
Seperti biasa,pagi ini keluarga Handam Wijaya sarapan pagi
bersama. Meja makan terasa lebih hangat dengan kepulangan putri tunggal mereka.
Beberapa hari ini,Nyonya Martha dibantu pelayan dan juga Larasati, selalu
memasak makanan kesukaan Putrinya. Semua makanan itu sudah tertata rapi diatas
meja makan. Larasati turun dari kamarnya,setelah selesai mandi.
“Eh,Papa kok udah ganteng? Maaf ya Pa,Laras lama ya?” Larasati
menyapa sang Ayah yang sudah duduk di kursi kebesarannya sebagai kepala keluarga.
Pria itu tersenyum,”nggak kok ,Papa juga baru duduk.”
Jawabnya lembut.
“Ayo makan dulu,nanti aja ngobrolnya,nanti keburu dingin kan
nggak enak.” Kata Nyonya Martha sembari meletakkan pring sang suami yang sudah
ia isi dengan menu lengkap.
“Wah,mama masaknya,enak terus. Bisa-bisa Papa gemuk ini.”
kata Pak Handam.
“Iya dong,mama seneng Laras kumpul bareng kita lagi.
Jadi,pengen masak apa aja yang Laras suka.” Menyendokan nasi kepiringnya
sendiri.
“hehehe,tapi jangan sering-sering Ma,nanti Mama cape karna
harus bangun pagi. Mama kan juga kerja.” Kata Laras.
“nggak papa,Mama seneng kok. Ayo kita makan.”
Keluarga kecil ini lalu makan dalam diam. Sudah menjadi
kebiasaan dirumah ini,tak ada acara ngobrol sewaktu makan. Memang terlihat
kaku,tapi itulah aturan ketat yang harus dipatuhi seluruh anggota keluarga.
Karena sudah terbiasa,semua tetap menikmati setiap momen makan bersama.
“Hari ini kamu ikut Papa ke Kantor ya?” kata Pak
Handam,setelah makanan dipiringnya habis,dan meminum sedikit kopi hitamnya.
“Kenapa Pa?” tanya Laras,ia juga sudah menyelesaikan ritual
sarapan.
“Kamu kan sudah lulus,dan di kantor Papa sedang membutuhkan
sekretaris sementara. Sekretaris lama Papa sedang cuti,karena harus merawat
ibunya yang sakit-sakitan. Jadi waktunya nggak pasti,kapan dia bisa kerja
lagi.”
“Oh,gitu?” larasati manggut-manggut mendengar penuturan
Papanya.
“Kamu juga bisa sekalian belajar ngurus perusahaan.
Bagaimanapun juga,Papamu ini akan menua dan jadi manula. Siapa lagi yang bakal
nerusin usaha ini,kalau bukan kamu?”
“Papa kok ngomong gitu. Papa akan selalu awet muda sepanjang
masa,karena kebaikan hati Papa.” Kata Laras.
Pak Handam tertawa kecil mendengar hal itu,” Bisa aja kamu
bikin Papa semangat lagi. Tapi, tetep kamu harus belajar dari sekarang,supaya kamu
paham benar bagaimana perusahaan kita.” Kata Pak Handam meyakinkan putrinya.
“iya deh, Papa yang bijaksana. Hamba akan melaksanakan
perintah Paduka.”
“haha,kamu ini ada-ada aja. Udah,ganti baju sana. Hari ini
kita langsung ketemu klien penting.”
“Apa? Kok Papa nggak ngomong dari kemarin ,aku kan belum
nyiapain apa-apa.” Nadanya terdengar merajuk manja.
“gimana mau cerita,kamu sibuk terus sama Dokter pujaan kamu
itu.” Kata Mama.
“hehehe,masak sih?”
“udah sana,nanti telat lagi. Ini misi pertama kamu lho.”
Tambah sang Mama.
“siap komandan.” Membuat gerakan hormat,dan berlari menaiki
tangga.
“e,e,jangan lari-lari nanti jatuh.” Larasati akan tetap
menjadi gadis kecilku yang manja,gumam Mama Martha dalam hati.
Pagi itu, Larasati memakai setelan blazer warna abu-abu yang
dipadukan dengan rok selutut yang senada. Sepasang sepatu heels crem membalut
indah kaki jenjangnya. Rambut bergelombangnya ia jepit dibagian samping.
