
“Ya Allah,lindungilah aku dari godaan setan yang terkutuk.Amin”
Aku memohon perlindungan kepada zat yang Maha Suci. Aku tidak tahu apa maksud semua ini. Tapi yang jelas makhluk itu pasti bukan sekedar ilusi. Aku menghela nafas panjang,mengusir kegelisahan yang merayap dihatiku. Niatku semula yang ingin bangun dan membantu Mama menyiapkan makan siang,harus tertunda lagi. Aku kembali mengurung diri dikamar. Mencari semua informasi tentang dunia supranatural di situs pencarian yang tau semua hal.
Hujan diluar sudah reda,hanya menyisakan gerimis yang menenangkan. Udara menjadi lebih segar setelah hujan. Aku terus berkutat pada benda pipih ini. Mengulir ke atas dan kebawah tanpa henti. Membaca dan memahami apa yang tertulis disana.
Percaya atau tidak makhluk itu memang ada.
Kesimpulan yang aku dapatkan dari situs pencarian ini. Meski aku baru kali ini berhadapan langsung dengan hal seperti ini,tapi aku yakin kalau mereka itu memang ada. Hidup berdampingan dengan kita,menghirup udara yang sama, tanpa kita sadari. Namun ada batas yang jelas yang tidak boleh kita langgar. Saling mengganggu.
Namun aku merasa diganggu sekarang,tanpa aku tahu apa salahku. Apa wanita dalam cermin itu tergolong jin atau lainnya aku juga tidak tahu. Yang jelas aku terganggu dengan kemunculannya.
Saat aku masih serius berfikir. Mencoba memahami maksud kedatangannya,suara ketukan pintu membuyarkan lamunanku. Seperti biasa,Mama selalu masuk tanpa menunggu jawabanku. Menampilkan senyum ramah dan pandangan teduh yang menenangkan hatiku.
“Lagi ngapain Sayang?” Tanya Mama
“Nggak ada Ma,” Jawabku dusta. Aku tak mau buat mama khawatir.
“Ya udah ayo turun. Dari tadi setelah sarapan,kamu nggak ada muncul ke bawah,Mama kira kamu tidur.” Ujar Mama
Aku hanya meringis,tak mau menambah kebohongan lagi. Diam lebih baik dari pada berkata dusta. Aku meletakkan ponselku sembarangan. Berdiri mengikuti Mama turun ke lantai bawah. Sudah menjadi rutinitas di hari libur. Kami akan menghabiskan waktu bersama dirumah. Biasanya aku belajar membuat kue bersama mama,meski hanya untuk dinikmati sendiri sih. Tapi, disitulah letak nikmatnya.
Kita akan merasa senang saat kuenya matang sempurna. Jerih payah dengan keringat yang menetes akan terbayar dengan hasil yang memuaskan. Sedap dipandang,enak dimakan. Ya begitulah,kue buatan Mama selalu sempurna tanpa cela. Mama ku memang wanita paling hebat di dunia. Aku juga ingin seperti Mama.
Kami membawa kue lapis legit kesukaan Papa ke ruang keluarga. Papa terlihat serius menonton berita di layar kaca. Hidungnya kembang kempis saat mencium aroma kue yang masih hangat diatas nampan. Mama tersenyum geli,begitu juga aku. Papa-papa,tau aja kalau ada yang enak mau lewat.hehe
“Wah wah,inilah yang dinamakan surga dunia. Suasana hujan,selonjoran didepan televisi,dengan secangkir kopi dan kue lapis buatan istri tersayang.” Papa bersorak ria,saat Mama meletakkan nampan diatas meja.
Mama hanya mencibir,lalu tersenyum juga. Papa memang jagonya kalau urusan begini. Kami makan kue sambil mengobrol hal-hal ringan. Aku tak berani mengungkit masalah tadi dikamar. Biarlah ini menjadi rahasia untuk sementara.
“Gimana hubungan kamu dengan Dokter itu?” tanya Papa tiba-tiba.
Aku sedikit kaget mendengar pertanyaan Papa,”Baik kok Pa. Kenapa Pa?”
“Ya nggak Pa-pa. Kamu yakin mau nikah sama Dia?”
“Yakin kok Pa,” Jawabku mantab.
__ADS_1
“Meski pun dia orang baik,tapi dia tidak seiman dengan kita Laras,” Kata Papa kemudian.
