
Jauh dari kericuhan dan pertempuran di negri kegelapan.
Thomas sedang berdiri dengan dahi mengrenyit didepan sebuah rak buku. Kemarin Larasati minta dibawakan kitab suci kalau kembali dari kota X. Untuk mengurus perusahaan dan masalah dirumah sakit. Setiap hari pasien semakin bertambah.
Virus ini semakin tak terkendali. Puluhan bahkan ratusan nyawa melayang sia-sia setiap hari. Tenaga medis sudah kewalahan,meskipun bantuan dari luar daerah bahkan luar negri juga sudah didatangkan. Namun semua usaha sepertinya masih sia-sia. Dari ribuan orang yang terjangkit,hanya ada segelintir orang yang bisa bertahan.
“Ada yang bisa saya bantu Tuan?” suara lembut mengaggetkan lamunan Thomas.
Thomas terperanjat. Dia langsung menoleh kesumber suara disebelah kirinya. Seorang gadis berhijab sedang tersenyum ramah padanya.
Pakaian yang ia kenakan sama seperti para penjaga toko buku ini. mungkin dia salah satunya. Wajahnya cantik berseri,dengan dua lesung pipi yang menghiasi senyumnya. Cantik. Thomas refleks meraba jantungnya yang tiba-tiba berdegup cepat.
Seorang klan pemburu tengah terpesona dengan gadis berhijab didepan matanya.
Saat mata mereka beradu,gadis itu cepat-cepat menundukkan pandangannya. Ia selalu mengingat tentang ajaran yang disampaikan oleh ayahnya. Seorang wanita harus bisa menjaga pandangannya. Tak pantas rasanya jika ia bertatapan terlalu lama dengan laki-laki yang baru dikenalnya.
Gadis itu lalu menghadap rak buku. Menyusun dan merapikan buku yang sudah rapi. Tatapan tajam dari seorang Thomas Thomson mampu membuatnya salah tingkah.
“Saya sedang mencari sebuah kitab suci untuk umat muslim. Disini banyak sekali pilihannya. Saya tidak tahu mana yang benar.” Jelas Thomas polos.
Gadis itu mengerutkan dahi. Apa laki-laki disampingnya ini bukan seorang muslim pikirnya. Atau seorang mualaf yang masih minim ilmu pengetahuan tentang islam. Semua buku itu sama isinya,hanya warna kulit dan ukurannya saja yang berbeda.
“Mohon maaf, Tuan?”
“Thomas.”
“Ah iya. Begini Tuan,kalau boleh saya bisa memberi sedikit informasi yang anda butuhkan.”
“Silahkan, Nona?”
__ADS_1
“Fatimah,tapi biasa dipanggil Emma.”
“Nama yang cantik,seperti orangnya.” Kalimat itu keluar begitu saja dari mulutnya. Membuat Emma tersipu malu. Lalu Emma melanjutkan penjelasannya.
“Dalam islam hanya ada satu kitab suci yang dianggap benar. Yaitu Al-Qur’an Nur Karim. Semua buku yang anda lihat itu sama isinya Tuan Thomas. Hanya warna kulit dan kelengkapannya saja yang berbeda. Ada yang disertai terjemahan dan tajwid,ada yang hanya berisi ayat-ayat suci tanpa terjemahan.” Jelas Emma.
“Kalau begitu bisa pilihkan saya buku yang tepat?”
“Tentu saja Tuan.” Emma lalu meraih sebuah buku dengan warna emas,ukurannya lebih kecil. Disampulnya tertulis disertai terjemahan dan tajwid.”ini Tuan. Kalau yang seperti ini,bisa anda bawa kemanapun. Jika anda sewaktu-waktu ingin membacanya.” Menyerahkan buku pada Thomas.
Thomas menerima buku itu dengan tangan kanannya. Tiba-tiba sesuatu yang panas menjalari telapak tangannya,bergerak terus ke lengan,kesiku,hingga menjalar keseluruh tubuh dan berhenti didadanya. Kakinya tiba-tiba gemetar. Keringat dingin membanjiri seluruh tubuhnya. Wajahnya yang pucat semakin terlihat pucat pasi.
Apa ini? pikirnya. Jantungnya seperti mau meledak. Tapi ia sekuat tenaga menguasai tubuhnya yang tiba-tiba bereaksi aneh pada setumpuk kertas dengan tulisan rumit yang tak ia pahami.
“Aku sedikit tidak enak badan.” Bohong Thomas. Padahal tubuhnya seperti ingin pingsan saat itu juga. “Bisa kau bawakan saja buku itu nona Emma,aku akan membayarnya nanti.” Tambahnya.
“Baik Tuan. Akan saya bawakan kekasir. Anda duduk dulu di kursi itu,akan saya ambilkan minum.” Emma lalu meninggalkan Thomas yang sedang bersandar dirak buku.
