Bukan Cinta Biasa (Vampire Love Story)

Bukan Cinta Biasa (Vampire Love Story)
Kamu Mau Jadi Mualaf?


__ADS_3

Mari kita mulai hari ini dengan senyum cerah ceria. Mengalahkan cerahnya sinar hangat mentari pagi yang menerpa bumi. Memberikan kehangatan yang mampu membakar api semangat berkobar didalam diri. Apa yang akan terjadi hari ini? jangan pikirkan. Hidup itu Cuma tinggal melangkah. Kalau jatuh? Ya bangun lagi. Kalau cape? Ya istirahat. Sesederhana itu kok dibuat pusing,,Hehehe(ini kata Author ya)


 


 


Sepertinya bunga-bunga juga sedang mekar ditaman hati Larasati. Bibirnya terus merekahkan senyuman. Pagi ini ia akan bersiap pergi kekantor. Sudah memakai pakaian lengkap khas pegawai kantoran. Sedikit berlenggak-lenggok didepan kaca,masih tersenyum melihat pantulan wajah cantiknya di cermin. Sempurna,gumamnya. Lalu membentuk isyarat love dengan menyilangkan telunjuk dan ibu jari. Tawanya pecah berderai,menyadari tingkahnya sendiri.


 


 


Kenapa aku jadi kaya bocil kasmaran begini sih. Memegang kedua pipinya yang terasa menghangat. Pantulan wajahnya menampilkan pipinya yang merona. Laras tersenyum lagi.


 


 


Aaaaaaa senangnya.


 


 


Bersorak dalam hati. Pesan singkat yang ia terima semalam membuatnya tidur dengan nyaman dan bahagia hingga pagi ini. Kabar bahagia kalau Pangeran pujaan akan datang berkunjung. Yes yes yes,lagi-lagi berjingkrak kegirangan. Bahkan dendangan kecil terdengar dari bibirnya saat menuruni tangga. Sedikit berlari kecil dan melompat saat mencapai anak tanggga terakhir. Berputar lalu membungkukkan badan,kedua tangaanya merentang kesamping. Persis adegan closing saat dipanggung.


 


 


“Selamat pagi semuanya. Cuaca hari ini cerah banget ya,” Menampilkan senyum ceria sejuta watt.


 


 


Kedua orang tuanya sudah menunggunya diruang makan. Duduk pada kursi masing-masing. Pak Handam hanya tersenyum melihat tingkah putrinya.


 


 


“Kayaknya ada yang lagi seneng tuh,” Mama menunjuk Larasati yang berjalan kearah meja dengan dagunya.


 


 


“Biarin aja,Mama kaya nggak pernah muda.”


 


 


“Wajah kamu bersinar banget kayaknya. Ada apa nih?” bertanya Setelah Putrinya duduk anggun di kursi ruang makan.


 


 


“Nggak ada apa-apa kok Ma.”


 


 


“Bohong kamu pasti,” Bu Martha mencibir.


 


 


“Mama cantik,senyum itu bisa membuat kita kuat menjalani hidup yang kejam ini,” kata Laras,tawa pelan terdengar dibalik tangan yang menutupi mulutnya.


 


 


“Ada apa lagi dengan Dokter itu? Cuma dia yang bisa bikin kamu kaya remaja lagi puber,” Melirik Larasati yang masih senyum-senyum,lalu Meletakkan sepotong roti isi kepiring suaminya.


 


 


Mama tau ya? Huaaaaa.


 


 


“EHHm,Sakti mau datang nanti malam. Sekarang mungkin masih di pesawat. Katanya ada yang mau dia omongin sama kita,” Melirik ekspresi Papanya yang terlihat acuh. Kok muka Papa gitu ya?


 


 


Pria itu masih makan dengan tenang. Menyuapkan potongan terakhir ke mulutnya. Menyeruput cangkir kopinya dan meletakkanya kembali diatas tatakan. Larasati hampir sesak nafas menunggu jawaban papanya. Kenapa suasana jadi menegangkan begini sih?


