Bukan Cinta Biasa (Vampire Love Story)

Bukan Cinta Biasa (Vampire Love Story)
Perasaan Seorang Ibu


__ADS_3

Hari ini hujan turun lagi. Lebih deras dari kemarin. Suara debuman milyaran titik-titik air yang jatuh mengguyur bumi,terdengar sampai kedalam Rumah Sakit. Suhu ruangan tetap terasa dingin meskipun penghangat ruangan sudah di hidupkan.


 


 


Sedingin hati orang-orang yang menunggu keluarganya dengan harap-harap cemas. Menautkan jari satu sama lain, menetralisir kegelisahan. Bibir mereka terus berucap lirih kata yang sama, “Semoga   ada   keajaiban,”


 


 


Dokter Sakti melangkah dengan cepat menyusuri koridor Rumah sakit yang lengang. Hanya ada beberapa suster dan keluarga pasien satu-dua yang berlalu lalang. Serangan virus aneh yang terjadi,membuat Rumah Sakit menerapkan kebijakan baru. Pasien hanya boleh ditunggu oleh keluarga,maksimal dua orang. Tidak boleh dijenguk,meski belum diketahui apakah Virus ini akan menyebar lewat kontak fisik atau tidak. Hanya mengantisipasi segala kemungkinan buruk yang bisa terjadi.


 


 


Dokter itu mengangkat pergelangan tangannya,menyibak sedikit lengan jas putih yang menjadi identitasnya. Pukul 6.30 pagi,gumamnya. Saat melihat penanda waktu yang melingkar dengan nyaman dipergelangan tangannya. Seolah mencari kehangatan pada tubuh dinginnya. Rumah Sakit masih sepi,lebih tepatnya dibuat sepi karena peraturan baru tadi.


 


 


Sepagi ini,menerjang hujan,meski dingin tak mengganggunya,tetap ini bukanlah kebiasaannya. Demi nyawa yang berharga. Begitulah ia menguatkan diri. Kelopak matanya sedikit menghitam. Bukan karena ia seorang Vampir,jadi tak pernah merasa lelah. Pasti ada rasa itu pada setiap wujud makhluk yang butuh makan dan minum. Sekuat apapun dia.


 


 


Langkah kakinya berbelok di ujung koridor,menuju bangsal 305. Tempat para pasien terjangkit dirawat. Setiap hari ada yang meninggal,tapi saat itu juga ada penghuni baru. Ruangan ini tak pernah tidur. Meski terlihat hangat dan nyaman,masuk ketempat ini bukanlah cita-cita semua orang.


 


 


Langkahnya sedikit melambat saat melewati kursi ruang tunggu yang berjajar disebelah kanan dan kiri. Menempeli tembok putih bersih dibelakangnya. Kursi dan tembok itu seperti sedang berbicara,melihat mereka begitu dekat. Bisik-bisik, tak mau ada yang mencuri dengar obrolan mereka.


 


 


Setiap kursi panjang itu diisi oleh sepasang keluarga. Ayah-ibu. Kakak-adik. Ibu-anak. Dan yang lainnya. Mereka saling menautkan jemari tangan,memberi kekuatan dengan usapan lembut dibahu. Suara debuman air hujan di luar sana menimpahi isak lirih mereka. Tak ada kata yang terucap. Mereka semua diam. Berdoa dalam hati masing-masing. Meski begitu, tautan jemari yang semakin erat itu, sudah mengatakan semuanya.


 


 


Semoga semua baik-baik saja.


 


 


Semua orang berdiri menyadari kedatangan Dr. Sakti. Menatap penuh harap,semoga lewat tangannya,Tuhan mengirimkan obat. Meski pikiran mereka berontak,mustahil. Belum ada obat untuk menangkal Virus ini. Tapi lagi-lagi hati nurani mereka berharap,semoga ada keajaiban.


