Bukan Cinta Biasa (Vampire Love Story)

Bukan Cinta Biasa (Vampire Love Story)
kencan


__ADS_3

" Ketika rasa cinta sudah menghampiri dua insan berbeda,memang benar seakan dunia milik berdua."


 


 


Sakti dan Oma sedang berbincang di ruang tamu sambil menunggu Larasati yang tengah bersiap. Kostumnya hari ini lain dari biasanya. Pria itu memakai sebuah celana pendek dan sebuah kaos putih polosyang dibalut kemeja motif daun yang dibiarkan terbuka kancingnya.


 


 


Dokter ini terlihat santai tapi tetap tampan seperti biasa. Memang ya,kalo orang ganteng pake apa aja tetep mempesona. Hari minggu ini mereka benar-benar ingin menghabiskan waktu berdua saja. Untuk lebih saling mengenal satu sama lainnya.


 


 


“Saya nggak nyangka lho. Laras ternyata bisa deket sama Dokter ganteng,” Oma terkikik geli dengan kata-katanya sendiri. Ia benar-benar senang mengetahui kemajuan hubungan mereka.


 


 


“Minta doanya aja ya Oma,”kata Sakti.


 


 


“Ayo Pak,saya sudah siap,” Larasati menghampiri mereka dengan memakai gaun bermotif bunga-bunga dengan panjang selutut. Sangat kontras dengan warna kulitnya yang putih. Cantik sempurna.


 


 


“Dokter,itu dilap dulu mulutnya,” Oma tersenyum jahil melihat ekspresi Sakti yang melongo.


 


 


“Hah?” refleks Sakti langsung mengusap sudut bibirnya. Sial,aku dikerjai rupanya.


 


 


Oma sontak tertawa terbahak-bahak.


 


 


“Oma iseng banget deh. Ya udah Laras berangkat dulu ya,” Meraih tangan Oma dan menciumnya sopan.


 


 


“Iya,hati-hati dijalan,” Masih tersenyum mengalahkan sinar cerah mentari diluar sana.


 


 


“Kami berangkat Oma,” Sakti ikut berpamitan dan menyalami Oma Maria yang masih melemparkan senyum jahil padanya. Larasati hanya menggelengkan kepala melihat tingkah Omanya yang terkadang seperti remaja. Tapi jujur ia senang karena mendapat restu dari sang Oma.


 


 


Hari ini mereka ingin berjalan-jalan ke pantai. Selama disini Larasati belum sempat benar-benar liburan. Tak terasa hampir dua bulan ia tak pulang kekotanya. Mamanya sudah beberapa kali menanyakan kepulangannya,karena sang papa ingin ia segera membantu mengurus perusahaan. Tapi sepertinya gadis itu masih ingin menikmati waktunya bersama Sakti disini.


 


 


Setelah menempuh perjalanan hampir dua jam. Mereka tiba disebuah pantai berpasir putih. Hamparan laut berwarna biru terbentang luas dihadapan mereka. Sepasang sejoli itu beriringingan menyusuri bibir pantai.


 


 


“Kamu suka pantai?” tanya Sakti.


 


 


“Suka. Dokter pernah kesini?”


 


 


“Pernah sekali. Eem,kamu nggak pengen panggil aku apa gitu?”Sakti tersenyum mengulum bibirnya.


 


 


“Hah? Manggil apa emang?”


 


 


“Ya masak nggak ada bedanya,jadi pacar sama nggak,” Membuang muka kearah lain.


 


 


“Oooooh itu. Emang kamu maunya aku panggil apa?” Laras sedikitBgeli sebenarnya dengan permintaan Sakti ini. Tak menyangka,kalau seorang Vampir juga ingin dimanja.


 


 


“Cieeee,ngomongnya aku, kamu,” Sakti menoel-nowel pipi Laras yang merona.


 


 


“Apa an sih kamu,” Laras tersenyum sambil menoleh.


 


 


“Ehm,sayang. Cari minum yuk!” Kata Sakti sambil tersenyum.


 


 


Larasati tertawa pelan,”Hayuk,” kenapa panggilan ini terdengar geli, bukan romantis ya,hingga ia tak kuat untuk menahan tawa saat Sakti memanggilnya dengan kata sayang.


 


 


Mereka terus bercengkrama dan bercanda sambil menyusuri pantai. Sandal keduanya mereka tenteng disebelah tangan masing-masing. Terlihat sangat serasi dan bahagia,siapapun yang melihatnya pasti akan berdecak iri.

