
Dokter Sakti Dirgantara sudah kembali ke ruangan prakteknya.
Merebahkan diri diatas sofa panjang yang tiba-tiba menjadi sahabatnya hampir satu bulan ini. 9.30 pagi. Perutnya belum ter isi apapun pagi ini. Diluar juga masih hujan,meski sedikit reda. Sakti mencoba memejamkan mata,mengusir penat dan lelahnya. Dalam bayangannya wajah Laras terlintas sedang tersenyum manja. Menggemaskan.
Dokter Sakti lalu bangun,merogoh ponsel disaku jasnya. Mengetikkan sebuah pesan dilayar
benda pipih itu.
Pagi sayang,sudah sarapan? Disini hujan deras banget. Aku lagi
di Rumah Sakit sekarang. Send.
Tersenyum,lalu menggeser layar ke folder galerinya. Melihat koleksi foto yang ia ambil diam-diam. Foto Larasati dengan berbagai pose natural. Tersenyum,melengos,makan,dan
sebagainya. Yang sengaja ia ambil tanpa sepengetahuan Laras. Senyummu adalah semangatku,gumamnya.
Tak lama ada bunyi notifikasi masuk ke ponselnya. Dewi kesayanganku mengirim pesan balasan.
Pagi juga yang,sudah tadi bareng Mama-Papa. Kamu sendiri sudah makan? Disini juga hujan.
Mengetik balasan,mengabaikan pertanyaan soalmakan. Kamu lagi ngapain? Kangen aku nggak? Tersenyum.
Lagi tiduran di kamar,ini kan hari libur. Kok kamu masih nanya,emang pesanku tadi nggak nyampe ya? Pesan balasan Laras.
Jarinya terus menari diatas layar. Nggak ada pesan dari kamu tuh. Terkirim.
Coba kamu tanya hujan,apa angin sudah mengatakan sesuatu?
Dokter Sakti diam. Ia tahu apa maksudnya pesan ini. Lalu jemarinya kembali menuliskan pesan. Maaf ya,kalau aku terlalu egois. Mulai sekarang aku akan sempatkan kasih kabar ke kamu. Sesibuk apapun aku. Aku sayang kamu Laras.
__ADS_1
Hehehe,cie yang lagi melow. Maaf juga ya kalau aku egois. Tapi aku nggak tenang kalau kamu nggak ada kabar,karena aku, juga sayang kamu. Gadis itu tersenyum disebrang sana. Kenapa aku jadi manja begini sih,pikirannya memaki.
Acara kirim pesan itu harus terhenti karena kedatangan Thomas. Sakti mengantongi ponselnya kembali,saat pengawal setianya itu berdiri di dekat sofa. Menundkkkan kepala memberikan hormat. Ditangannya tergantung tas kecil seperti yang selalu ia bawa. Bekal makan sang Dokter.
“Kenapa kau lama sekali?”
“Maaf Tuan,karena hujan,sulit sekali mencari buruan di hutan. Ini sarapan Anda,” Menyerahkan botol dari dalam tas.
“Terimakasih Thomas,” Membuka tutup botol dan menghabiskan isinya dalam sekali teguk. Tubuhnya terasa lebih segar. Apa jadinya kalau aku berhenti minum darah? Tiba-tiba pikiran itu melintas begitu saja.
“Sama-sama Tuan?”
“Apa yang kau dapatkan?” meletakkan botol di atas meja.
“Katakan!”
“William Luke adalah seorang pemburu Tuan. Dia anggota klan Devils. Dan perusahaan yang ia dirikan,hanyalah sebuah ilusi untuk mengelabuhi Nona Larasati. Semua karyawannya adalah iblis dan siluman.”
Sakti tersentak,jantungnya berdegub kencang. Jadi benar dia pria itu. seorang pemburu yang pernah menjadi Rivalnya di masa lalu. Tanpa ia sadari,bibirnya bergumam lirih. Maafkan aku, Bella.