 


 


 


 


Sakti berhenti sejenak,menatap berpasang-pasang mata yang menatapnya dengan mata berkaca-kaca.“Saya akan berusaha semaksimal mungkin. Doa kalian semua adalah kekuatan terbesar untuk para sanak saudara yang sedang bertaruh nyawa didalam. Apapun hasilnya,saya harap semua bisa ikhlas menerima kehendak Tuhan yang Maha Esa. Kita hanya bisa berusaha,selebihnya biar Tuhan yang menentukan.” Mencoba tersenyum,menguatkan hati yang tak lagi utuh,karena melihat derita orang yang disayang.


 


 


“Terima kasih Dokter,” Jawab mereka hampir bersamaan. Dengan mata kepala mereka sendiri, mereka melihat betapa tenaga medis di rumah sakit ini sudah berusaha semaksimal mungkin. Mengerahkan segala pikiran dan keringat mereka untuk mencari jalan terbaik. Menyelamatkan ratusan nyawa setiap harinya. Meski ada yang harus berakhir dengan duka mendalam,mau apa lagi? Jika Tuhan sudah Berkehendak.


 


 


Mata teduh Dokter Sakti tak sengaja bersitatap dengan seorang perempuan yang kira-kira berusia sekitar enam puluhan. Kulitnya sawo matang,tubuhnya sedikit kurus,mengenakan jilbab sederhana khas ibu-ibu berwarna salem. Kedua tangannya saling terpaut didepan bibirnya yang bergetar.


 


 


Menatap dengan mata berkaca-kaca. Dokter, tolong selamatkan putri saya. Itulah kata-kata tak terucap yang ia dengar dari seorang ibu yang meneguhkan hati,demi sang putri. Menguatkan diri sendiri,karena tak ada sanak saudara yang terlihat menemani. Meski hanya mengusap bahu ringkihnya,atau pun menggenggam tangan keriputnya.


 

__ADS_1


 


Dokter Sakti mendekati Ibu itu. Menatap teduh,”Saya akan berusaha Bu. Semoga Allah mengijinkan,” Kata Sakti lembut.


 


 


Ibu itu sedikit terperangah,apa dia mendengar isi kepalaku? Bertanya dalam hati. Lalu isak lirih yang menyayat hati terdengar dari bibirnya. Ibu itu menangis tersedu-sedu,mengingat nasip putrinya yang sedang meregang nyawa. Keadannya mengenaskan. Tubuhnya yang kurus, sekarang benar-benar tinggal tulang dan kulit. “Duh Gusti Allah,apa salah kami?” suaranya terbata karena isak tangisnya.


 


 


“Sabar Bu,setiap kesulitan pasti ada jalan. Apapun kehendak Tuhan,adalah yang terbaik untuk makhluknya. Meskipun terkadang menyakitkan. Ibu harus ikhlas dan sabar. Maaf kalau saya terdengar menggurui,” Mengusap lembut bahu Ibu itu. Menuntunnya duduk kembali di kursi panjang ruang tunggu.


 


 


“Saya tidak pernah mendengar kalimat itu dari siapapun Dokter. Dokter benar,saya harus ikhlas,” Suaranya tercekat ditenggorokan.


 


 


Ikhlas, bukanlah kata yang mudah di realisasikan.


 


 


“Doakan saja yang terbaik Bu,Allah selalu mendengar do’a hambanya yang sungguh-sungguh meminta pertolongan. Saya percaya itu.”


 


 


“Anda muslim yang baik Dokter,semoga Gusti Allah melindungi Anda,”


 


 


 


 


“Ma’af telah mengganggu waktu Anda,” Menautkan tangan didepan dada.


 


 


“Tidak mengapa,saya kagum dengan Ibu. Ibu adalah perempuan hebat,” Tersenyum.


 


 


Ibu itu juga tersenyum,meski dipaksakan. Mengikuti dengan pandangan penuh harap,punggung sakti yang berjalan dan menghilang di balik pintu ruang rawat.


 


 


Sesampainya Sakti didalam ruangan,ia lansung disambut oleh suster jaga. Mengenakan seragam yang sesuai dengan protokol kesehatan. Menuju sebuah ranjang yang terletak diantara jajaran ranjang pasien lain.