__ADS_1


 


 


Langkah mereka terhenti pada sebuah pondok yang menjual es kelapa muda. Ada banyak orang yang sudah duduk melepas penat disana. Menikmati segarnya air kelapa dan berteduh di bawah pohon. Ada juga yang memilih selonjoran di dalam pondok sambil menikmati makan siang mereka.


 


 


Sakti dan Laras memilih duduk di sebuah meja yang berada di bawah pohon. Duduk berhadapan,dan saling tatap sambil menyeruput es kelapa mudanya. Bibir keduanya tak henti-hentinya mengulas senyum ceria.


 


 


Inikah namanya cinta,oh inikah cinta. Terasa bahagia saat jumpa,cieeeee.


 


 


“Sayang,kamu nggak mau lanjut cerita yang kemarin?” Larasati kembali membahas topik yang membuatnya penasaran dari kemarin. Kehidupan Sakti yang penuh misteri.


 


 


Pria itu  tersenyum mendengar panggilan Laras. Jadi begini ya rasanya dipanggil sayang. Hatinya berdesir senang. “kamu pesen makan dulu gih,ini udah siang lho. Nanti kamu sakit,” Mencoba mengalihkan pembicaraan.


 


 


“Entar aja,aku mau denger lanjutannya kemarin,” Masih kekeh menjawab.


 


 


“Hadeh,kamu ini keras kepala juga ya ternyata?” Sakti mengacak rambut Laras,gemas.


 


 


“Iya dong,baru tau ya?”


 


 


“Nggak juga,he he he,”


 


 


“Ya udah ayo cerita,” Kata Laras tak sabar.


 


 


“Oke oke. Kamu mau tanya apa? Aku berasa lagi ngomong sama wartawan ini,”


 


 


“Sayang ih,aku serius ini,”


 


 


 


 


“Kenapa kamu pake nama Muhammad Sakti? Bukan nama asli kamu,”


 


 


“Karena aku suka,” Jawab Sakti dengan entengnya.


 


 


Larasati langsung cemberut,karena lagi-lagi Sakti bercanda. Ia melengos dan membuang mukanya, pura-pura merajuk seperti bocah.


 


 


“Ulu-ulu,cantiknya pacarku ini. Jadi gemes kan aku.” Sakti menjembel pipi Laras dengan gemas.


 


 


Tapi gadis itu malah diam tak merespon,bener ngambek ya Neng?


 


 


“Nama itu adalah pemberian papa Charlie. Beliau sendiri bernama Muhammad Charlie. Selain itu,karena iblis seperti aku ini sangat mengagumi sosok seorang manusia bernama Muhammad itu,” Tutur Sakti panjang lebar,matanya seperti menerawang mengingat sesuatu.


 


 


Laras diam,mendengarkan.


 


 


“Nama itu selalu aku dengar disetiap sudut di belahan dunia yang pernah ku datangi. Semua orang menyebut dan memujinya. Hingga aku merasa penasaran,orang seperti apa dia ini. Kenapa begitu dikagumi disetiap penjuru negri. Dalam setiap generasi,ia selalu disebut dan diagungkan. Aku, waktu itu berpikir apa dia seorang dewa? Tapi ternyata bukan,dia manusia biasa. Sosok manusia spesial yang disayangi Tuhannya,”


 


 


Mereka berdiri dan melanjutkan cerita sambil berjalan menyusuri putih pasir pantai. Obrolan panjang lebar mereka masih berlanjut.


 


 


“Hingga aku diam-diam mendengarkan setiap mulut yang membicarakannya. Ada yang bilang dia itu matahari yang menyinari seluruh dunia. Menyatukan segala perbedaan dan ketidakwarasan sifat manusia dalam satu kepercayaan yang nyata. Tuhan,”


 


 


“Lalu kenapa kamu tidak memilih untuk mengikuti agamanya?”


 


 

__ADS_1


“Karena aku merasa tidak pantas,” jawabnya sendu.


 


 


“Apa yang buat kamu ngerasa kaya gitu?”


 


 


“Karena aku seorang Vampir. Tidak ada agama yang membenarkan tindakan bangsa kami. Membunuh manusia untuk diminum darahnya. Bagaimanapun aku tidak bisa melawan atau merubah takdirku sebagai seorang Vampir. Aku hanya bisa hidup dengan minum darah. Darah hewan atau pun manusia,” Jelas Sakti. Dia sebenarnya merasa tak nyaman menceritakan hal tabu seperti ini.


