Bukan Cinta Biasa (Vampire Love Story)

Bukan Cinta Biasa (Vampire Love Story)
Calon Mantu


__ADS_3

Pukul 00.30 di atap gedung Star Group.


Sakti benar-benar memenuhi janjinya untuk datang. Perempuan itu sudah duduk anggun menunggunya. Gaun hitam dengan model sangat terbuka membalut tubuhnya yang indah sempurna. Sebenarnya jika dilihat secara fisik,perempuan ini tak ada celanya.


Glek. Tanpa sadar Sakti menelan ludahnya. Sial ! Perempuan ini pintar sekali memilih baju. Apa dia mau menggodaku,kenapa tidak telanjang saja sekalian. Aku bisa bebas bicara,dia kan tidak punya kemampuan membaca pikiran. Sakti tertawa jahat dalam hati.


“Anda benar datang Pangeran,saya sangat tersanjung,” berdiri. Membungkukkan badan,membuat bagian depan tubuhnya tak sengaja terlihat oleh kedua mata Sakti.


Sakti membuang pandangan kearah lain. Tak mau lebih tergoda lagi. Jujur saja dia sebenarnya kesepian,hasratnya tak tersalurkan karena Larasati sedang semedi. Dia pria normal dan tidak munafik. Tapi,menjaga kesucian bukan hanya tugas seorang perempuan. Begitu Sakti meyakinkan diri.


Tau begini aku tak akan datang.


“Kau bisa pegang janji seorang Kasatria,” ucapnya dingin.


“Silahkan duduk Pangeran. Saya sudah menyiapkan menu spesial untuk kita,”


Cih,kita? Loe aja kalee gue enggak.


Sakti duduk. Menatap dua gelas kaca yang berisi cairan merah pekat. Itu darah.


“Ini darah hewan Pangeran,Anda tidak perlu khawatir. Karena saya juga tidak minum darah manusia lagi,hanya sesekali jika sedang terdesak,” mereka perlu minum darah manusia agar tetap hidup abadi atau menyembuhkan luka dan sakit yang diderita.


Sakti diam. Mengalihkan pandangan menatap kerlip lampu di kota. Entah mengapa,Sakti merasa ada niat buruk dari sikap sopan dan lembut perempuan ini. karena dia tak memikirkan apapun didalam kepalanya. Semua seperti sudah terencana.


Bella menyodorkan gelas padanya. Sakti menerima dan meminumnya. Ah,segarnya.


Selama ini ia tak pernah makan dengan benar,hubungannya dengan orang tua Larasati belum membaik. Sakti akan berangkat lebih dulu dan pulang terlambat setiap harinya. Dia tak mau ada pertengkaran lagi dengan orang tua Laras. Entah mengapa orang tua Laras juga masih membiarkan ia ada dirumah itu.


Sakti memegang kepalanya yang tiba-tiba pusing. Pandangannya mengabur,dan entah dia sudah tak ingat apapun lagi.

__ADS_1


Bella tersenyum tipis melihat Sakti yang sudah tak berdaya. Rencananya berhasil. Ramuan itu sudah mulai bereaksi,membuat Sakti tak sadarkan diri. Bella bangun dari duduknya,dan membawa Sakti pergi dari sana dengan mudahnya.


Mereka sudah sampai disebuah kamar. Bella membawa Sakti ke vilanya,merebahkan tubuhnya diranjang. Sakti masih memejamkan matanya. Bella duduk disampingnya,tangannya terulur untuk membelai wajah Sakti. Dari mata,hidung,bibir dan turun kedada. Jemarinya lincah melepas satu persatu kancing kemeja Sakti. Bella mendekatkan kepalanya,“Bangunlah,agar kita bisa bercinta,”bisiknya mendesah ditelinga Sakti.


Perlahan mata Sakti terbuka. Pandangannya masih mengabur,tapi ia tahu ada seseorang perempuan yang sedang duduk disampingnya,entah siapa. Perempuan itu meraba bagian tubuhnya yang menegang,mengusapnya. ******* kecil keluar dari mulutnya,tapi tunggu,bau tubuh ini bukanlah bau tubuh istrinya.


Sakti mencoba bangun,mencampakkan kasar tangan yang bergerilya di tubuhnya. Tapi kepalanya sangat pusing dan berputar-putar. Tapi ia sekuat tenaga bertahan. “Jangan sentuh aku,kamu bukan istriku!” hardiknya.


Perempuan itu diam,dia sudah berada dibelakang tubuh Sakti. Memeluknya,menciumi punggung,leher dan telingannya bergantian. Sakti mencoba bangun,tubuhnya sempoyongan. Dalam kebingungannya Sakti mengancingkan lagi kemejannya yang sudah terbuka.


Bella secepat kilat mendekat,tak membiarkan Sakti mendapatkan kesadarannya. Tanpa ba bi bu dia menubrukkan bibirnya pada bibir Sakti,********** dengan hasrat menggebu. Sakti sempat terlena dan membalas ciuman itu. tapi akal sehatnya masih bekerja,dia sedang menghianati istrinya sekarang. Serta merta dia mendorong tubuh Bella,


“Apa yang kau lakukan Bel? Kau benar-benar gila,” nafasnya naik turun,ada amarah yang bergejolak didadanya.