Thomas memegang dadanya. Jantungnya terus berdebar tak beraturan. Thomas terus bertanya tanya,apa yang terjadi dengan dirinya. Begitu hebatkah buku itu hingga membuatnya seperti ini.
Tak lama,Emma datang dengan sebotol minuman kaleng. Gadis itu benar-benar khawatir rupanya. Membuat hati Thomas sedikit berdesir. “ini Tuan,maaf hanya ada ini didalam tas saya.”
“Terimakasih Nona.” Menerima minuman itu dan menghabiskan isinya dalam tiga tegukan panjang.
Emma masih menatap heran sekaligus iba pada Thomas. Bukankah pria ini terlihat baik-baik saja tadi,tapi kenapa saat menyentuh Al-Quran jadi begitu. Siapa sebenarnya laki-laki ini. Pakaiannya terlihat seperti seorang pengusaha. Setelan jas lengkap beserta dasinya.
__ADS_1
Tanpa sadar ia mengamati Thomas yang masih bersandar dengan memejamkan matanya. entah apa yang dirasakan laki-laki itu Emma tak tahu. Yang jelas Dia terlihat tidak sedang baik-baik saja sekarang.
"Kenapa Kau melihatku begitu Nona?" Matanya masih terpejam,tapi bisa tau apa yang dilakukan gadis didepannya dari apa yang dia pikirkan.
Lhah kok tau?
"Emm,maaf Tuan saya tidak sengaja." Tersipu malu. " Apa anda sudah merasa lebih baik?" Tanya Emma kemudian.
"hmm,terimakasih."
"Sama-sama Tuan. Saya permisi bekerja kembali." Berbalik dan pergi meninggalkan Thomas. Sesekali dia menoleh kebelakang untuk memastikan keadaan laki-laki itu.
Thomas lalu diam,berusaha mengendalikan diri dan nafasnya yang masih naik turun tak beraturan. Setelah bisa menguasai diri,Thomas bergegas pergi ke kasir untuk membayar buku.
Sebelum pergi dia mengatakan sesuatu pada Emma,”Semoga kita bisa bertemu lagi Nona Emma.”
Emma hanya tersenyum dan mengangguk sopan. Dalam hati ia mengagumi sosok tinggi sempurna itu. Dan juga berharap bisa bertemu lagi dengannya.
Thomas dengan susah payah membawa kantong kertas berisi buku itu. Buku sekecil itu kenapa berat sekali pikirnya. Berkali-kali ia mengusap keringat didahinya. Bajunya juga basah karena keringat. Padahal klan pemburu adalah klan terkuat,mampu mengangkat seribu gajah sekalipun. Tapi ini?
Hanya setumpuk kertas tak lebih dari dua ratus lembar,sudah membuatnya kewalahan.
***
Sesampainya di Istana. Thomas langsung memberikan buku itu pada Larasati.
Larasati mengerutkan dahi. Mengamati baju Thomas yang basah,dan juga wajahnya yang terlihat lelah. Apa yang kiranya terjadi dengan pengawal setia suaminya itu.
“Kau baik-baik saja Thom?” Tanya Laras khawatir. Dia juga merasa bersalah,karena Thomas mungkin kelelahan karena mengurus dirinya disana. Tak hanya tentang kitab suci yang dia minta. Tapi semua keperluan makan dan minumnya selama disana. Thomas yang mengurusnya.
“Apa isi buku itu Nona?” mengelap keringat didahi “ Aku seperti membawa satu bola dunia dipunggungku.” Mendesah. Baru kali ini dia benar-benar merasa lelah. Kecuali saat sedang kelaparan.
Larasati hampir tertawa,tapi ia urung melakukannya. Wajah Thomas saat itu benar-benar terlihat merana. Dia hanya tersenyum,”Kau ingin mendengar satu ayat dari buku ini?” Tanya Laras.
Thomas hanya mengangguk pelan. Dia takut tapi juga penasaran.
Lalu Larasati membaca sebuah surat dengan tenang. Suaranya indah sekali.
Tiba-tiba bangunan tinggi dan kokoh itu berguncang. Seperti ada gempa bumi berkekuatan tinggi sedang berusaha menumbangkan negri ini. Thomas sampai berlutut. Ada rasa takut yang tiba-tiba menyerangnya. Bayangan kehancuran dan kematian klan pemburu berkelebat didepan matanya.
“Sudah Nona. Cukup.” Nafasnya naik turun. Ada rasa panas yang menjalari tubuhnya. Lebih dari yang dia rasakan tadi.
Larasati berhenti. Mendekap Al-Quran didadanya. “Buku ini adalah petunjuk seluruh alam.” Katanya kemudian.
__ADS_1