
Di Kota Y. Kejadian disaat pengantin baru itu baru berangkat ke Negri kegelapan.
Terjadi kegaduhan di ruangan Presdir Luxury corp. Kabar tentang pernikahan Larasati begitu cepat tersebar. Meski keluarga terkesan menutupi atau tidak mengumumkan pernikahan mendadak itu kepada umum. Tapi kabar yang tersebar dari mulut kemulut akhirnya sampai ditelinga Tuan Luke.
Braaakkk,
Suara gebrakan meja terdengar menggema hingga ke lorong-lorong dilantai tertinggi. Bahkan meja tebal yang terbuat dari kayu itu telah berlubang sekarang. Tuan William Luke tak lagi bisa menahan diri. Tubuhnya yang dingin terasa terbakar dalam tungku api raksasa. Hingga panas itu menjalar ke hatinya. Amarah dan cemburu saat ini sedang bersekongkol untuk membakar hatinya.
Cukup satukali kau mengambil wanitaku.Tangannya mengepal geram. Buku-buku tangannya terlihat memerah,tapi tidak terluka. Begitu juga mata coklatnya berubah menjadi merah menyala.
Seorang pemburu berdiri gemetar didepannya. Tak menyangka kabar yang ia bawa akan menyiram bensin dalam kobaran api. Tubuhnya sudah gemetar hanya karena gebrakan meja dan perubahan warna mata Tuannya. Seharusnya ini tak menakuti seorang pemburu sepertinya. Kaum pemburu tak pernah takut pada kematian sekalipun. Tapi riwayat tentang kekejaman Tuan Luke saat menghabis musuh atau pengawal yang gagal melakukan tugasnya,membuat nya bergidik ngeri.
Saya hanya menjalankan tugas untuk mengawasi gadis itu Tuan. Mohon ampuni saya.
Tuan Luke masih diam. Tak memberi respon apapun. Tiba-tiba tangan kekarnya menyapu bersih berkas dan pernik lainnya di atas meja. Membuat ruangan yang senantiasa rapi itu seperti habis diterjang banjir,tapi ia tak perduli. Suara teriakannya menggema di ruangan itu. Cukup. Pengawal ini tak boleh tau sisi lemahnya.” Pergilah,aku mengampunimu kali ini,”ujarnya.
Pengawal itu tak sadar hingga membuka mulutnya. Seakan tak percaya dengan kalimat yang baru saja masuk kedalam gendang telinganya. Ampun? Ini bukan kosa kata biasa, yang keluar dari mulut seorang pemburu yang pernah menghancurkan tubuh seorang pengawal hanya karena gagal menagkap buruan. Pengawal itu menelan ludah. Mungkin dewi fortuna sedang berpihak padanya hari ini. Pengawal itu lalu membungkuk sopan dan meninggalkan san Presdir palsu itu untuk menenangkan diri.
Sekarang ia sendiri. Helaan nafasnya masih naik-turun tak beraturan. Dadanya terasa sesak. Ingatanya kembali pada beberapa ratus tahun yang lalu. Nama seorang pemburu berparas cantik melintas dikepalanya. Membuat sakit dan sesak itu semakin menghimpit dadanya. Cinta pertama yang tak pernah membalas cintanya dan lebih memilih untuk mengejar seorang Pangeran sombong yang tak pernah melihatnya walau sekali saja. Bella. Gumamnya kemudian.
Tangan kekarnya memukul-mukul dada bidangnya. Mencoba membuang sesak yang semakin menyiksa. Aku seorang Pemburu. Ini bukan sifat kaum pemburu. Lemah.
Tuan Luke berjalan ke arah jendela. Membuka sedikit tirai yang selalu tertutup itu. Mengintip pemandangan kota di malam hari. Kerlip lampu jalanan terlihat seperti kunang-kunang ditengah hutan. Bibirnya tersenyum sinis. Apa hebatnya kau dibanding aku. Hingga semua wanita yang aku inginkan lebih memilihmu. Tangannya kembali mengepal geram. Mencengkeran tirai yang ia pegang dengan sekuat tenaga.
