
Kota Y. Pukul 13.00.
“Apa masih jauh?” sakti menoleh pada Larasati yang duduk bersandar disampingnya.
“Nggak kok. Kamu cape ya?”
“Aku deg degan,” Meraba debaran jantungnya yang terus berdegup tak beraturan.
“Tenang aja,orang tuaku baik kok. Kamu jangan khawatir,” Tersenyum dan mengusap lembut lengan Sakti yang terbungkus jaket.
Hari ini adalah hari penting untuknya. Pengalaman pertama kali seumur hidup. Bertandang ke rumah seorang wanita untuk meminta restu. Dalam khayalan sekalipun ia tak pernah memikirkan ini. Dalam hati ia terus bertanya,benarkah yang ia lakukan ini. Mencintai dan menjalin hubungan asmara dengan seorang
manusia. Kenapa hatinya tiba-tiba ragu,kemana semangat yang ia tanamkan tadi pagi sebelum berangkat. Apa tercecer saat perjalanan,atau terbawa angin waktu di pesawat? Ia benar-benar merasa gugup dan tak bernyali.
Larasati terus merangkul lengannya,mengusapnya lembut. Menenangkan kegundahan hatinya. Bibirnya tersenyum,tapi hatinya juga berdebar. Padahal yang akan ia temui adalah orang tuaya sendiri. Rumahnya,tempatnya merasa tenang saat dunia sedang berguncang. Benarkah yang ku lakukan ini. Aku mencintai dan akan menikahi seorang Vampir. Bagaimana nanti kalau dia lupa diri dan menyerangku. Aku takut. Tapi aku percaya padanya. Aku siap dengan segala resiko dari keputusan ekstrem ini.
Sebuah pagar besi yang menjulang tinggi terlihat dikejauhan. Diatasnya dirambati tanaman menjalar dengan bunga warna-warni. Seorang pria berpakaian satpam tergopoh-gopoh mendorong gerbang yang terlihat berat itu. Mendorongnya lebar hingga mobil bisa masuk. Senyum lebar menyambut kedatangan majikannya. Tak lupa ia menundukkan kepala,sebagai tanda hormat dan setia.
“Ini rumah kamu?” Sakti meraba jantungnya yang malah semakin cepat berdegup. Menarik nafas lewat hidung dan mengeluarkannya lewat mulut,berkali-kali. Mencoba mencari ketenangan dengan menyuplai oksigen kedalam otak. Sedikit tenang,tapi tangan dinginnya berkeringat. Dia gugup.
“Iya,ayo kita turun. Nggak usah takut,orang tuaku nggak gigit kok,” Mengusap bahu kekasihnya,yang tersenyum canggung.
Mereka turun dari mobil dan berjalan beriringan. Memberi perintah sebelum meninggalkan mobil,untuk menurunkan barang-barang dari mobil. Dengan hati berdebar mereka melangkah memasuki Pintu utama yang sudah terbuka lebar. Apa orang tuanya sudah pulang dari kantor? Atau sengaja di rumah menunggunya pulang? Karena ia berkata akan membawa tamu hari ini. Tamu sangat penting.
“Kalian sudah datang?” Nyonya Martha yang sedang duduk di ruang tamu,terlihat berdiri menyambut kedatangan putrinya. Melirik seorang pria tak asing yang berdiri tegap disebelah putri tunggalnya. Apa ini tamu yang dibicarakan Larasati kemarin?
“Iya Ma. Mama sehat?” memeluk lembut wanita yang sudah melahirkan dirinya.
__ADS_1
“Alhamdulilah sehat. Dokter apa kabar?” menyalami tamu yang terlihat sedikit gugup. Masih menerka apa maksud kedatangan seorang Dokter kerumahnya.
“Baik Nyonya,” Suaranya mulai tenang. Semoga ia bisa menguasai diri lebih cepat. Jangan sampai memalukan. Kesan pertama saat bertemu calon mertua harus baik dan berkesan.
“Panggil Tante aja. Jangan sungkan Dokter.”
“Panggil Sakti aja Tante,”
“Oh,iya. Mari silahkan duduk,” Merentangkan tangan menunjuk sofa diseberangnya. “Bi,buatin minum,” Memberi komando dari ruang tamu,yang jelas didengar oleh asisten di belakang.
“Papa mana Ma?” meletakkan tas selempang kecil yang tadi bertengger di bahunya diatas meja.
“Lagi mandi. Baru pulang. Hari ini semua pulang cepat,karena kamu kemarin bilang bakal ada tamu penting,” tersenyum ramah. Kehangatan seorang ibu benar-benar dimiliki oleh perempuan paruh baya ini. Suaranya yang tenang dan lembut,bisa meredam debaran dalam jantung dua makhluk berbeda yang sedang duduk berdampingan diseberangnya.
Seorang perempuan muda berbaju pelayan,datang dengan nampan yang berisi dua gelas orange jus. Gelasnya berembun,karena dingin dari es batu kotak-kotak yang mengapung didalamnya. Terlihat segar dan menggoda. Pelayan itu berjongkok saat mendekati meja,mengangsurkan gelas dingin kehadapan Laras dan Sakti. Matanya takut-takut mencuri pandang pada sosok gagah yang duduk disebelah Nona mudanya. Dalam hati ia memuji ketampanan pria asing itu. Tapi hanya sebatas itu,melirik tak berani lebih dari lima detik. Ia pegawai baru,jangan
Pelayan wanita itu mundur dan kembali ke dapur,menoleh sebentar saat berada jarak yang cukup jauh. Bibirnya masih mengulas senyum. Meraba dadanya sendiri yang terus berdebar-debar. Lalu menggelengkan kepalanya kasar,menyadarkan pikirannya.