 


 


“Rumah ini akan selalu terbuka untuk siapa saja yang bisa bikin Putri Papa bahagia,” Katanya kemudian. Ada senyum jahil yang muncul disana. Selamat anda kena Prank,hehe


 


 


“Papa ih,bikin deg degan aja,” Menggigit gemas ujung rotinya.


 


 


“Gimana,papa udah cocok belum jadi artis Kangtube yang suka bikin konten ngeprank?” Lalu tertawa kecil. Asik juga ternyata.hehe


 


 


“Papa terlalu baik untuk ngerjain orang. Mending jangan,” Kata Laras santai.


 


 


Canda tawa terus berlanjut hingga waktu berangkat kekantor. Perasaan bahagia akan membuat kita mudah melewati hari. Mari lanjutkan KAMPANYE SENYUM SEJUTA WATT,hehe.


 


 


**


 


 


Malam yang ditunggu-tunggu telah tiba. Sakti mengirim pesan kalau dia sudah sampai tadi siang. Sekarang dia sedang berada di perjalanan menuju rumah Larasati. Yang mau dikunjungi sudah siap sejak tadi. Mondar-mandir didepan pintu. Melirik arloji ditanganya. Kenapa waktu terasa lebih lama kalau kita sedang menunggu. Jarum panjang hanya bergeser dua menit dari terakhir kali aku melihatnya. Apa jamnya rusak? Jarinya mengetuk-ngetuk kaca bulat tak berdosa itu.


 


 


“Jamnya nggak rusak kok sayang. Kamu aja yang nggak sabar, Ayo duduk sini,jangan bikin mama pusing liat kamu kaya setrika,” Melambaikan tangan pada putrinya yang meringis didepan pintu. Bu Martha gemas sekali melihat tingkah Laras yang celingukan tak jelas.


 


 


Larasati menggaruk dahinya yang tak gatal. Mungkin memang benar kata mama,aku terlalu berlebihan. Berjalan mendekat kesofa ruang tamu. Duduk di sofa yang sama dengan sang ibu. Sedangkan sang Papa hanya tersenyum tipis melihat tingkahnya.


 


 


Tenang     aku harus tenang. Jangan kelihatan ngarep banget , meski itu kenyataan.hihik


 


 


Suara deru mobil terdengar dihalaman. Sepertinya yang ditunggu sudah datang. Larasati hampir melomat kegirangan,untung masih bisa ditahan.


 


 


“Tuh Pangeran kamu udah dateng. Sambut dulu sana,” Menyenggol lengan putrinya.


 


 


“Apa sih Ma?  malu tau.” Malu tapi mau? Buktinya dia langsung berdiri,dan berlari ke arah teras.


 


 


“Liat tuh Ma,anak kamu. Persis kaya ibunya.” Melirik sekilas wajah istrinya dari balik kaca mata tebalnya.


 


 


“Tapi Papa suka kan?” tersenyum menggoda.


 


 


“Kalau itu jangan ditanya,” Lalu tertawa pelan bersamaan.


 


 


Sakti turun dari mobilnya. Sendirian. Ada efek cahaya bersinar dibalik punggungya (dalam khayalan Laras,saking terpesonanya.). Pria itu mengenakan kemeja kotak-kotak warna biru yang digulung sampai ke siku. Keren. Sekuntum bunga tak lupa ada di balik punggungnya.


 


 


Kenapa kamu makin ganteng sih,jadi pengen peluk kan. Sabar-sabar belum hahal. Dasar pikiranku.


 

__ADS_1


 


Larasati menyambut kedatangan Sakti dengan senyum sejuta watt. Mengalahkan pancaran lampu bohlam di halaman. Kalau tak ingat malu,mungkin ia sudah menubrukkan diri pada pria itu. Untung saja kewarasannya masih jalan. Jadi bisa menahan diri.


 


 


“Aku lama ya? Kamu apa kabar?” bertanya dengan tersenyum manis. Manis sekali. Sakti mengreyitkan dahi melihat ekspresi Laras. Kekasihnya itu hanya diam sambil terseyum dan menatapnya lekat,”Kenapa aku ganteng ya?” menaik turunkan kedua alisnya.


