Bukan Cinta Biasa (Vampire Love Story)

Bukan Cinta Biasa (Vampire Love Story)
Perpisahan


__ADS_3

“Kamu, kapan datang lagi?” Tanya Larasati. Mereka sudah


berada di dalam mobil dan menuju bandara. Sakti harus kembali ke kota X hari


ini. Pasiennya sudah menunggu.


“Belum juga pulang,ini masih disini. Kenapa? Pasti nggak mau


jauh-jauh dari aku ya?”pria itu tersenyum menggoda sambil memainkan kedua


alisnya.


“GR kamu.” Memukul pelan lengan kekasihnya. Lalu mengalihkan


pandangan ke luar jendela,tersenyum.


“Iedih,malu-malu. Kalau cinta bilang aja. Memang nggak ada


yang bisa menolak pesona seorang Sakti Dirgantara.” Membenarkan kerah bajunya.


“Apa sih,kamu mau jadi Dokter yang Sombong?”


“Itu fakta Sayang,hehehe”


“kamu tuh ya..!” mencubit gemas perut Sakti.


“Aduh,aduh,sakit tau. Kejam banget kamu jadi pacar. Bentar


lagi kita nikah lo,bisa KDRT ini namanya.”


“cih.” Larasati melengos.


“Cantiknya kalo lagi ngambek. Tapi kalo senyum, cantik luar


biasa.” Mencubit gemas hidung mancung Laras.


“Belajar gombalan dari mana. Udah biasa ya gombalin cewe?”


“Nggak,kamu yang pertama aku gombalin. Tapi seneng kan kamu?”


tersenyum jahil


“Nggak tuh,biasa aja.” Mengulum senyum dibibirnya.


“Halah,gaya kamu tuh. Aku turun nih.”


“Eh,jangan dong. Kan masih jauh. Iya-iya,aku seneng kamu


gombalin. Puas?”


“Kalo seneng,mana senyumnya?”


“Hemmmm” larasati tersenyum manis,selebar-lebarnya.


“Nah,gitu kan Cantik. Jadi adem kan hati ini.hehe”


“Pinter banget kamu ya..” kembali mencubit perut sakti,tapi


kali ini tangannya berhasil ditangkap oleh pria itu.


“Eits,aku nggak akan jatuh ke lubang yang sama dua kali.


Yang tadi aja masih perih,mau kamu tambahin lagi. Tega kamu ya?”


“Hehe,abis kamu nyebelin banget tau. Jadi gemes kan aku.”


“Laras?”


“hmmm?” pandangan mereka saling bertaut.


“Apa pun yang terjadi,jangan pernah tinggalin aku ya. Kalau


nanti aku lepas kendali,genggam tanganku. Kalau aku lupa diri,ingatkan aku. Aku


mau hidup seribu tahun lagi asalkan sama kamu. Karena aku mencintaimu dengan


seluruh kehidupanku.”


“Sayang?” matanya berkaca-kaca,hatinya bergetar mendengar


ungkapan cinta Sakti. “aku juga cinta sama kamu. Ayo kita lewati ini sama-sama.


Seribu tahun atau selamanya,aku akan selalu cinta kamu Sakti.”


“Makasih,aku sayang kamu Dewiku.”


“Aku juga sayang kamu Pangeranku.”


“Ehmmm,kita sudah sampai Nona.” Suara pak Noto membuyarkan


suasana romantis di jok belakang. Jadi inget waktu pacaran dulu..hehe


Aku jadi lupa kan ada pak sopir di depan.


“Lhah kok cepet banget ,Pak?” tanya Laras,setengah kaget.


“Kita sudah lewat jalur biasanya Nona. Mungkin karena ini


jam kerja jadi jalanan sedikit lengang.” Melirik ke belakang melalui kaca


dashbor. Lalu tersenyum tipis,saat melihat raut cemberut Nona mudanya.


Mestinya muter dulu tadi. Nggak pengertian banget kamu Pak sopir.