Ah iya,aku pernah menceritakan tentang Sakti pada Mama-Papa. Mereka sedikit kaget saat aku bilang dia belum punya agama. Tapi Papa membiarkan hubungan kami,berharap dengan hubungan ini,aku bisa membawa satu orang untuk mengenal Tuhan. Mengikat kehidupannya dengan segala aturan yang ditetukan Tuhan,“Agama”.
“Pa,Laras percaya kalau Sakti itu sebenarnya sudah beriman. Hanya saja dia belum siap untuk menyatakan secara lisan. Laras pasti sabar nunggu kok Pa. Laras yakin Sakti pasti bisa jadi imam yang baik buat aku nanti,” Kataku meyakinkan Papa.
Papa terlihat diam,ada pancaran khawatir di matanya yang mulai keriput. Itu wajar dirasakan oleh setiap orang tua. Kekhawatiran saat akan melepaskan anaknya hidup bersama orang lain. Tapi aku yakin,Papa adalah orang yang bijaksana. Tidak mengkotak-kotak kan orang karena status atau derajat orang.
Tak terasa waktu sudah menjelang sore,hujan juga sudah reda. Matahari terlihat malu-malu dibalik awan,tapi pancaran sinarnya tetap memberi kehangatan. Bau tanah setelah hujan juga tercium khas. Aku keluar rumah,meregangkan otot diteras rumah. Ini benar-benar hari libur. Tapi tak melakukan apapun dirumah,bosan juga ternyata.
Aku menarik resleting seragam training ku. Jaket dan celana panjang dengan dua garis di tepian sisinya. Aku akan jalan-jalan sore naik sepeda hari ini,pasti menyengkan. Aku pergi kegarasi,menuntun sepeda yang sering ku naiki dulu. Tapi sekarang meski terlihat terawat,aku bahkan lupa kapan terakhir kali aku menaikinya.
Perlahan aku kayuh sepeda kesayanganku keluar gerbang,menusuri jalanan yang terlihat basah,tapi tidak licin sama sekali. Hujan deras akan membersihkan kotoran dijalanan.
Ku hirup dalam-dalam udara segar yang jarang kurasakan ini. Kota ini sudah penuh dengan polusi udara. Jumlah kendaraan dan banyaaknya pabrik yang berdiri menjadi faktor utama meningkatnya polusi udara. Hanya ada sekitar dua hekto are hutan yang tersisa di kota ini. itupun hutan buatan yang di tanam oleh pemerintah,untuk mengurangi pemanasan global.
Sepadaku terus ku kayuh hingga keluar kompleks. Menyusuri jalanan menuju taman kota yang kebetulan ada didekat sini. Mungkin disana akan sepi nanti,karena hujan yang mengguyur dari tadi pagi. Selang beberapa lama aku sampai juga disini. Taman kota.
Kurasakan keringat menetes didahiku. Pufffftt,ternyata cape juga. Padahal jaraknya tidak terlalu jauh. Mungkin karena aku jarang bersepedalah yang membuatku merasa cepat lelah.
Pandanganku terus menyusuri suasana yang menenangkan ini. Lalu aku melihat seseorang didalam gazebo yang ada disana. Aku penasaran siapa itu,sepertinya seorang nenek. Hatiku seperti mengkomando kaki untuk berjalan mendekatinya.
Setelah sampai disana,aku melihat nenek itu kedinginan. Badanya menggigil. Ia tersenyum saat melihat kedatanganku,”Neng mau beli kerupuk pecel? Insyaallah masih layak dimakan. Saya biasa jualan dari pagi,karena hujan belum ada yang membeli,” Ujarnya kemudian.
“Jadi mbah dari tadi pagi ada disini?” tanyaku kaget,pasti Nenek ini kedinginan.
“Iya Neng,saya tidak bisa pulang karena dagangan masih utuh,” Matanya terlihat berkaca-kaca,ada sirat kesedihan yang terpancar.
Aku duduk disampingnya,nenek itu lalu menggeser bakulnya untuk memberikan aku ruang duduk. Sedangkan ia bersimpuh di tengah gazebo menghadap dagangannya.
“Kalau gitu buatkan saya satu Mbh,”
“Iya,iya Neng,terimakasih.” Jawabnya kemudian,tangannya yang terlihat keriput dengan cekatan meracik dagangannya. Bibirnya terus mengulas senyum.
