
Dirgantara Hospital.
“Berikan penawar ini pada setiap pasien yang terinveksi. Dosis sesuai yang sudah dijelaskan tadi, cari tahu apa virus ini bisa menular. Rapat ditutup,” Thomas berdiri. Membetulkan jas putihnya,lalu dia bergegas meninggalkan ruang rapat. Hari ini dia yang mewakili Dokter Sakti Dirgantara untuk memimpin rapat. Penanganan pasien tidak boleh ditunda lagi.
Meski Wlliam Luke dan komplotannya sudah dimusnahkan. Tapi anehnya,setiap hari masih saja ada yang terjangkit virus itu. Ribuan nyawa melayang sia-sia.
“Baik,” jawab para Dokter sebelum Thomas pergi. Lalu mereka bergegas membereskan berkas dihadapan masing-masing. Bergerak cepat menuju tempat para pasien dirawat. Dalam perjalanan mereka berbisik dengan rekannya,”Dari mana Dokter Thomas mendapatkan penangkal virus itu. semua ini begitu sulit dipercaya,” ucap salah seorang Dokter
“Benar,Virus dan penawar ini,semuanya misteri,” jawab yang lain.
“Lalu kemana Dokter Sakti pergi,dia belum kembali juga,” sebut saja Dokter A yang bicara.
“Entahlah aku dengar dia pergi mencari penawar virus itu bersama Dokter Thomas,” tutur Dokter B.
“Tapi Dokter Thomas selalu datang kerumah sakit ini setiap dua hari sekali. Jadi kemana sebenarnya mereka pergi,” Dokter A terlihat berpikir keras. Dahinya sampai berkerut karena tak mampu menemukan jawaban yang masuk akal.
“Ah,sudahlah,lebih baik kita mengambil vaksin itu dan memberikannya pada pasien sebelum terlambat,” Dokter B menepuk bahu Dokter A.
Mereka mempercepat langkah menuju ruang penyimpanan obat. Dokter Thomas bilang,Vaksin ini aman dan halal. Itu sudah cukup jadi persyaratan untuk mereka melakukan tugas tanpa bertanya lagi.
Dokter A dan Dokter B,menuju bangsal 306. Tempat dimana para pasien terjangkit dirawat. Dengan diikuti dua suster jaga. Tempat ini berisi kurang-lebih sepuluh orang pasien. Yang terbaring tak berdaya dengan tubuh kurus kering mereka. Semua pasien terlihat mengenaskan. Dengan berbagai kabel dan selang yang membantu menyangga hidup mereka yang sudah diujung tanduk.
Dokter A menerawang botol kecil yang baru saja ia ambil dari dalam kotak obat. Warnanya beda dengan Vaksin pada umumnya. Dengan dahi mengrenyit dia menatap cairan berwarna merah pekat itu,”Kenapa warnanya seperti darah ya?” mengampil suntikan dan memindahkan cairan Vaksin kedalamnya,”Seperempat dosis,Ok,” meletakkan kembali botol di dalm kotak.
Dengan jantung berdebar Dokter A memegang lengan keriput sang pasien. Keringat dingin membasahi keningnya. Kenapa ini membuatku gugup sekali,gumamnya. Padahal hal seperti ini sudah sering ia lakukan. Tapi,Entahlah.
Seorang perawat menyeka keringat didahinya,”Anda kenapa Dok?” Tanya Suster.
“Nggak pa-pa Sus,” menoleh lagi pada jarum suntik yang masih terjepit diantara jarinya. Dokter A menghela nafas,lalu menyuntikkan Vaksin itu pada lengan pasien dihadapannya.
Pasien itu mengerang panjang dengan suara tertahan. Tubuhnya langsung kejang,bereaksi pada cairan yang baru saja masuk kedalam tubuhnya. Dokter A dan suster itu sampai mundur karena kaget. Tak menyangka dengan reaksi yang akan dialami Pasien. Mereka saling pandang. Ada rasa takut yang merayapi hati keduanya.
__ADS_1
“Gimana ini Dok?” Suster bertanya dengan suara lirih,matanya terus mengamati pasien yang sedang menggelinjang diatas ranjang.
“Kata Dokter Thomas,apa pun reaksi yang dialami. Kita jangan melakukan apapun,jadi kita tunggu saja dulu,” menyeka keringat didahi.
Satu detik.