“Bapak tunggu sini aja,saya mau masuk sebentar.”


“Baik Nona.” Mengangguk sopan.


“Ayo sayang,kita makan dulu. Kayaknya kita datang 30 menit

__ADS_1


lebih cepat dari jadwal. Masih ada waktu.” Kata Laras sambil membuka pintu


mobil.


Melirik arloji ditangannya,”bener juga,aku tadi juga nggak


sempet sarapan. Menu hotel nggak ada yang sesuai selera aku.” Darah maksudnya?


Ya pasti nggak ada Tuan Muda.


“Kita makan dikafe deket situ. Kayaknya tempatnya asik.”


“Terserah kamu aja.”


Dua sejoli itu lalu bergandengan tangan menuju Kafe yang di


maksud. Ternyata disini menyediakan menu sarapan ringan untuk para calon


penumpang yang tak sempat sarapan. Mereka lalu memilih tempat duduk,dan memesan


menu sarapan.


Dalam hati sebenarnya keduanya tak rela untuk berpisah.


Waktu yang sedikit ini benar-benar mereka manfaatkan untuk melepas rindu.


Ditinggal pas sayang-sayangnya memang berat ternyata. Tapi mau bagaimana


lagi,Sakti punya tanggung jawab besar di Rumah Sakit. Ribuan orang sedang


menunggu pertolongan lewat tangan dinginnya. Dia hidup bukan hanya untuk


dirinya sendiri, mengabdikan hidup untuk orang banyak bukanlah hal mudah.


Seperti saat ini,meski ia tak ingin berpisah dengan Larasati,ia harus tetap


pergi.


“Jangan lupa kabari aku,kalau sudah sampai. Telfon aku,kalau


lagi senggang.” Kata Laras. Makanan dipiringnya sudah tandas. Rasa cemas dan


gelisah membuat ia makan lebih cepat,tanpa bisa menikmati cita rasa makanan


yang masuk kemulutnya.


“Iya sayang.”


“Jangan lupa makan,jangan terlalu memaksakan diri. Istirahat


kalau kamu cape.”


“Iya sayang.” Masih menjawab sambil senyum-senyum seperti


tadi.


ke aku.”


“Iya sayang.”


“Apa sih,dari tadi iya,iya,aja.”


“Iya sayang.”


“Sayaaang?” matanya melotot kesal.


“Apa?” lalu tertawa terbahak-bahak.


“Aku serius tau.”


“Aku juga. Kamu gemesin banget sih,jadi pengen cium kan


ini.” masih tersenyum menggoda.


“Nggak boleh. Tunggu nanti,ada waktunya pasti.” Jawabnya menenangkan.


Hasrat dimata kekasihnya,sedang tidak berbohong.


“Demi kamu apa sih yang nggak.”


“Ayo aku anter sampe kedalem. Nggak kerasa ya,waktu jadi


cepat berlalu.”


“Itu karena kamu sama aku.hehe”


“Mungkin.”


Larasati mengantar Sakti sampai di depan pintu pengantar. Hatinya


tak rela sebenarnya melepas pria ini,tapi kembali lagi ia mengingatkan dirinya.


Kalau kekasihnya itu bukan miliknya sendiri.


“Kamu jaga diri ya. Nanti pasti aku telfon.”


“Iya,kamu juga hati-hati dijalan.”


“Hmmm,eh,itu ada apa dikepala kamu?” matanya bergerak-gerak


mengamati puncak kepala Larasati.


“Apa,ada apa?”


“Coba sini deketan lagi,biar aku liat.”


Menyodorkan kepala kedepan wajah Sakti,dan,cup. Sebuah kecupan


kilat mendarat di keningnya. Larasti sampai mundur karena kaget,pipinya merah

__ADS_1


merona.


“Kamu ngapain?” bertanya sambil memegang keningnya,merasai bekas


bibir dingin tapi lembut yang tadi menempel disana.


