
Baru pertama kali dalam sejarah seratus lima puluh tahun kedidupannya Thomas dan Sakti Dirgantara tak berbicara sepatah katapun ketika sedang bersama. Sejak pagi mereka tenggelam dalam pikiran masing-masing. Sakti duduk di kursinya dan Thomas duduk di sofa.
Kejadian ngidam aneh Larasati masih menjadi topik terberat dalam kepalanya. Ia tak tahu bagaimana keadaan Laras semalam. Karena istrinya itu menyuruhnya pergi dan tidur diluar. Ketika Sakti terbangun dan masuk kedalam kamar. Larasti sedang duduk bersimpuh dilantai. Matanya terpejam,mengenakan pakaian tertutup,kedua tangannya terpaut didepan dada persis orang bertapa. Sakti tak berani mendekat atau menyapa,karena Laras sudah berpesan sebelumnya. Jika ia tak boleh diganggu. Sekarang Sakti punya PR yang lebih berat dari Matematika. Menjelaskan keadaan Laras pada mertuannya.
Sedangkan Thomas,merasa bahwa jalan cintanya untuk bisa bersama Emma sepertinya sangat berat. Belum apa-apa Kyai Jamal sudah terlihat tidak merestui. Dan Thomas tahu,jika Emma bukanlah tipe perempuan yang mau diajak kawin lari. Seandainya Thomas memilih jalan pintas dan sesat. Berputarlah otaknya mencari cara agar bisa menakhlukkan hati seorang Kyai agar mau merestui putrinya menikah dengan seorang iblis. Ah,Thomas baru kau tau kan repotnya cinta.
“Permisi Pak,apa kita jadi berangkat?” tanya Renata. Entah sudah berapa kali ia memberi salam didepan pintu dan tak satupun dijawab oleh keduanya.
Thomas bergeming,menyadari kehadiran Renata. Dia berdiri dan merapikan jasnya yang sedikit kusut. Begitu juga dengan Sakti. Mereka tetap diam seribu bahasa,persis suami-istri yang sedang bertengkar saja.
“Ada masalah Tuan?” kalimat pertama yang diucapkan Thomas setelah sampai didalam lift.
“Aku akan memberitahumu nanti,”
“Bagaimana kalau nanti kita minum kopi,saya juga ingin bicara sesuatu,”
Kenapa sih dua orang ini. Renata
“Hmm,” jawab Sakti singkat.
Mereka bertiga menuju gedung dimana Star Corp akan meresmikan produk bajakannya. Disanalah Thomas dan Sakti akan tahu,siapa orang yang mau menghancurkan Charlie’s Corporation.
“Kita menyamar sebagai orang biasa saja,” Sakti melepas jas dan dasinya,menggulung lengan bajunya hingga kesiku. Dan jangan lupakan topi hitam yang entah muncul dari mana sudah bertengger dikepalannya.
Sedangkan Thomas hanya melepas jasnya,menyisir rambutnya yang sudah rapi,dan tersenyum sendiri. Renata memandang aneh pada Presdir dan wakilnya ini,hari ini mereka benar-benar diluar jangkauannya.
Sampailah ketiganya didalam sebuah gedung yang sudah dipenuhi oleh para pemburu berita dan orang-orang dari Star Corp,juga kolega-kolega berdasi itu. Sakti dan rombongannya berhasil melewati penjagaan dengan mudah. Thomas mengurus semuanya (jangan tanya caranya).
Ada puluhan orang yang sudah menduduki kursi undangan,dengan kamera dan gadget ditangannya. Sebuah tanda pengenal melingkar dilehernya. Menunjukkan identitas mereka sebagai pemburu berita. Sakti,Thomas dan Renata duduk berpencar. Mereka membagi tugas untuk mengawasi setiap orang yang mencurigakan. Thomas menduga bukan hanya Toni yang berkhianat di perusahaannya. Toni hanyalah kambing hitam agar si pelaku utama tidak ketahuan.
Tak lama suara riuh bincang-bincang itu senyap. Menandakan konferensi pers sebentar lagi akan dimulai. Seorang pria berkacamata muncul lebih dulu,skip,tidak dikenal. Lalu seorang perempuan berambut pirang berjalan dibelakangnya dengan sebuah map ditangannya,pasti itu sekretaris,skip.
__ADS_1
Ternyata yang ditunggu-tunggu muncul juga. Seorang perempuan berambut lurus hitam dan panjang berjalan anggun dan duduk di kursi CEO. Barulah ketiga orang itu menatap serius kearahnya. Renata manggut-manggut,Sakti dan Thomas saling pandang,tak percaya. Sakti berdiri diikuti Thomas, CEO itu tak boleh melihat mereka.
