
Minggu pagi di kota Y.
Kicauan burung terus terdengar sepanjang pagi ini. seekor burung kecil mungil berwarna coklat sedang bernyanyi diatas sebuah dahan. Entah dia menyanyi untuk dirinya sendiri,atau untuk memanggil seekor teman.
Nyonya Martha mendongakan kepala keatas,melihat dimana sumber suara itu berasal. Dia tersenyum,”Apa kau ingin mengabarkan kedatangan seorang tamu,burung kecil?” Tanya Nyonya Martha.
Ditangannya tergenggam selang air yang ia gunakan untuk menyiram tanaman di taman belakang rumahnya. Aktivitas yang ia lakukan setiap minggu pagi. Dihari-hari biasa,para tukang kebunlah yang melakukannya. Dan hari ini,Nyonya Martha melakukan hal yang ia sukai. Berkebun.
Taman ini penuh dengan tanaman bunga dan sayur mayur dengan sistem hidroponik. Terjajar rapi dan terawat memenuhi taman belakang.
“Assalamualaikum,” suara seorang perempuan terdengar dibelakangnya.
“Waalaikumsalam,”Nyonya Martha menoleh kebelakang,mencoba mengenali wajah seorang gadis berhijab dengan dua lesung pipi yang menghiasi senyum ramahnya. “Masya’Allah,Emma,” ucapnya,lalu mematikan selang dan menghampiri gadis itu.
Emma tersenyum,lalu mencium lembut tangan Nyonya Martha,”Tante sehat?”
“Alkhamdulillah sehat. Kamu kapan datang? Kata Kyai Jamal,kamu akan pulang bulan depan,” menggandeng tangan Emma dan mengajaknya masuk kedalam rumah.”Ayo bicara didalam,Tante kangen banget sama kamu. Laras pasti juga kangen banget sama soulmatenya ini,” tertawa kecil
“Emma juga kangen Tan,makannya pas Ayah bilang Laras mau nikah aku buru-buru ngejar skripsi supaya bisa pulang. E,nggak taunya orangnya malah bulan madu,” memasang wajah sedih dan cemberut.
Nyonya Martha tertawa lagi,sahabat anaknya ini tak pernah berubah sejak kecil. Selalu menggemaskan tapi juga perhatian. Emma dan Laras sudah berteman sejak mereka masih di Taman Kanak-kanak. Tapi saat kuliah Emma harus melanjutkan kuliah diluar kota,karena mengikuti ibunya yang pindah tugas disana. Kedua orang tua Emma terpaksa berpisah. Karena Ibu Emma kekeh ingin mengejar impiannya sebagai seorang Dokter. Usia ibunya yang terpaut jauh dari ayahnya,membuat mereka sering berselisih pendapat. Dan akhirnya memutuskan untuk berpisah dengan baik-baik.
Emma dan Nyonya Martha berbincang hangat hingga hampir sore. Sepanjang hari mereka melakukan uji coba untuk membuat kue dengan resep baru. Emma juga bercerita jika dia bekerja paruh waktu sebagai penjaga toko buku. Karena dia memang suka membaca,dan toko buku adalah tempat yang cocok untuknya.
“Nggak kerasa udah sore ya Tan,”menoleh keluar jendela,”Emma pulang ya,besok main lagi kalau Laras udah pulang,” tersenyum,lalu meraih tas selempang kecil yang ia letakkan diatas meja.
“Iya,Laras pasti seneng banget ketemu kamu,” merangkul bahu dan mengusapnya lembut. Emma sudah seperti anaknya sendiri. Nyonya Martha mengantarkan Emma hingga keteras rumah. Mereka masih berdiri berdampingan,sambil mengobrol hal-hal kecil. Sejak tadi seakan tiada habisnya bahan obrolan yang mereka bicarakan.
Belum sempat Emma pergi dari sana,sebuah mobil sedan berwarna hitam memasuki pintu gerbang. Nyonya Martha dan Emma mengikuti dengan pandangan hingga mobil itu berhenti tepat dihadapan mereka.