“Nggak ngapa-ngapain. Itu tadi nggak sengaja,aku mau jatoh


waktu liat kepala kamu.” Pria itu tersenyum mengulum bibirnya. Dia sedang berbohong,pasti


sengaja kan kamu Dokter?


“Alesan kamu.”


“Kalo gitu anggep aja itu bekal buat dijalan. Jangan pelit-pelit.”


“Sayang,kamu kan tau kalo kita...” kata-katanya terhenti


karena jari sakti menempel dibibirnya.


“ssssttttt,cerewet banget sih pacarku ini. Nanti aku


ketinggalan pesawat kalau kamu ngomong mulu.” Melepaskan jarinya yang menempel


pada bibir Laras,lalu menciumnya sendiri. Larasati sampai merinding melihat


tingkah kekasihnya itu.


“Ya udah sana, hati-hati ya.”


“Aku berangkat ya. Ingat, jangan rindu,rindu itu berat,kamu


nggak akan kuat,kalo kata Dilan sih.hahaha” kata Sakti lalu terbahak.


“Ada-ada aja kamu tuh. Jadi berangkat nggak nih?”


“Jadi,meski nggak rela ninggalin kamu. Nanti kalau ada waktu,aku


pasti berkunjung kesini.”


“Harus itu. Aku pasti selalu nunggu kamu. Udah sana.”


“Bye sayang.” Pria itu berjalan mundur sambil terus


melambaikan tangan,sampai lompat-lompat segala ketika bayangan laras tertutup


lalu lalang para penumpang lain. Benar-benar bucin akut ini Vampir.


“BYE.” Larasati terus tersenyum melepas kepergian Sakti,lalu


membalas lambaian tangan pria itu tak kalah semangat. Setelah pria itu tak


terlihat,ia berbalik badan hendak kembali ke mobilnya. Tapi tiba-tiba


Bruk,tubuhnya menabrak seseorang. “maaf,maaf,saya tidak sengaja.”


“Nggak papa,saya juga tadi yang salah. Nggak liat ada


orang,karena sedang membaca e-mail penting.” Kata seorang pria tinggi,putih,yang


memakai setelan jas lengkap. Pria itu menunduk,memunguti paspor dan tiketnya


yang terjatuh akibat ditabrak oleh Larasati.


“Mari saya bantu Tuan,sekali lagi saya minta maaf.” Mengambil


tiket dan memberikan nya pada sang empunya tiket,saat itulah mata mereka


bersitatap. Deg. Jantungnya berdegup,dimana aku pernah melihat pria ini.


sepertinya tak asing.


“Lain kali hati-hati Nona. Maaf saya buru-buru.” Menerima tiket


yang disodorkan gadis cantik didepannya.


“Iya Tuan,silahkan.” Menggeser tubuhnya,memberi jalan pria


itu. Larasati berpikir sebentar,lalu mengabaikannya. Mungkin itu hanya


perasaanku,ada tujuh orang yang meiliki kemiripan di dunia ini. Mungkin pria


itu salah satunya,mirip orang yang dia kenal. Meski tak tahu siapa.


Larasati lalu kembali kerumahnya,tanpa mengingat lagi pria


itu. Dikepalanya hanya ada Sakti,Sakti dan Sakti lagi. Gadis itu bersandar dan


terlelap di jok mobil.


Epilog:


Seorang pria berpostur tinggi sempurna dan berwajah


tampan sedang berjalan menuju pintu keberangkatan. Buku-buku tangannya


menggenggam erat dokumen keberangkatan,bibirnya tersenyum sinis,lalu bergumam


lirih yang hanya bisa di dengar olehnya,disini rupanya kamu manusia. Langkah tegapnya terus menuju landasan udara.


 


 


 


 


(Satu ketukan dilayar kalian,sebuah semangat buat authornya. jadi,jangan pada lupa pencet like nya.hehehe Terimakasih.)

__ADS_1


__ADS_2