Sepuluh detik.
Tiga puluh detik.
Enam puliuh detik.
“Luar biasa,”
“Ini keajaiban,”
Dokter A dan Suster itu menatap sang pasien dengan mata berkaca-kaca. Suster itu mengusap sudut matanya yang ber air. Sedangkan Dokter A memegang dadanya yang masih berdentum liar.
“Haus,” ucap pasien itu lirih,hampir tak terdengar.
Suster itu bergegas mendekat,meraih sebotol air mineral yang masih tersegel diatas nakas. Membuka tutupnya. Dengan tangan yang masih gemetar ia memberikan botol pada pasien itu,”Ini Mbk,”
Menerima botol,”Terimakasih Sus,” lalu meminum air dari dalam botol dengan perlahan.
Disisi lain, Dokter B dan Dokter-dokter lain juga mengalami hal yang sama. Semua pasien itu telah kembali ke wujud semula. Meski tunbuh mereka masih terlihat lemah,tapi reaksi obat yang begitu cepat adalah sebuah keajaiban yang tak pernah dibayangkan.
Para Dokter tersenyum haru. Meski mereka tak tahu penawar apa yang telah dibawa Dokter Thomas, tapi obat itu adalah keajaiban. biarlah semua itu jadi rahasia,gumam mereka.
Semua pasien yang tersisa sudah selamat. Mereka disambut oleh senyum bahagia keluarga masing-masing. Pelukan hangat dan tangis mewarnai setiap pertemuan di ruang rawat. Ucapan syukur dan doa terus mengalir dari bibir-bibir yang bergetar itu. Ucapan terimakasih untuk para Dokter dan perawat dirumah sakit juga silih berganti terdengar. Tapi sesungguhnya dalam hati mereka, terselip Doa terdalam untuk sang penemu obat. Meski mereka tak tahu. Dan Dokter tak mau memberitahu,karena itu adalah rahasia yang harus mereka jaga.
Derap langkah menggema di lorong Rumah Sakit. Thomas berjalan sambil menelephone Sakti. Memberi tahukan kabar bahagia ini. Meski ada satu hal yang mengganjal dihatinya. Siapa yang menyebarkan Virus setelah William Luke tiada?
__ADS_1
“Baik Tuan,saya akan mengurus semuanya,” Thomas mematikan telephone dan memasukkan kesaku jasnya.
Ketika Thomas mendongakkan kepala. Pandangannya menatap sosok yang sedang menatap ganjil padanya dibalik tembok,”Siapa dia?” gumam Thomas. Thomas menelengkan kepala mencoba mengenali seseorang yang hanya terlihat ujung kepala dan sebelah matanya. Sedangkan bagian tubuh lain tertutupi tembok.
Sepertinya orang itu mengetahui jika Thomas melihatnya mengintai. Dia segera pergi sebelum Thomas mengejarnya.
“Hei,tunggu,,!” teriak Thomas. Dia bergerak secepat kilat,tapi orang itu sudang menghilang bagai ditelan bumi. Tanpa jejak.
“Sial,cepat sekali dia. Aku yakin dia bukan manusia,” Thomas berkacak pinggang,pandangannya menyusuri halaman rumah sakit dan tempat-tempat lain yang terjangkau matanya. Tapi,nihil. Tak ada yang terlihat mencurigakan.
Drrrttt drrrtttt
Ponsel Thomas kembali bergetar. Ada panggilan masuk dari sekretaris Charli’es corp. “Iya,Re? Ada apa?”
Terdengar suara Renata bicara dengan nada cemas.
“Apa? Ada yang mencuri data perusahaan dan menjualnya pada rival?” Thomas membulatkan matanya. Apa lagi ini?
Thomas mengakhiri panggilannya. Dia berdecak kesal. Masalah apa lagi ini? sampai kapan ini akan berakhir,aku lelah mengurusi urusan manusia. Aku juga ingin hidup bahagia bersama orang yang ku cinta,gumam Thomas.
Tanpa sadar bibirnya tersenyum simpul,bibirnya bergumam lirih. Menyebutkan sebuah nama seorang manusia,
”Emma,”
(Ma'af ya lama nunggu,sampe ada yang pada kabur,,hahaha. terimakasih yang sudah sabar. Ingat ya sabar itu disayang Tuhan dan Author,,hehe)
__ADS_1