Thomas turun lebih dulu,lalu membukakan pintu untuk majikannya. Dia belum menyadari keberadaan Emma disana. Seorang perempuan berhijab turun dari mobil itu. Kaca mata hitam bertengger dihidungnya yang mancung.
“Masya’Allah Larasati putriku,” Nyonya Martha berlari kearah putrinya. Dia sempat tak mengenali penampilan baru Larasati. Hijab itu membuat Laras terlihat berbeda,lebih anggun dan cantik.
“Assalamualaikum Ma, Mama apa kabar?” tanya Laras sambil memeluk ibunya. Setelah makan malam kemarin,mereka memutuskan untuk segera kembali,sebelum terlambat. Mereka berencana meminta ijin dulu sebelum kembali ke kota X,dan memberikan penawar virus itu.
“Waalaikum salam,Mama baik. Subhannalloh,kamu pake hijab sekarang? Tambah cantik ih,” tutur Nyonya Martha senang. Matanya berkaca-kaca memandang penampilan baru putrinya.
__ADS_1
Tak selang lama,Sakti turun dari mobil dan menyapa ibu mertuanya. Pria itu terus tersenyum seperti tadi pagi,saat melihat penampilan baru istrinya. Dia tak menyangka,jika Larasati akan merubah penampilannya. Saat Sakti bertanya,Larasati hanya tersenyum tanpa memberitahu alasan yang sebenarnya. Tapi,bagi Sakti apapun alasan istrinya. Dia semakin menyukai Laras yang sekarang.
Disisi lain,tanpa disadari tiga orang yang sedang bertegur sapa itu. Emma sedang berdiri terpaku di teras rumah Laras. Jantungnya tiba-tiba berdebar,ketika Matanya bersitatap dengan mata Thomas. Begitu juga Thomas,entah mengapa dia merasa seperti tersihir untuk membeku. Sebuah gelenyar aneh terasa menggelitik hatinya. Thomas terpesona untuk kedua kalinya.
“Emma?” tegur Laras. Aneh sekali,kenapa sahabatnya itu seperti tak melihat dirinya disana. Lalu Laras mengikuti kemana arah mata Emma memandang. Larasati tersenyum simpul,rupanya ada dua insan sedang terpesona satu-sama lain.
“Hah?” kaget Emma, dia mulai menyadari situasi disana. Setelah matanya bersitatap dengan Larasati,Emma terperangah. Kenapa ia bisa tidak mengenali sahabatnya sendiri,dan malah asik menikmati pemandangan yang membuat hatinya berdesir.
“Laras,aku kangen,” Emma menghambur kepelukan Larasati seperti seorang anak yang merindukan ibunya.
“Masa sih?” kata Laras menggoda,Larasati melepaskan pelukan, “Bukannya kamu tadi lupa sama aku,gara-gara ketemu,,” menunjuk Thomas dengan dagunya.
“Apa sih,” Emma tersenyum malu-malu. “Eh,ini suami kamu?” menatap Sakti yang berdiri disamping Laras.
“Iya,ganteng kan,” larasati tertawa pelan. Emma hanya mencibir,tapi ikut tersenyum juga.
“Saya Fatimah,sahabatnya Laras,tapi biasa dipanggil Emma,” tutur Emma mengenalkan diri. Sembari menangkupkan kedua tangan didepan dada.
Sakti melakukan gerakan yang sama,”Saya Sakti,suaminya Larasati,” jawab Sakti ramah.
“Kalau yang itu Thomas,asisiten suamiku,masih single lho,” ucap Laras dengan senyum jahilnya.
“Kami sudah pernah kenalan Nona,” Thomas tiba-tiba bicara dengan wajah datarnya.
“Eh. Benarkah? Ketemu dimana,” ternyata jiwa kepo Larasati tak pernah berubah meski dia sekarang bukan manusia biasa.
