
Di lain tempat yang jauh dari kericuhan di Rumah Sakit
Dirgantara’s Hospital. Seorang gadis berdiri di depan kaca besar di kamarnya.
Memandang pantulan tubuh sempurna yang terbalut kebaya warna merah muda. Tak
ada senyum di bibirnya yang di poles warna senada. Seharusnya aku senang
sekarang,gumamnya lirih. Gadis itu lalu meraih sebuah ponsel yang tergeletak di
atas meja rias. Mengeser layar,lalu membaca sebuah pesan yang dikirim dua hari
yang lalu oleh seseorang yang ia beri nama “Pangeranku”. Tak terasa sebulir air
bening menetes di sudut matanya,aku kangen kamu Sakti. Lagi-lagi gadis itu
bergumam lirih yang hanya bisa di dengar olehnya.
Tok tok tok,krieeet. Suara pintu kamar di buka tanpa
persetujuan pemiliknya.
“sudah siap?” berjalan sambil tersenyum memandang pantulan
wajah putrinya di depan kaca.
“Mama?”
“wah,anak mama cantik banget. Sayang ya,Dokter itu nggak ada
di sini.hehe”
“apa sih Ma,Dia lagi sibuk. Banyak masalah yang terjadi
disana.” Tapi hatinya berontak,aku juga mau kamu perhatikan. Lagi-lagi berpikir
egois dalam hati.
“sabar sayang,mungkin ini ujian untuk cinta kalian. Dalam
sebuah hubungan yang sulit itu bukan berjuang,tapi bertahan. Kesetiaan dan
cinta kalian sedang di uji sekarang,kamu harus bisa lewati ini. Dan buktikan
kalau kamu memang pantas dicintai dan dipertahankan.”
Larasati hanya diam,ada isak lirih yang terdengar dari gadis
itu.
“shhhttttt,jangan menangis sayang. Sudah cantik begini,ayo berangkat. Nanti kita terlambat.”
“iya Ma.” Meraih selembar tisu diatas meja,dan mengelap
pelan tetes air mata yang tadi terjatuh di pipinya.
Keluarga Handam wijaya berangkat ke tempat acara dengan
mengendarai mobil mewahnya. Setelah empat puluh lima menit perjalanan,mereka
sampai di tempat tujuan. Kampus Larasati,gadis itu akan wisuda hari ini.
Sebuah upacara sakral para mahasiswa dan mahasisiwi yang sudah menuntaskan perjuangan
__ADS_1
mereka menimba ilmu di bangku kuliah. Keluarga fenomenal itu memasuki ruangan
di iringi tatapan kagum semua orang. Keluarga kaya raya yang bahagia,sebuah
kalimat yang ada di setiap kepala orang. Mereka hanya tersenyum membalas
tatapan kagum itu,lalu duduk di tempat yang sudah di sediakan.
Acara wisuda itu berlangsung dengan hikmat,selama tiga jam.
Setiap fase dilalui dengan penuh kesungguhan oleh para peserta. Setelah acara
inti selesai,mereka melakukan sesi foto untuk kenang-kenangan. Semua Mahasiswa
bersorak gembira menyambut kelulusan mereka. Terjadi obrolan tentang rencana ke
depan,mau apa,dan kerja di mana. Pertanyaan yang selalu jadi topik utama.
Begitu juga Larasati,gadis itu terlihat berbaur dan
bercengkrama dengan para mahasiswa. Sosok yang dianggap angkuh dan sombong
itu,ternyata bisa tertawa bersama mereka. Mungkin gadis itu bukan sombong,tapi
mereka yang minder kalau ingin sekedar berteman. Larasati memang cuek saja jika
ada yang mendekatinya dengan maksud tertentu. Jadi ia sering dianggap angkuh
dan menjauhkan diri dari orang lain.