“Ayo diminum,” Nyonya rumah mempersilahkan. Kenapa anaknya juga bersikap seperti tamu. Larasati terlihat gugup dan banyak diam. Tak seperti biasa. Seharusnya ia tetap tenang,karena ini tetap rumahnya. Ia hanya pergi
berlibur beberapa bulan,apa rumah ini berubah asing untuknya. Kenapa ia bersikap seperti tamu dirumahnya sendiri.
“Terimakasih Tante,” Meraih gelas dan meminumnya sedikit. Asam manis dan dingin merayapi tenggorokannya yang terasa kering. Tapi tak bisa memuaskan dahaga,hanya sebatas membasahi lidah dan kerongkongan. Selera manusia sangat aneh,rasanya campur aduk.
“Kalian sudah lama?” Pak Handam turun dengan baju santainya. Sebuah kaos berkerah warna coklat muda menempel pas ditubuhnya. Pria yang tetap terlihat gagah dan berwibawa diusianya yang tak lagi muda.
“Belum Pak,” Sakti berdiri dan mengannguk sopan yang diikuti Larasati. Lalu duduk lagi setelah Pak Handam duduk di sebelah istrinya.
__ADS_1
“Ini Dokter yang menangani Oma dulu kan,waktu di Rumah Sakit?” Tanya Pak Handam.
“Benar Pak,” Jawab Sakti.
“Ya,ya. Terimakasih atas bantuan anda waktu itu. Kami sangat bersyukur karena ibu kami cepat ditangani oleh tangan yang tepat,entah apa jadinya kalau terlambat sedikit saja,"Tutur Pak Handam lagi.
“Sudah kewajiban kita,untuk saling menolong sesama Pak. Bapak tidak perlu sungkan,” Melirik Laras yang dari tadi diam menyimak. Apa dia masih gugup?
Pak Handam tergelak kecil,merasa kagum dengan kerendahan hati seorang pemuda yang jelas-jelas luar biasa hebat. Gelar Doktor diusia muda dan pebisnis juga. Hebat.dalam hati ia memuji. Tapi apa maksud Dokter ini datang kerumahnya bersama putrinya. Ia juga penasaran.
“Pa,kami mau ngomong penting sama Papa,” Larasati angkat bicara. Nadanya terdengar takut-takut. Perasaan dulu sama Nico nggak setegang ini. keluarganya orang baik,bijak dan ramah,ia meyakinkan dirinya sendiri.
“Kamu serius banget. Ada apa ini?” menatap tajam putrinya yang terlihat gugup.
“begini Pak,Bu. Kedatangan saya kemari bersama Larasati,bermaksud untuk minta restu atas hubungan kami. Dan kalau diijinkan saya berniat melamar puri Bapak dan Ibu,untuk menjadi istri saya,” Nadanya tenang. Tapi percayalah,jantungnya mau meledak karena tegang.
Pak Handam dan Bu Martha saling pandang. Sedikit kaget,lalu tersenyum.
“Kamu yakin dengan pilihan kamu Laras?” pria tua itu malah memandang lekat putrinya. Larasati hanya mengangguk pelan dengan mata berkaca-kaca. Hatinya terharu mendengar kalimat yang diucapkan Sakti. Vampir
ini benar-benar serius dengan hubungan mereka.
“Kami sebagi orang tua,tidak pernah menuntut apa-apa dari anak-anak kami. Membuat mereka bahagia adalah tujuan kami sebagai orang tua. Kalian sudah dewasa,dan jika itu sudah menjadi keputusan kalian berdua. Kami bisa apa,kecuali merestui dan mendoakan kebahagian kalian. Ya kan Ma?” menoleh sang istri dan menepuk lembut tangannya yang sedari tadi ia genggam.
Larasti tak bisa membendung lagi air matanya. Gadis itu menangis dan memeluk kedua orang tuanya. Apa yang dari tadi ia takutkan sebenarnya. Keluarganya begitu baik dan sayang padanya. Maafin Laras Ma,Pa,yang tadi sempat meragukan kalian. Bodohnya aku. Ia terus terisak dalam pelukan sang Papa,yang mengusap lembut bahunya yang berguncang.
Sakti merasa lega,ternyata ini mudah. Tak sesulit perkiraannya.keluarga Larasati ternyata memang baik. Pantas saja mereka punya putri dengan hati besar seperti Larasati. Ia merasa beruntung jika bisa menjadi bagian keluarga ini. Satu langkah mereka telah mendapat jalan terang. Sekarang tinggal memikirkan cara minta restu kepada ayahnya. Dan membawa gadis itu bertemu dengannya dengan cara aman dan tenang.
__ADS_1
Mereka melanjutkan perbincangan di meja makan. Sambil menikmati hidangan makan siang yang dimasak oleh Mama Martha. Dalam hati ia bersyukur,beginikah rasanya makan bersama keluarga. Apakah aku akan terus bahagia bersama Laras. Menjadi sebuah keluarga kecil dan punya banyak anak dengan wanita yang kucintai. Ah,semoga saja.