Bukan Cinta Biasa (Vampire Love Story)

Bukan Cinta Biasa (Vampire Love Story)
Dua Kalimat Syahadat


__ADS_3

Suasana di Rumah Keluarga Handam Wijaya terlihat sedikit berbeda pagi ini. Meski tak begitu mencolok. Tapi siapapun yang bisa melihat,pasti tau akan ada sesuatu yang terjadi pagi itu. Lalu lalang para pelayan yang terkesan sigap,seperti sedang mengejar sesuatu. Tepat waktu.


 


 


Ruang tamu mendadak disulap menjadi tempat berbeda. Sofa,meja dan pernak-pernik lain yang dinilai tidak diperlukan disingkirkan entah kemana. Karpet besar digelar. Sebuah meja pendek ukuran sedang diletakkan di tengah ruangan. Ada sebuah kitab suci warna emas diatasnya.


 


 


Disudut kanan dan kiri  ruangan diletakkan vas bunga ukuran besar. Berisi aneka rupa keindahan. Harum semerbak. Semua orang disini tau. Akan ada acara penting pagi ini. Pernikahan Nona muda dengan seorang Dokter dari kota sebrang Pulau. Mereka mengingat sekilas wajah tampan yang kemarin malam berkunjung. Senyum ramah dan pandangan teduh penuh kasih. Serasi,gumam mereka.


 


 


Meski penasaran,mereka tak berani bertanya. Kenapa Nona muda tiba-tiba menikah. Sedikit bingung saat mendengar perintah merombak ruangan subuh tadi. Mereka dikomando bekerja bersamaan dengan ayam berkokok menyambut fajar. Berat,ingin protes,tapi tak berani. Rasa hormat dan setia pada Tuan rumah ini,nyatanya bisa membuat mereka melakukan semua perintah tanpa bisa membantah.


 


 


“Semua harus sudah siap pukul tujuh nanti. Itu dan ini juga,” Menunjuk-nunjuk para pelayan yang sedang mendekorasi ruangan.


 


 


“Baik Nyonya,” Jawab mereka serempak. Lalu dengan hikmat menyulap ruang tamu,menjadi tempat akad nikah dadakan. Sederhana tapi berkesan. Konsep acara yang diusung Ibu Mentri.


 


 


Seorang pria mengenakan baju serba putih terlihat berdiri didepan pintu. Peci putih dan kain sorban yang melingkar dibahunya,membuatnya mudah dikenali. Kyai Jamal. Pria tua yang berusia kisaran enam puluhan. Tapi masih terlihat sehat dan kuat. Kumis dan jenggotnya yang memutih tercukur rapi. Pandangan matanya teduh menentramkan.


 


 


Tokoh ulama yang sudah terkenal akan pengetahuannya tentang agama islam. Beliau sering memberi ceramah diacara pengajian atau acara keagamaan lain yang di laksanakan para warga dikomplek perumahan elite ini. Suaranya lembut dan menenangkan. Membius banyak orang untuk takzim mendengarkan setiap untaian kata-kata yang ia ucapkan. Memuji asma Tuhan.


 


 


 


 


Pak Handam yang melihat kedatangan Kyai Jamal. Segera menghampirinya. Pria paruh baya itu mengenakan tuxedo warna burgundi. Terlihat gagah dan berwibawa. Memberi isyarat agar para pelayan berhenti bekerja dan kembali kebelakang. Kibasan tangan yang langsung dipatuhi sekitar lima orang yang langsung pergi meninggalkan ruangan itu.


 


 


Pak Handam menyalami kyai itu lalu mengajaknya duduk di kursi. Tapi kyai itu menolak,beliau lebih memilih duduk diatas karpet yang sudah digelar. Bersila. Berhadapan dengan tuan Rumah,yang mengikuti gerakanya. Mereka perlu bicara. Dari hati ke hati. Sebagai sesama orang tua dan saudara seiman.


 


 


“Mohon maaf Tuan Handam,benarkah kabar yang saya dengar subuh tadi? Saya diminta datang kemari,untuk membimbing seseorang yang ingin menjadi mualaf?”


 


 


“Benar Kyai,” Jawab Pak Handam tenang.


 


 


“Siapakah manusia beruntung yang mendapat rahmat dan hidayah itu?” tersenyum


 


 


“Calon menantu saya Kyai,” tuturnya kemudian.


 


 


“Subhanalloh,”


 


 


“Saya ingin menikahkan mereka sebelum perjalanan jauh yang akan mereka tempuh. Sebagai orang tua,saya hanya bisa berusaha menjaga putri saya dari hal-hal yang tidak diinginkan.”