 


 


“Iya,ganteng banget,”tanpa sadar mengatakan apa yang ada didalam pikirannya. (Pasti malu kamu kalau sadar nanti.)


 


 


“Ha ha,ngaku kan kamu sekarang,” Mencubit gemas hidung laras.


 


 


“Awww,sakit tau. Ngaku apa sih?” bertanya bingung.


 


 


“Kamu tadi bilang aku ganteng,” Tersenyum menggoda.


 


 


Aaaaaaa,malu.


 


 


“Salah denger kamu pasti,” Menoleh sambil gigit jari. Sial,kok bisa keceplosan.


 


 


“Ini hadiah karena kamu bilang aku ganteng,” Mengeluarkan sekuntum bunga dari balik punggungya.


 


 


“Apa sih,,, makasih ya,”reflesk mencium bunga mawar itu. Wangi kaya yang kasih,hihi. “Ayo masuk,sudah ditunggu Mama-Papa didalam,” Padahal tadi kamu kan yang heboh. Dasar.


 


 


Laras menggandeng pria itu masuk kedalam rumah. Menuntunnya ke ruang tamu. Dimana kedua orang tuanya menunggu. Mereka tersenyum melihat kedatangan sang calon mantu.( Cieeeee calon mantu.)


 


 


“Malem Om Tante. Apa kabar?” mengulurkan tangan sopan.


 


 


“Malem juga Dok. Baik,sangat baik.” Kata Mama tersenyum. Tanganya menyambut, ”Silahkan duduk,” Tambahnya.


 


 


Sakti duduk berdampingan dengan Laras di sofa yang berhadapan dengan kedua orang tua itu.


 


 


“Jam berapa tadi sampai disini?” tanya Pak Handam.


 


 


“Sekitar jam tiga siang Om. Nggak langsung kesini,karena cari penginapan dulu tadi,” Jelasnya canggung. Masih juga deg degan kalau didepan calon mertua.


 


 


“Sendirian?” tanya Laras.


 


 


“Nggak,aku sama Thomas. Tapi dia nggak mau ikut. Nggak mau ganggu acara keluarga katanya,” Padahal Thomas hanya ingin menghabiskan waktu dihotel untuk main game online. Kebiasaan baru yang ia pelajari dari manusia. Katanya main game bisa menenagkan pikiran,menghilangkan lelah dan penat. Aneh kan? Padalah ngegame kan juga mikir.


 


 


 


 


“Oh. Aku kebelakang dulu ya. Buat minum,” Larasati berdiri


 


 


“Iya.” Mengikuti dengan pandangan punggung kekasihnya hingga menghilang di pintu dapur.


 


 


“Ehmmm,” Pak Handam berdehem sedikit keras.


 


 


“Eh,maaf Om. Nggak sengaja,” Tersenyum canggung,sambil menggaruk belakang kepalanya yang tak gatal.


 


 


“Jadi hal penting apa yang membuat seorang Dokter rela Jauh-jauh datang ke mari?” tanya Pak Handam serius.


 


 


“Begini Om. Kedatangan saya kemari,pertama ingin bersilaturahmi. Yang kedua,saya ingin meminta ijin untuk membawa Larasati menemui Orang tua saya,” Jelasnya tenang.


 


 


“Berapa lama?” tanya Bu Martha.


 


 


“Sekitar dua minggu,pulang pergi Tante, karena perjalanan yang cukup jauh.”


 


 


“Dua minggu ya?” Pak handam manggut-manggut dikursinya. Dia melirik Larasati yang datang membawa nampan berisi secangkir teh hangat.


 


 


“Diminum sayang,kamu pasti cape,” Meletakkan cangkir dihadapan Sakti.


 


 


“Makasih,” Meraih gelas,menyeruput sedikit tehnya yang terasa sulit masuk ke dalam kerongkongan. Dia tegang menunggu jawaban orang tua Larasati.