__ADS_1
Aku tak akan lagi mengalah. Jika memang harus,aku akan merebutnya darimu. Tidak perduli suka atau tidak. Larasati harus jadi milikku. Tubuhnya,darahnya,dan hatinya. Senyumnya menyeringai jahat.
Ia meraih ponsel disaku jasnya. Mendial sebuah nomor lalu mendekatkan benda pipih itu ke telinganya. Setelah terdengar sahutan dari sebrang,ia mengatakan, “Kita pulang. Tinggakan tempat ini. Semua penyamaran ini sudah tidak berguna sekarang. Buruan sudah masuk kandang,” lalu menutup telepon sepihak.
***
Kembali kepada sepasang suami istri yang sedang berpelukan diatas ranjang king size Sang Pangeran. Sebuah selimut tebal dari kain sutra membungkus tubuh keduanya. Sakti bersandar pada kepala ranjang,sedangkan Laras merebahkan kepala diatas dada suaminya. Tangan kanannya sedang bermain-main dengan sesuatu yang bulat. Mengusap, lalu membuat putaran-putaran kecil dengan ujung jarinya.
“Kenapa tidak sekalian kau hitung berapa jumlahnya?” kata Sakti tiba-tiba. Tangannya mengelus kepala Laras dengan lembut.
“He he he. Abis kancing baju kamu ko bagus banget. Berkilauan dan ada hiasan didalamnya. Kaya akuarium tau nggak.”(hayooo,mikir apa barusan? wkwkwk)
“Kamu mau yang seperti ini? biar Thomas yang belikan,” Mengusap-usapkan dagu dipuncak kepala Larasati.
“Nggak usah sayang. Suka bukan berarti harus punya,” Mendongakkan kepala menatap wajah suaminya yang tersenyum. Cup. Satu kecupan kilat mendarat di keningnya. Larasati tersenyum,lalu membenamkan kembali kepala didada bidang Sakti. Tangannya masih mengusap-usap kancing baju yang menurutnya unik itu.
“Laras,apa kamu takut jika semua itu benar?” wajahnya berubah muram. Matanya menatap keluar jendela yang gelap. Tangan dinginnya masih telaten mengusap rambut bergelombang yang tergerai itu.
Larasati kembali mendongak. Sedikit bangun untuk mensejajarkan tubuhnya dengan Sakti. Tangannya terulur untuk menyentuh pipi dingin itu. Membuat mata mereka saling beradu. Mata biru berlian itu memancarkan kesedihan. “Sayang. Semua hal yang ada didunia ini pasti ada karena sebuah alasan. Jika memang itu tujuanku dilahirkan kedunia ini. Aku ikhlas Sayang. Dan kamu juga harus bisa terima itu,” hatinya sakit sebenarnya saat mengatakan itu.
Sakti meraih tangan Larasati yang mengusap pipinya. Menggenggamnya erat. Seakan tak mau melepaskan. Lalu mengalihkan pandangan,tak sanggup memandang bola mata hitam yang mengatakan ikhlas tapi dengan berkaca-kaca. Semua di luar ekspetasinya. Obat itu ternyata ada di dekatnya selama ini. Manusia paling ia cintai seumur hidupnya.
Matanya memandang hampa. Ingatan tentang kejadian di Ruangan Raja,seperti film yang berputar di kepalanya.
__ADS_1
“Apa maksud Ayah? Dia ini istriku ayah. Larasati manusia biasa. Dia bukan Reinkarnasi Dewi itu atau pun Darah Suci seperti yang Ayah katakan,” Sakti berusaha mengontrol suaranya. Meski hatinya berontak ingin berteriak. Tapi ia tak boleh melampaui batas. Bagaimanapun Raja Charles adalah ayah dan juga pimpinan tertinggi klan pemburu. Kata-katanya adalah perintah mutlak yang tak bisa di ganggu gugat.