Tiba-tiba seorang pria yang memakai setelan jas lengkap
warna abu-abu,datang mendekati Larasati. Wajahnya ia sembunyikan dibelakang
itu,siapa? Pikirnya. Apa itu Sakti. Jantungnya berdebar. Tidak mungkin. Gadis itu
tak berani berharap,takut kecewa.
Pria itu semakin mendekat,”selamat ya Laras,kamu hebat.” Kata Pria itu,lalu menurunkan buket
bunga besar yang menutupi wajahnya,memberikannya pada Larasati.
“Nico?” kata Laras,kaget.
Semua orang yang melihat itu,langsung bercie-cie saja.
“terima dong,ini buat kamu.” Kata Nico,bunga yang tadi ia
berikan belum di terima oleh Larasati. Gadis itu terlihat kaget.
“eh,iya. Terimakasih.”
“kamu nggak usah mikir aneh-aneh. Ini Cuma bentuk ucapan
selamat dari aku.”
Larasati hanya diam.
“Laras,kalau boleh aku mau minta satu hal sama kamu.”Tambahnya.
“apa?” tanya Laras.
“jangan pernah membenci aku Larasati. Aku sudah cukup
__ADS_1
tersiksa dengan kehilangan kamu selama ini. Aku sadar kalau kesalahan aku besar
banget. Tapi,bisakah kamu kabulkan permintaan aku ini. Maaf kalau aku serakah.”
Menundukkan kepala,matanya sedikit melirik Larasati yang hanya diam membisu
memegang buket bunga darinya.
“aku nggak pernah membenci kamu Nico. Aku sudah memaafkan
semua kesalahan kamu.” Kata Laras tenang. Pria itu sudah lama ia lupakan,kenapa
ia datang lagi. Apa maunya?
“makasih Laras,kamu memang perempuan baik. Jadi kamu mau kan
kalau kita temenan?” matanya berbinar menunggu reaksi Laras.
“aku nggak sebaik itu Nico,kita sudah selesai. Aku tau apa
maksud kamu. Aku harap kamu berhenti sampai disini.” Jawab Laras tegas.
“tapi Ras?” ia tak tau harus mengatakan apa lagi. Semua
kalimat yang ia siapkan dari semalam hilang entah kemana. Reaksi Larasati di
luar dugaannya. Padahal ia mengira kalau Larasati juga merindukan
dirinya,perasaan yang sama yang selalu ia rasakan setiap detiknya. Ya Pria itu
tak sedetikpun melupakan Larasati. Nico pernah mencoba untuk menjalin hubungan
dengan Sarah lagi. Tapi tak bertahan lama.
“aku pergi ya. Semoga kamu bisa hidup lebih baik.” Lalu berlalu
meninggalkan Nico. Menghampiri kedua orang tuanya yang sudah menunggunya di
mobil.
Nico terus mengikuti Laras dengan pandangan. Hatinya terasa
sesak mendapat penolakan yang kesekian kalinya. Padahal setiap hari aku nggak
pernah berhenti mikirin kamu Ras. Rasa cinta aku buat kamu masih sama seperti
dulu. Nggak ada yang sepertimu Larasati,aku akan dapetin kamu lagi apa pun
caranya.
Pria itu mengepalkan tangan erat,bersumpah tak akan berhenti sebelum
mendapatkan Laras kembali. Ia tak perduli berapa kali ditolak,kalau tak bisa
dengan cara baik-baik. Memaksa pun akan ia lakukan.
Nico tak menyadari kalau rasa yang sedang ia perjuangkan
sekarang,bukanlah cinta. Tapi lebih kepada ambisi memiliki sesuatu yang
berharga yang pernah hilang. Akal sehatnya sudah tertutup oleh obsesinya. Nico yang
dulu penyayang dan anak mama. Berubah menjadi pria ambisius yang mau melakukan apaun
__ADS_1
untuk mendapatkan apa yang ia mau. Benarkah cinta bisa merubah segalanya?