 


 


“Saya tidak bisa mengijinkan Putri saya pergi lama dengan pria yang bukan mahramnya. Meskipun nanti ada orang lain yang menemani. Tapi setan pasti lebih pintar mencari celah,” Kata pak Handam tenang.


 


 


“Pergi kemana Pa?” Laras bingung. Jelas ia tak mendengar isi percakapan sebelumnya.


 


 


“Sakti ingin membawa kamu menemui orang tuanya. Katanya kurang lebih dua minggu,” Jelas Mama.


 


 


Larasati diam. Apa? Dia ingin mengajakku ke negri Vampir. Negri para pemburu? Untuk apa? Pertanyaan itu berseliweran dikepalanya. Tak mengerti maksud Sakti. Bukankah dulu ia bilang itu adalah tempat yang berbahaya untuk para manusia.


 


 


“Gimana Ras?” tanya Papa tiba-tiba.


 

__ADS_1


 


Aku bingung,mau jawab apa. Tapi aku percaya sama Sakti. Dia menguatkan hati,lalu menjawab,”Laras mau Pa.” Tersenyum melihat kekasihnya.


 


 


“Oke kalau kamu mau, dan ini punya tujuan penting yang mengharuskan kamu ikut. Papa ijinkan,tapi ada syarat yang harus kalian penuhi,”Menatap bergantian Larasati dan Sakti.


 


 


“Syarat?”tanya mereka hampir bersamaan “Syarat apa Pa?” tanya Laras bingung.


 


 


“Kalian harus menikah dulu. Nggak harus resmi,secara agama saja dulu. Karena ini mendesak,”


 


 


Mereka melongo bersamaan. Menikah? Cita-cita yang ingin mereka raih. Tapi kenapa jadi beda rasanya kalau suasana tegang begini.


 


 


Dengan tenang dan mantab Sakti menjawab,”Saya mau menikahi Larasati Om.”


 


 


Jedaaaaaarrrr,


 


 


Ada petir yang menyambar diluar. Larasati sampai terlonjak kaget. Padahal tadi langit cerah,kenapa tiba-tiba ada petir? Apa ini suatu pertanda?


 


 


“Tapi kamu tahu kan. Dalam agama kami pernikahan itu harus seiman? Apa kamu mau menjadi seorang mualaf?” tanya Pak Handam serius.


 


 


Larasati menggenggam erat tangan dinginnya yang berkeringat. Memberikan kekuatan dan dukungan lewat tautan jemarinya. Kamu pasti bisa,begitu arti sorot mata yang dipancarkan oleh gadis itu.


 


 


Sakti menghela nafas panjang. Sebenarnya ia sudah sejak lamaingin memeluk keyakinan ini. Tapi ia merasa tak pantas. Tuhan Maha Pengasih dan Penyayang,begitu ia meyakinkan dirinya sendiri. Dengan mantab ia menjawab,”Saya siap Om,” tautan jemarinya mengerat.


 


 


“Sakit yang,” Bisik Laras,lalu tersenyum.


 


 


“Maaf nggak sengaja,” Meringis canggung.


 


 


Mereka lalu membahas apa-apa saja yang harus dilakukan untuk menjadi seorang Mualaf. Memberikan sedikit penjelasan tentang tata cara pernikahan dalam islam. Sakti dengan hikmat mendengarkan. Ilmu baru yang belum pernah ia dapatkan. Selepas berbincang,mereka makan malam dengan senyum bahagia.


 


 


Sekarang ini dua sejoli yang sebentar lagi akan menjadi pasangan sehidup semati itu sedang duduk di bangku taman rumah Laras. Tautan jemari mereka seperti enggan terlepas. Ada rasa bahagia yang ingin mereka bagi bersama.


 


 


“Aku bangga sama Kamu,” Kata Laras,matanya masih memandang hamparan rumput yang terlihat berkilauan karena sorot lampu taman.


 


 


“Tapi aku ragu. Apa Tuhan akan menerima aku sebagai hamba-Nya?”Tutur Sakti,wajahnya sendu saat mengatakan itu. Keraguan yang selalu muncul saat ia ingin jadi seorang muslim.


