
Semua mata memandang tak percaya pada Larasati yang terlihat mundur menjauhi meja itu. Apa yang sedang terjadi didepan sana? Semua orang bertanya,dalam benak atau dengan teman disampingnya. Harusnya manusia itu belum berhenti mengisi cawan suci dengan darahnya. Apa dia berubah pikiran? Tapi kenapa? Mereka masih tak mengetahui jika cawan suci itu sudah penuh.
“Cawan itu penuh,” tutur Raja Charles. Dia satu-satunya orang yang mengetahui hal apa yang baru saja terjadi di kuil itu. Cahaya biru yang melesat kedalam cawan,sudah dipastikan adalah Dewa-Dewi Lautan yang diutus untuk membantu Larasati,pikir Raja.
Thomas dan Sakti tersentak,ini berita bagus,pikir mereka sama. Berarti Larasati akan selamat. Sakti tersenyum senang. Tapi,ada satu hal yang mengusiknya. Kok bisa? Bukankah legenda mengatakan bahwa cawan itu tak pernah terisi penuh meski diisi seluruh air dilautan?
“Yang membuat cawan itu penuh,bukanlah apa yang kau tuangkan kedalamnya,tapi siapa dan bagaimana caramu menuangkan isinya. Kesabaran,keiklasan dan kebesaran hati adalah kuncinya,” Raja menjawab pertanyaan di kepala mereka.
“Laras? gumam Sakti. Rasanya dia ingin berlari dan memeluk istrinys itu sekarang. Tapi,tunggu,apa yang akan dilakukan Larasati? Matanya menangkap gerakan Larasati yang berjalan menuju tangga disebelah cawan Api Suci.
“Ayah?” Sakti meminta jawaban.
“Biarkan dia melakukan apapun yang dia inginkan. Percayalah pada istrimu,dia pasti kembali padamu,” kata Raja tenang. Tak ada sedikitpun kekhawatiran yang diperlihatkan oleh pria itu. Matanya juga tak lepas memandang langkah-demi langkah Larasati yang menapaki anak tangga menuju puncak tertinggi.
Bahkan Api Suci sama sekali tak melukainya,apa yang akan dilakukan manusia itu?
Didalam kuil yang diselimuti dindin energi,Larasati dengan tenang berdiri diatas anak tangga teringgi. Menghadap kedalam cawan raksasa di bawah kakinya. Api birunya terasa sangat panas dan menyalak ganas. Seakan ingin menelan tubuhnya dalam kobaram yang menggebu.
Larasati tak bergeming. Dia tidak takut.
Larasati memejamkan mata,merasakan sengatan panas api yang menjilati kakinya. Gaun putihnya mulai terbakar api,tapi gadis itu masih tak bergeming,seolah api itu tak akan melukainya. Bulan purnma masih berwarna merah. Dia harus segera membebaskan Dewi Amora yang terperangkap dalam tubuhnya. Demi kejayaan bangsa pemburu. Dan mereka tak lagi akan menyerang manusia.
Sakti yang melihat itu membulatkan matanya sempurna. Tak percaya. Dari mana Larasati mendapatkan keberanian seperti itu. Panas Api Suci bahkan bisa membakar klan pemburu,tapi kenapa istrinya malah seolah menikmati kobaran api yang mulai membakar gaunnya. Sakti ingin berlari dan menarik Larasati pergi dari sana. Tapi lagi-lagi Thomas menahannya.
__ADS_1
“Jangan hentikan aku Thomas,aku tak mau Larasati mati terbakar didalam Api Suci,” Sakti bicara dengan nada marah dan geram yang tertahan. Matanya berubah merah menyala,sepasang taring juga muncul di balik bibirnya.
“Tidakkah anda melihat Nona baik-baik saja Pangeran? Entah apa yang bisa membuatnya seperti itu,tapi saya akui Nona adalah manuisa istimewa,” Kata thomas tenang.
“Tapi Thom?” Melihat lagi,dan sekarang Larasati besrsiap melompat kedalam cawan raksasa.
“Laras jangan sayang,jangan lakukan itu,,!” Sakti berlutut,tak kuasa menahan gejolak hatinya yang terasa ikut terbakar. Tubuhnya lemas seketika.
“Tabahkan hatimu putraku. Dia pasti kembali,ada malaikat penjaga disekelilingnya,”Kata Raja kemudian.
Sakti tak mendengar apa yang dikatakan Raja. Telinganya mendadak tuli,pandangannya mengabur,dia terus menunduk menahan gejolak hatinya. Lebih baik ia bertarung di medan perang dari pada harus melihat Larasati terbakar didalam Api Suci. Kenapa aku tak bisa melakukan apa-pa untuk wanita yang aku cintai,aku benar-benar tidak berguna. Sakti terus memaki dan menghujat atas ketidak berdayaannya dalam melindungi istrinya sendiri.
Ya Tuhan apa yang bisa aku lakukan?
“Laras,tidaaaakkk,,!”Sakti tak lagi bisa menahan tangisnya. Pria itu menangis tersedu hingga bersimpuh tertumpu pada lututnya. Sakti mengusap wajahnya berkali-kali. Ia berusaha menguatkan diri,tapi kenyataan ini tertalu sulit untuk diterimanya.