Ternyata bahagia itu sederhana ya?
__ADS_1
Aku terus memperhatikan saat ia mengambil kertas bungkus,lalu mencapitkan beberapa kerupuk pasir dan diguyur dengan beberapa sendok adonan sambal pecel. Tangannya terlihat gemetar saat memberikan bungkusan itu padaku,nenek itu tersenyum lagi.
Aku menerimanya,aku lalu mencuci tanganku di timba air yang sengaja diletakkan oleh pengelola tangan kota untuk mencuci tangan. Aku mulai makan,kurasakan kerupuk itu sedikit alot tak lagi renyah. Mungkin ia juga kedinginan seperti pemiliknya. Tapi tak mengapa,ini masih bisa dimakan. Dalam diam aku menghabiskan kerupuk pecel itu. Nenek itu terus tersenyum melihatku makan,ah,aku jadi teringat Oma.
Aku lalu memberikan beberapa lembar uang yang selalu ada disaku jaketku. Tangannya gemetar saat menerima uang itu,”Ini terlalu banyak Neng,saya tidak punya kembalian.”
“Buat Mbah aja,nggak pa-pa,”
“Tapi ini terlalu banyak untuk sebungkus kerupuk pecel. Harganya hanya tiga ribu perak neng. Dan ini?” matanya kembali berkaca-kaca.
“Nggak papa Mbh,anggap aja ini rejeki mbah yang dititipkan Tuhan lewat saya. Ambil aja.”
Nenek itu menangis memandangi lembaran ditangannya,”Terimakasih Neng,semoga Tuhan membalas kebaikan anda,” Mendekap uang didadanya.
“Sama-sama Mbah,” Aku berdiri,hendak ke parkiran untuk mengambil sepedaku. Aku berbalik,ada sesuatu yang harus aku katakan,”Mbh,kerupuk sambalnya enak.” Aku mengacungkan dua jempol tangan padanya. Dia masih tersenyum,sambil mengusap sudut matanya dengan kain jarik gendongnya.
Entahlah,aku juga merasa senang. Melihatnya tersenyum,padahal nenek itu bukan keluarga,teman,atau pun orang yang ku kenal. Aku tak tahu,yang jelas aku senang bisa membantu orang. tak terasa aku sudah sampai diparkiran sepeda,tak ada kendaraan lain disana. Mungkin orang-orang enggan keluar rumah. Rugi sekali mereka,tak bisa menikmati suasana indah ini.
“Kamu disini?” suara tak asing ku dengar. Aku membalikkan badan,dan ternyata,” Tuan Luke? Sedang apa anda disini?” Kenapa CEO menyebalkan ini ada disini,bukankah ini tempat yang jauh dari kantornya.
Dia memasukkan tangan ke saku hodie nya,masih menatapku dengan pandangan itu. Aku benci caranya menatapku. “Inikan tempat umum,jadi siapa saja boleh datang kan?” katanya santai. Lihat senyum sinis yang menjengkelkan itu. Aku ingin segera pergi dari sana.
“Oh,saya duluan Tuan.” Sudah bersiap mengayuh sepedaku,dia malah menghalangi jalan. Apa maunya?
”Kamu nggak ngajak aku mampir? Ini dingin lho,nggak mau nawarin aku minum teh?”
Cih senyummu saja jahat begitu,mana sudi aku. “Kita nggak sedekat itu ya Tuan untuk minum teh dirumaku.” Entah mengapa aku kesal sekali padanya.
Aku mengabaikannya,mengayuh sepedaku meninggalkan pria itu. biar saja dia kedinginan,disana banyak kafe yang menjual minuman hangat. Tak perlu mampir kerumahku,dan aku yakin dia lebih dari mampu untuk membeli segelas teh.
Epilog:
Pria itu terus menatap punggung Larasati yang menjauh. Bibirnya tersenyum tipis,kenapa aku tidak bisa melakukannya,gumamnya lirih. Ia yang semula ingin menangkap Larasati dengan tipu muslihatnya. Mengurungkan niat saat melihat Laras dipondok bersama seorang nenek tua. Entah mengapa hatinya menghangat melihat sikap gadis itu.
Tanpa ia sadari,ada sesuatu yang sedang berusaha tumbuh dihatinya yang dingin dan gelap.
__ADS_1