Bukan Cinta Biasa (Vampire Love Story)

Bukan Cinta Biasa (Vampire Love Story)
Dongeng Sebelum Tidur


__ADS_3

TENG TENG TENG.


Jam besar yang ber ada di lantai bawah rumah Keluarga Handam


Wijaya berdentang dua belas kali,menandakan kalau saat ini adalah waktu tengah


malam. Larasati terbangun dengan keringat dingin disekujur tubuhnya. Nafasnya


naik turun tak beraturan,jantungnya terasa berdetak lebih cepat. Kenapa mimpi


ini datang lagi,pikirnya. Mimpi yang pernah ia alami beberapa waktu yang lalu.


Laras lalu meraih segelas air yang berada di atas nakas


dekat tempat tidur. Menghabiskannya hingga tetes terakhir lenyap, melewati


kerongkongannya yang terasa kering. Menarik nafas panjang dan mengeluarkannya


lewat mulut beberapa kali. Ia merasa lebih baik sekarang. Mimpi buruk yang baru


saja ia alami,tiba-tiba melintas lagi di kepalanya. Ia bergidik


ngeri,tengkuknya tiba-tiba merinding. Apa maksud semua ini?


Tak mau terlarut dalam ketakutan,ia turun dari ranjang dan


pergi kekamar mandi untuk membasuh wajahnya yang berkeringat. Berharap bayangan


mimpi itu juga lenyap terhapus percikan air diwajahnya. Ia merasa lebih lega


sekarang,wajahnya terasa segar. Tapi,kantuknya juga lenyap. Saat keluar dari


kamar mandi,ia melirik penanda waktu yang tergantung didinding kamarnya. 12.30.


Apa yang akan aku lakukan tengah malam begini,gumamnya pada diri sendiri.


Ponsel nya terlihat berkedip-kedip diatas meja rias. Rupanya


ia lupa mematikan ponsel itu sewaktu mencharger tadi. Larasati melangkah menuju


meja riasnya,menarik kursi dan duduk di depan kaca besar yang memantulkan


wajahnya yang terlihat pucat. Ia melirik sekilas bayangannya, Apa aku setakut


itu tadi? Lalu meraih ponsel dan memeriksa notifikasi yang masuk disana.


Ada puluhan pesan dari berbagai nomor dan grub chat yang ia


ikuti. Ada pesan dari grup kampus yang mengingatkan acara wisuda,minggu depan.


Bahkan Larasati hampir lupa soal wisuda itu. Ada beberapa pesan dari suster di


rumah sakit,yang bertanya kenapa ia tiba-tiba berhenti bekerja. Dan pesan-pesan


lain dari teman-temanya yang menanyakan kabarnya.


Jarinya terus menggulir kebawah,setelah menemukan pesan yang


ia cari,gadis itu tersenyum tipis dan membuka pesan itu. Beberapa pesan yang


dikirim oleh seseorang yang ia beri nama “Pangeranku” dengan dua tanda hati


merah.


(Aku udah nyampe tadi sore.)


(Maaf,nggak langsung ngabari kamu. Ada pasien gawat darurat


yang harus aku tangani. Ini baru selesai)


(Sayang,kamu sudah tidur ya?) pesan terakhir yang dikirim pukul 12.15


Larasati tersenyum membaca pesan itu,lalu jarinya mendial


sebuah nomor. Bebrapa saat menunggu,sebuah suara yang masih terdengar nyaring


menyahut disebrang telephone.


“halo,kamu belum tidur Yang?”


“udah tadi,ini kebangun. Kamu kok belum tidur juga?”


“lagi nunggu kabar dari kamu” pria itu tersenyum tipis


disana.


“apa? Kamu tau aku bakal kebangun?”


“hehehe,ya kali aja. Eh,ternyata bener kamu bangun.”


“oooohh.” Suaranya terdengar lesu.


“kamu kenapa?” rupanya hal itu disadari oleh pria disebrang

__ADS_1


sana.


“aku mimpi buruk tadi,ini masih agak deg degan.”


“mimpi apa?” ia juga penasaran.


“Aku mimpi ada di sebuah tempat yang diselimuti kabut.


Tempat yang gelap,sepi,dan berbau amis seperti darah. Lalu aku melihat


sekumpulan Vampir yang sedang berkelahi,dan ada seorang perempuan berambut


perak dan berpakaian seperti peri disana.”


“Apa yang perempuan itu lakukan?”


“Dia hanya duduk sambil tersenyum. Dan,saat aku


bertanya,kenapa mereka berkelahi. Dia bilang...” kata-katanya terhenti,lalu


menghela nafas panjang.


“Apa?” Pria itu sedikit cemas mendengar penuturan


kekasihnya.


“Dia bilang,ini semua karena aku. Aku bingung apa maksud


perempuan itu. Sebelum aku menemukan jawaban,segerombolan makhluk bertaring dan berwajah menyeramkan,


berlari mengejarku. Aku takut Sakti,semua ini seperti nyata.” Suara Laras


terdengar bergetar.


“ini Cuma mimpi sayang. Kamu jangan takut ya.”


Kalau kamu dekat,pasti sudah ku dekap erat dalam pelukanku. Hatinya terasa nyeri mendengar


keluh kesah Larasati.


“Semoga saja.”


“Kamu belum ngantuk?” Tanya Sakti.


“ini udah mulai ngantuk lagi,kamu temenin aku sampai


tidur ya?”


“ya udah,kamu matiin telfonnya,kita VC aja.”