Thomas menepuk pelan bahunya,memberikan dukungan moril yang tak merubah apaun perasaan yang sedang membuncah didadanya. Kehilangan seorang istri yang sangat dia cintai.
Perlahan tapi pasti,awan merah berangsur menghilang. Mengembalikan cahaya rembulan kembali putih bersinar. Sebuah cahaya putih terbang diatas api biru,lalu perlahan berubah menjadi sosok Sang Dewi Bulan,Dewi Amonra penjaga negri para pemburu. Dewi bulan tersenyum manis pada semua mata yang memandangnya. Pengorbanan dari seorang manusia pilihan telah membebaskannya dari belenggu kutukan itu.
Dewi itu melihat sekilas kearah Sakti,lalu tersenyum. Dia mengucapkan banyak terimaksih lewat sorot matanya. Lalu Dewi Bulan terbang mengangkasa kembali kesinggasananya di Kerajaan Langit.
Tak ada yang tahu bagaimana nasip Larasati didalam kobaran api itu. Tak ada yang perduli,karena menganggap itu adalah suatu keharusan dan fungsi kehidupannya selama ini. KECUALI Sakti dan keluarganya.
__ADS_1
Sakti tak perduli dengan Dewi itu. Hanya satu yang ada di kepalanya sekarang. Dia ingin Larasati kembali. Apa itu mungkin? Dia ragu,tubuh Laras sudah terbakar didalam api biru,mungkin sekarang sudah menjadi abu. Sakti tak kuasa membayangkan,tangisnya semakin pecah. Malam ini dia menjadi vampir paling cengeng didunia.
Semua klan pemburu bersorak bahagia. Mereka bergegas pulang setelah Dewi itu kembali ke istana Langit. Para rakyat pemburu ingin merayakan pesta sendiri bersama orang-orang terdekat mereka. Peristiwa bersejarah ini,pantas dirayakan.
Perlahan tapi pasti satu persatu orang kembali kerumah atau ketempat pesta mereka. Meninggalkan bukit persembahan dengan perasaan senang luar biasa. Esok mereka akan mulai hidup baru,tanpa kekurangan satu apapun.
Dan dibalik semua itu,Sakti berduka diatas kebahagiaan semua orang. Dia masih setia berlutut meghadap Api Biru yang terlihat semakin besar. Raja Charles pergi untuk mengambil darah Larasati. Meletakkannya disebuah peti khusus ukuran sedang,"Bawa darah ini ke Istana,darah ini akan menjadi obat para manusia itu," pintanya pada Thomas. thomas hanya mengangguk sopan,lalu melirik Tuannya yang terlihat menyedihkan. Air matanya tak berhenti mengalir.
"Mari kita pulang Pangeran,Nona sudah bahagia di surga," kata Thomas. Dia tak menyangka jika Larasati benar-benar tak kembali. tapi hati kecilnya seakan menolak kenyataan didepan matanya. Entahlah.
"Kau pergi saja duluan," jawab Sakti,tanpa memandang Thomas.
Thomas terdiam. untuk saat ini,Pangeran itu memang butuh waktu untuk menenangkan diri. Akhirnya Thomas kembali ke Istana bersama Sang Raja. Meninggalkan Sakti sendirian disana.
Semburat jingga diufuk timur sudah mulai tampak samar. Hari sudah pagi. Sakti menyeka sudut matannya. entah berapa lama dia menangis bersimpuh ditempat ini. Dia bangkit,menguatkan diri. Perlahan dia berbalik arah menuju Istana. Sekarang yang ada di kepalanya,bagaimana cara menjelaskan pada kedua orang tua Laras jika ia kembali tanpa istrinya.
Kakinya melangkah gontai,meninggalkan bukit persembahan. Tapi,tiba-tiba hidungnya mencium bau yang istimewa,perlahan Sakti menolehkan kepalanya kebelakang. Matanya membulat sempurna. Jantungnya seperti berhenti berdetak. Sesosok perempuan cantik memakai gaun putih berdiri dibelakangnya. Rambut panjangnya yang berwarna biru berkibar tertiup angin. Matanya berwarna biru berlian seperti dirinya. Perempuan itu menyingkirkan rambut yang menutupi wajahnya,karena terbawa angin. menyelipkan dibelakng telinganya.
Sakti masih membeku. Tak tahu reaksi apa yang harus ia lakukan,pandangan matanya mengikuti gerakan tangan perempuan itu. Perlahan langkah kakinya mendekat,memastikan apa yang dilihatnya bukanlah halusinasi. Perempuan itu diam,menunggunya mendekat,dia tersenyum manis yang menggetarkan hati.
Tanpa sadar Sakti mengulurkan tangan meraba tanda dibelakang telinga perempuan itu. Ukiran indah bergambar bulan sabit yang memangku Api Suci. Gadis ini adalah manusia dalam ramalan itu. Pandangan matanya beradu dengan sosok cantik didepannya.
"Kau tidak ingin mengajak aku pulang?" tanya Perempuan itu pada Sakti.
__ADS_1