Bukan Cinta Biasa (Vampire Love Story)

Bukan Cinta Biasa (Vampire Love Story)
Berkunjung ke Sarang Penyamun


__ADS_3

Larasati masih tersenyum-senyum sembari memandangi benda mungil yang tergantung di lehernya. Matanya masih terlihat berkaca-kaca,terharu. Tak menyangka Pria yang ia rindukan punya sisi romantis juga.


 


 


Ungkapan cinta yang ia tuliskan pada kertas kecil itu,cinta sederhana,katanya. Laras lagi-lagi tersenyum. Kamu mengajarkan aku untuk ikhlas dalam mencintai Sakti,sebuah cinta tanpa pamrih. Mencintai seseorang ya karena memang aku cinta,karena cinta tak pernah butuh alasan.


 


 


Laras lalu menatap lagi layar komputer didepanya. Kenapa aku jadi nggak fokus begini. Kalau tadi ada yang mergokin aku lagi ngelamun,apa coba kata mereka. Mentang-mentang anak Presdir bisa kerja seenaknya,pasti begitu kan.


 


 


Kring kring kring,telephone khusus di meja kerjanya berbunyi tiga kali. Dengan senyum yang masih terkembang,ia mengangkat gagang telepon dan mendekatkan ke telinganya,”Halo Pak,ada yang bisa saya bantu?”


 


 


”Kamu kesini sekarang,” Suara Presdir memerintah di sebrang.


 


 


“Baik Pak,” Ada apa ini? bertanya dalam hati.


 


 


Larasati meletakkan kembali gagang telepon pada tempatnya,matanya sesekali melirik ke Ruangan Presdir yang berjarak sekitar sepuluh meter di hadapannya. Gadis itu lalu berdiri,merapikan sedikit pakainnya. Dan berjalan anggun ke depan pintu ruangan Presdir.


 


 


Terdengar perintah untuk masuk setelah ia mengetuk pintu tiga kali.


 


 


“Bapak panggil saya?” tanya Laras.


 


 


“Hmm,duduk,” Melirik sekilas sambil membetulkan kacamata yang bertengger di atas hidungnya. Pria paruh baya itu sedang menandatangani sebuah berkas.


 


 


Laras menggeser kursi dan duduk disana,”Ada apa ya Pak?”


 


 


“Kamu antarkan berkas penting ini ke LUXURY Corp.” Menutup pulpen,lalu menyerahkan berkas warna hijau pada Larasati.


 


 


“Kenapa harus saya Pak?” kenapa lagi papa nyuruh aku,males banget ketemu CEO aneh itu.


 


 


“Karena ini berkas penting,dan kamu sekretaris saya. Ini sudah tugas kamu kan?” bicara dengan nada datar,ada senyum tipis disana.

__ADS_1


 


 


“Baik Pak,akan saya antarkan,”


 


 


“Pakai mobil kantor,minta sopir untuk mengantar kamu,” Bagaimanapun gadis ini putrinya.


 


 


“Baik Pak,saya permisi.” Berdiri dan membungkuk sopan.


 


 


Dengan perasaan sedikit kesal ia berangkat ke gedung Luxury corp. Bukan karena perintah ayahnya,tapi ia sedikit tidak menyukai orang-orang yang akan ia temui. Bos dan sekretaris aneh itu. Larasati masih ingat betul bagaimana cara mereka menatap dirinya. Misterius.


 


 


Kakinya melangkah dihalaman luas gedung raksasa itu. Semua mata memandangnya dengan tatapan aneh. Ada apa? Mendekatkan layar ponsel ke wajahnya,nggak ada yang aneh kok di wajahku. Kenapa semua orang melihatku begitu. Tatapan mata mereka seperti bilang,kamu orang asing,mau apa datang kemari. Kantor macam apa ini,apa ini sarang penyamun? Menyebalkan.


 


 


Dengan perasaan dongkol yang semakin bertambah karena sikap angkuh para karyawan disana,Larasati memasuki pintu utama dan mendekat ke meja recepsionis.


 


 


“Selamat pagi mbk,saya ada perlu dengan Tuan Luke. Apa beliau ada?” tanya Larasati sopan. Masih tersenyum meski hatinya sedikit terusik. Lagi-lagi ia mendapatkan tatapan aneh dari wanita penunggu meja panjang didepannya. Ada apa dengan semua orang di kantor ini,pasti mereka semua tertekan karena bosnya menyebalkan.