Penampilannya lebih mirip CEO dari pada seorang sekretaris.
“Cantik banget anak Papa.” Kata Pak Handam,pria itu sudah
berada di teras rumah dan bersiap untuk berangkat.
“Siapa dulu dong Papanya?” kata Laras,lalu tertawa.
“Jadi, Mama nggak ikut andil nih?” Mama Martha memasang
wajah cemberut yang di buat-buat.
“hehe,Mama tetep yang terbaik,dan wanita tercantik didunia.”
Kata Larasati,lalu memeluk ibunya sayang.
“Sudah main dramanya,bener telat kita nanti. Papa berangkat
ya Ma.” Mencium puncak kepala istrinya.
“iya Pa,hati-hati. Bimbing Putri kita untuk jadi orang
sukses.” Meraih tangan suaminya,dan menciumnya lembut.
Larasati hanya diam sambil tersenyum melihat pemandangan
pagi itu. Bagaimana kedua orang yang sudah hidup bersama selama puluhan
tahun,masih bisa terlihat mesra setiap harinya. Apa aku juga akan begitu dengan
Sakti nanti,kalau sudah menikah? Menjadi pasangan sehidup semati yang saling
menyayangi hingga tua nanti.
__ADS_1
“jangan melamun kamu pagi-pagi. Kalau jodoh tak kan kemana.”
Suara sang Papa membuyarkan lamunannya.
“nggak kok Pa,siapa yang melamun. Laras Cuma seneng liat
Mama sama Papa.”
“Kamu pasti lagi membayangkan Dokter itu kan?” tanya
Mama,menimpali candaan suaminya.
Eh,apa begitu
kelihatan? Aaaaa,malu.
“nggak,nggak ada yang begituan. Ayo Pa kita berangkat. Laras
berangkat dulu ya Ma.” Ayo kabur,sebelum lebih malu lagi.
“Pasti mau kabur kan kamu.” Mama Martha tertawa kecil.
Aaaaa,mama. Apa mama
ini Paranormal ya?
Larasati kemudian berlari ke mobil setelah mencium tangan
sang Mama. Wajahnya terasa panas,padahal udara pagi ini masih sejuk dan segar.
Tak lama sang Papa masuk ke mobil yang sama,wajahnya terlihat datar. Untung
papa sudah tidak membahas hal tadi,bisa nggak konsen kerja aku nanti.
Ah,Pangeranku,sedang apakah kamu?hihihi
“ini berkas yang harus kamu pelajari. Semua data klien kita
hari ini ada disana. Ingat,lakukan apa saja yang kamu rasa benar. Jangan takut
berbuat kesalahan. Karena, kebenaran tidak akan pernah kita ketahui tanpa
adanya kesalahan.” Kata Pak Handam datar.
Mode kerja di mulai. Melatih putrinya menjadi profesional
dalam melakukan tugasnya.
“Baik Pak.” Larasati lalu menerima sebuah berkas warna hijau
yang di berikan sang Papa. Disampul depanya tertulis “LUXURY Corp.”,dari
namanya seperti perusahaan yang bekerja dibidang Fashion. Laras lalu membuka
dan membaca isinya,ternyata benar dugaanya. Perusaahan yang akan bekerja sama
dengan mereka,menggeluti bidang Fashion anak muda jaman sekarang. Dari baju
,tas,sepatu,hingga aksesoris kekinian. Proposal yang terkesan percaya
diri,detail,dan maksimal. Siapa CEO nya ya? William Luke. Oh,jadi seorang Pria.
Oke,aku pasti bisa,kata Laras dalam hati.
