
TENG TENG TENG.
Jam besar yang ber ada di lantai bawah rumah Keluarga Handam
Wijaya berdentang dua belas kali,menandakan kalau saat ini adalah waktu tengah
malam. Larasati terbangun dengan keringat dingin disekujur tubuhnya. Nafasnya
naik turun tak beraturan,jantungnya terasa berdetak lebih cepat. Kenapa mimpi
ini datang lagi,pikirnya. Mimpi yang pernah ia alami beberapa waktu yang lalu.
Laras lalu meraih segelas air yang berada di atas nakas
dekat tempat tidur. Menghabiskannya hingga tetes terakhir lenyap, melewati
kerongkongannya yang terasa kering. Menarik nafas panjang dan mengeluarkannya
lewat mulut beberapa kali. Ia merasa lebih baik sekarang. Mimpi buruk yang baru
saja ia alami,tiba-tiba melintas lagi di kepalanya. Ia bergidik
ngeri,tengkuknya tiba-tiba merinding. Apa maksud semua ini?
Tak mau terlarut dalam ketakutan,ia turun dari ranjang dan
pergi kekamar mandi untuk membasuh wajahnya yang berkeringat. Berharap bayangan
mimpi itu juga lenyap terhapus percikan air diwajahnya. Ia merasa lebih lega
sekarang,wajahnya terasa segar. Tapi,kantuknya juga lenyap. Saat keluar dari
kamar mandi,ia melirik penanda waktu yang tergantung didinding kamarnya. 12.30.
Apa yang akan aku lakukan tengah malam begini,gumamnya pada diri sendiri.
Ponsel nya terlihat berkedip-kedip diatas meja rias. Rupanya
ia lupa mematikan ponsel itu sewaktu mencharger tadi. Larasati melangkah menuju
meja riasnya,menarik kursi dan duduk di depan kaca besar yang memantulkan
wajahnya yang terlihat pucat. Ia melirik sekilas bayangannya, Apa aku setakut
itu tadi? Lalu meraih ponsel dan memeriksa notifikasi yang masuk disana.
Ada puluhan pesan dari berbagai nomor dan grub chat yang ia
ikuti. Ada pesan dari grup kampus yang mengingatkan acara wisuda,minggu depan.
Bahkan Larasati hampir lupa soal wisuda itu. Ada beberapa pesan dari suster di
rumah sakit,yang bertanya kenapa ia tiba-tiba berhenti bekerja. Dan pesan-pesan
lain dari teman-temanya yang menanyakan kabarnya.
Jarinya terus menggulir kebawah,setelah menemukan pesan yang
ia cari,gadis itu tersenyum tipis dan membuka pesan itu. Beberapa pesan yang
dikirim oleh seseorang yang ia beri nama “Pangeranku” dengan dua tanda hati
merah.
(Aku udah nyampe tadi sore.)
(Maaf,nggak langsung ngabari kamu. Ada pasien gawat darurat
yang harus aku tangani. Ini baru selesai)
(Sayang,kamu sudah tidur ya?) pesan terakhir yang dikirim pukul 12.15
Larasati tersenyum membaca pesan itu,lalu jarinya mendial
sebuah nomor. Bebrapa saat menunggu,sebuah suara yang masih terdengar nyaring
menyahut disebrang telephone.
“halo,kamu belum tidur Yang?”
“udah tadi,ini kebangun. Kamu kok belum tidur juga?”
“lagi nunggu kabar dari kamu” pria itu tersenyum tipis
disana.
“apa? Kamu tau aku bakal kebangun?”
“hehehe,ya kali aja. Eh,ternyata bener kamu bangun.”
“oooohh.” Suaranya terdengar lesu.
“kamu kenapa?” rupanya hal itu disadari oleh pria disebrang
__ADS_1
sana.
“aku mimpi buruk tadi,ini masih agak deg degan.”
“mimpi apa?” ia juga penasaran.
“Aku mimpi ada di sebuah tempat yang diselimuti kabut.
Tempat yang gelap,sepi,dan berbau amis seperti darah. Lalu aku melihat
sekumpulan Vampir yang sedang berkelahi,dan ada seorang perempuan berambut
perak dan berpakaian seperti peri disana.”
“Apa yang perempuan itu lakukan?”
“Dia hanya duduk sambil tersenyum. Dan,saat aku
bertanya,kenapa mereka berkelahi. Dia bilang...” kata-katanya terhenti,lalu
menghela nafas panjang.
“Apa?” Pria itu sedikit cemas mendengar penuturan
kekasihnya.
“Dia bilang,ini semua karena aku. Aku bingung apa maksud
perempuan itu. Sebelum aku menemukan jawaban,segerombolan makhluk bertaring dan berwajah menyeramkan,
berlari mengejarku. Aku takut Sakti,semua ini seperti nyata.” Suara Laras
terdengar bergetar.
“ini Cuma mimpi sayang. Kamu jangan takut ya.”
Kalau kamu dekat,pasti sudah ku dekap erat dalam pelukanku. Hatinya terasa nyeri mendengar
keluh kesah Larasati.
“Semoga saja.”
“Kamu belum ngantuk?” Tanya Sakti.
“ini udah mulai ngantuk lagi,kamu temenin aku sampai
tidur ya?”
“ya udah,kamu matiin telfonnya,kita VC aja.”