 


 


“Saya paham Tuan,”Kyai Jamal mengangguk lamat-lamat.


 


 


“Tapi calon mantu saya itu belum seiman Kyai. Menurut penuturan putri saya,anak itu belum mengenal agama manapun sejak kecil. Jadi bisa dibilang dia ini “manusia bebas” ” membentuk tanda kutip dengan jari.”Tapi saya tahu,meski begitu,dia orang baik. Saya sudah mengamati dia sejak lama tanpa sepengetahuan putri saya. Semua perilakunya mencerminkan dia manusia beriman dan ber akhlak. Tapi entahlah,saya tidak tahu apa yang membuatnya ragu untuk mengikat diri dengan aturan hidup yang ditentukan Tuhan,” jelas Pak Handam.

__ADS_1


 


 


 


 


 


 


Kyai itu kembali mengangguk pelan. Memahami duduk persoalan, ”Setiap orang punya rahasia dalam hidupnya Tuan. Kita tidak berhak menilai seseorang dari satu sudut pandang yang kita anggap benar. Tapi syukurlah,Allah SWT telah memberikan hidayah-Nya. Putri anda adalah perempuan baik-baik. Allah SWT pasti mengirimkan jodohnya yang terbaik untuk putri anda.” Jemari tangannya terus memutar rangkaian batu kristal kecil berwarna hijau itu. memuji dan kembali mengagungkan Asma Tuhan.


 


 


Tak selang lama,suara deru mobil kembali terdengar. Pak Handam dan Kyai Jamal menoleh kearah pintu. Menunggu. Dua orang pria memakai setelan jas lengkap terlihat memasuki pintu. Salah seorang dari mereka mengenakan sebuah peci berwarna hitam. Langkahnya tegap dan mantap. Gagah. Dokter Sakti dan Thomas datang tepat waktu. Kyai Jamal menatap mereka dengan pandangan tak biasa. Dia tau.


 


 


“Benarkah keputusan anda ini Pangeran?” Thomas memandang tak percaya.


 


 


“Ya,aku ingin menjadi muslim,” Jawabnya mantab.


 


 


“Lalu bagaimana dengan nasib bangsa kita? Mereka membutuhkan anda sebagai calon Raja Negri Kegelapan. Bagaimana nanti anda akan memimpin kami,para pemburu. Yang anda sendiri sudah tahu bagaimana cara kami untuk bertahan hidup.” Ini pertama kalinya Thomas memprotes keputusan Sakti. Menjadi muslim? Gila. Ia benar-benar tak menduga akan seperti ini jalan ceritanya.


 


 


Sakti memegang bahu Thomas. Menatap tajam. Meyakinkan Thomas lewat sorot mata hitamnya. “Percayalah Thomas,aku tidak akan lupa asal-usulku. Tapi aku juga tidak bisa membohongi perasaanku. Aku ingin beriman kepada Tuhan,” melepaskan tangan,lalu mengenakan kembali dasi yang belum sepenuhnya terpasang.


 


 


Itu adalah isi percakapan mereka tadi pagi sebelum berangkat. Perdebatan yang diulang lagi dari semalam.


 


 


“Assalamualaikum Om,Kyai,” Mencium tangan sopan. Memberi isyarat pada Thomas agar mengikuti yang ia lakukan. Thomas patuh mengikuti gerakannya,meski tak paham. Mereka duduk berdampingan menghadap Tuan Rumah dan Kyai Jamal.


 


 


 


 


Saya tahu kalian bukan manusia.


 


 


Anda tahu Kyai?


 


 


Iya. Kalian adalah raga tanpa jiwa. Siapa kalian sebenarnya?


 


 


Kami bangsa pemburu Kyai. Tapi percayalah,saya sudah lama berhenti. Dan bersungguh-sungguh ingin menjadi muslim.


 


 


Saya percaya dengan kesungguhan kamu. Tapi tidak dengan teman kamu ini. Saya tahu dia masih sering melakukan itu.


 


 


Saya mohon Kyai. Biarkan dia pergi,saya tidak bisa menjelaskan. Tapi satu hal,dia orang yang berarti untuk saya.


 


 


Kyai Jamal menghela nafas panjang. Saya tidak berhak menetukan jalan hidup kalian. Tapi kalau bisa,jangan lagi memburu manusia.


 


 


Baik Kyai,terimakasih.

__ADS_1


 


 


“Perkenalkan saya Jamaludin,orang sini biasa memanggil saya Kyai Jamal. Mungkin jenggot putih dan peci ini yang membuat mereka memberi panggilan itu,” tertawa pelan.