 


 


 


 


Ya Tuhan,apa tadi aku lupa berdoa sebelum keluar kantor. Sehingga aku sampai ditempat yang salah,pikiran konyol mulai menghantui kepalanya. Ia menoleh sekeliling,jelas-jelas papan yang berdiri di depan pintu itu menunjukkan kalau ia tak salah alamat.  Berpikir sebentar sebelum menjawab,”Coba anda hubungi dulu,tolong katakan kalau saya Stela Larasati dari Wijaya Groub ingin bertemu,”


 


 


“Silahkan tunggu sebentar,” Melirik sekilas sambil menekan nomor di pesawat telepon.


 


 


Setelah beberapa saat menunggu dan mendengarkan laporan resepsionis kepada bosnya. Larasati dipersilahkan masuk dan menuju lantai tertinggi gedung ini. dimana ruangan pimpinan berada. Gadis itu lalu melangkah menuju sebuah lift dan masuk kesana. Menekan nomor lantai yang ingin ia tuju, kotak besi itu terasa bergerak perlahan ke atas. Sedikit lama,karena gedung ini memang tinggi menjulang.


 


 


Ting. Pintu lift terbuka. Menarik nafas panjang sebelum melangkah keluar dari sana. Tiba-tiba ada perasaan aneh yang menggelitik hatinya. Gadis itu mencoba berdoa meminta perlindungan kepada Tuhan,semua pasti baik-baik saja. Tapi tempat ini kenapa menyeramkan begini sih. Mana jendelanya ditutup semua lagi,ini kan siang bolong. Aneh.


 


 


Dengan debaran jantung yang mulai tak beraturan,Larasati memberanikan diri mengetuk pintu didepannya. Sedikit lama ia berdiri di depan pintu,karena tak ada sahutan apapun dari dalam. Mendekatkan telinga ke daun pintu. Sepi. Tadi katanya ada.


 


 

__ADS_1


Tiba-tiba pintu terbuka dengan posisi kepala Larasati yang masih menempel di daun pintu. Hingga membuat gadis itu hampir terjungkal karena kaget dan kehilangan keseimbangan. Sekretaris yang selalu tampil seksi itu tersenyum sinis memandangnya,lalu berdecih pelan.


 


 


“Maaf,saya kira tadi tidak ada orang. karena saat saya mengetuk pintu tidak ada jawaban,” Sedikit mundur,sambil merapikan bajunya.


 


 


“Kami sedang diskusi penting tadi. Maaf kalau membuat anda menunggu Nona Stela,” Membasahi bibirnya,lalu mengusapnya dengan sebuah tisu yang tadi ia genggam.


 


 


Diskusi macam apa yang bisa membuat Lipstik berantakan. Kenapa aku jadi mengurusi mereka,terserah apa yang akan mereka lakukan. Bukan urusanku.


 


 


“Tidak apa-apa Nona. Saya kemari ingin mengantarkan berkas ini. Dan Presdir bilang saya harus memberikan berkas ini langsung kepada Tuan Luke.”


 


 


“Oh,silahkan masuk. Anda sudah ditunggu,”


 


 


“Terimakasih Nona,”


 


 


CEO yang terlihat menyebalkan meski dalam jarak yang cukup jauh itu,sedang memandang aneh padanya. Pria itu tersenyum tipis. “Silahkan duduk Nona Laras. Saya sangat tersanjung anda mau datang ke tempat saya ini.”


 


 


“Saya kemari atas perintah Presdir,untuk menyerahkan berkas ini kepada Bapak,” Kenapa aku merasa berhadapan dengan seorang pria hidung belang,kalau tak ingat tempat sudah ku colok matanya itu.


 


 


Pria itu terus mengamati Larasati dari ujung kaki hingga ujung kepala,pandangan matanya terus terpatri pada bagian bawah leher gadis itu. Aku merasakan kekuatan magis disana,tapi apa. Aku tak bisa melihatnya karena tertutup pakaian gadis itu. “Tapi tetap saja,setiap pertemuan kita adalah hal yang membahagiakan untuk saya.” Lagi-lagi tersenyum aneh.


 


 


Kata-kata manis itu,kenapa terdengar menjijikkan ditelingaku. aku harus segera pergi dari tempat ini,“Ini berkasnya Tuan. Maaf saya sedang banyak urusan,saya permisi dulu.” Berbalik setelah menyerahkan berkas.


 


 


SreeeK,tiba-tiba tubuh pria itu sudah mencegat langkahnya,”Kenapa terburu-buru Nona,hmmm?” pandangan matanya terlihat mengerikan.


 


 


Larasati kaget bukan kepalang,kenapa dia cepat sekali. Siapa orang ini sebenarnya,aku benar-banar merasa berada di sarang singa. Selamatkan aku Tuhan. Ia terus berdoa dalam hati berharap seseorang menyelamatkannya dari situasi mencekam ini.


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2