“Ya aku memang gila. Aku sudah tergila-gila padamu,jadi bercintalah denganku malam ini,” Bella hendak mencium Sakti lagi,tapi Sakti menahan tubuh Bella dengan tangannya. Pandangannya mulai ia dapatkan,tapi pemandangan yang pertama ia lihat adalah tubuh Bella yang sudah benar-benar polos dihadapannya. Entah kapan perempuan itu mencampakkan gaunnya.


Sakti mendorong lagi tubuh Bella,“Apa urat malumu sudah putus? Kau bahkan bertingkah seperti perempuan murahan?” Sakti berjalan keranjang dan melemparkan selimut pada Bella. Dia sudah sadar sepenuhnya. Lalu berbalik badan. Dari ujung matanya Sakti melihat Bella meraih selimut itu dan menutupi tubuhnya.


Pandangannya sesekali mengawasi Bella yang tiba-tiba diam membisu,perempuan itu terduduk dilantai. Menutup wajahnya dengan tangan. Dia menangis. Tapi Sakti tak perduli.


“Jemput aku sekarang Thom,” ucapnya setelah teleponnya tersambung,”Nanti aku sharelock lokasinya,tidak aku tak lagi disana,” diam mendengarkan,”Hmm,” Sakti menutup panggilannya.


Tanpa berkata apa-apa lagi Sakti pergi dari tempat itu. neraka yang hampir membuatnya mengkhianati Larasati,tapi untunglah Tuhan masih melindunginya. Hingga ia tak tergoda dengan perempuan lain yang bahkan rela menyerahkan tubuhnya.


Brak. Sakti membanting pintu keras. Menuruni tangga dan segera berlari keluar dari tempat itu. Thomas sudah menunggunya didepan pintu gerbang. Secepat angin dia datang.


Bella masih duduk bersimpuh diatas lantai. Isak tangisnya semakin keras setelah kepergian Sakti dari tempat itu. Rencananya gagal,dan itu membuat Sakti semakin membencinya. Bukankah pria suka dengan wanita cantik,bukankah mereka akan memakan makanan yang sudah tersaji? Tapi kenapa? Kenapa Pangeran bahkan malah jijik melihatku? Aku bahkan sudah merendahkan harga diriku. Aaaaaaaa. Sebegitu cintakah kau pada manusia itu. lihat saja nanti apa yang akan ku lakukan gumamnya.


Sepanjang malam Bella hanya menangis dan menghancurkan barang dikamarnya untuk melampiaskan amarahnya.

__ADS_1


>>>


Sakti sampai dirumah hampir pagi. Ia bergegas masuk kedalam rumah setelah Thomas pergi. Menuju kamarnya dan segera mengguyur tubuhnya dikamar mandi. Entah mengapa dia merasa jijik karena tangan Bella sudah menggerayangi tubuhnya.


Adzan subuh terdengar berkumandang di masjid dekat kompleks. Hatinya berdesir,entah mengapa pagi ini dia ingin sholat subuh dimasjid. Setelah mandi dia mengambil air wudhu. Lalu mengganti pakaiannya dengan baju sopan. Kemeja lengan panjang dan sebuah sarung. Dia sudah belajar memakai sarung dari Y**tobe. Besuk dia akan membeli baju koko juga,karena dia memang belum punya.


Sebuah peci hitam bertengger dikepalanya,menyampirkan sajadah di pundak. Sebelum pergi dia mendekati Larasati. pandangannya tertuju pada perut Laras yang sudah terlihat membuncit diusia kandungannya yang baru dua minggu.


“Bertahanlah sayang,aku akan selalu disampingmu. Aku akan berdoa kepada Tuhan,agar diberikan kebaikan untuk kita semua. Semoga Tuhan mau mendengarkan doa seorang iblis sepertiku,” Sakti tersenyum getir.


Sesampainya di masjid,Sakti berpapasan dengan Kyai Jamal dan Emma,dan seorang pemuda yang tak dikenal.


“Assalamualaikum Kyai,” sapa Sakti.”


“Waalaikum salam warohmatullohi wabarokatuh,” jawab Kyai Jamal.


“Waalaikum salam,” jawab Emma dan pemuda itu.


“Subhanalloh,rajin sekali anda beribadah Dik,” kata Kyai Jamal.


“Ah,tidak Kyai. Saya juga masih belajar,” jawab Sakti malu. Dia belum pantas untuk dipuji.


“Apa kabar nona Emma?” Sakti menyapa


“Baik Mas,” Emma menundukkan kepala.


“Kalau ini?” menatap pemuda yang sedari tadi tersenyum kearahnya,


“Oh,ini Iqbal. Calon mantu saya,” Kata Kyai Jamal mengenalkan.

__ADS_1


Apa? Calon mantu? Pupus sudah harapanmu Thomas.


__ADS_2