Wijaya Groub adalah sebuah perusahaan yang bekerja dibidang
tekstil. Sudah ada ribuan cabangnya yang tersebar di seluruh negri. Tapi tak
semuanya di bidang tekstil,perusahaan ini mulai merambah ke dunia kuliner dan
juga lainnya. Ada beberapa hotel bintang lima,dan restaurant mewah yang berada
di bawah naungannya. Apapun yang sekiranya berpotensi,akan mereka kejar. Pak
handam benar-benar bekerja keras untuk semua orang. Di bawah
kepemimpinanya,ribuan anak cabang yang berbeda jalur itu bisa terkoordinasi
dengan baik,dengan bantuan orang-orang yang setia dibelakangnya.
sepenuh hati. Mereka bekerja bukan hanya soal uang,entah apa yang membuat
mereka begitu setia pada Perusahaan ini. Mungkin memamang benar kata Laras,ini
semua karena sikap ayahnya yang selalu merangkul dan mengayomi setiap orang
yang mengabdikan diri demi kejayaan perusahaan. Ayahnya selalu punya cara untuk
membuat orang menyayanginya. Sungguh sosok Pemimpin yang sulit dicari di zaman
otoriter ini.
“Kita sudah sampai Tuan.” Kata Pak Noto. Beliau juga salah
satu orang yang sudah mengikuti Pak Handam sejak muda. Mungkin umurnya hanya terpaut
beberapa tahun lebih tua dari majikannya itu.
“terimakasih Pak,bapak boleh menunggu di tempat yang bapak
mau. Kembalilah dua jam lagi.” Kata Pak Handam.
“saya akan menunggu di parkiran saja Tuan.” Jawabnya sopan.
“terserah kamu. Buatlah dirimu nyaman,dimanapun ber ada.”
“baik Tuan.” Lalu pria paruh baya itu turun dari mobil dan
membuka pintu belakang. Sedikit membungkuk saat Larasati dan Papanya turun dari
mobil.
“klien kita sudah menunggu di ruangan khusus. Baru saja
sekretarisnya menghubungi saya.” Pak Handam sedikit mempercepat langkahnya,tak
mau klien itu menunggu lebih lama lagi. Ini akan membuat citranya
buruk,terlambat.
“Beliau yang mengundang kita kemari Pak?” tanya Laras,ia
sedikit tergopoh menyamai langkah kaki sang Ayah.
“seharusnya begitu,karena dia yang ingin bekerja sama.”
“Maksudnya Pak?” Larasati sedikit bingung dengan jawaban
Ayahnya.
“Orang itu yang menginginkan pertemuan ini,tapi meminta saya
yang menentukan tempatnya,dan meminta untuk mengundangnya.” Langkah kakinya
terhenti karena seorang pelayan terlihat menghampiri. “saya sudah ada janji
dengan Tuan Luke,ruangan 403.” Kata pak Handam,sebelum pelayan itu mengatakan
apapun.
“baik,mari silahkan Pak,lewat sini ruangannya.” Pelayan
wanita itu mengagguk sopan dan berjalan didepan mereka.
Laras dan sang ayah mengikuti pelayan itu. Lalu bertanya
suatu hal yang masih mengganjal dihatinya,”kenapa Beliau minta diundang Pak?”
sungguh aneh, pikir Laras.
“entahlah,katanya Dia tidak bisa datang ke Tempat yang tidak
diundang.”
__ADS_1
“sepertinya klien kita ini Orang yang unik ya, Pak. Semoga
kita bisa bekerja sama dengan perusahaan mereka.”
“hmmm.” Jawab Pak Handam singkat.
Mereka kini sudah sampai diruangan yang di maksud. Pelayan
yang tadi mengantarkan mereka,sudah pergi setelah menerima uang tips dari
Larasati. Pelayan itu membungkuk beberapa kali untuk berterima kasih.
Larasati mengetuk pintu pelan tiga kali. Tak lama terdengar
derap langkah mendekat ke arah pintu. Seorang perempuan muda berbaju seksi
tersenyum manis setelah pintu terbuka.
“selamat datang Tuan Handam Wijaya,silahkan masuk. Anda
sudah ditunggu.” Katanya sopan,lalu sedikit menggeser tubuhnya,memberi jalan
mereka untuk masuk.
Saat Larasati melewatinya,perempuan itu seperti
terkejut,namun ia segera menguasai diri hingga tak ada yang menyadari itu.
Kecuali Bos Muda yang sedang duduk menyilangkan kaki di sofa,pandangan matanya
sudah mengawasi Larasati sejak gadis itu terlihat ujung hidungnya.
Saat mata Laras bertemu pria itu,tiba tiba,deg deg.
Jantungnya berdetak cepat, Ia seperti pernah melihat pria ini,tapi dimana?
Lagi-lagi aku merasa mengenal seseorang yang tak ku ketahui,aneh.