 


 


“Kamu masih suka berburu?”


 


 


“Tidak lagi. Sudah 100 tahun lamanya,aku hanya makan dan minum darah yang dicarikan Thomas. Aku sudah berhenti berburu,tapi aku masih minum darah manusia untuk tetap kuat dan bertahan. Sebelum aku bertemu denganmu. Cuma kamu satu-satunya manusia yang ingin aku serang tapi juga ingin aku lindungi,aneh bukan?” Sakti tersenyum sinis.


 


 


“Salahkah jika aku juga ingin disayang Tuhan?seperti Muhammad itu. Meski aku tahu,aku tak pantas mendapatkannya. Aku tak mungkin jadi manusia,aku hanya berusaha memanusiakan diriku,” Netranya menerawang jauh kedepan. Menatap hamparan iar di lautan.


 


 


“Kamu salah Sakti. Kamu jangan merasa tak pantas dengan dirimu. Kasih sayang Tuhan lebih besar dari yang kamu kira. Kamu harus percaya itu. Tuhan menyayangi setiap makhluknya tanpa syarat. Kamu salah kalau berpikir Tuhan hanya menyayangi orang yang rajin sembahyang. Kasih sayang Tuhan nggak bisa digambarkan tapi selalu bisa dirasakan bagi siapa saja yang mau berpikir dan bersyukur.” Tuur Laas lembut.


 


 


 


 


“Aku juga bukan orang suci,bukan orang baik. Dosaku juga banyak,tapi aku yakin Tuhan masih sayang aku. Itu aja.” Tambahnya


 


 


“Makasih Laras. Aku sayang kamu,” Mengusap lembut puncak kepala Larasati.


 


 


“Sama-sama. Aku juga,”


 


 


Semburat jingga telah tampak di ufuk barat. Indah sekali,mahakarya Tuhan memang tiada duanya. Sepasang makhluk berbeda ini terus bercanda menikmati waktu libur mereka. Berkejar-kejaran,bermain air,bergandengan tangan menyusuri tepi pantai. Merasakan setiap debaran jantung mereka yang tengah senang.


 


 


“Laras,apa kita akan tetap bersama?” Tanya Sakti. Mereka berdiri berhadapan,berpegangan tangan.


 


 


“Ya nggak lah,kita kan belum sah,” Larasati membuang muka kearah lain. Bahunya berguncang menahan tawa.


 


 


“Jadi,kamu mau aku lamar?” Sakti serius bertanya. Membuat Larasati langsung menata kearahnya.


 


 


“Lamar? Secepat ini?” kali ini Laras juga memasang wajah serius. Padahal tadi ia Cuma bercanda. Bener-bener Vampir satu ini.


 


 


“Hmmm. Ayo kita menikah?” matanya lekat menatap gadis yang tengah terbengong itu.


 


 


Glek,Larasati menelan salivanya. Aku memang cinta,tapi nikah tiba-tiba? nggak lucu juga.


 


 


“He he he,kalau soal itu kamu ngomong dulu gih sama papa. Minta restu mereka. Aku juga belum kenal keluarga kamu kan?”


 


 


“Keluarga ku ya? Yakin kamu mau kenal mereka?” nadanya terdengar ragu. Apa jadinya nanti kalau gadis ini ia bawa ke negri Vampir. Pasti akan menimbulkan huru-hara di kerajaannya. Secara Larasati adalah gadis yang mereka yakini memiliki darah emas. Kepalanya tiba-tiba pusing memikirkan kejadian yang belum terjadi. Masih khayalannya tapi sudah bikin pusing.


 


 


“Ya,iya,” Larasati mantab menjawab. “Besok kita pulang ke rumahku ya,kita temui orang tuaku,” Mengeratkan genggaman tanganya pada Sakti.


 


 


“Oke,kalo itu mau kamu,”


 


 


Mereka kembali ke rumah Oma,saat rembulan sudah menggantung di langit bersama hamparan para bintang. Sakti pamit pulang setelah mengantarkan Laras. Mereka benar-benar senang hari ini. berharap kebahagiaan ini selalu mereka rasakan dan tak ingin berakhir.


 


 


Semoga Tuhan merestui cinta kita.


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2