 


 


Seorang pasien berjenis kelamin perempuan sedang berjuang melawan maut. Matanya terus melotot ke atas,nafasnya terdengar naik turun. Terdengar lirih suara lenguhan menahan rasa sakit, yang coba ia keluarkan. Kristal bening terlihat menetes disudut matanya.


 


 


“Nama?” memeriksa denyut nadi.


 


 


“Ayuni Sekartaji,Dok. Usia dua puluh tahun. Baru datang semalam,tapi keadaan pasien semakin memburuk setiap jam,” Suster jaga memberi informasi pasien.

__ADS_1


 


 


“Ada keluarga di luar?”


 


 


“Dari data diketahui,pasien hanya diantar oleh ibunya.”


 


 


Sakti menatab iba pada mata gadis itu,tolong selamatkan saya Dok,kasiahan ibu. Ditengah perjuangannya menahan nyawa yang sudah diujung tanduk,gadis itu mencoba memohon lewat pandangan matanya. Yang barang tentu Sakti juga mendengarnya.


 


 


“Saya akan berusaha. Bertahanlah demi ibumu,” Lalu melakukan tindakan medis yang sesuai.


 


 


Detak jantungnya mulai stabil,meski masih tergolong lemah. Nafasnya mulai teratur pelan. Dia selamat. Entah bagaimana Virus itu tak terlalu menyiksanya seperti yang dialami pasien lain. Meski tubuhnya juga terlihat mengering,tapi tak ada darah yang keluar dari mulut,hidung,atau matanya yang melotot. Hanya saja ia sering kesulitan bernafas dan detak jantung yang tiba-tiba melemah.


 


 


Dengan menggunakan kemampuannya sebagai seorang Vampir,ia berusaha membaca kejadian masa lalu yang di alami gadis ini. Mengusap kepalanya,lalu memejamkan mata sejenak. Hasil yang sama seperti pasien sebelumnya. Ingatan mereka tentang penyebab kejadian itu,seperti sengaja dihapus. Tak ada jejak apapun kecuali tanda dileher itu. Dua titik yang menghitam.


 


 


Dokter Sakti melihat kenangan sebelum gadis itu pergi meninggalkan rumah. Rumah yang kecil dan terlihat sederhana. Gadis itu memakai seragam khas penjaga minimarket, “Yuni berangkat ya Bu,”berpamitan sembari mencium tangan sang Ibu.


 


 


“Iyo nduk ati-ati,”jawab seorang ibu yang tadi sempat ngobrol dengan Sakti di ruang tunggu. Jadi,mereka ibu dan anak?


 


 


“Nggeh Bu,”jawab gadis yang dipanggil Yuni itu.


 


 


Ibu itu terlihat seperti sedang menahan perasaan gelisah. Terlihat tidak rela melepas kepergian anaknya. “Yun? Apa kamu ndak pengen cari kerjaan lain? Ibu selalu khawatir kalau kamu pulang malam,”


 


 


Gadis itu tersenyum,”Ibu,Yuni pasti baik-baik saja. Ibu jangan khawatir,kalau seandainya sesuatu yang buruk terjadi,ibu jangan sedih. Yuni pasti kuat,”tertawa pelan. Lalu pergi meninggalkan sang ibu.


 


 


Setelah itu tak ada kejadian lagi,langsung menuju kejadian ia ditemukan tergeletak di pinggir jalan,dan dibawa ke Rumah Sakit ini.


 


 


Sial,sakti mengumpat dalam hati. Lagi-lagi ia tak bisa mendapatkan informasi apapun. Tangannya mengepal geram. Apa aku harus pergi ke negri kegelapan? Gumamnya.


 


 


 


(mohon maaf ya update nya telat. maklum mamah muda dengan dua bocil..hehehe. jangan lupa like nya ya. terimakasih semuanya)

__ADS_1


__ADS_2