Tak selang lama sebuah panggilan vidio masuk ke Hpnya. Pangeranku memanggil. Ia


segera menggeser layar, untuk menerima panggilan itu.


Wajah tampan Sakti langsung terlihat memenuhi layar. Tengah


malam begini,kok masih ganteng,eh.


“halo sayang” suaranya terdengar lembut, senyum manisnya


benar-benar meluluhkan hati Larasati.


“hai” tersenyum


“sekarang kamu baring,taruh HP kamu di ranjang. Posisikan


agar aku bisa liat kamu lagi tidur.”


Larasati mengikuti perintah Sakti tanpa protes. Gadis itu


berbaring di atas ranjang,lalu memiringkan tubuhnya kesebelah kiri,mengambil sebuah guling dan


menyandarkan ponselnya di sana.


“anggep aja ini latihan.” Kata Sakti


“eh,latihan apa?” tanya Laras.


“kalau kita nikah,kan bakalan tidur bareng.” Ada sesuatu


yang menggelitik hatinya saat mengatakan itu.


“Apa sih kamu.” Larasati menarik selimut untuk menutupi


wajahnya yang terasa panas karena kata-kata Sakti.


“Aku bakal cerita sesuatu,kamu mau denger?”


“Emang aku anak kecil? Yang dibacaain dongeng sebelum


tidur.”


“Udah jangan cerewet,dengerin aja.”

__ADS_1


“Iya sayang.” Jawabnya pasrah sambil tersenyum


“Pada zaman dahulu.”


“Buahahaha,ini bener aku mau didongengin?” Larasati tertawa


terbahak mendengar kalimat pembuka cerita.


“Dengerin dulu dong!”


“maaf,maaf,ayo lanjut Pak.” Bibirnya masih mengulas senyum


geli.


“Hiduplah seorang Putri yang sangat sombong. Putri itu


selalu menolak setiap Pangeran yang datang untuk melamarnya. Semua ia anggap


tidak pantas. kurang inilah,kurang itulah,semua-semua ia tolak. Bahkan ada yang


ia hina hingga sakit hati dan mengibarkan bendera perang dengan kerajaannya.


Namun,Putri itu tak perduli. Ia malah merasa bangga,karena kecantikannya memang


tiada duanya.” Menarik nafas,lalu melanjutkan ceritanya. Mata larasati mulai


terkantuk-kantuk,tapi bibirnya tersenyum.


“Pada suatu hari,datanglah seorang prajurit biasa yang


berniat untuk melamarnya. Prajurit itu sangat gagah dan tampan,tatapan matanya


tajam seperti elang. Entah mengapa,hati Putri itu bergetar saat melihat sorot


matanya. Ratu dan Raja terheran-heran,bagaimana seorang Prajurit biasa bisa


menggoyahkan gunung kesombongan sang Putri.” Tersenyum,melihat Laras yang sudah


mulai memejamkan mata.


Berbakat juga aku jadi pendongeng,Sakti terkikik dalam


hati. Lalu melanjutkan ceritanya. “aku mau menikah dengannya,Ayah. Kata sang


Putri. Sontak semua isi istana gempar mendengar penuturannya. Kenapa


Putriku,kenapa kamu memilih Prajurit biasa ini? Padahal selama ini,kamu selalu


menolak setiap Pangeran yang datang melamarmu? Kata Sang Ratu,kaget."


“Ayah,Ibu,bukankah cinta tak pernah butuh alasan?. Jawab


Putri itu dengan tenang. Semua orang diam membisu,ada yang kaget,ada yang


bingung,ada juga yang menyela dalam hati,mengatainya aneh. Tapi putri itu


terlihat tenang,tak perduli dengan apapun pendapat orang tentangnya. Ini


hidupnya sendiri,dia yang akan menjalani,bukan orang lain. Aku akan menikahi


siapa pun yang bisa membuat hatiku bergetar,hanya dengan menatap matanya,aku bisa


tau kalau dia pria yang tepat. Tambahnya. Tapi kenapa kamu selalu menolak para Paneran itu,dengan berbagai alasan Putriku? tanya Raja."


"Karena aku tak melihat kesungguhan di mata mereka,jawab sang Putri. Akhirnya perjalanan cinta sang putri


sombong,terpaut pada seorang Prajurit biasa.”


“Cinta tak pernah butuh alasan sayang,begitu juga cintaku


sama kamu. Aku akan selalu buat kamu bahagia. Aku akan berusaha menjaga kamu


selamanya.”


Tapi Larasati tak menyahut,gadis itu sudah terlelap dalam


mimpi indahnya. Itu terlihat dari senyummya yang terus merekah,walaupun sudah


tertidur. Sakti mengakhiri panggilan itu,membiarkan kekasihnya menikmati mimpi


indahnya.


“aku harus mengawasi kamu mulai sekarang,sepertinya ramalan itu akan terus menghantui kamu. Aku berharap, kamu bukan manusia dalam ramalan


itu. Aku nggak akan rela jika itu benar,aku bisa gila kalau harus lihat kamu


jadi korban. Aku akan jaga kamu Laras,tak akan kubiarkan siapapun menyakiti


kamu. Dalam mimpi sekalipun.” kata Sakti pada dirinya sendiri.


Sakti lalu berjalan kearah balkonnya,memandang


semburat jingga diufuk timur. Pagi hampir tiba,dan ia belum terlelap

__ADS_1


sedikitpun.


__ADS_2