Renata kaget bukan kepalang,ada perubahan rencana dan dia tidak diberitahu. Dasar kalau Bos memang suka seenaknya. Mau tidak mau Renata mengikuti dua orang itu dengan terpincang-pincang karena sepatu hak tingginya. Mereka pergi sebelum acara itu dimulai. Mereka, lebih tepatnya Sakti dan Thomas sudah tahu duduk perkaranya.
Sakti berjalan cepat didikuti Thomas,melupakan Renata yang masih jauh tertinggal dibelakang. Renata mengumpat berkali-kali karena tiba-tiba ditinggal pergi. Sungguh tak bisa dimengerti.
“Renata mana?” tanya Sakti menoleh kebelakang,
“Ah,saya sampai lupa Tuan,” ujar Thomas lalu berbalik hendak menjemput Renata. Tapi Renata yang terpincang-pincang sambil meneteng sepatunya sudah terlihat keluar pintu gedung pertemuan.
“Apa kau memikirkan hal yang sama Thom?” pandangannya masih mengawasi Renata yang memasang muka kesal dikejauhan. Kasihan juga dia,aku sampai lupa kalu dia itu manusia.
“Iya Tuan,perempuan itu kalau tidak salah adalah,,”
“Bella,”
“Benar,”
“Mungkin dia diselamatkan seseorang Tuan. Lalu sekarang,kenapa dia bisa ada ditempat ini dan jadi saingan bisnis kita. Bahkan menggunakan cara licik untuk memenangkan tender ini,”
“Kita akan cari tahu nanti,lebih baik kita kembali kekantor sekarang. Itu Renata sudah datang,” Sakti masuk lebih dulu kedalam mobil. Di ikuti Thomas,tak lama Renata membuka pintu depan,nafasnya terengah-engah karena mengikuti langkah dua bosnya yang tiba-tiba pergi setelah melihat CEO itu. Sebelum masuk Renata mematahkan sebelah haknya yang masih utuh. Jadilah high heels itu bertransformasi jadi flat shoes.
“Masuklah Ren,kita kembali kekantor,” ucap Thomas dari kursi kemudi.
“Baik Pak,” cih ternyata para pria itu memang egois,bahkan mereka tak perduli dengan sepatuku yang patah dan kakiku yang sakit ini.
Thomas dan Sakti tersenyum mendengar makian Renata dikepalanya.”Tuan bukankah Anda ingin membelikan hadiah untuk Nyonya Laras.” Kata Thomas setelah melajukan mobil meninggalkan pelataran gedung.
Kenapa kalian bahas itu sih,bukannya bilang kenapa tadi tiba-tiba pergi. Sepatuku sampai patah karena mengikuti kalian,tahu tidak?
“Ah,benar aku hampir lupa,kira-kira apa hadiah yang cocok untuk istri tercintaku ya,”
__ADS_1
Cih,Anda pamer terlalu berlebihan Pangeran.
Kalau iri bilang saja. Weeeek.
“Bagaimana kalau sepatu Tuan,” melirik Renata yang masih membuang muka.
Kasih hadiah itu emas,berlian,mobil atau rumah. Apaan sepatu. Renata masih menggerutu saking kesalnya.
“Boleh,bagus juga idemu,”
Berhentilah mobil mewah warna putih itu di sebuah butik yang juga menjual sepatu dengan harga sebanding satu buah motor. Mereka bertiga turun. Glek. Renata menelan ludah. Lebih baik dia nyeker dari pada beli sepatu ditempat ini. Uang gajinya tiga bulan lho yang dipertaruhkan.
“Saya permisi beli minum dulu Pak,bapak lanjut saja duluan,” kabur sajalah dari pada gigit jari.
“Renata,kamu pilihkan sepatu yang cocok untuk istri saya. Saya tidak tahu mana yang cocok untuk wanita hamil,” ucap sakti.
“Hah hamil?” Kaget Thomas dan Renata bersamaan.
Apa ini juga sandiwara Tuan?
Bisa gelap mata aku kalau lihat yang imut-imut didalam. Ya Tuhan selamatkanlah gajiku.
Sakti tersenyum tipis,”Benar,kalian tidak mau mengucapkan selamat?” menarik kerah bajunya dan tersenyum bangga penuh kemenangan.
Thomas dan Renata lalu mengucapkan selamat bergantian.
“Dan kau Renata, boleh pilih satu sepatu,karena aku sedang senang sekarang,” menatap Renata yang malu-malu tapi mau.
“Benar Pak?” gajiku aman,hehehe
“Hmmm,”
__ADS_1
“Terimakasih Pak,Anda memang Presdir paling baik didunia,” hilang sudah rasa kesalnya.