 


 


“Kamu pernah denger cerita,kalau ada seorang penjaja diri bisa masuk surga karena memberi makan seekor anjing yang kelaparan? Atau seorang perampok dan pemabuk yang masuk surga karena sangat menyayangi ibunya?” matanya menatap dua bola mata Sakti yag memandangya tak percaya.


 


 


Pria itu menggeleng pelan. Apa maksud Laras ini?


 


 


“Sayang,aku Cuma mau bilang,dari cerita itu kita bisa belajar tentang kasih Sayang Tuhan yang tak terbatas. Tuhan tidak hanya melihat keburukan atau dosa yang kita lakukan. Tapi kamu juga harus tau,kamu itu Vampir baik Sakti. Sudah banyak nyawa orang yang kamu selamatkan. Dan Tuhan pasti melihat ketulusan dihati kamu. Jadiiiii,,,” memegang bahu. Berhadapan.” Jangan pernah meragukan Kasih sayang-Nya ya,” Tersenyum.


 


 


Pria itu mengangguk. Tersenyum tulus. Perasaan bahagia merubah warna matanya menjadi biru berlian. “Aku suka Mata kamu.” Kata Laras kemudian.


 


 


“Hah? Mata,kenapa?” ia tak sadar apa yang terjadi.


 


 


“Kamu jadi makin ganteng,kalau mata kamu biru gini,” Tanpa sadar tangannya terulur menyentuh pipi dingin tapi halus itu.


 


 


Sakti terpaku,merasakan kehangatan yang menjalar dipipinya. Mata mereka saling mengunci satu sama lain,mengungkapkan rasa cinta yang tak terucap dari bibir mereka. Pria itu lalu meraih tangan Laras yang menempel dipipinya,membawanya ke bibir dan mengecupnya mesra.


 


 


Mereka makhluk normal,tenggelam dalam suasana romantis yang mereka ciptakan. Naluri menuntun untuk melakukan lebih dari ini. Rasa rindu yang tertahan selama berbulan-bulan seperti ingin meledak saat itu juga. Pandangan mata mereka mulai sayu,kepala Sakti mulai mendekat. Menyisakan jarak beberapa centi saja. Ada debaran jantung yang terdengar,entah jantung siapa. Larasati ingin berhenti tapi tak bisa,tubuhnya seperti menunggu apa yang akan dilakukan pria itu. Ia memejamkan mata,tak sanggup melihat.


 


 


Eh,kok nggak kerasa apa-apa.


 


 


“Sudah malam aku balik ke hotel ya,” Kata sakti santai. Bibirnya tersenyum jahil.


 


 


Apa yang aku pikirkan tadi. Huaaaaaaaaaa,malu. Rasanya aku ingin masuk kedalam perut bumi.


 


 


Situasi macam apa ini. Pipinya merah menahan malu,bisa-bisanya ia berfikir Sakti ingin menciumnya. Memalukan.


 


 


“Iya,” Berdiri dan mengantarkan pria itu berpamitan dengan kedua orang tuanya. Lalu mengikutinya sampai di halaman,menuju mobil sakti yang terparkir disana.


 


 


“Hati-hati dijalan ya. Besok pagi jangan lupa,” Tersenyum melepas tautan jemarinya.


 


 


“iya,kamu juga. Tidur yang nyenyak,jangan lupa mimpiin aku,” Tertawa pelan. Ia mengingat lagi kejadian ditaman tadi. Untung dia masih bisa menahan diri,kalau tidak entah apa yang terjadi.


 


 


“Itu pasti,” Melambaikan tangan setelah Sakti masuk mobil. Mengikuti dengan pandangan hingga mobil itu menghilang berbelok dijalanan.


 


 


Semoga hari esok akan membawa kebahagian dalam hidupnya. Semoga ini keputusan yang tepat. Ya Allah,ridhailah kami. Amin. Larasati berdoa dalam hati,lalu masuk kedalam rumah dengan senyum yang tak bisa ia sembunyikan.


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2