Tak selang lama sebuah panggilan vidio masuk ke Hpnya. Pangeranku memanggil. Ia
segera menggeser layar, untuk menerima panggilan itu.
Wajah tampan Sakti langsung terlihat memenuhi layar. Tengah
malam begini,kok masih ganteng,eh.
“halo sayang” suaranya terdengar lembut, senyum manisnya
benar-benar meluluhkan hati Larasati.
“hai” tersenyum
“sekarang kamu baring,taruh HP kamu di ranjang. Posisikan
agar aku bisa liat kamu lagi tidur.”
Larasati mengikuti perintah Sakti tanpa protes. Gadis itu
berbaring di atas ranjang,lalu memiringkan tubuhnya kesebelah kiri,mengambil sebuah guling dan
menyandarkan ponselnya di sana.
“anggep aja ini latihan.” Kata Sakti
“eh,latihan apa?” tanya Laras.
“kalau kita nikah,kan bakalan tidur bareng.” Ada sesuatu
yang menggelitik hatinya saat mengatakan itu.
“Apa sih kamu.” Larasati menarik selimut untuk menutupi
wajahnya yang terasa panas karena kata-kata Sakti.
“Aku bakal cerita sesuatu,kamu mau denger?”
“Emang aku anak kecil? Yang dibacaain dongeng sebelum
tidur.”
“Udah jangan cerewet,dengerin aja.”
__ADS_1
“Iya sayang.” Jawabnya pasrah sambil tersenyum
“Pada zaman dahulu.”
“Buahahaha,ini bener aku mau didongengin?” Larasati tertawa
terbahak mendengar kalimat pembuka cerita.
“Dengerin dulu dong!”
“maaf,maaf,ayo lanjut Pak.” Bibirnya masih mengulas senyum
geli.
“Hiduplah seorang Putri yang sangat sombong. Putri itu
selalu menolak setiap Pangeran yang datang untuk melamarnya. Semua ia anggap
tidak pantas. kurang inilah,kurang itulah,semua-semua ia tolak. Bahkan ada yang
ia hina hingga sakit hati dan mengibarkan bendera perang dengan kerajaannya.
Namun,Putri itu tak perduli. Ia malah merasa bangga,karena kecantikannya memang
tiada duanya.” Menarik nafas,lalu melanjutkan ceritanya. Mata larasati mulai
terkantuk-kantuk,tapi bibirnya tersenyum.
“Pada suatu hari,datanglah seorang prajurit biasa yang
berniat untuk melamarnya. Prajurit itu sangat gagah dan tampan,tatapan matanya
tajam seperti elang. Entah mengapa,hati Putri itu bergetar saat melihat sorot
matanya. Ratu dan Raja terheran-heran,bagaimana seorang Prajurit biasa bisa
menggoyahkan gunung kesombongan sang Putri.” Tersenyum,melihat Laras yang sudah
mulai memejamkan mata.
Berbakat juga aku jadi pendongeng,Sakti terkikik dalam
hati. Lalu melanjutkan ceritanya. “aku mau menikah dengannya,Ayah. Kata sang
Putri. Sontak semua isi istana gempar mendengar penuturannya. Kenapa
Putriku,kenapa kamu memilih Prajurit biasa ini? Padahal selama ini,kamu selalu
menolak setiap Pangeran yang datang melamarmu? Kata Sang Ratu,kaget."
“Ayah,Ibu,bukankah cinta tak pernah butuh alasan?. Jawab
Putri itu dengan tenang. Semua orang diam membisu,ada yang kaget,ada yang
bingung,ada juga yang menyela dalam hati,mengatainya aneh. Tapi putri itu
terlihat tenang,tak perduli dengan apapun pendapat orang tentangnya. Ini
hidupnya sendiri,dia yang akan menjalani,bukan orang lain. Aku akan menikahi
siapa pun yang bisa membuat hatiku bergetar,hanya dengan menatap matanya,aku bisa
tau kalau dia pria yang tepat. Tambahnya. Tapi kenapa kamu selalu menolak para Paneran itu,dengan berbagai alasan Putriku? tanya Raja."
"Karena aku tak melihat kesungguhan di mata mereka,jawab sang Putri. Akhirnya perjalanan cinta sang putri
sombong,terpaut pada seorang Prajurit biasa.”
“Cinta tak pernah butuh alasan sayang,begitu juga cintaku
sama kamu. Aku akan selalu buat kamu bahagia. Aku akan berusaha menjaga kamu
selamanya.”
Tapi Larasati tak menyahut,gadis itu sudah terlelap dalam
mimpi indahnya. Itu terlihat dari senyummya yang terus merekah,walaupun sudah
tertidur. Sakti mengakhiri panggilan itu,membiarkan kekasihnya menikmati mimpi
indahnya.
“aku harus mengawasi kamu mulai sekarang,sepertinya ramalan itu akan terus menghantui kamu. Aku berharap, kamu bukan manusia dalam ramalan
itu. Aku nggak akan rela jika itu benar,aku bisa gila kalau harus lihat kamu
jadi korban. Aku akan jaga kamu Laras,tak akan kubiarkan siapapun menyakiti
kamu. Dalam mimpi sekalipun.” kata Sakti pada dirinya sendiri.
Sakti lalu berjalan kearah balkonnya,memandang
semburat jingga diufuk timur. Pagi hampir tiba,dan ia belum terlelap
__ADS_1
sedikitpun.