
Suasana terasa canggung setelah kepulangan Kyai Jamal. Dokter Sakti merasa tak enak hati pada keluarga Larasati,karena mendengar segala pikiran orang tentangnya. Ya,kita memang tidak bisa memaksa semua orang untuk hidup mengikuti cara kita. Biarlah. Semua bisik-bisik itu pasti segera berlalu seiring waktu.
Dokter Sakti dan Thomas diarahkan untuk istirahat di kamar tamu. Menunggu waktu akad tiba. Baju gantinya juga sudah diantar kekamar oleh seorang pelayan. Sakti melirik Thomas yang masih diam membisu sejak menginjakkan kaki dirumah ini. Wajahnya menampilkan raut sendu.
“Ada apa Thomas?” Sakti bertanya dengan nada yang terdengar lembut.
Thomas bergeming,”Entahlah Tuan,aku merasa ada yang aneh Denganku,” Jawabnya kemudian.
“Katakan lah apa yang sedang kau rasakan !” Sakti bangun dari posisi tidurannya diatas ranjang. Menghadap Thomas yang duduk di sofa kecil disudut kamar.
“Kenapa anda ingin menjadi muslim Tuan?” tanya Thomas kemudian.
Sakti terhenyak. Kenapa itu yang kau tanyakan,pikirnya. “Entahlah aku juga tidak tahu. Aku hanya mengikuti kata hatiku. Dan aku sudah jatuh cinta pada islam saat pertama kali mendengar kata “TUHAN,” ” Hatinya kembali bergetar.
Thomas diam. Tak ada sepatah katapun yang keluar dari mulutnya hingga pintu kamar diketuk oleh pelayan. Mengabarkan jika Dokter itu harus bersiap untuk Ijab Qobul. Mengikrarkan janji suci pernikahan.
Dokter itu sudah siap dengan setelan jas putihnya. Ia tersenyum saat memandang kopyah putih ditangannya. “Sayang, aku tak bisa melihat bagaimana penampilanku,” Berdiri didepan kaca yang jelas tak menampakkan bayangannya. “Tapi, yang jelas pasti ganteng maksimal seperti biasa,” Gumamnya kemudian. Lalu memasangkan kopyah itu dikepalanya,dengan senyum yang masih terkembang.
Akhirnya.
Mereka berdua keluar kamar dengan mimik wajah yang berbeda. Yang baju putih benar-benar terlihat bahagia. Dan yang baju hitam,memasang wajah datar kebanggannya. No ekspresi,No aksi. Semua orang sudah menunggu di ruang tamu. Begitu juga Penghulu yang akan menikahkan mereka.
Jumlah orang yang datang lebih banyak dari tadi pagi. Sekitar empat puluh orang. Kurang-lebih. Mungkin itu adalah para kerabat dekat yang memang sengaja diundang. Semua mata memandang calon pengantin pria itu. Sakti tak bisa menyembunyikan senyum malu dan rasa gugupnya. Tangannya berkeringat. Jantungnya terus berdebar. Sudah waktunya.
__ADS_1
Dilain tempat diwaktu yang sama. Larasati mondar-mandir dikamarnya. Kembali menatap kaca. Mengecap-ngecap bibirnya. Memastikan polesan lipstiknya belum memudar. Membenarkan kebayanya yang sudah rapi. Begitu saja yang ia lakukan sejak tadi.
“Sayang,kayaknya hobi banget ya kamu niru setrika?” suara mama Martha menghentikan langkahnya.
“Mama ih,aku deg degan Ma. Mama coba cubit aku deh,” Menyodorkan lengan.
Mama Martha terbahak,”Kamu nggak mimpi kok sayang. Sebentar lagi kamu akan jadi istri orang,” suaranya tercekat ditenggorokan. Matanya berkaca-kaca.
“Mama. Mama jangan nangis dong. Laras kan tetep jadi anak Mama,” Dadanya juga merasa sesak. Matanya memanas.
“Mama nangis karena bahagia Laras. Kayaknya baru kemarin kamu menyusu dan menangis digendongan Mama. Dan sekarang kamu tumbuh jadi perempuan cantik. Mama bahagia untuk kamu, putri kecil kesayangan Mama.” Mama Martha tak kuasa menahan air matanya yang menetes. Inikah perasaan yang dirasakan ibunya dulu saat melepasnya untuk hidup berbakti kepada sang suami. Merasa kehilangan meski jarak tak memisahkan.
Larasati juga merasakan hal yang sama. Mendongak keatas menahan air matanya yang hampir terjatuh. Tapi gagal. Nyatanya kristal bening itu tetap meluncur seiring dengan isaknya yang semakin keras. Tak ada kata yang bisa ia ucapkan untuk menguatkan sang Mama. Karena pada kenyataannya ialah yang perlu dikuatkan.