“Itu,ditoko buku,” jawab Emma malu-malu. Tak menyangka jika Pria itu masih mengingat dirinya. Dan entah mengapa itu membuatnya senang.
“Sudah-sudah,ayo masuk kedalam. Emma kamu pulang nanti aja,” pinta Nyonya Martha.
“Aduh gimana ya Tan,aku udah pergi dari pagi soalnya. Kasihan ayah,”sebenarnya dia juga kangen dengan sahabatnya,tapi kewajibannya di rumah sudah menunggunya,”Lagian Laras pasti juga cape,baru dateng dari perjalanan jauh,” tutur Emma.
Mereka hanya manggut-manggut mendengar penuturan Emma,karena semua yang dikatakan Emma adalah benar. “Ya udah deh,besuk main lagi ya?” kata Laras.
“Pasti,” jawab Emma,senyum manis tak pernah luput dari bibirnya.
“Thomas?” Kata Laras,
__ADS_1
“Iya, Nona?” apa anda ingin membantu saya Nona? Thomas tersenyum dalam hati,tapi dia menampilkan ekspresi wajah datar dan dingin kebanggannya.
“Kau bisa mengantar Emma kan? Ini sudah hampir senja,” pinta Larasati. yang langsung membuat Emma membulatkan matanya. Emma ingin menghindar karena malu,malah disuruh pulang bersama Thomas.
“Nggak usah,deket aja kok. Aku udah biasa pulang sendiri,” Emma menolak dengan halus,karena jarak rumahnya memang tak terlalu jauh. Bahkan hanya lima belas menit kalau berjalan kaki.
“Ini mau maghrib lho,aku nggak tenang kalau kamu pulang sendirian,” Larasati memaksa,karena dia memang khawatir.
“Mari Nona,saya antar pulang,” Thomas bicara lagi dengan ekspresi yang sama.
“Tuh kan,Thomas aja mau kok,udah sana,” Larasati mendorong kedua bahu Emma.
“Kamu ngusir aku?” tanya Emma,
“Kan kamu yang mau pulang sayang,” jawab Larasati sambil tertawa.
“Ya udah deh,aku pulang ya,mari Mas,Tante,”Emma menundukkan kepala dan berpamitan,
“Kamu nggak pamit sama aku?” tanya Laras,
“Nggak,kamu nyebelin,” jawab Emma lalu gantian tertawa.
Emma lalu meninggalkan rumah Larasati bersama Thomas yang sudah menunggunya di samping mobil.”Kita naik mobil atau?” Thomas menggantung kalimatnya,
“Kalau Tuan nggak keberatan,kita jalan saja,rumah saya dekat dan masuk ke dalam gang kecil,jadi mobil pun tidak akan bisa sampai rumah,”tutur Emma malu-malu sembari menundukkan kepala. Dia tak berani menatap wajah Thomas.
“Baiklah kalau begitu,” Thomas merentangkan tangan kanannya,”Silahkan jalan duluan Nona,” pinta Thomas kemudian.
Emma dan Thomas berjalan beriringan dibawah senja temaram. Dengan perasaan canggung luar biasa. Hingga mereka hanya diam membisu sepanjang perjalanan. Tak ada yang berniat membuka obrolan,meski hanya basa-basi.
“Sampai disini saja Tuan,” kata Emma. Setelah mereka sampai disebuah gang kecil menuju kompleks perumahan dimana Emma tinggal.
“Apa sudah sampai?” tanya Thomas kaget. Bahkan dia belum sempat mengatakan apapun. Thomas terlalu sibuk memikirkan kata yang tepat,hingga jarak rumah Emma yang memang dekat seakan ingin ia tambah beberapa kilo meter lagi jauhnya.
Emma menangguk pelan,”Terimakasih Tuan,maaf merepotkan,” Emma mengangguk sopan.
“Sama-sama,saya senang bisa bertemu kamu lagi,” kalimat itu lolos begitu saja. Alamak.
__ADS_1
Eh.