
Hari ini cuaca sedikit gerimis di luar sana. Titik-titik air
terlihat membasahi kaca jendela. Tetesan kecil yang membawa suka atau pun duka.
Gerimis akan terasa indah jika kita sedang berada di bawah satu payung dengan
orang yang di cinta. Namun gerimis juga akan membawa luka bagi hati yang sedang
merana. Menanti kabar dari seseorang yang jauh disana. Rindu itu memang
berat,benar kata kamu Dilan.
Larasati terus memandang percikan air yang menerpa kaca
jendela di samping meja kerjanya. Melirik benda pipih yang tergeletak di atas
meja. Sebuah ponsel yang selalu ia periksa lima menit sekali. Berharap ada satu pesan yang datang dari seseorang
yang ia tunggu.
“permisi Mbk Laras” suara seorang karyawan perempuan
mengagetkan lamunannya.
“Eh iya,kenapa Mita?” kata Laras.
“ini ada paket buat Mbk Laras.”
“paket?” dahinya mengreyit,apa aku pesan sesuatu? Lalu menggelengkan
kepala pelan.
“iya,ini mbk.” Menyerahkan sebuah kotak ukuran kecil kepada
Larasati.
“makasih ya.”
“sama-sama mbk,saya permisi.” Membungkuk hormat sebelum
pergi.
“iya,silahkan.” Tersenyum.
Laras mengamati kotak berukuran kecil yang ada di atas
mejanya. Sebuah kotak warna merah muda dengan pita di atasnya. Meraih kotak itu
dan membolak-balik dengan maksud mencari nama sang pengirim. Nihil. Tak ada
nama atau alamat sang pengirim. Lalu kenapa bisa sampai disini,siapa yang
mengantarkan paket ini,ia bertanya dalam hati.
Menarik pita dan membuka penutup kotak. Ada sedikit
keterkejutan di matanya. Siapa yang mengirim hadiah istimewa ini. cantik
sekali,gumamnya memuji. Ada sebuah kartu ucapan juga. Gadis itu meraih dan
membaca isinya. Jantungnya berdebar membaca setiap untaian kata yang tertulis
rapi di kertas kecil itu. ia sudah tak bisa menahan lagi,bulir bening mengalir
begitu saja bersamaan dengan isak lirih yang tertahan.
Pandangan matanya beralih pada sebuah benda berkilauan di
dalam kotak. Sebuah kalung dengan liontin berbentuk bulan sabit. Dikombinasi dengan
sebuah batu warna merah yang berkilauan di tengahnya. Larasati tersenyum sambil
sesekali mengusap sudut matanya. Dengan debaran jantung yang masih sama bergejolaknya,ia
meraih dan memasangkan benda itu di leher jenjangnya. Aku tau kamu memang yang
terbaik,gumamnya lirih.
Flashback on.
__ADS_1
Kejadian sebelum wisuda Larasati dan yang terjadi
selanjutnya.
Sakti terbangun dari tidurnya pagi ini. Pria itu
menggelengkan kepala pelan,mencoba mengusir pusing yang merayapi kepalanya. Beberapa
hari ini ia tak pernah tidur cukup. Ia terlelap menjelang pagi dan terbangun
sebelum fajar. Tubuhnya terasa lelah,masalah yang terjadi akhir-akhir ini
membuatnya benar-benar bekerja keras. Ia bahkan tidur di rumah sakit beberapa
hari ini. untung Thomas selalu datang membawakannya makanan dan pakaian ganti. Kalau
tidak, mungkin ia juga akan terbaring di salah satu ruang rawat di rumah sakit
ini.
Pria itu duduk bersandar pada sofa yang menjadi tempat
tidurnya beberapa malam ini. Memejamkan mata sambil memijat pangkal hidungnya,kepalanya
masih terasa pusing sekarang. Bayangan wajah cantik seorang gadis melintas di
kepalanya. Bagaimana kabarmu sayang? Bibirnya tersenyum tipis. Setelah kepalanya
terasa lebih baik,ia mencari benda pipih yang jarang ia sentuh karena
kesibukannya di Rumah Sakit.
Benda itu tergeletak di atas meja kerjanya. Sakti mengambil
benda itu,tapi ternyata ponselnya mati. Mungkin batreinya habis,lalu mencari
charger di dalam laci dan menghubungkannya pada ponsel untuk mengisi daya. Setelah
beberapa saat menunggu,ia menghidupkan ponsel itu. lampu notifikasi terlihat
berkedip beberapa kali,menandakan ada pesan yang masuk di sana.