 


 


“Saya Muhammad Sakti Dirgantara. Nama lain saya Dominic Robert. Dan ini asisten saya Thomas Thomson,” Menoleh pada Thomas yang terus menatap tajam Kyai itu. Dia juga mendengar isi percakapan telepati tadi.


 


 


“Baiklah kita mulai saja acaranya. Tuan Handam silahkan panggil minimal dua orang muslim untuk menjadi saksi. Kalau bisa laki-laki,” Pinta Kyai Jamal.


 


 


Pak Handam yang mendengar itu segera berdiri dan mengumpulkan sepuluh pelayan dan sopir dirumahnya. Mereka semua bertanya-tanya,apa akad akan segera di mulai? Tapi ini belum waktunya,masih dua jam lagi menurut jadwal. Mereka disuruh duduk melingkari meja kecil ditengah ruangan itu. Dokter Sakti dan Kyai Jamal duduk bersebrangan menghadap meja.


 


 


Dan sejarah baru itu telah dimulai. Sebuah kenyataan yang mendobrak ketidak percayaan sebelas pasang mata yang menjadi saksi. Bagaimana bisa,seseorang yang menyandang nama Muhammad ternyata bukan seorang muslim. Mereka kembali berpandangan dengan teman disebelahnya. Lalu masih menatap tak percaya pada kenyataan yang ada didepan mata mereka.


 


 


Tanpa sepengetahuan orang-orang,kecuali Kyai Jamal dan Larasati yang berdebar menunggu didalam kamar. Untuk pertama kali,dalam sejarah peradaban manusia dan sejarah perkembangan agama islam di dunia. Seorang klan pemburu mengucapkan dua kalimat suci. Pintu gerbang untuk menjadi seorang muslim,menyatakan diri taat dan patuh pada perintah Allah SWT.


 


 


“Saudara Muhammad Sakti Dirgantara. Dengan membaca dua kalimat syahadat ini,dengan disaksikan oleh para saksi yang sah,anda akan menjadi seorang muslim. Beriman dan bertakwa hanya kepada Allah semata. Mari ikuti saya,”kata Kyai Jamal. Lalu menuntun sakti untuk mengucapkan dua kalimat syahadat,


 


 


“Asyhadu alla ila ha illaloh,” memberikan ruang untuk Sakti mengikuti kalimatnya.


 


 


Ada sesuatu yang ingin meledak tapi bukan bom. Jantungnya berdentum-dentum liar saat mendengar kalimat itu,keringat dingin terasa membasahi tubuhnya. Ia gemetar,nafasnya naik turun,tapi ia mengikuti kalimat yang diucapkan kyai itu dengan lancar, “Asyhadu alla ila ha illaloh,”


 


 


“Wa asyhadu anna muhammadar rosululoh,” Lanjut kyai Jamal.


 


 


Jantungnya masih berdebar,hatinya bergetar,”Wa asyhadu anna muhammadar rosulloh,” Suranya tercekat. Pria itu lalu tertunduk. Bahunya berguncang. Dia menangis. Perasaan macam apa ini,gumamnya. Rasanya seperti naik roller coaster. Ada rasa bahagia,sedih dan entah apa lagi yang tercampur aduk di dalam hatinya.


 


 


“Alkhamdulilah. Semoga anda bisa menjadi muslim yang baik. Saya bersyukur bisa menjadi bagian penting peristiwa luar biasa ini,” kata Kyai Jamal tulus.


 


 


Sakti buru-buru mengusap air mata yang tanpa ijinnya terjatuh begitu saja. Lalu mendongak menatap kedua mata teduh sang Kyai, ”Terimakasih Kyai. Mohon bimbingannya.”


 


 


“Saya senantiasa menunggu. Silahkan mampir ke gubuk saya kalau ingin berbincang sesuatu tentang islam. Insya allah,saya sedikit-sedikit juga tahu,” Tersenyum.


 


 


“Sekali lagi terimakasih Kyai,” Kata Sakti tulus.


 


 


Kyai Jamal pulang setelah acara selesai. Sudah diminta untuk menunggu acara ijab qabul tapi dengan sopan menolak. Ada keperluan lain katanya,tapi mendoakan yang terbaik untuk semua. Sebelum pergi ia mengatakan sesuatu kepada Sakti,


 


 


“Sesungguhnya Allah tidak akan merubah nasip suatu kaum,kecuali mereka mau mengubah nasib mereka sendiri. Saya percaya kamu orang baik,siapapun kamu.” Katanya sambil terenyum.


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2