan lewat tangan dinginnya. Dia hidup bukan hanya untuk
dirinya sendiri, mengabdikan hidup untuk orang banyak bukanlah hal mudah.
Seperti saat ini,meski ia tak ingin berpisah dengan Larasati,ia harus tetap
pergi.
“Jangan lupa kabari aku,kalau sudah sampai. Telfon aku,kalau
lagi senggang.” Kata Laras. Makanan dipiringnya sudah tandas. Rasa cemas dan
gelisah membuat ia makan lebih cepat,tanpa bisa menikmati cita rasa makanan
yang masuk kemulutnya.
“Iya sayang.”
“Jangan lupa makan,jangan terlalu memaksakan diri. Istirahat
kalau kamu cape.”
“Iya sayang.” Masih menjawab sambil senyum-senyum seperti
tadi.
ke aku.”
“Iya sayang.”
“Apa sih,dari tadi iya,iya,aja.”
“Iya sayang.”
“Sayaaang?” matanya melotot kesal.
“Apa?” lalu tertawa terbahak-bahak.
“Aku serius tau.”
“Aku juga. Kamu gemesin banget sih,jadi pengen cium kan
ini.” masih tersenyum menggoda.
“Nggak boleh. Tunggu nanti,ada waktunya pasti.” Jawabnya menenangkan.
Hasrat dimata kekasihnya,sedang tidak berbohong.
“Demi kamu apa sih yang nggak.”
“Ayo aku anter sampe kedalem. Nggak kerasa ya,waktu jadi
cepat berlalu.”
“Itu karena kamu sama aku.hehe”
“Mungkin.”
Larasati mengantar Sakti sampai di depan pintu pengantar. Hatinya
tak rela sebenarnya melepas pria ini,tapi kembali lagi ia mengingatkan dirinya.
Kalau kekasihnya itu bukan miliknya sendiri.
“Kamu jaga diri ya. Nanti pasti aku telfon.”
“Iya,kamu juga hati-hati dijalan.”
“Hmmm,eh,itu ada apa dikepala kamu?” matanya bergerak-gerak
mengamati puncak kepala Larasati.
“Apa,ada apa?”
“Coba sini deketan lagi,biar aku liat.”
Menyodorkan kepala kedepan wajah Sakti,dan,cup. Sebuah kecupan
kilat mendarat di keningnya. Larasti sampai mundur karena kaget,pipinya merah
__ADS_1
merona.
“Kamu ngapain?” bertanya sambil memegang keningnya,merasai bekas
bibir dingin tapi lembut yang tadi menempel disana.
“Nggak ngapa-ngapain. Itu tadi nggak sengaja,aku mau jatoh
waktu liat kepala kamu.” Pria itu tersenyum mengulum bibirnya. Dia sedang berbohong,pasti
sengaja kan kamu Dokter?
“Alesan kamu.”
“Kalo gitu anggep aja itu bekal buat dijalan. Jangan pelit-pelit.”
“Sayang,kamu kan tau kalo kita...” kata-katanya terhenti
karena jari sakti menempel dibibirnya.
“ssssttttt,cerewet banget sih pacarku ini. Nanti aku
ketinggalan pesawat kalau kamu ngomong mulu.” Melepaskan jarinya yang menempel
pada bibir Laras,lalu menciumnya sendiri. Larasati sampai merinding melihat
tingkah kekasihnya itu.
“Ya udah sana, hati-hati ya.”
“Aku berangkat ya. Ingat, jangan rindu,rindu itu berat,kamu
nggak akan kuat,kalo kata Dilan sih.hahaha” kata Sakti lalu terbahak.
“Ada-ada aja kamu tuh. Jadi berangkat nggak nih?”
“Jadi,meski nggak rela ninggalin kamu. Nanti kalau ada waktu,aku
pasti berkunjung kesini.”
“Harus itu. Aku pasti selalu nunggu kamu. Udah sana.”
“Bye sayang.” Pria itu berjalan mundur sambil terus
melambaikan tangan,sampai lompat-lompat segala ketika bayangan laras tertutup
lalu lalang para penumpang lain. Benar-benar bucin akut ini Vampir.
“BYE.” Larasati terus tersenyum melepas kepergian Sakti,lalu
membalas lambaian tangan pria itu tak kalah semangat. Setelah pria itu tak
terlihat,ia berbalik badan hendak kembali ke mobilnya. Tapi tiba-tiba
Bruk,tubuhnya menabrak seseorang. “maaf,maaf,saya tidak sengaja.”
“Nggak papa,saya juga tadi yang salah. Nggak liat ada
orang,karena sedang membaca e-mail penting.” Kata seorang pria tinggi,putih,yang
memakai setelan jas lengkap. Pria itu menunduk,memunguti paspor dan tiketnya
yang terjatuh akibat ditabrak oleh Larasati.
“Mari saya bantu Tuan,sekali lagi saya minta maaf.” Mengambil
tiket dan memberikan nya pada sang empunya tiket,saat itulah mata mereka
bersitatap. Deg. Jantungnya berdegup,dimana aku pernah melihat pria ini.
sepertinya tak asing.
“Lain kali hati-hati Nona. Maaf saya buru-buru.” Menerima tiket
yang disodorkan gadis cantik didepannya.
“Iya Tuan,silahkan.” Menggeser tubuhnya,memberi jalan pria
itu. Larasati berpikir sebentar,lalu mengabaikannya. Mungkin itu hanya
perasaanku,ada tujuh orang yang meiliki kemiripan di dunia ini. Mungkin pria
itu salah satunya,mirip orang yang dia kenal. Meski tak tahu siapa.
Larasati lalu kembali kerumahnya,tanpa mengingat lagi pria
itu. Dikepalanya hanya ada Sakti,Sakti dan Sakti lagi. Gadis itu bersandar dan
terlelap di jok mobil.
Epilog:
Seorang pria berpostur tinggi sempurna dan berwajah
tampan sedang berjalan menuju pintu keberangkatan. Buku-buku tangannya
menggenggam erat dokumen keberangkatan,bibirnya tersenyum sinis,lalu bergumam
lirih yang hanya bisa di dengar olehnya,disini rupanya kamu manusia. Langkah tegapnya terus menuju landasan udara.
(Satu ketukan dilayar kalian,sebuah semangat buat authornya. jadi,jangan pada lupa pencet like nya.hehehe Terimakasih.)
__ADS_1