Thomas. Ia tersenyum melihat pesan teratas di daftar chatnya. Sepuluh pesan
dari sebuah kontak yang ia beri nama “ Dewi Kesayanganku”. Jarinya lalu menekan
pelan layar,membaca barisan pesan yang dikirimkan oleh sang dewi kesayangan. Beberapa
pesan yang dikirimkan dalam jangka waktu yang berbeda. Gadis itu tak ingin
menggangu,tapi juga ingin menunjukkan perhatiannya.
“Maaf sayang,pasti kamu merasa terabaikan selama ini. tapi
terimakasih karena kamu mau mengerti,aku juga kangen kamu Laras” gumamnya pada
diri sendiri. Lalu mengetikkan sebuah balasan untuk gadis itu,
(Aku baik-baik saja yang. Terimakasih untuk pengertian kamu.
Meskipun jarak memisahkan kita,percayalah , sayangku Cuma kamu. Love u too.)
Bibirnya terus mengulas senyum,tapi ada sedikit rasa
bersalah di hatinya. Bagaimanapun juga Larasati adalah orang yang penting dalam
hidupnya,Sakti mencintai gadis itu. ia tak mau kehilangan Larasati hanya karena
ia merasa di abaikan. Meski dalam pesan yang ia kirimkan,gadis itu bilang
baik-baik saja dan selalu mendukungnya.
“Anda sudah bangun Tuan?” Thomas datang dengan sebuah tas
kecil ditangannya. Baju ganti Sakti dan sarapan utamanya,darah segar.
“hemm,kau datang lagi? Jangan merasa terbebani denganku
Thomas,hiduplah seperti yang kau inginkan.” Katanya tenang. Kesetiaan Thomas
__ADS_1
memang tak perlu diragukan lagi.
“ini sudah kewajiban saya Tuan. Anda adalah calon Raja yang
harus saya lindungi.”
“aku percaya padamu,kamu memang yang terbaik.”
“terimaksih Tuan. Ini sarapan anda.” Mengambil sebuah botol
gelap dari dalam tas,dan memberikannya pada Sakti.
Sakti menerima botol itu dengan tangan kanannya. Membuka tutupnya
dan menyesap isinya hinga tetes terakhir. Darah segar memang sumber energi
terbaik. Tubuhnya terasa lebih segar.
“Tuan,dua hari lagi Nona Laras akan wisuda. Apa anda tidak
ingin memberikan sesuatu untuknya.”
“benarkah? Kenapa Larasati tidak bilang. Menurutmu apa yang
harus aku berikan?” sedikit bangun dari posisi bersandarnya.
“sesuatu yang bisa menjaganya dari kaum pemburu.”
“maksudmu?”
“saya merasakan aroma pemburu disekitar Nona Larasati. tapi
saya belum bisa menemukannya. Alangkah lebih baik jika kita bisa memberikan
sesuatu yang bisa menyamarkan bau darah Nona. Agar Nona aman dari serangan para
pemburu yang sewaktu-waktu menemukannya.”
“benar,kamu benar Thomas. Aku tak bisa didekatnya
sekarang,terimakasih atas saranmu Thomas.”
“sama-sama Tuan.”
Sakti lalu berdiri,mengambil sebuah kalung yang selalu ia
bawa kemanapun ia pergi. Sebuah benda yang mempunyai kekuatan magis bangsa
pemburu,penyamaran. Kalung itu akan menyamarkan bau darah Larasati dari penciuman
tajam kaum pemburu. Memandangnya sebentar,lalu terlintas ide untuk memberikan
kartu ucapan."berikan ini setelah acara wisudanya." pintanya pada Thomas.
"baik Tuan"
Dengan senyum yang terus terkembang ia menuliskan kata demi
kata pada secarik kertas kecil. Untaian kata yang mewakili perasaanya,terlihat
norak. Tapi ia suka.
Dear Dewi Kesayanganku
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
Dengan kata yang tak sempat diucapkan
Kayu kepada api yang menjadikannya abu
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
Dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
Awan kepada hujan yang menjadikannya tiada
Dan jika semesta waktu hendak mengukur cintaku
Ia harus berulang kali mati untuk berulang kali hidup kembali
__ADS_1
(Sapardhi Djoko Damono,dengan revisi author)