Mengangguk pelan,“Iya Ma.” Menjawab sesenggukan,karena masih ada sisa tangisnya.
“Gitu dong. Ayo turun. Semuanya sudah siap tinggal nunggu kamu,” Merapikan make up Putrinya yang sedikit berantakan.
Suasana di lantai bawah terlihat tenang. Sakti sudah duduk berhadapan dengan penghulu dan Pak Handam. Pria itu berusaha terlihat tenang,padahal jantungnya mau melompat saking gugupnya. Kalimat-kalimat yang harus ia ucapkan nanti memenuhi kepalanya. Jangan sampai salah. Sekali tarikan nafas harus lancar dan benar. Begitu ia mengingatkan dirinya sendiri.
Thomas yang melihat tingkah Tuannya,tak kuasa menahan senyum. Kalo begini,Anda terlihat seperti manusia Pangeran,terkikik dalam hati. Jleb,pandangan menusuk langsung ia terima dari Sakti. Hehe, lupa kalau anda bisa mendengar. Gumamnya dalam hati. Lagi-lagi bibirnya tersenyum tipis.
Dan acara yang ditunggu-tunggu pun tiba,setelah mempelai wanita duduk disamping calon suaminya. Semua mata memandang mereka dengan tatapan bahagia. Memuji pasangan serasi itu dalam bisik-bisik lirih dengan orang disebelahnya.
__ADS_1
Sakti melirik sekilas wajah Laras yang tertunduk. Pipinya menampilkan rona merah muda. Menggemaskan. Bibirnya tersenyum malu-malu. Pria itu lalu menggenggam tangan calon istrinya yang tergenggam erat satu sama lain. Memberikan ketenangan lewat usapan lembut tangan dinginnya. Menatapnya dengan pandangan penuh cinta. Semua akan baik-baik saja,gumamnya kemudian.
Dan hari bersejarah itu akan dimulai. Sebuah ikatan yang akan menyatukan dua hati yang beda dunia. Sekali lagi kekuatan cinta membuktikan kekuasaannya. Pernikahan tak hanya menyatukan dua hati insan yang saling mencinta. Tapi juga penyatuan dua keluarga. Meski mereka berbeda dunia? Semoga.
Pak Handam mulai menjabat tangan Dokter Sakti. Mengengamnya erat. Menampilkan ekspresi biasa saat tangan dingin itu juga mengenggam erat tangannya. Mungkin dia gugup,pikirnya. Lalu mengucapkan kalimat yang seharusnya ia ucapkan,
“Saudara Muhammad Sakti Dirgantara alias Dominic Robert bin Charles Robert. Saya kawinkan dan saya nikahkan engkau dengan putri saya Stela Larasati Wijaya binti Handam Wijaya dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan emas seberat seribu dua ratus dua puluh satu gram dibayar tunai.”
Dalam satu tarikan nafas,Sakti menjawab,” Saya terima nikah dan kawinya Stela Larasati Wijaya binti Handam Wijaya dengan maskawin tersebut dibayar tunai.”
“BAGAIMANA SAKSI?” tanya penghulu.
“SAH SAH SAH.” Semua menjawab serempak. Tak terkecuali Thomas,ia ikut terhanyut dalam suasana mengharukan ini. Hatinya kembali merasakan desiran tak biasa.
Akad nikah berlangsung hikmat dan mengharukan. Semua orang bahagia menyambut pengantin baru itu. Mereka melakukan ritual sungkeman juga kepada kedua orang tua Laras. Lalu dilanjut acara foto-foto dan makan bersama. Larasati sedikit kaget saat disuruh menandatangani buku nikah tadi. Bukankah kemarin Papanya bilang hanya nikah siri. Kapan mereka mengurus surat-suratnya.
Jangan tanya,uang memang selalu bisa melakukan segalanya. Termasuk membuat kantor pencatat pernikahan dan toko perhiasan buka di tengah malam. Hebat bukan?
Dalam suasana yang bahgia itu. Tanpa ada yang menyadari keberadaannya. Seseorang berdiri dibalik pintu dengan pandangan penuh kebencian. Mengepalkan tangan hingga buku-buku tangannya terlihat memerah. Giginya bergemerutuk kesal menahan geram. Pria itu mengurungkan niatnya untuk berkunjung. Dia bukanlah orang yang masuk dalam daftar undangan. Pria itu Lalu pergi meninggalkan kediaman Handam Wijaya dengan hati yang terbakar cemburu.
Kalau aku tidak bisa mendapatkanmu. Maka tak seorang pun berhak memilikimu.
__ADS_1