Bukan Cinta Biasa (Vampire Love Story)

Bukan Cinta Biasa (Vampire Love Story)
Kelahiran Si Jabang Bayi


__ADS_3

Aku merasa baru saja memejamkan mata ketika sebuah suara terdengar menggema. Menyuruhku bangun dan membuka mata. Sebuah suara yang tidak pernah ku dengar. Sebuah suara yang desahnya saja terdengar indah. Bertutur lembut penuh kasih.


“Bangunlah,sudah waktunya,” hanya itu yang dia-entah siapa- katakan.


Aku menurut saja,  meski aku merasa baru saja ingin mulai bermeditasi. Perlahan ku buka kelopak mataku. Aku masih di kamar,duduk bersimpuh seperti tadi,mungkin satu menit yang lalu. Tapi,aku merasa tubuhku lebih berat dari yang ku ingat.


Tanganku yang semula terpaut didepan dada aku lepaskan,menyentuh bagian tubuhku yang menonjol kedepan. Perutku membesar seperti orang hamil sembilan bulan? Tiba-tiba sekujur tubuhku berkeringat,perutku nyeri dan sakitnya bukan main.


“Sayang?” ku panggil suamiku,ah,kemana dia? Bukankah tadi aku menyuruhnya tidur diluar.


Aku berusaha bangun. Meluruskan kaki dulu. Rasanya kaku,padahal belum lama aku duduk. Sambil menyangga perut besarku,aku tertatih menuju ranjang. Yang kurasakan sekarang,persis cerita orang –mau melahirkan-benarkah?


Ku lihat suamiku datang tergesa dari kamar mandi,rambutnya masih basah. Dia mencampakkan handuk kecilnya ke lantai,menghampiriku,


“Kamu sudah bangun? Apa yang kamu rasakan sayang?” tanyanya bertubi.


“Sakit Mas,” jawabku. Memang itu yang aku rasakan.


“Kita kerumah sakit sekarang,” Sakti langsung menggendongku,membawaku menuruni tangga.


“Pak,Pak Noto !” teriaknya memanggil sopir keluarga kami.


Pak Noto tergopoh datang dari pintu belakang. Tidak berseragam. Hanya memakai celana training dan sebuah kain sarung yang melingkar di lehernya. Wajahnya seperti orang baru bangun tidur. Memang jam berapa ini?


“Ada apa Tuan Muda?” tanya Pak Noto


“Siapkan mobil Pak,kita ke rumah sakit sekarang,”


Pak Noto terlihat kebingungan,”Baik Tuan,” jawabnya tanpa bertanya.


Aku masih dalam gendongan suamiku ketika menunggu mobil diteras,kulihat raut khawatir di wajah nya yang terlihat agak kusut,tapi masih tetap tampan seperti biasa.” Sayang,aku masih kuat kok,kamu bisa turunin aku,” kataku.

__ADS_1


“Kamu itu sudah 40 hari nggak makan,nggak minum,aku nggak mau kamu kenapa-napa.” jawabnya


Apa? 40 hari? jadi selama itu aku bermeditasi? Dan aku akan melahirkan diusia kandungan yang baru 40 hari? Aku hanya bisa diam mencerna yang Sakti katakan. Tak lama suara deru mobil terdengar. Pak Noto turun dan membantu membuka pintu. Sakti menurunkanku perlahan di jok belakang,lalu ikut masuk kedalam mobil.


“Bi kabari Mama,Papa,” ucapnya pada Bibi pelayan yang ikut keluar karena khawatir-mungkin. Ah,entahlah,kenapa aku tak lagi bisa membaca pikiran orang-orang.


Mobil melaju membelah gelapnya malam. sepi,tak ada mobil lain berlalu lalang. Hanya satu-dua itu pun jarang-jarang. Kami sampai dirumah sakit terdekat. Perawat jaga sigap membawaku ke ruang UGD untuk diperiksa.


“Ibu mau melahirkan,” ucap seorang suster. Benarkan aku akan melahirkan. Meski agak heran,aku harus siap.


Aku dibawa ke ruang persalinan. Perawat perempuan membantuku berganti baju. Karena aku masih memakai baju syar’i. Benar juga,siapa yang membawakan baju ganti? Ketika aku mengganti kerudungku,aku tak boleh kaget kalau rambutku kembali seperti dulu. Apa aku manusia biasa sekarang?


Nyeri. Perutku nyeri lagi. Aku berjalan digandeng suster. Kembali ke ranjang. Sakti sudah berdiri menungguku di tepi ranjang,wajahnya pucat,berkeringat.


Dia menggenggam tanganku,menciuminya berkali-kali,tersenyum. “Aku deg degan,”ucapnya.