“Apa Dia juga menginginkan darah Larasati?”
“Sepertinya begitu Tuan,tapi entah mengapa. Dia tidak menyerang Nona Laras,waktu itu. nona Laras dibiarkan pergi begitu saja,tanpa terluka sedikit pun,”
“Jadi begitu ya,Dia ingin membalasaku rupanya.” Gumamnya lirih,tapi masih bisa didengar oleh Thomas.
__ADS_1
“Dan satu lagi Tuan,” Tambah Thomas.
“Virus itu?”
“Benar. Virus itu ber asal dari negri kegelapan. Kita biasa menyebutnya Roofdier Virus atau RV(dibaca arvi). Sebuah virus mematikan yang biasa digunakan saat perang. Biasanya akan dioleskan pada senjata atau taring para pemburu. Yang akan membunuh musuh dengan perlahan. Tapi sepertinya dosis yang digunakan untuk manusia tak lebih dari seper delapan dosis,”
“Begitu saja sudah bisa membuat ratusan nyawa melayang. Apa ada obatnya?”
“Menurut informasi yang ada. Virus itu sudah musnah bersama penangkalnya ratusan tahun lalu. Entah bagaimana bisa muncul lagi sekarang. Tak ada jejak yang ditinggalkan oleh sang pelaku. Semuanya seperti sudah terencana sebelumnya,” Jelas Thomas.
“Jadi,apa solusimu?” Satu pertanyaan yang butuh banyak jawaban.
“Bagaimana kalau kita pergi ke Negri kegelapan. Pasti Baginda Raja tau sesuatu. Mengingat usia Beliau yang hampir seribu tahun. Dan tentang Nona Laras,apa perlu kita mengajaknya?”
Dokter Sakti terlihat berpikir sebentar. Kemudian menjawab,”Aku akan pergi dengan Larasati kesana. Aku tidak bisa meninggalkan dia jika ada pemburu disekitarnya. Urus keberangkatanku ke kota Y besok.” Menyandar pada sofa,menghela nafas panjang. Semoga ini jalan terbaik,gumamnya lirih.
Dilain tempat,di waktu yang berselisih sekitar 30 menit dari kota X.
Larasati masih bergulung dibawah selimutnya,sambil tersenyum. Kembali membaca deretan pesan yang selalu ia simpan dari beberapa bulan yang lalu. Ia sedikit terperanjat saat melihat waktu. Sudah siang ternyata. Hawa dingin seperti menahannya untuk setia dengan selimut tebalnya. Kehangatan yang menenangkan. Tapi aku harus bangun. Berjalan malas ke depan meja riasnya,mengambil sisir dan menatap bayangannya yang lesu di kaca besar.
Matanya terbelalak,lalu terpejam. Hilang? Apa itu tadi yang ku lihat di cermin? Apa aku sedang berhalusinansi? Tapi,itu seperti bayangan wanita yang ada dalam mimpiku. Larasati memegang tengkuknya yang tiba-tiba merinding.
Sesosok bayangan wanita tiba-tiba muncul didalam cermin. Bibirnya menyeringai jahat. Menampilkan deretan gigi putih dan sepasang taring yang memanjang hingga ke tepian bibir bawahnya. Ia bergidik ngeri,bayangan itu muncul lagi,lalu menghilang. Bersama semilir angin yang dingin,terdengar suara lirih yang menggelitik pendengarannya,”Datanglah Larasati,aku menunggumu,”katanya.
“Siapa tadi yang bicara?” Tanya Laras. Lagi-lagi hawa dingin merayapi belakang lehernya. Mengerikan. Larasati menoleh ke kanan,ke kiri,berputar,tak ada siapaun disini. Hatinya terus bertanya,pikirannya menduga. Ini pasti bukan mimpi,aku harus cari tau maksud semua ini,gumamnya pada diri sendiri.
__ADS_1