“Apa karena terlalu lama hidup bersama para manusia,kau jadi kehilangan kemampuanmu? Tidak kah kau lihat wajah gadis itu dan aroma darahnya. Wajahnya persis seperti Dewi Amora,penjaga negri kita. Dan aroma darahnya tetap tercium meski kamu memberikan kalung penyamaran itu.” jelas Sang Raja. Nadanya mulai terdengar normal. Matanya kembali menjadi biru berlian.
Sakti terdiam,tak bisa menjawab. Hatinya selama ini menolak pendapat akal sehatnya tentang Larasati. Bukannya ia tak menyadari semua itu. Sakti hanya berusaha mensugesti dirinya untuk tak mengingat tentang hal itu. Tapi,sejauh apapun kita berlari. Tidak akan bisa merubah kenyataan yang ada. Larasati,manusia yang mati-matian ia jaga. Ia perjuangkan cintanya. Adalah tumbal yang harus di korbankan saat bulan purnama merah nanti.
Sakti tertunduk. Dia bimbang. Posisinya seperti sedang memakan buah simalakama. Hanya genggaman tangan Laras yang membuatnya tetap sadar dan tak terlalu kalut.
“Dengarlah Putraku. Kamu adalah calon Raja negri ini. Kau akui atau tidak itulah takdirmu. Kau sudah benar membawa gadis itu kemari. Darahnya akan menyelamatkan bangsa kita dan ribuan manusia yang sekarat di dunianya.”
Tiga orang yang sedang duduk bersimpuh itu terperanjat. Semakin tak paham dengan maksud Sang Raja. “Mohon Baginda jelaskan kepada kami.” Kata Thomas sopan. Ia juga kaget.
“Darah suci adalah darah istimewa yang dimiliki oleh seorang manusia pilihan. Jika dibandingkan mungkin satu milyar orang berbanding satu orang. Dan kau,gadis manis. Kau satu orang yang beruntung itu.”
Apa ini bisa disebut keberuntungan?
“Darah suci akan membawa kesejahteraan dan juga kemalangan. Untuk itulah aku mengatakan dia darah suci yang dikutuk. Darah itu bisa membuat siapapun yang meminumnya hidup abadi,kuat tak tertandingi,dan terbebas dari segala macam rasa sakit. Namun itu akan menjadi bencana jika jatuh ketangan yang salah. Golongan pemburu yang haus darah dan kekuasaan akan dengan mudah menghancurkan dunia ini. Memangsa seluruh manusia hingga tak tersisa. Dan benda bulat yang kita sebut bumi ini,akan dikuasai kaum pemburu seutuhnya. Jika hal itu sampai terjadi.” Matanya menatap tajam kepada Larasati. Tapi gadis itu tak pernah sedikitpun mengangkat kepalanya. Meski ia ingin.
“Tapi Ayah,aku sangat mencintai Larasati. aku tidak bisa membiarkan dia sebagai tumbal. Kalau ayah memaksa,terpaksa aku juga akan melawan,” Sakti tak perduli jika harus mati. Atau dihujat bangsanya sendirisebagai penghianat. Yang penting Laras selamat pikirnya.
Raja Charles menghela nafas panjang. Cinta putranya begitu besar untuk manusia ini. ia tahu rasanya,saat dipisahkan dengan orang yang iacintai. Sakti tak pernah tahu jika ayahnya dulu juga memperjuangkan cintanya. Meski berakhir dengan duka. Istrinya atau ibu Sakti meninggal saat lari dari kejaran para pengawal suruhan kakek Sakti. Cinta mereka tak direstui. Karena ibu Sakti atau Dominic berasal dari kasta klan terendah. Keluarga kerajaan terpaksa menerima Sakti yang masih bayi sebagai penerus kerajaan. Karena Raja Charles tak pernah mau menikah lagi.
Wajah cantik istrinya seperti tersenyum di dinding kastil ini. ******* angin malam terdengar seperti bisikan suaranya. Raja Charles memejamkan mata,menata hati dan pikirannya yang mulai tidak terkontrol. Lalu suara itu datang lagi,”Baginda,jadilah Raja untuk semua Rakyatmu. Berlakulah adil. Termasuk dengan putramu. Bantulah dia.” Terngiang ditelinganya.
__ADS_1