Aku hanya bisa tersenyum mendengarnya. Dia terlihat gugup. Itu wajar. Aku mengamati suster yang berlalu lalang menyiapkan peralatan.”siapa yang belanja baju bayi?” tanyaku


Aku tak sempat menjawab lagi,karena kurasakan bayiku mendorong keluar. Sakti memanggil suster,seorang Dokter perempuan juga ikut mendekat. Dia baru datang. Kesibukan terjadi di ruang persalinan selanjutnya. Karena malam ini,aku akan menjadi wanita sempurna.


Aku berjuang sekuat tenaga. Mengimbangi dorongan bayi yang akan lahir. Mempertaruhkan nyawa. Sakti menciumi keningku,menyeka keringat didahiku. Padahal keringatnya sendiri mengalir di pelipis dan ia biarkan.


“Aaaaaaaaaaaa,” suara erangan terakhirku bersamaan dengan suara tangis bayiku. Melengking indah menggema diruangan. Aku bahagia sampai berlinang air mata. Begitu juga suamiku. Bibirnya bergetar, menatapku dengan berkaca-kaca. “Anak kita,” ucapnya haru.


Sakti menatap Dokter yang diam membeku,tercengang. Entah apa yang di lihat.


“Laki-laki atau perempuan Dok?” tanya Sakti.


“Laki-laki Pak,selamat,tapi” ucapan Dokter itu berhenti. Membuat suasana bahagia kembali tegang


“Kenapa Dok?” tanyaku”Anak kami baik-baik saja kan? Sempurna kan Dok?” entah mengapa ada rasa khawatir kalau bayiku tidak normal,mengingat kehamilanku yang tidak wajar.

__ADS_1


Dokter wanita itu diam. Berjalan perlahan dengan mendekap simungil yang bersinar dalam pelukannya. Tubuh bayiku bercahaya. Dokter itu meletakkan si bayi didadaku. Aku bisa melihat dari dekat rambut birunya. Dia menggeliat dalam dekapanku. Bibir imutnya mencari-cari put*ng susu. Ah,manisnya.


Decakan kecil terdengar kemudian. Aku tertawa hingga menangis. Tangis bahagia. Aku mengamati wajahnya yang bersinar,dia tak seperti bayi pada umumnya,bayiku spesial dengan rambut birunya. Aku berharap dia jadi manusia biasa,tumbuh dan berkembang seperti anak lainya.


Dalam meditasiku yang terasa singkat itu,aku telah menukar keistimewaanku sebagai seorang dewi dengan kehidupan manusia bagi putraku.


Dokter kembali mengangkat bayi kecilku. Memakaikannya baju dan membedongnya dengan selimut.


“Silahkan diadzani dulu Pak putranya,” kata Dokter pada suamiku.


Sakti menerima bayi kami dengan tangan gemetar. Aku meringis,takut dia menjatuhkan si mungil yang menggeliat. Ku dengar Sakti melantunkan suara adzan di telinga kanan putra kami. Suaranya indah terdengar. Dari siapa dia belajar adzan seindah itu.


Kami sudah dipindahkan ke ruang rawat. Aku dan bayiku. Mama dan Papa datang setelah cucunya lahir. Mereka berdua terlihat bahagia. Mama menimang cucu pertamanya,sedang Papa hanya tersenyum-senyum sambil bilang “Cucu Opa,ganteng kaya Opanya,”


“Ya mirip saya dong Pa,saya kan Ayahnya,” sela Sakti. Aku hampir tak percaya,dia bisa bicara sedekat itu dengan Papa. Banyak hal yang aku lewatkan selama bermeditasi.


“Aduh warna matanya kok bisa biru begini ya? rambutnya juga, ah gantengnya cucuku,” kata Mama.


“Siapa namanya?” tanya Mama


“Krisna Dirgantara” kata Sakti


“Kenapa nggak ada nama Wijaya,ini kan cucuku?” Papa protes.


“Kepanjangan dong Pa,Saya kan Ayahnya,” jawab Sakti menimpahi.


Papa berdecih. Tapi diam,tidak memaksa untuk memasukkan nama keluarga wijaya dalam nama putra kami.


Aku menatap haru pada kedekatan suamiku dan kedua orang tuaku. mereka menimang dan menyapa Krisna bergantian,lebih tepatnya Sakti dan Papa berebutan. Aih,mereka ini.


Semua ini seperti mimpi. Aku punya suami seorang klan pemburu. Punya putra yang istimewa. keluarga yang saling suport dan menyayangi. Meski aku bukan seorang Dewi lagi.

__ADS_1


__ADS_2