Pria itu terlihat berdiri untuk menyambut kedatangan
mereka.”selamat datang Tuan.” Sapanya sopan.
“terimakasih,maaf saya sedikit terlambat.” Nadanya terdengar
datar,meski sedang minta maaf.
“tidak mengapa Tuan,saya juga belum terlalu lama.” Melirik
Larasati “dan ini Nona..?”
“Stela Larasati,dia sekretaris baru saya. Jadi mohon
dimaklumi jika nanti sedikit kaku.” Kata Pak Handam,lalu tersenyum. Pria ini
tidak mengatakan siapa Larasati sebenarnya.
Aku tau dia putrimu
pria tua. Kamu pikir untuk apa aku lakukan semua ini.
“oh,gadis yang
cantik. Mari silahkan duduk. Kita langsung saja.” Tersenyum aneh yang sulit
diartikan oleh Larasati dan Ayahnya.
Meeting selama dua jam itu terasa lebih lama bagi Larasati.
Bukan karena ia tak menguasai materi atau tak tahu tugasnya. Tapi ia sedikit
risih dengan tatapan bos dan sekretarisnya ini. Mereka berdua,beberapa kali
melihatnya dengan tatapan aneh. Akhirnya meeting yang terasa berat untuk Laras
ini,berakhir dengan kata sepakat. Perusahaan Luxury Corp akan bekerja sama
dengan Wijaya Groub. Mengembangkan bidang Fashion masa kini,dengan bahan-bahan
yang disuplai dari perusahaan Wijaya Groub.
Tuan Luke mengulurkan tangan sebagai formalitas
kesepakatan,“Semoga kita bisa bekerja sama seterusnya Tuan. Bisa mengenal anda
adalah sebuah keberuntungan bagi kami.” Kata Tuan Luke,bibirnya lagi-lagi
tersenyum aneh.
“Terimakasih. Semoga bisnis ini bisa berjalan lancar
kedepannya.” Menyambut uluran tangan Tuan Luke. Menjabatnya erat,ia sedikit
kaget saat merasakan sengatan dingin yang terasa menjalar di telapak
tangannya.”kami permisi duluan,masih ada meeting setelah ini.” tambahnya.
“silahkan Tuan,terimakasih atas waktu anda. Sampai jumpa di
pertemuan berikutnya.” Mengangguk sopan.
“sama-sama.”
Larasati hanya tersenyum dan membungkuk sopan, lalu
mengikuti langkah kaki sang ayah menuju pintu keluar. Dari tadi jantungnya
terus berdetak,kenapa aku merasa terintimidasi dengan dua orang itu. Selama
meeting,tak ada sepatah katapun yang keluar dari mulutnya. Ia hanya fokus
mencatat hasil meeting,sambil menenangkan jantungnya yang terus berdebar.
Epilog :
“apa dia manusia itu?”
“ya,cantik kan? Sayang sekali harus mati.” Berdecak pelan.
“cih,tapi tak lebih cantik dariku.”
“kamu lihat saja. Aku pasti bisa mendapatkan manusia itu.
Dengan caraku sendiri.”
“apa yang akan kamu lakukan,menculiknya?” tersenyum sinis.
“Biarkanlah kecepatanmu seperti angin dan tenanglah seperti
gunung. Diamlah seperti hutan,dan bergeraklah seperti api saat mangsa sudah
masuk perangkap.” Katanya tenang ,saat mengatakan Sebuah strategi yang
digunakan oleh seorang panglima perang di negri J. Ia mendengar kalimat itu
saat berkunjung kesana beberapa waktu lalu.
“cih,buktikan saja. Kalau kamu tidak mampu,biar aku yang
melakukannya.”
“jangan berani kau sentuh manusia itu sedikitpun tanpa
seijinku,ingat tujuan kita.”
“ya ya ya,terserah.” Lalu hilang dalam sekejab mata.
Pria tampan yang masih memakai setelan jas lengkap itu,lalu
menyandarkan kepala di sofa yang tadi ia duduki selama dua jam. Bibirnya
tersenyum tipis lalu bergumam,akan ku buat kau datang padaku gadis
cantik,menyerahkan hidupmu dengan suka rela untuk menjadi tumbal kejayaan
__ADS_1
bangsaku.